Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#44 Tuntunan Menuju Lokasi


__ADS_3

“Nita!” Dewa ikut berdiri mendekati Nita.


Aku terpaku memegangi pipiku yang perih. Terkejut dengan otot-ototku terhenti fungsinya.


“Rasyi,” sentuhan di tanganku diikuti suara panik Harun di telinga kananku, “Tidak papa?”


Suaraku tertahan di tenggorokanku. Layaknya tidak memiliki pendapat meskipun ingin. Mataku mengambil alih. Pandanganku tidak berpindah sedikitpun ke arahnya.


Nita jelas sedang marah sampai nafasnya seperti itu tapi sampai menamparku? Apa aku salah bicara?


Dewa menengahi kami berdua, “Nit, tenang dulu. Kenapa kamu marah sih?”


“‘Kenapa?’” Nita tersenyum aneh, “‘Kenapa’ katamu?!” tiba-tiba dia menunjukku, “Cewek ini datang-datang terus bilang ayahnya gak bersalah! Gila ya dia?!”


“Iya, Nit. Tapi gak perlu pukul-pukul gini. Dia tuh masih kecil,” Dewa masih berusaha menenangkannya.


“Terus? Dia tetap perlu tahu kan?” Nita kembali menatap marah aku, “Dengar ya. Ayahmu itu bohong. Ayahmu yang membawa preman-preman itu! Yang membunuh Sekar itu si ayah kurang ajar itu!”


“Tante!” Harun memegangku lebih erat.


“Harun, kamu juga tahu. Sudah ada CCTV kan? Cowok itu yang ajak Sekar ke jalan yang berlawan sama jalan pulang,” Nita menaikkan suaranya lagi, “Pikirkan saja! Kenapa dia malam-malam, tapi jalan-jalan? Gak masuk akal!!”


“Nita, cukup. Gak ada gunanya kamu marah-marah!” Dewa menegurnya lebih keras.


“Sekar mati karena mereka, Dewa! Polisi malah percaya sama cowok itu! Seharusnya dia yang dihukum mati sekarang!” di dalam teriakkan Nita tergambarkan kesedihan yang mendalam.


Ini semua memang salah Rizki. Benar kalau dia yang memancing para preman itu. Aku seharusnya marah dan mengutuknya.


Namun sebagai Rasyi, dia adalah orang tuanya satu-satunya. Dia segalanya. Pasti aku akan membela ayahku sendiri. Apalagi kenyataan bahwa Rizki juga korban dari keluarganya sendiri.


Aku penasaran, apa yang dipikirkan para kerumunan yang ditarik keributan ini terhadap Rizki? Mungkinkah mereka paham bila tidak ada kuasa yang dimiliki Rizki?


“Hei! Ayahmu tidak peduli, kan?!” Nita masih saja mencurahkan air matanya, “Dia pasti pikir, Sekar itu bukan siapa-siapanya. Dasar, hanya mau diuntung. Ayahmu pasti mau membantu Sekar di rumah sakit karena ingin cari muka. Enak sekali hidupnya⏤”


“Berisik!!”


Di tengah kesunyian, kepalan tanganku bergetar hebat. Tak sanggup lagi aku menahan kekesalan ini.

__ADS_1


Rizki tidak bersalah!


“Terserah kalian mau pikir papa yang membunuh atau apa! Tapi aku tidak akan percaya! Tante yang pasti berbohong!” aku berteriak keras.


Nita kembali menunjukkan wajah murkanya, “Anak tidak tahu diri!” ia seperti ingin mendekatiku.


Dewa menahan gerak Nita, “Nita!” tampak beberapa rekannya berusaha menahan Nita


Wanita itu masih berusaha berontak, “Kamu bela siapa sih?!”


“Ya gak perlu begini juga! Bicarakan baik-baik!”


Harun berdiri di depanku dan mengangkat pelan tanganku, “Rasyi, kita pulang sekarang ya? Ayo.”


Kenapa lagi dengan anak satu ini? Dia pikir dia dewasa? Dia tahu apa yang terjadi dengan Sekar dan apa hubungannya dengan papa. Namun tetap saja anak ini main rahasia. Padahal ini masalah aku dan keluargaku.


Langsung aku tarik tanganku, “Jangan ikut masalahku, Harun. Tolong.”


Harun terkejut tak berkutik. Entah apa yang dia pikirkan tapi aku tidak mau memperdulikannya lebih lanjut. Aku berdiri dan mendorongnya pelan. Langkah ini membawaku mendekati Nita, bertahan di depannya.


Sebagai Rasyi, tentu aku tidak akan menerima penghinaan ini.


Kuseka mataku berusaha menghentikan airmata yang masih saja mengalir deras. Isakanku yang semakin mengencang menyulitkan aku untuk melanjutkan.


Amarah membara tak henti-hentinya bertengger di wajah Nita, “Terus kenapa? Si bodoh itu tetap pelakunya!”


Masalah itu aku yang paling tahu! Sekar juga tidak bisa berhenti marah, tahu! Tetap saja dia korban tidak bersalah!


“Iya, aku tahu papa itu bodoh! Dingin banget kayak es batu. Jutek juga. Kadang-kadang aku pikir, benar ini ayahku? Padahal setiap hari aku selalu mau tendang tulang keringnya!” kukeluarkan semua kekesalanku pada papa.


Kulipat kedua tanganku di depan dadaku. Memanyunkan mulutku kesal sampai aku sudah merasakan airmataku kering. Hening ruangan dari orang yang banyak berkumpul itu memudahkan aku kembali melanjutkan complain.


“Aku pernah berikan dia kado lukisanku sendiri. Dia jawab apa coba? Dia bilang buat apa ini? Ya buat dimakan! Hih! Tidak ada hatinya sama sekali! Untung tampan. Kalau tidak, sudah kututup semen mulutnya itu!”


Geramku keras semakin terbawa dendam lama.


“Niat semanis madu diterimanya jadi racunnya buntut lebah. Apa-apaan?! Walau Sekar bangkit dari kuburan terus menggentayangi papa, paling papa cuma diam lihat saja! Pura-pura takut gitu kan lebih enak.”

__ADS_1


“Mm… Rasyi?” Harun sepertinya kebingungan.


Hah? Oh…. Uups. Sepertinya aku sudah terlalu keluar dari karakter Rasyi. Kuhela nafasku perlahan.


“Tapi,” langsung aku dekatkan lagi posisiku sampai tepat di depan moncongnya, “Papa itu hadiah terbaik buatku,” ah. Aku jadi sedih lagi, “Jangan apa-apakan papaku.”


Hah, percuma aku ada disini. Tidak ada hasil apapun yang aku dapat. Aku tidak mau tahu lagi! Pergi saja deh!


Langsung aku berlari menerobos orang-orang itu. Diri yang kacau karena kedua kemarahan sekaligus membingungkan otakku. Rasanya aku mau jalan ke ujung dunia sampai bisa menghirup nafas tenang.


Tidak habis pikir. Kejadian hari ini benar-benar menguras emosiku di berbagai sisi. Jiwa Rasyi terus bergejolak karena ikatannya pada sang ayah. Sekar menjadi tersambar petir kemarahan dan semakin sulit menerima kematiannya, meski tahu alasan terjadinya semua itu.


Benar ternyata kalau mendatangi tempat ini tidak ada gunanya. Hasilnya tetap sama. Aku tahu apa yang terjadi tapi aku tidak ingat apa yang terjadi. Rasa menjanggal ini tidak ada yang terobati. Malahan bertambah!


Padahal aku sudah susah-susah mencari alasan belajar di rumah kak Fares untuk bisa sampai kesini! Aku sampai meminta-minta kak Fares untuk berbohong.


“Loh?” kakiku bergerak sendiri dari tadi tapi…, “Ini dimana?”


Gawat! Aku terlalu semangat sampai berjalan ke daerah jalanan yang sepi. Kok bisa aku ada disini? Bukannya sepanjang jalan tadi kawasan ramai?


Oh, benar juga. Pembangunan jalan yang memotong baru saja selesai. Jadi disana pusat keramaiannya. Hebat sekali satu jalan bisa membuat satu tempat menjadi dua daerah yang tampak berbeda.


Kutekan kepalaku di kanan dan kiri, “Ah! Rasyi, kamu pikirin apa sih?”


Seharusnya aku kembali ke tempat kerja Sekar. Harun pasti khawatir. Aku harus cepat pergi⏤Hah?


Daerah ini, sepertinya familiar. Bukan dalam arti karena Sekar mengenal tempat ini. Lebih ke arah ada sesuatu….


(“Awas!”)


Langsung aku mengubah posisiku lebih ke pinggir jalan dan menghadap ke belakang. Tidak. Itu bukan suara orang-orang yang jauh itu. Bukan itu.


(“Mati saja sana.”)


Cepat aku menutup kedua telingaku. Otakku memikirkan satu hal, jangan bilang tempat ini….


Kumiringkan mata ke arah pertokoan di sebelah kiriku. Tua tak terawat bangunan tiga lantai ruko itu terpampang. Namanya menggetarkan seluruh tubuhku.

__ADS_1


Ini…, lokasi Sekar yang disebutkan di koran itu.


__ADS_2