
Tiga hari tiga malam sudah aku habiskan untuk menyiapkan diri menghadapi keadaan ini. Benar kata papa di dalam rekaman itu. Kita hanya bisa mencari bukti kejahatan orang ini.
Misalnya aku menolak untuk menerima undangan di kakek ini, apa yang akan terjadi pada papa? Kabur dari mereka pun belum tentu artinya aku akan aman dari mereka selamanya.
Ini memang keputusan terbaik untuk menghentikan mereka. Dimana mereka pikir kami tidak bisa melakukan apapun lagi.
Namun semua itu tergantung pada bagaimana cara kami menemukan dan membawa buktinya dengan aman.
“Si tua ini memang senang. Anakku banyak menciptakan penemuan luar biasa di bidang kedokteran. Bahkan AIDS bisa diobati oleh kejeniusannya,” kakek itu bermain lagi dengan kata-kata, “Sekarang cucuku menciptakan ini!”
KRAK!
Buah hasil dari kerja kerasku selama tiga hari itu akhirnya ia injak sampai habis.
Aku sudah berusaha membuat perekam suara yang setidaknya bisa bertahan tiga sampai empat jam. Seharusnya antingku bisa menyembunyikan perekam itu dengan baik. Harusnya aku bisa membawanya dengan suara si Hari dengan pengakuannya.
Sudah cukup baik saat dia mengaku banyak hal, tapi bukan penghancuran ini yang aku harapkan.
“Cucuku memasukkan perekam!”
KRAK!
“Dia bawa untuk menghukum kakeknya!”
KRAK!
Dia terdiam sambil menstabilkan nafasnya.
“Waktu tukar kabar kasmaran sudah habis. Kita langsung ke intinya saja,” amarah itu memenuhi ekspresi itu, “Bawa Gading dan di anak kurang ajar itu kemari!!”
Aku berdiri dari duduk, “Tidak, jangan!”
Langkah beberapa orang terdengar pergi menjauh dan mulai kedap saat melewati pintu. Namun bukan itu yang jadi fokusku. Pria di depanku ini sedang marah. Dan ia sedang berjalan lurus ke arahku⏤
“Aaaa!” dia menarik antingku yang satunya.
“Kamu masih berani di depanku ya? Apa yang satunya juga ada perekam juga?” dengan kasar dia mencoba melepas lagi anting kananku.
“Sakit!!”
“Berisik!”
“Aaa! Aauw…,” telingaku panas, sakit!
Kututupi daun telingaku dengan kedua tanganku. Setidaknya aku merasakan semuanya masih utuh walaupun lagi-lagi mataku menangkap cairan merah darinya. Anggota gerak bawah yang masih kuat itu melangkah mundur beberapa langkah.
Pria ini, sungguh bukan manusia.
KLAK!
Injakannya sungguh memecahkan hening taman. Tatapan dingin itu pun ikut memantul di indra penglihatanku.
Sekarang, nyawa ini yang akan ‘diinjak’.
“Rasyiqa sayang~” dia sudah ada di depanku dan menahan daguku. Hanya untuk melihat wajah kotor itu, “Jangan takut, kakek ini akan mengarahkanmu ke arah yang benar~”
Arah menuju ke kematian maksudnya? Tidak akan! Tidak boleh!
__ADS_1
Kejut aku dibuatnya saat dia beralih genggaman ke lengan atasku. Menariknya sampai tatapan kami tidak kurang dari satu meter, “Rasyiqa pasti menurut ke kakek kan?”
Tidak mau!
Mataku terpaksa aku tutup. Setitik sel di tubuh ini tahu benar rasa takut yang menghantui bahkan sejak aku masih delapan bulan. Dan mereka tahu benar aku harus bisa bertahan. Namun, aku tahu kesempatan emas sudah hancur di depan mata kepala sendiri.
“Rasyiqa!”
“Aaa!” dia menarik rambutku dan memaksaku menatapnya yang semakin dekat.
“Dengarkan kakek, paham?”
“Hik…,” suaraku kah? Aku menangis lagi kah?
BRAK!
Suaranya dari arah pintu⏤papa!
Beberapa pria menyeretnya kasar melewati pintu. Di samping sakit dibawa layaknya barang, Rizki sudah menangkap tatapanku ke arahnya. Pria ini tampak kaget, sampai akhirnya rasa kagetnya itu berubah amarah.
“Hari! Lepaskan Rasyi!” dia berupaya untuk melepaskan diri dari genggaman kedua pria yang mengekang.
Untungnya, entah kenapa, si kakek itu tidak berniat menahanku lebih lama, “Biarkan saja dia reunian dengan anaknya.”
Rizki dilepaskan begitu saja. Papa memelukku setelah dia berlari kencang mendekatiku.
Dia membawaku menjauh dari tempat Hari berdiri sampai akhirnya lebih dari dua meter.
Namun kami sadar tidak ada gunanya kabur di saat seperti ini. Mustahil dengan tatapan Hari yang hanya mengamati dan apalagi dengan pengawasan banyak orang yang bertambah banyak.
“Kamu boleh memeluk anakmu sepuasnya,” kakek yang kehilangan senyumnya, menatap pintu yang masih dibuka, “Untuk saat ini.”
Jangan. Tolong jangan lakukan apapun…, “Jangan….”
Getar tubuh Rizki bisa aku tangkap ketakutannya. Mungkin dengan merapikan sedikit rambutku, seperti yang ia lakukan sekarang, bisa menenangkan dirinya juga.
Setidaknya aku tidak mendapati tubuhku mati rasa walau aku tidak menantikan apa yang akan terjadi⏤
“Kak Fares!” terkejut aku saat melihat sosok itu dituntun dengan kasar melewati pintu. Memancingku untuk ingin pergi ke sana, “Kak!”
“Rasyi, jangan ke sana,” Rizki masih saja memelukku, menahanku untuk berusaha menjemput sosok kakak itu.
“Kamu tidak begitu berguna,” kakek gila itu… mendekati Fares! Tidak! “Jadilah berguna sedikit saja,” dia menahan Fares dengan menarik leher dari kaos Fares.
“Jangan!” aku mohon jangan sentuh Fares.
Papa masih dengan bersikerasnya menahan tubuhku dengan pelukannya yang semakin erat, “Rasyi, tenang!”
Ada apa dengan si ayah ini?! Dari mana saja kita melihatnya, Fares sedang dalam bahaya! Kakek tidak bermanusiawi itu ada di depan congor Fares. Sementara Fares sedang ditahan pergerakannya oleh dua pria berbadan besar.
Bagaimana bisa kita tenang di saat gawat ini?!
“Tatapan yang lumayan,” kakek itu masih bisa mengeluarkan seringai tipis yang mengerikan, sedetik kemudian itu kembali hilang, “Aku tidak suka itu.”
“Aaargh!” kesakitan terdengar jelas dengan suara Fares di depan sana.
“Duduk!” Hari menekan kepala Fares sampai dia tidak bisa menahan kakinya.
__ADS_1
Fares benar disudutkan. Aku masih tidak percaya tatapan dingin itu bisa dengan lancarnya menyebar keluar dari mata Fares. Kedua orang itu menatap satu sama lain, layaknya beradu hawa dingin. Namun bukan menantang yang dibutuhkan Fares saat ini.
“Si cowok Jagad itu, lalu adiknya Hendra,” kakek itu menatapku dari posisinya yang berjarak itu, “Apa kamu tidak mengerti kenapa mereka bisa seperti itu, Rasyiqa~?!”
Rizki masih memelukku di tengah posisi duduk kami, “Cukup bicaranya, Hari!”
“Aku tidak bicara denganmu, Gading! Anakmu yang jadi masalah sekarang,” kakek yang masih saja berpenampilan layaknya pria muda itu berjongkok di depan Fares, “Hidupmu adalah keputusanmu. Dan keputusanmu memberikan dampak yang berbeda bagi hidupmu... dan berdampak juga pada hidup orang lain.”
Omongan apa lagi yang dia mau untuk mengganggu pikiranku?
“Kamu pikir hati sucimu yang paling benar? Kamu pikir hidup cuma sesimpel membahagiakan papa itu? Kamu pikir hanya dengan seperti itu semua sudah selesai?”
Matanya seakan semakin membelalak semakin lama aku menatapnya.
“Tidak, Rasyiqa. Kamu tidak bisa membahagiakan semua orang.”
Apa yang dia mau dengan tangannya yang di dalam jaketnya itu? Benda apa yang dia ambil⏤tidak… jangan!
“Jangan!!” tenggorokanku layaknya dikuras untuk satu kata itu.
Papa menggenggam tanganku lebih erat selagi satu tangannya lagi masih menahan tubuhku, “Rasyi, tetap disini!”
Dia bilang apa di keadaan buruk ini?! Gila ya dia?! “Buta kamu!! Tidak bisa kalau seperti ini! Fares!!”
Rizki! Berhenti memelukku! Fares! Jangan!! Kakek itu sudah memainkan senjata apinya…. Bagaimana aku bisa diam?!!
“Lepaskan!!”
Pria yang aku sebut papa ini masih saja memelukku erat. Sekilas aku menangkap matanya tertutup erat. Jangan… jangan menyerah sekarang. Aku mohon….
“Iya, Rasyiqa. Kalau kamu mau menantang hanya dengan pemikiran polosmu, kamu tahu apa yang akan kamu dapatkan,” senyumnya semakin membuatku gila.
Jangan todong Fares dengan itu. Aku mohon…,
“Ini semua salah kepolosanmu. Keputusanmu mencabut satu orang lagi. Ini kesalahanmu. Ini kesalahan pemikiran lemahmu.”
Aku sudah tidak peduli dengan air yang mengalir di pipiku, “Fares!! Jangan!! Rizki lepaskan! Jangan!!”
(“Cepat kabur.”)
Jangan!
(“Iya, Rasyiqa. Cepat lari.”)
(“Biar... yang urus ....”)
Jangan!!
(“Aargh gah!”)
(“Gak mungkin, Rasyiqa~”)
(“Lari sekarang.”)
Jangan! “JANGAN!!!”
“Maaf, kek. Kamu telat dua detik.”
__ADS_1