Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#42 Mencari Langkah


__ADS_3

[Pembunuhan Terjadi Lagi Bahkan Di Tengah Jalan]


[Dinyatakan Koma, Korban ini Diduga Ditembak oleh *******]


[**, Radar YY - Kasus pembunuhan bisa saja terjadi dimana saja. Seperti yang dialami BSM, 25, karyawan dari perusahan Kirania Souvenir. Meninggal karena ditembak di jalan pulang dari kerjanya, kawasan pertokoan HH. Korban dinyatakan koma di rumah sakit ZZ.


Penembakan terjadi pada Selasa, (20/9). Aksi dilakukan pada saat korban pulang dari kerja sekitar pukul 23.00 waktu sepempat. Tidak diketahui alasan dan kelompok siapa yang menyerang wanita asal NN ini.


Saat waktu penyerangan, korban sedang bersama dengan seorang dokter bernama Rizki Wirandi.


Pada Introgasinya, Rizki menyatakan bahwa dia tidak sengaja berpapasan dengan korban. Di saat itu kelompok tak dikenal mendatangi mereka. Setelah tembakan, mereka langsung pergi dari lokasi.


Ajadi Tito Yatmono, penjaga malam toko di kawasan tersebut, menyatakan sempat mendengar keributan di depan tempat kerjanya. “Waktu itu ada suara tembakan. Saat saya mengecek keluar, sudah ada korban bersama beliau (Rizki),” kata Ajadi.


“Beliau meminta tolong saya untuk mengantarkan korban dan beliau ke rumah sakit. Beliau sendiri yang merawat korban,” lanjut Ajadi.


Sebuah keajaiban korban masih bertahan dengan luka tembak di bagian wajahnya. Rizki Wirandi sampai sekarang yang menangani langsung perkembangan korban.


Warga berpendapat bahwa ini termasuk ulah preman yang belakangan marak di daerah pertokoan. Sebagian warga pun berpendapat pelaku dari kasus ini adalah kelompok *******.


Belum dipastikan siapa pelaku sebenarnya. Kepolisian setempat sedang melakukan investigasi dengan rekaman CCTV dari toko tempat kerja Ajadi⏤]


“⏤Hah,” langsung aku membalik layar ponselku menghadap meja.


Foto dari sebuah koran lama itu tidak bisa membuatku tenang. Segala sesuatu yang diceritakan tentang korban, semuanya sama dengan Sekar yang aku ingat. Membaca berita kematian sendiri, mengerikan.


Saat aku mengecek kesungguhannya di internet, ada beberapa dokumen ataupun video yang serupa. Permasalahannya, aku tidak bisa mengingat apapun.


Kalau saja Aldi tidak mengirimkan foto ini, aku pun tidak akan mengetahuinya sama sekali. Rasanya terlalu menyakitkan mengetahui fakta kalau diri sendiri sudah meninggal tanpa ingat apa penyebabnya.


“Huh,” aku berpikir untuk membuka gorden di depan meja belajarku.


Meski di luar sana terasa ramai mencengkam di mataku. Setidaknya angin dan sinar mampu menjernihkan sedikit pikiran kusut ini.


Hal yang bisa aku ingat hanya jati diri dan kemampuan Sekar. Namun untuk keseharian bahkan penampilan Sekar, semua itu sangat samar.


Awal mula lahir sebagai Rasyi, tidak mudah langsung menerima kehilangan nyawanya Sekar. Baru bisa kuterima setelah berbulan-bulan tak ada yang berubah.


Papa pernah menyebutkan kalau kejadian itu terjadi dua tahun sebelum Rasyi lahir. Kalau aku memperhatikan koran tadi, kejadiannya bertepatan dengan hari ulang tahun Sekar.


Aku terdiam, “Haaa ah!” kesal aku menggeram.


Tidak ada perkembangan! Semua itu tetap hanya menjadi informasi yang tidak bisa aku verifikasi.


Haruskah aku menutup mata seperti yang sudah-sudah?


Suasana hati yang tegang selalu sukses meresahkan hari. Bagaimana kalau aku menenangkan diri sedikit?

__ADS_1


Kuambil beberapa senjata penenangku. Pensil kayu, penghapus berwarna hitam, serta rautannya yang berbentuk kelinci dengan lubang di hidungnya. Buku tebal berspiral itu keluar dari sarangnya.


Kali ini pun aku mau melatih diriku dengan tantangan. Pengemudi kendaraan di jalan sepertinya menarik untuk dicoba. Mari gambar pose manusia yang melaju cepat itu.


“Hmm!” kurenggangkan ototku sebelum mengambil langkah pertama, “Ayo mulai!”


Lingkaran sebagai pusat kepalanya menjadi garis start-nya. Menurun dengan garis-garis tubuhnya dan lingkaran lain sebagai persendiannya.


Cepat aku memperhatikan referensi yang tak bisa diam di jalan ramai itu. Bagiku yang bukan pecinta lokomotif, menggambarnya akan sedikit perlu pembiasaan.


Satu garis, dua garis, tiga garis. Garisan yang banyak akhirnya membentuk sketsa.


“Lumayan,” sepertinya kemampuanku meningkat.


Ini adalah sebuah kebanggan. Dengan usahaku mencoret-coret sejak umur satu tahun, dari Sekar yang payah dalam menggambar berubah menjadi Rasyi yang sukanya bersantai dengan menggambar.


Haha…, sepertinya karakter Sekar-ku semakin luntur saja semakin hari.


Ketukan pintu di belakangku berbunyi pelan cukup mengejutkanku.


“Ya?” sahutan pada orang dibalik pintu.


“Nduk, Le Harun nungguin ikuh,” bibi yang mengurus rumah disini sepertinya sudah menyambut Harun ke dalam rumah.


“Iya, bulik. Sebentar,” untuk saat ini, aku lakukan saja dulu kegiatanku.


Persiapan untuk perpindahan tempat menuju ruang tamu di bawah sana. Membawa segala macam untuk lebih mengembangkan lagi diri Rasyi. Setidaknya itulah yang bisa Rasyi lakukan sebagai anak yang di bawah umur.


“Hari ini gimana?” dia menahan dagunya di kedua tangannya yang menumpuk di atas meja, “Ada yang menarik?”


Aku sedang tidak ingin membahasnya.


“Tidak ada,” aku duduk bersampingan dengannya dan merapikan bawaanku.


Dia terdiam menatap terus ke arahku, “Ada masalah apa sih?”


“Tidak ada.”


Lelaki ini selalu berusaha menjadi pendengar yang baik untukku mencurahkan keluh kesahku. Namun, terkadang dia suka memaksa.


“Rasyi.”


Hah. Mau apalagi sih nih anak? “Kenapa?”


“Pinjam tanganmu, boleh?” lelaki itu mengeluarkan tangan kanannya dari tahanan dagunya, mengulurkannya ke arahku.


Apa? Untuk apa? Dia ya, ada-ada saja.

__ADS_1


Berusaha berpikir positif. Tangan kiriku akhirnya mendarat di tangannya. Genggaman hangat dieratkan di sekujur punggung tangan dan jari-jarinya. Menit satu dan seterusnya, masih dengan posisi seperti ini.


Kenapa lagi dengan lelaki ini?


“Hahaha…,” kecil lembut tertawanya.


Dia sedang mengerjaiku atau apa sih? Aku tarik saja deh tanganku.


“Eh, maaf. Maaf,” Harun menegakkan tubuhnya dan menahan tanganku untuk terlepas dari genggamannya.


Menjengkelkan sekali, “Mau apa?”


Senyumnya berubah menjadi bernuansa biru. Masih saja memainkan tanganku, mengamatinya layaknya itu hal penting.


“Tidak,” dia tertawa manis, “Aku cuma berusaha sedikit. Biasanya kan kalau yang seperti ini Rasyi langsung marah-marah.”


Kuhela nafas tipis, “Sudah ah, mending ajarin aku sekarang.”


Dia tahu benar. aku masih merasakan beban berat di punggungku. Dia tahu. aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri atas tragedi yang menimpa Jagad. Dia tahu aku takut. Dia pun pasti ingin melakukan sesuatu.


Bukannya aku tidak ingin melepas masalahku, tapi aku tidak tahu harus aku apakan semua ini. Kalau aku mau menguras habis semua masalah Sekar, seharusnya amnesia Sekar harus ikut dikuras habis. Jadi aku bisa merelakannya sungguh-sungguh.


Memang itulah yang terbaik agar aku tenang. Namun hal ini tidak hanya bisa ditanyakan saja. Apalagi Rasyi ini orang lain. Bukan kerabat dekat atau apapun.


Lalu bagaimana caranya menguras habis amnesia Sekar? Sejauh ini hanya ada satu kejadian dimana aku mengingat sesuatu. Kejadian itu juga hanya saat berhadapan langsung dengan Aldi.


Berhadapan langsung?


Tunggu. Mungkin itu bisa dilakukan. Namun, aku tidak mungkin mengajak papa yang jelas-jelas masih punya trauma.


Ah. Benar. Kan ada orang dalam.


Kutatap Harun yang sepertinya bersabar menungguku yang sedang berpikir, “Harun.”


“Iya?”


“Harun pasti mau bantuin aku kan?”


Dia tersenyum lagi, “Pasti.”


“Apapun yang aku minta, pasti ditolong kan?”


“Apapun.”


Jangan lengah! Tidak boleh ada celah untuknya menolak, “Janji?”


Dia tertawa kecil. Seketika dia mengangkat tangan kanannya dan menghadapkan telapaknya ke arahku, “Aku berjanji.”

__ADS_1


Langsung aku genggam tangannya itu, “Culik aku.”


Suasana dingin membingungkan membekukan wajahnya yang masih tersenyum. Beberapa saat akhirnya ia membuka mulutnya, “Maaf, apa?”


__ADS_2