Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#23 Rizki yang Kacau


__ADS_3

Apa yang aku lihat di depanku ini? 


BRAK!


Tergambarkan jelas amarah dari hempasan tangan Rizki. Nafasnya begitu berat. Keranjang sampah merah muda menjadi tempat terakhir robekan foto itu berlabuh.


Wajah yang tak terduga. Ekspresi menyeramkan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Membangkitkan kembali rasa takut. Bisa-bisanya nafasku kembali tertahan karena melihat luapan amarah Rizki.


Dia benar Rizki kan? Kenapa bisa aku melihat ‘kakek’ busuk itu di wajah kemarahan Rizki sekarang?


“Tidak papa Rasyi. Mereka bukan siapa-siapa.”


Nafasku kembali mencekik, membawa getar di tangan. Dimainkannya rasa benciku padanya menjadi rasa takut. Pekat, pekat dan semakin pekat.


“Semua baik-baik saja. Rasyi tidak perlu takut,” lebih dekat serak suara itu.


Hentikan sikap bodohmu itu! Berhenti menggila!


“Ayo Rasyi, kita tidur,” senyuman canggung yang mengerikan itu terngiang lagi di kepalaku.


Jangan mendekat kemari dengan senyum itu!!


Aku hanya bisa menutup mata dan wajah. Terpaku di tempat meski ketakutanku terpompa kencang di setiap sel darahku. Menyampaikan pesan bahwa aku tidak mengenal pria ini.


Rintihan itu jelas tak bisa ditahan meski hanya sedikit yang aku bisa keluarkan,  “He uuuuh…”


Kuhalau terus pandanganku dari arah sosok yang mendekat itu. Situasi masih saja berusaha menahan seluruh kerja tubuhku.


Beberapa menit yang panjang dan aku tidak bisa merasakan keberadaan pria itu.


Mata yang kuberanikan membuka. Pria yang aku cari malahan sibuk memegangi kepalanya. Jari-jarinya seakan berusaha menutupi rasa kaget di rangkaian wajah itu. Sampai akhirnya seluruh ekspresi luntur dari sana. Apa akhirnya ia mendapatkan kembali kewarasannya?


Dia mulai melangkah ke arah pintu, “Papa panggilkan bibi supaya Rasyi bisa tidur.”


Nafasku setuju dan membawa masuk kumpulan udara baru.


Turunnya ketegangan membuatku bertanya-tanya. Bagaimana Rasyiqa akan bertahan bila tidak ada sebagian dari Sekar yang menyangkut di dalam dirinya? Sudah begini pun tidak membantu sama sekali. Apa yang bisa dia lakukan di umur yang masih belum genap enam tahun ini?


Rasyi kecil yang malang. Terlahir di keluarga buruk yang kakeknya memburu anak dan cucunya sendiri. Ia tertuntun ke sarang musuh yang mengerikan. Sekarang pun sang ayah mulai menjadi gila.


Pasti aku dan Rasyi kecil sangat ingin pergi dari tempat ini. Namun, bagaimana? Harus pergi kemana sampai aku bisa aman? Semua sudah terlambat. Terjebak sudah aku disini.


Aku harus bagaimana?

__ADS_1


“Haaaa!” Pecah. Melampiaskan semua rasa tidak berdaya.


Mendengar dan merasakan perubahan. Apa yang dilakukan Rizki kali ini? Dia kembali dan memelukku. Takutku mulai sirnah dan menyediakan kembali ruang untukku membencinya. Semakin deras tangisanku menghadapi takdir yang dibawa oleh pria ini.


“Papa minta maaf.”


Ia memberatkan diri ke atas tubuhku. Dipaksa aku terduduk di bawah pelukannya. Hangat memberitahukan penyesalannya. Entah karena selama ini membahayakan aku atau karena membuat muka jahat seperti tadi. Keduanya membuatku mual.


“Rasyi benci papa!!” tangisanku kembali pecah semakin deras.


Aku tidak peduli dengan telinganya yang dekat dengan wajahku. Pergerakanku tertahan dengan dekapannya meski aku meronta-ronta. Kepalaku benar-benar tidak bisa berputar seperti pada mestinya.


“Nona?” kedua bibi itu masuk ke kamarku dengan muka khawatir mereka, “Kenapa? Tuan kenapa?”


“Tidak papa nona. Jangan takut.”


Jangan salahkan ketakutanku. Ini reaksi yang wajar untuk situasi bahaya. Berada disini yang merupakan kesalahan! Kalian semua kesalahan!!


“Anda kenapa, tuan?”


Tubuh pria itu tiba-tiba menghilang dari pundakku. Pelukannya longgar dan terlepas. Suara hentakan jatuh terdengar dari sebelah kananku. Membuatku berhenti sejenak dari tangisan.


Gemetar di tubuh sampai mencapai tenggorokan.


Heh? Kenapa dia terjatuh? Kenapa dia menutup matanya seperti itu? Perasaan takut apa yang muncul dari tubuhnya yang tak bergerak itu? Sakit…. Sakit


Aku menutupi mulutku, “Hmmm⏤haa aaa!!” untuk kesekian kalinya aku dipermainkan dengan mata yang mencair.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Stetoskop mulai dikaitkan kembali di leher sosok ini. Menandakan dia selesai memeriksa pria yang kusebut papa. Tas yang sudah familiar dengan wajah paman dokter yang selalu muncul di jadwal kesehatanku.


Matahari sudah bersinar sepanas yang dia bisa seharian ini. Jam malam yang semakin larut membuat ruangan ini terasa dingin. Lalu kenapa dia masih saja tidak mau bangun?


“Rizki cuma kecapekan. Biarkan dia istirahat,” paman dokter itu bicara dengan bibi-bibi membubarkan rengutanku.


Capek? Dia kan menghabiskan kebanyakan dari waktunya di rumah. Memangnya apa yang dia lakukan? 


“Aneh. Rizki bukan workaholic. Seharusnya dia sempat istirahat kan?” paman dokter sepertinya penasaran.


Kenapa bibi-bibi itu ragu untuk menjawab? Bukankah sudah pasti papa banyak istirahat. Jadwal keluarnya hanya pada pekerjaan dan sesekali menemaniku jalan-jalan. Dia bahkan lebih memilih menyuruh bibi untuk urusan lain.


“Sebenarnya dok, kami juga gak yakin. Soalnya kalau tidak dengan nona, tuan selalu mengurung diri di ruang kerja.”

__ADS_1


“Hampir setiap hari tuan begadang. Sejak pertama kali kami kerja sampai sekarang, selalu begitu.”


Begadang? Untuk apa?


“Dia mengerjakan apa?” paman dokter mulai membersihkan peralatannya.


“Maaf dok, kami sendiri takut tanya. Tuan selalu marah kalau kami masuk sembarangan.”


Ah, tentu saja. Dia kan hanya pria egois yang berpikir bisa menyelesaikan semuanya sendirian. Tentu dia akan menyibukkan diri dan tak mau tahu dengan kekhawatiran orang lain.


Helaan mengantar dokter muda itu, “Ya sudah, pastikan saja dia cukup tidur. Kalau perlu paksa saja,” paman dokter membawa barang-barangnya.


Dokter itu menatapiku. Ia tampak terkejut menyadari sesuatu dariku. Berlutut dia di depanku. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Apa matanya itu menangkap pipiku yang memar?


“Rasyi kenapa luka semua begitu?!”


Kenapa? Entahlah. Bagaimana bisa aku menjawab pertanyaannya itu? Aku saja tidak diberitahu apapun.


Kamu tidak tahu, banyak yang dokter sakit itu sembunyikan dari anaknya! Kamu tahu bagaimana rasanya berada di tengah rumah ini?! Kamu tahu bagaimana rasanya tidak tahu bahaya akan datang?! Sekarang kamu yang orang luar meminta hak untuk tahu?!


Menjengkelkan! “Bukan urusan paman!”


Kejut tergambar jelas di wajahnya. Ah… ucapanku tanpa sadar menyemburkan kemarahan. Rasyi, kamu sedang apa sih?! Mereka kan jadi curiga. Bibi-bibi juga pasti khawatir. Tidak mungkin aku jujur.


“Maaf. Itu…” bodoh ah! “Ini gara-gara Rasyi jatuh, jadi….”


Apa mereka tidak percaya?


Dokter itu menepuk kepalaku, “Iya, lain kali Rasyi hati-hati ya?”


Ruang istirahat yang kalem ini akhirnya ditinggalkan oleh sang dokter. Bibi yang satu itu mengantarkannya pergi. Sunyi melahap aku yang terdiam di ujung ranjang Rizki. Menatapnya yang masih terbaring.


“Ayo tidur nona. Sudah malam.”


“Tidur sama papa.”


Hentakan keras di dalam diriku tersadar. Apa aku baru mengatakan itu? Seharusnya kan aku marah dan membencinya. Terbelitnya hari ini, pasti yang membuat pikiranku kacau. Membuatku tak paham dengan pikiranku sendiri.


“Jangan khawatir, nona. Iya, nona boleh temani papa,” beliau mulai melangkah pergi, “Bibi bawakan bantal dan susu untuk nona dulu ya.”


Ah, tunggu⏤tapi ia sudah menghilang dari pandangan.


Kembali lagi mataku menatap Rizki. Kenapa aku jadi khawatir begini padanya?

__ADS_1


__ADS_2