
“Rasyi tidak kontak lagi dengan Firna ya? Katanya sudah lama kamu tidak bisa dihubungi. Aku kewalahan loh. Setiap hari ditanyain terus kamu kemana,” Harun tersenyum sambil memegangi gelas Ice Blend miliknya.
Ya karena sejak insiden mengerikan yang tidak terlupakan itu, papa spontan mengganti nomornya dan nomor ponselku. Waktu itu pun banyak yang perlu aku cerna, sampai tidak sempat bisa memikirkan apapun. Pada akhirnya semuanya terlupakan.
“Teman yang lain juga⏤tidak. Tidak apa.”
… apa?
“Oh iya. Rasyi, mau temani aku beli sepatu? Aku mau Rasyi bantu pilihkan. Pasti bagus,” dia tersenyum lagi memanaskan kedua pipiku.
Aduh~ Ini kan sudah dua jam sejak kamu menjemputku. Belum cukup kah?
Tidak bisa. Aku sangat bersyukur aku bisa keluar dengan alasan bertemu denganmu. Masalahnya, jika seperti ini terus, tinggal menunggu waktu mereka menyerang. Harun bisa terikut sama seperti Jagad sebelumnya.
“Harun⏤”
Eh? Ponselku berbunyi. Ada chat dari Fares? Kenapa ya?
“Tunggu sebentar,” kubuka ponselku dan mengecek.
[Rasyi masih ada di cafe?]
Oh, betul juga! Aku bisa pakai Fares sebagai alasan aku menolaknya.
Iya, Rasyi masih disini. Kakak bisa jemput Rasyi tidak? Rasyi mau sekalian ke rumah kakak.
Jawab iya. Tolong jawab iya. Please!
[Bisa. Tunggu disana.]
Nice!
Terima kasih kak~
“Siapa?” Harun tampak masih menunggu.
“Kak Fares,” aku tersenyum dan meletakkan ponsel yang sudah terkunci itu, “Aku baru ingat kalau aku sudah janji mau ke rumah kak Fares. Kak Fares OTW jemput nih. Maaf, Harun, aku tidak bisa ikut jalan-jalan lagi.”
Duh, air wajah Harun jadi terlihat aneh.
“Kamu jelas lebih suka dia ya?”
“Hah?”
“Tidak. Tidak papa kok.”
Eh? Jangan-jangan… dia cemburu?
Kenapa dia bisa cemburu dengan kak Fares? Apa yang perlu dicemburui? Di luar Fares yang memang murid dan anak unggulan, Harun juga merupakan orang yang luar biasa karena karakter dan kemampuannya. Bahkan dibanding Fares, Harun punya banyak orang yang tanpa lelah untuk selalu menyukainya.
Namun, hihihi…. Tidak aku sangka lelaki ini bisa bertingkah semanis ini!
“Harun~ Aku mau minta sesuatu.”
Dia tampak bingung, “Minta? Apa?”
__ADS_1
“Aku mau buket bunga!” kukeluarkan senyum percaya diri di rencana dadakan ini, “Harun mau beliin aku satu buat ultah tidak?”
Syukurlah dia bisa tersenyum cerah. Tahu betul kalau dia akan menantikannya.
“Kalau Rasyi memang mau, kenapa aku tidak mau kasih?” dia kembali condong ke depan meja, “Rasyi mau bunga yang gimana?”
Mmm… aku tidak benar-benar tahu jenis-jenis bunga. Namun aku tahu satu bunga yang artinya romantis selain bunga mawar. Seperti lukisan di rumah.
Termanyun mulutku sambil berteleng kepala, layaknya cewek polos yang tidak tahu apa-apa, “Bunga aster?”
Harun terdiam memikirkan sesuatu, “Aster…?” dia langsung tertawa kecil, “Nanti aku belikan bunga aster warna pink. Ya?”
Aduh~ Ternyata dia tahu apa artinya aster merah muda. Ya, kental dengan arti cinta. Sungguh seperti yang dilukiskan mama di ruang koleksinya.
“Boleh~ Aku suka semua warna kok,” aku akan mempertahankan kepolosanku sampai akhir⏤ “Aauw!” kenapa?! Dimana?! Berapa?!
“Maaf,” orang ini meminta maaf setelah memberikan hentakan pada meja kami yang disenggolnya tiba-tiba.
Pria ini kenapa sih? Dia⏤loh? Ia menjatuhkan sesuatu?
“Rasyi tidak papa?” Harun tampak khawatir.
Kembali aku menatap lelaki lembut ini, “Iya, cuma kaget.”
Itu kertas jatuh? Aku bisa membaca walau jauh… eh?
“Yakin tidak papa?”
“Iya! Tidak apa kok,” ups, aku melamun lagi. Harus aku alihkan lagi pembicaraannya, “Teman-teman di kelas gimana?”
“Iiih~ Aku kan lebih suka sekolah di sana. Belum juga satu tahun, balik lagi sekolah privat di rumah…,” aku merengut kesal menunjukkan aku seperti biasa.
Aku tidak boleh menunjukkan keterkejutanku. Kalau tidak, aku akan semakin sulit memisahkannya dari sampingku. Dia harus pulang dan menjauh dariku sebelum dia tahu apa yang aku lihat.
Perlahan kakiku menutupi kertas yang dijatuhkan pria yang lewat itu dengan sepatuku.
[Rasyiqa sayang <3]
Harun tidak boleh melihat tulisan itu.
“Rasyi,” suara melegakan!
“Kak Fares~!” Ini menjadi kabar baik saat melihat wajahnya, “Aku tidak ganggu kakak, iya kan?”
Sang kakak ini membalas senyumku sambil terus mendekati meja kami, “Tidak kok. Kakak sedang menganggur juga.”
“Ih! Sombong, sudah dapat undangan kuliah!”
Fares mengambil kursi di seberang meja kami, “Nanti Rasyi juga dapat sendiri.”
BRAK!
AAA!! Kenapa?!
“Maaf,” Harun sepertinya memukul meja sambil berdiri tadi. Namun, ia terlihat masih mempertahankan senyum, “Karena sudah ada kak Fares, aku langsung saja ya?”
__ADS_1
Aduh, dia marah, tapi…, “Iya. Hati-hati Harun~” Senyum, senyum!
Dia tersenyum balik. Tanpa sepasang kata apapun, dia pergi meninggalkan kami.
Rasa bersalah yang berat sekali di tengkuk leherku. Mau bagaimana lagi? Harus seperti ini agar dia tidak ikut masalah.
Sekarang aku harus mengurus Fares. Untungnya Fares lebih mudah diatur daripada Harun. Dia selalu bisa mendengarkanku. Pasti ada cara agar dia meninggalkanku. Walaupun hanya untuk beberapa menit.
Maaf, Fares, aku harus meninggalkanmu tanpa kabar.
Waktunya aktris Rasyi bersinar!
Kubuat ekspresi layaknya merasakan gangguan di sepatu yang aku kenakan. Memundurkan kursi dan menunduk meraih kertas yang di bawah sepatuku.
“Ada apa di bawah?”
“Tidak~” tetap tenang dan teruskan saja, “Ada yang menempel di sepatuku. Orang buang sampah sembarangan,” aku lipat kertas itu dan menunjukkan tampilan kertas yang kosong pada Fares.
“Oh,” untunglah Fares tertipu.
“Kakak tunggu dulu sebentar di sini, ya?” kubawa tas selempang dan mengaitkannya di pundakku, “Di sebelah ada toko kue, Rasyi mau beli itu dulu.”
“Rasyi pergi sendiri?”
Saatnya menunjukkan ekspresi sedih, “Kenapa? Tidak boleh?”
“Ya boleh sih. Tapi Rasyi yakin?”
“Apaan sih? Di sini tidak begitu ramai kok. Masih kuat lah~”
“Ya sudah, langsung telpon kalau kenapa-napa loh,” wajahnya tampak sedih.
Untunglah, seperti biasa. Fares dengan mudahnya percaya denganku dan tidak mempertanyakan banyak hal. Hal seperti ini sangat menguntungkan di keadaan seperti ini. Tidak seperti Harun yang pasti akan bertanya dan bersikeras ikut.
“Siap~” ceria aku menunjukkan tanganku yang menghormat layaknya saat pengibaran bendera, “Rasyi pergi dulu~”
Melangkah aku pergi. Semakin jauh aku semakin berusaha menguatkan hatiku.
Tangan kiriku menahan kuat tali tas yang membawa kalung mama dan beberapa hal yang kurasa perlu. Namun, aku tak banyak berharap. Barang-barang itu bisa jadi akan disita dan bahkan ditinggalkan di tempat.
Pintu keluar cafe di jalan medium dua jalur. Selalu sepi di tengah hari walau dengan jajaran toko yang masih aktif serta taman yang masih asri. Mereka tentu tidak akan menungguku sampai sore dimana orang mulai banyak berkumpul mencari angin.
Aku yakin mereka akan mengawasi pergerakanku. Tingkahku harus tetap normal sampai akhirnya mereka menampakkan diri.
Langkahku kembali berjalan santai. Tak ada pejalan kaki di siang hari yang panas membuatku tidak merasakan kembali phobia-ku. Mengikuti saja jalur menuju bakery yang berjarak beberapa toko saja.
“Siapa?!” refleks aku memutar pandanganku saat aku merasakan ketukan pelan di habu belakangku.
Pria bertopi hoodie. Dia tampak tersenyum dan mengangkat satu tangannya layaknya menyapaku.
Orang ini kah yang menjemputku?
Tanpa patah kata, ia melangkah mendahuluiku ke arah yang lebih jauh dari cafe. Apakah dia bermaksud untuk menyuruhku ikut dengannya?
Hah… Tarik nafas. Tetap tenang. Ikuti saja, Rasyi….
__ADS_1