
Percikan cahaya mulai menggali kesadaranku sedikit demi sedikit. Rasanya seperti ribuan jarum menyerang kelopak mataku. Semakin ingin kuabaikan, semakin sakit rasanya. Gulungan kelopak mataku menunjukkan pemandangan langit-langit krem kalem yang enak dilihat.
Lampu yang menggantung kokoh disana menarik kembali niat lipatan kelopak mataku untuk terbuka. Bola mataku menangkapnya terlalu banyak. Silau sekali! Biasanya saat aku tidur, lampunya akan dimatikan.
Heh? Sejak kapan langit-langit di kamarku berwarna krem? Pergi kemana lukisan langit biru penuh awan putih yang selalu aku lihat? Kulihat sekitar... Ini kamar siapa?
A—aku tidak diculik kan? Bukan! Pasti bukan! Mana mungkin penculik jahat membawaku ke kamar yang bagus dengan ranjang lebar seperti ini—ya tidak tahu juga sih. Tuh aku kan tidak pernah diculik. Bukan. Ini bukan penculikan. Kan? Kan?! Iya kan?!! Benar begitu kan?!!
“Daaa! Emmaan aaauuu! Aaauuu da u aenni udaaaa!” Tidak! Selamatkan aku! Aku tidak mau mati muda!
krek!
Kepalaku langsung memutar ke arah suara itu. Siapa itu?!—Aku terdiam mencerna siapa yang ada di depan pintu di ujung sana.
“Ppa! Auuuemmu nnna?!” Pa! Bajumu mana?!
“Sudah bangun?” Rizki mulai mendekat dengan tubuh basah ditemani handuk jubah yang dikenakannya.
Aaaaaaa! Aku tersesat di kamar papa ya? Kenapa aku bisa ada disini sih?
Satu saraf ingatanku mulai tersambungkan kembali. Terakhir kali kan aku ada di perpustakaan dengannya. Kami baru saja berdamai dengan berpelukan seperti Teletubies. Apa jangan-jangan aku tertidur setelah itu?
Dasar kau, siklus tidur bayi! Tidak bisakah kamu membantuku sebentar? Karenamu, aku harus terjebak di adegan yang tidak layak dilihat untuk anak bayi!
“Daa! Aa uu ppa an atta ettandi emaneunu ettaan?!” Tidak! Lalu apa yang akan terjadi denganku sekarang?!
“Ada apa?” bisikannya dekat yang ternyata sudah sangat dekat denganku.
Terdiam aku menatapnya. Apanya yang ‘ada apa’?! Ketampananmu terlalu dekat pa! Pakai dulu bajumu dengan benar!
“Apa ada yang sakit?” tangannya mendekat.
Tidak ada yang sakit—tapi jangan mulai menyakitiku! Aku minta maaf karena mengganggu waktumu! Aku minta maaf karena aku datang lagi! Aku minta maaf aku memanggilmu papa! Ampuni aku!
__ADS_1
Jemarinya memijat pelan area samping mataku, “Coba tidur lagi.”
Wah! Pijatannya enak sekali! Aku tidak menyangka pria berwajah seperti tembok china sepertimu bisa memijat seperti ini. Tanpa sadar mataku tertutup sambil menikmati pijatan ringannya.
Heh? Kenapa papa jadi lembut sekali? Padahal sebelumnya dia jadi emosional setelah kupanggil ‘papa’. Dia baru saja kesurupan apa? Bahkan dia membawaku ke kamarnya. Apa dia sudah tidak berdaya menahan rasa terpesonanya terhadap diriku yang imut ini?
Ya... aku sih senang. Rencanaku untuk berdamai sukses. Status zona merah di rumah ini jadi mereda. Aku hanya perlu menunggu waktu tumbuh kembangku berlalu sampai aku bisa meluncurkan rencana serangan balik untuk mempermanenkan keamananku.
Ah... aku mengantuk. Siklus tidur bayi yang kacau memang tidak bisa ditahan. Kalah terus kalau harus melawan rasa kantuk. Ya sudahlah~ Selamat tidur, pa~
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Eh... pa... papa? Papa tidak berniat—Jangan! Aku memang bayi tapi di dalam diri bayimu ini ada wanita tulen berumur 25 tahun!
“Mau saya bantu, tuan?” bibi pembantu penasaran dengan gerakan tangan papa.
“Tidak. Urus saja yang lain.” papa terus sibuk.
Tidaaak! Bibiiii! Jangan tinggalkan aku! Tolong panggilkan Ira atau Sari kemari! Aku tidak mungkin dibiarkan sendirian oleh dia!
“Daaa! Aa in uan! Pappa innu aiyai! An bba-bba andianeunu!” Tidak! Aku ini perempuan! Papa itu laki-laki! Jangan coba-coba memandikannku!!
Kukira saat dia bilang saatnya aku untuk mandi, dia akan menyerahkan aku ke Ira atau ke Sari. Tapi kenapa kamu mau mencoba memandikanku sendiri?! Apalagi tidak ada yang mengawasi! Kalau kamu menggosok kulit indahku terlalu keras bagaimana?! Tidaaaaak!
Tidak berdaya, akhirnya dia berhasil melepas baju dan memasukkan aku ke bak mandiku. Yang ada di pikiranku hanyalah kulitku yang lecet karena dirawat oleh pria di belakangku ini. Sari~ Ira~ dimana kalian saat aku membutuhkan kalian?
Ketakutanku menurun drastis setelah tangannya menyelimuti kulitku dengan sabun. Tangannya seperti ditempeli banyak kain wol. Lembut sekali. Bahkan lebih nyaman dari Sari atau Ira yang biasa memandikanku. Wah. Papa, kamu punya sihir hitam ya?
“Lihat ke atas dulu.” disiram pelan rambutku.
Aduh~ Enak sekali~ Seperti perawatan spa mahal untuk bayi~ Papa ternyata ahli juga ya~
Oh iya. Papa kan pernah punya anak sebelumnya. Dia pasti pernah menangani bayi dong. Mungkin karena itu dia bisa merawatku dengan baik. Hmm… benar juga.
__ADS_1
Selesai, dia mengangkat pelan tubuhku dan menidurkanku ke meja bayiku. Dia benar-benar ahli. Bahkan mengeringkan dan memakaikan baju juga sangat lembut. Aduh pa~ Kan aku jadi makin sayang denganmu~
“Rambutmu masih pendek.” dimainkannya rambutku dengan jemarinya yang masih dingin itu.
Matanya celingak-celinguk mencari sesuatu. Apa yang dia cari? Sudah ketemu? Dia langsung membantuku duduk. Tidak kusangka dia memasangkan bando merah yang cocok dengan bajuku sekarang. Wow~ Benar-benar ahli!
Wajahnya mendekat padaku, “sekarang pakai hiasan saja. Kalau rambutmu panjang, akan kuikat.”
Oh? Papa bisa mendandaniku? Tidak kusangka. Padahal mata sipit dan ekspresi datar itu senantiasa menggambarkan sikap dingin dan tidak peduli. Berapa banyak sisi ke-ibu-an yang kamu sembunyikan?
Tersadar papa sudah meletakkan dagunya menempel pada tekukan tangannya di atas meja tempat aku duduk. Matanya tetap saja lekat menatapku. Seakan mau mengamati setiap garis wajahku.
“Kamu tidak mirip Nissa.” gumamnya.
Mama? Wajah mama tidak menurun padaku? Itu berarti wajahku mirip papa dong? Apa itu berarti aku cantik? Jadi penasaran.
“Aan ii, aa mmm ip Pappa?” berarti, Rasyi mirip papa?
Senyuman sederhana menghiasi wajahnya. Jangan senyum papa~ Silau! walaupun aku tidak yakin dia bisa memahami apa yang kutanyakan.
“Eh, salah. Kalian berdua sama keras kepala.” tangannya mengelus pipiku.
Hah? Apa itu bagus? Itu bukan hal yang perlu dibanggakan.
Ia tampak lebih cerah dibalik semua kesan menghina itu. Tampak lembut sebagaimana sosok ayah. Dari jarinya yang mengelusku itu, kurasa memang sehangat inilah dia. Separah apa lukanya sampai-sampai kehangatan ini tertutup?
Terhanyut mata akan hal sendu yang menarik senyum tipis. Kembali menghias wajah tak berkerut. Siapa yang tahu percikan apa di mata sedih itu. Inikah deritanya selama ini?
Kusentuh wajahnya yang masih dekat. Refleks ciumanku mendarat di keningnya menutupi mata sedihnya. Seakan ini menenangkannya.
“Aichi anyaaen pappa!” Rasyi sayang papa~
Mata sipitnya terbelalak lebar. Aku yakin kalau dia memahami apa yang kukatakan. Senyumanku terus mengembang menunggu reaksinya.
__ADS_1
Wajahnya yang terlintas memerah langsung terhalang oleh tangan besar. Yakin kalau mulut itu tersenyum tak terbendung.
Iiii~ Lucu banget reaksinya. Bisa malu seperti itu. Ah. Meski bukan karena saling sayang, akan kunantikan dimana dia akan menjawabnya secara gamblang. Untuk saat ini keadaan ini sudah sangat menenangkan.