
“Non, paketnya datang.” bibi itu mengintip di celah tirai jendela.
Oke. Ini saatnya. Aku pasti bisa melakukannya kali ini. Tidak apa. Dia cuma pembawa paket. Ini juga ada di rumah. Bibi-bibi memperhatikanku dari dalam. Semua akan baik-baik saja.
Bel berbunyi kencang mengejutkanku walaupun aku sudah mempersiapkan diri. Panggilan orang luar menyerukan apa tujuannya. Paket datang. Harus aku ambil.
Menarik nafas panjang. Jantungku, bersahabatlah. Go!
Kubuka pintu depan rumah. Petugas pria itu tampaknya bukan orang yang aneh-aneh. Ya, itu hal baik. Tidak apa. Sekarang aku melangkahkan kakiku mendekatinya. Pagar itu aku buka sedikit dan berusaha tersenyum walau kaku.
“Atas nama, Rasyiqa Deanadari?”
“I⏤iya.”
“COD ya dek.”
Aku mengulurkan sekumpul uang yang sudah dibuat pas dengan harga barang. Dia menerimanya dengan sopan. Syukurlah dia tidak menyadari tanganku yang bergetar.
“Pas ya dek,” dia menyerahkan paketku, “Terima kasih dek.”
Hanya kujawab dengan senyum tipis, sambil terus diam berdiri di depan pagar yang terbuka sedikit. Pengantar paket itu pergi membawa alat transportasi roda duanya.
Membeku sejenak. Berhasil kah sudah? Eh? Aku bisa bicara dengan orang lain meski tidak ditemani!
“Nona hebat!” sepertinya para bibi datang menjemputku.
“Iya, non, selamat.”
Senang dan rasa tidak percaya bercampur aduk memaku kakiku. Ini kebanggaan sendiri untukku. Diriku yang sejak hari itu selalu memiliki rasa takut dengan dunia luar, khususnya orang-orang baru.
“WAA!!!” aku terkejut dengan tepukan tangan di lenganku, “Aaa!” aku berteriak lagi menemukan tanganku berusaha mengamankan paket yang baru saja aku lempar sendiri.
Sebuah tangan menimpa kedua tanganku yang berhasil menangkap paket itu. Jantungku kembali berdetak kencang, khawatir paket itu terjatuh ke tanah taman. Apa itu tadi?
Kupandang wajah pemilik tangan itu, “Maaf,” ia tersenyum dengan tawa yang tertahan.
Harun! Langsung aku tarik tanganku dari genggamannya. Paket itu kupeluk sedangkan satu tangan lagi kubuat sebagai senjata menyerang Harun. Dia hampir saja membuat paketku terbanting! Bagaimana kalau pesananku yang dari keramik ini jadi rusak?!
“Kamu kenapa sih?!” kupukul-pukul pelan lengan atasnya yang masih dengan kemeja putih yang lazim.
Dia tertawa manis, “Maaf. Tidak sengaja.”
Huh! Sudahlah!
Aku melangkah dengan ambek mewarnai wajahku, selagi mendengarkan suara langkah yang mengikuti. Kubiarkan lelaki bercelana biru itu membawa dirinya. Terkadang anak satu itu suka jahil. Muka kalem adem yang menyenangkan itu benar-benar penipuan.
__ADS_1
Berhenti langkahku di depan meja panjang dapur. Kursi tinggi menjadi tempat istirahat lelaki yang kukenal lama ini. Dia tampak memperhatikanku yang sibuk membuka paket.
“Kamu pesan apa?” dia membuka pembicaraan.
“Vas. Untuk taruh kuas lukis,” aku berhasil membuka kotaknya dan memperlihatkannya pada Harun, “Lucu kan?”
“Iya, lucu.” wajahnya tampak cerah menyilaukan dengan senyuman yang seperti tidak pernah pudar.
Amat sangat sungguh menyilaukan! Bagaimana anak umur tiga belas tahun bisa sangat mempesona? Tidak! Jangan buat aku salah tingkah!
Kududuki kursi makan yang layaknya bar itu, “BTW, Jagad tidak ikut kamu?” secepat mungkin aku berusaha mengubah topik.
“Biasa. Sibuk OSIS.”
Oh iya. Jagad sekarang sudah jadi anggota dari organisasi kepanitiaan itu. Sesekali aku melupakan hal hebat darinya. Mungkin karena aku terbiasa dengan sikap yang barbar dan terkadang merepotkan.
“Kamu sudah bilang ke paman Rizki, belum?”
Ah. Benar juga. Semangat dan penasaranku terkumpul sudah. Namun aku saja belum membicarakannya dengan papa.
“Belum,” kumainkan vas seukuran mug minum itu, “Aku takut.”
Lewat sudah enam tahun sejak tragedi yang membuat trauma itu. Sejak saat itu pun aku tidak pernah berani keluar rumah. Hari semakin hari, bukannya tersembuhkan oleh waktu, aku malahan semakin takut untuk menunjukkan batang hidungku kepada dunia luar.
“Mau aku temani bilangnya?”
“Bukan, bukan takut itu. Papa sih pasti senang kalau tahu aku mau sekolah di luar,” jariku masih saja menyibukkan diri, “Aku masih belum yakin saja.”
Harun terdiam.
Beberapa orang lain termasuk dia pun tahu aku tidak berani bertemu dunia luar. Ia juga tidak pernah menekanku atas kekuranganku. Namun jelas dia ingin sekali membantuku.
“Di sana kan ada aku dan Jagad. Sampingan dengan SMA kak Fares lagi. Paman Hendra juga kerja di dekat sana.”
Ya kan kalian bukan bodyguard yang 24 jam mengawasiku. Kalau kalian lengah bagaimana? Akhirnya kembali lagi padaku dan keberanianku.
“Kalau mau keluar, jangan ragu begitu. Takut boleh. Tapi harus dihadapi,” senyumnya lagi-lagi merekah, “Aku pasti ada buat bantu kamu kok.”
Ikut merekah senyumanku. Manisnya kalimat yang ia lontarkan membuatku ingin mencoba lebih keras lagi.
Benar. Tidak ada yang akan berubah kalau aku hanya berdiam di sangkar emas terus menerus.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Malam penuh airmata yang aku dan Rizki laluin enam tahun lalu berakhir dengan aku yang tertidur. Tidak ada perubahaan banyak dari papa keesokan harinya selain kembali membatasi aktivitas dengan orang-orang. Layaknya kembali di awal Rasyi lahir.
__ADS_1
Namun papa tetap berharap aku mau menjalani hidup lebih bebas. Sepertinya dia tidak mau aku merasakan tekanan di kekang di dalam rumah. Di lain sisi papa tidak pernah menentang ketakutanku.
Hal lain? Aku hanya berusaha tumbuh kuat dan cantik. Meski aku harus menahan rasa ingin tahu akan semuanya tentang dia dan kakek. Itu sudah termasuk janjiku. Karena itu juga aku tidak boleh merepotkan papa.
Tanganku mendorong pintu ruang kerja papa. Memperlihatkan rak-rak buku yang lebih banyak dari terakhir aku ingat. Di tengah-tengah mereka, sengaja diletakan satu set sofa. Papa bersantai di atasnya menikmati segelas teh dan buku baru.
Dia mendapati diriku yang mengintip, “Kenapa?”
Kembali lagi mata hitamnya menyambutku. Wajah itu bagaikan diciptakan permanen. Aku masih tidak pernah menemukan sehelai rambut yang luntur kilauannya. Papa satu ini awet mudahnya keterlaluan.
Langsung saja! “Em, papa sibuk tidak? Rasyi mau ngomong sesuatu.”
Dia meletakkan bukunya di meja kecil pelengkap set sofa, “Sini.”
Aku melangkah cepat mendekatinya. Kuhempas tubuhku di sofa panjang itu dan memeluk pinggang papa. Hanya terdiam dia meletakkan tangan di punggungku.
“Kalau cuma mau ganggu, jangan disini.”
Iish! Papa kurang ajar! Anaknya lagi gelisah malah diusir!
Kutegakkan tubuhku kembali menatap wajah yang tampannya tidak tertolong itu, “Rasyi mau ngomong sama papa!” gembung pipiku menunjukkan kekesalanku.
Tiba-tiba kedua mata itu menyipit. Apaan sih?! Enak saja memberikan pandangan meragukan ke arahku! Jangan samakan aku dengan Pinokio yang hidungnya kepanjangan! Putrimu ini sudah berpengalaman banyak jadi asisten dosen yang terpercaya, tahu tidak?!
“Mau ngomong apa?”
“Itu Rasyi….” sekali lagi aku menarik nafas, “Rasyi mau sekolah di sekolahnya Harun sama Jagad.”
Rizki terdiam dengan matanya yang lebih lebar dari biasanya. Kurasa dia kaget meskipun tidak begitu tergambar jelas.
“Baiklah,” dia cepat mengambil tabletnya dan mengecek sesuatu, “Kalau gitu papa cari waktu kosong dulu biar bicara ke pihak sekolah. Fares masih di sekolah ya? Hari ini seharusnya dia ke sini, nanti papa minta kontak pihak sekolah.”
Aaaah….
“Siapkan juga surat-suratmu, harus photocopy setidaknya dua-dua. Besok juga papa diskusi dulu dengan guru privatmu. Hmm… papa bisa lusa. Nanti papa yang urus ke sana.”
Lusa?! Aku tidak bermaksud secepat itu!
“Rasyi juga harus siap-siap. Beli semua yang perlu untuk sekolah. Buku literatur, buku tulis, kotak pensil. Ransel, Rasyi coba pilih mau yang bagaimana. Kalau masalah seragam papa dengar mereka punya seragam sendiri. Mudah-mudahan ada yang ready.”
Tunggu! Kenapa jadi papa bersemangat begitu?!
*Agoraphobia :
Ketakutan berlebihan pada suatu tempat maupun kondisi. Biasanya membutuhkan teman atau kerabat untuk menemaninya di tempat umum.
__ADS_1