Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#43 Jumpa Tempat Lama


__ADS_3

Baru juga dua hari berlalu. Tidak aku sangka aku bisa kembali ke kota ini secepat itu. Kota dimana Sekar menghabiskan lebih dari setengah umurnya.


Sepertinya umur Rasyi ditambah dua tahun menjadi waktu yang cukup untuk segalanya berkembang. Daerah yang seingatku sepi, malah disulap menjadi salah satu jalur utama para pelaku transportasi.


Hah. Lagi-lagi aku mual.


“Yakin mau lanjutkan? Di luar ramai banget loh,” Harun memegangi pundakku, “Gimana kalau Rasyi pulang saja?”


Aku tidak tahu. Maksudku, aku tidak mendapatkan hasil apapun dengan melihat tempat ini dengan batasan hanya kaca mobil. Padahal aku sudah ada di depan tempat kerja Sekar dulu.


Kukembalikan diri berusaha mengendalikannya, “Katanya kamu mau bantu aku? Masa sekarang langsung tidak dibolehkan lagi.”


“Bukan begitu, Rasyi. Mukamu itu pucat loh. Nanti kalau lebih parah, gimana?”


Walaupun begitu, aku sudah muak menjadi manusia yang suka menggalau. Lelah. Harus aku selesaikan semuanya ke akar-akarnya.


Siapa yang tahu? Mungkin cara kerja otakku memang seperti saat aku mengingat lagi kak Aldi. Bertemu lagi dan tiba-tiba muncul tanpa aba-aba. Aku harus mencoba mengingat sesuatu dengan pergi langsung ke lokasinya atau bertemu langsung dengan seseorang.


Harun mencondongkan sedikit tubuhnya ke pria matang di balik kemudi, “Pak, kita antar Rasyi pulang saja.”


Ah! Jangan! Harun ini tidak memberikan aku waktu sama sekali!


Sudahlah! Kamu bisa Rasyi! Cepat! Go!


Langsung aku buka pintu mobil di samping kiriku sebelum mobil sempat beranjak dari posisinya di parkiran. Yang terjadi nanti, aku pikirkan nanti⏤hah!


“Rasyi!” Harun terdengar panik dari dalam mobil.


Apanya yang kupikirkan nanti? Efek lemasnya saja langsung ke tubuhku. Sungguh tubuh ini hanya bisa bersandar pada pintu mobil yang terbuka setengahnya.


Hah! Keramaiannya semakin keras saat aku diluar sini.


Jangan lemah, Rasyi! Sudah cukup hari-hari penuh kelemahanmu itu!


Kaki tak bertenaga yang rentan untuk membuatku jatuh itu, masih aku bawa pergi. Hanya perlu tidak mendengar dan tidak melihat sekitar. Setidaknya aku harus masuk ke kantor distribusi oleh-oleh itu. Pasti ada ingatan Sekar yang aku tinggalkan disana.


Dua buah daun pintu terbuka itu adalah tujuanku. Tak mau aku pedulikan yang lain dan terus saja menerobos. Beberapa langkah berhasil memasuki pintu. Suasana dingin Air Condontioner menyambar langsung leherku.


Loh? Kenapa rasanya seperti aku salah masuk kantor? Ini benar kantor tempat Sekar bekerja dulu⏤Ah!


“Heh! Tidak boleh masuk sembarangan!” tersadar seorang pria berseragam putih hitam berteriak marah.


Sakit! Dia menahan leher belakang bajuku! Kuat sekali dia menarik bajuku. Bagaimana ini?


“Maaf, pak. Dia itu…,” Harun!


Uluran tanganku mengarah padanya, “Harun! Tolong!”

__ADS_1


“Tuan muda Harun,” penjaga itu masih saja menremas leher bajuku….


Heh? Bapak ini bilang apa tadi?


Lembur tangan Harun menerima uluran tanganku, “Tolong dilepas, pak. Dia temanku.”


Cengkeraman tangan penjaga berbadan jumbo itu terlepas. Langkahku langsung spontan menjauh pria itu dan memeluk lengan Harun. Harun masih saja panik merapikan bajuku yang tertarik.


“Maaf, Tuan muda. Saya tidak tahu hari ini tuan kemari.”


“Tidak. Kami yang minta maaf sudah buat keributan. Kami cuma mau mampir sebentar, tidak masalah kan?” Harun kembali berbicara.


“Iya, tuan, gak papa. Masuk saja.”


Harun menundukkan tubuhnya berbicara denganku lebih dekat, “Ayo Rasyi. Kita masuk dulu.”


Dituntunnya tempatku beranjak ke lebih dalam. Meskipun aku tidak sempat melihat dan memperhatikan semua perubahan kantor lamaku ini, aku sudah bisa menangkapnya. Khususnya ukurannya, tempat ini semakin besar.


“Rasyi duduk dulu,” Harun mempersilahkan aku beristirahat di ruang yang lebih sepi.


Entah sejak kapan tambahan-tambahan besar seperti ruang santai ini dipasang. Tidak perlu jauh-jauh, dulu di lantai satu tidak ada AC. Namun, hal yang terbesar yang terlambat masuk ke otakku….


Menghadap kembali aku ke arah Harun, “Mmm…,‘Tuan muda’?”


Harun terdiam sesaat tampak berpikir, “Kenapa?”


“Loh? Harun?”


Kembali aku menggenggam tangan Harun. Siapa lagi pria ini?


“Harun lagi apa disini? Pak Aldi ada di atas. Langsung saja,” muncul lagi satu wanita mendekati Harun. “Atau mau dipanggilkan?”


“Tidak kok, tante. Kami bukan mau ketemu ayah,” Harun tersenyum lagi.


Kedua orang ini pegawai disini kan? Apakah kak Aldi menjadi orang yang berpengaruh besar sekarang? Jangan bilang kak Aldi menjadi CEO atau semacamnya. Penanggung jawab yang dulu kan kerjanya tidak becus.


“Terus ada urusan apa ke sini? Bilang saja. Kalau anak CEO sih, paman bisa bantu apa saja.”


Benar?! Sungguh, aku menebak dengan benar?!


Mata Harun sesaat terasa melirik ke arahku, “Iya terima kasih, tante Nita, paman Dewa. Kami cuma mau istirahat sebentar. Di luar ramai sekali.”


Nita? Dewa? Tunggu. Mereka kan teman satu kos-nya Sekar!


Wanita itu tersadar kehadiranku yang menatapi mereka lekat. Ia menunjukku pelan, “Pacar Harun?”


Eh?! “Bukan,” langsung aku lepas pelukanku pada tangannya.

__ADS_1


Wanita ini terkejut dan menutupi mulutnya. Tampak ia dan Dewa menahan tawanya pada Harun yang memilih untuk tidak mendengarkan apapun.


Fokus! Aku harus berusaha mengingat apa yang terjadi. Mereka pasti ada sangkut paut walau sedikit. Seperti kapan mereka bertemu Sekar atau sebagainya.


Namun, bagaimana aku tahu? Tidak mungkin langsung kutanyakan, bukan?


“Oh, iya.” Nita duduk di sampingku, “Kamu anaknya si dokter itu tidak sih?”


Heh? Dia kenal papa? Wow. Ternyata papa populer.


“Dokter yang bareng waktu Sekar mati, itu kan?”


Tertekan erat seluruh tubuhku. Apa dia menyinggungku tadi? Salah dengar kan? 


“Nita,” dewa menegur.


“Kenapa? Memang ayahnya dia pembunuh kan?” bisa kurasakan kemarahan yang mendalam di senyum sinisnya.


Apa benar ini Nita yang aku kenal? Rekan kerja pertama Sekar yang ramah dan senantiasa ada untuk Sekar? Sangat lain melihatnya begini.


Otakku kemana? Tentu saja dia seperti itu. Kalau aku jadi dia pun, aku pasti tidak akan rela temanku mati begitu saja. Diri ini yang jadi korban itu sendiri saja belum bisa melepaskan.


Bukan hal yang aneh kalau dia akan membenci Rizki dan segala macam yang terkait dengannya. Apalagi Rizki yang menyebar luaskan berita kematian Sekar. Minimal seluruh karyawan toko ini sudah tahu tragedi apa yang terjadi.


Harun mulai resah, “Tante, tolong. Jangan dibahas.”


Wow, bahkan Harun pun tahu. Namun…,


“Tidak,” langsung aku hentikan apapun niat Harun. Aku harus dapat informasi apapun itu, “Maaf, paman, tante. Saya boleh tanya-tanya sebentar? Ini masalah…,” aku menelan ludahku, “... tante Sekar.”


Mereka terkejut. Gelagat canggung tampak jelas dari Dewa.


“Rasyi, gimana kamu tahu⏤tidak. Kita tidak boleh sembarangan membahas itu,” Harun kelihatan panik.


“Ya. Lagipula kamu sudah tahu kan?” Nita lagi-lagi menjawab dingin.


“Nita,” Dewa memandangku lurus, “Kenapa kamu mau tanya tentang itu?”


Aku harus cari alasan yang bagus. Sebagai anak dari ‘pelaku’, aku tidak bisa bicara sembarangan.


Refleks aku membuka mulut, “Saya tahu hal ini baru-baru saja dari paman Aldi. Saya mau pastikan kalau ini bukan salah papa.”


Loh? Kenapa aku mengatakan hal seperti itu? Memangnya papa tidak bersalah? Papa kan memang orang yang memancing kakek dan membawa masalah itu pada Sekar.


Apa selama ini aku ingin kemari karena aku mau meyakinkan diriku kalau Rizki tidak bersalah?


PAK!

__ADS_1


Hah? Kenapa pipiku panas? Nita?


__ADS_2