
Buka... Tutup... Buka... Tutup. Mainan ini semakin membosankan. Apa ada hidung yang bersedia untuk kujepit? Hidupkanlah kembali mainan usang ini.
“Huaaam...” menguap lebar membuka rahang bawahku .
“Kita tidur yuk,” kata bibi.
“Gak mau!” teriakku, “Unggu papa!”
“Sudah jam sebelas malam, nona. Lihat matanya nona, sudah sipit tuh.”
Berisik! Aku tidak mau tidur! Berangkat tidur pun hanya membuatku tidak bisa tidur!
Papa... Di mana kamu? Ini sudah satu minggu~ Seharusnya papa di sini sekarang! Tidak kabur permanen, kan?! Jangan coba-coba sedikit pun memikirkan itu! Akan kupanggilkan semua pasukan yang menjadi tamu ulang tahunku kemarin untuk mencarimu sampai ke ujung bumi—
“Nona~ tebak, siapa yang pulang?” bibi satu lagi menghampiriku menyengir jelek.
“Papaaaa!!” secepat superhero pelari kilat itu, aku mengambil ancang-ancang berlari, “papa papa papa!”
“Jangan lari-lari,” suara tenang yang terkadang dingin itu sudah sangat kurindukan.
Kedua tanganku melingkar menahan kakinya. Tidak kusangka bisa merindukan orang ini. Seburuk apa pun orangnya, dia tetap saja papa tampan idaman para istri di dunia.
Tubuhku diangkat dari pijakan ubin putih. Matanya yang terlihat lelah semakin jelas di sampingku. Aku semakin penasaran apa yang dia lakukan seminggu ini.
Papa tersayang~ papa pasti lelah kan? Sini, peluk! Capeknya papa pasti langsung hilang~
Terkadang aku aneh sendiri. Bagaimana aku bisa bersikap seimut ini padahal Sekar tidak pernah tertarik pada anak kecil. Mungkin di sudut diriku masih ada pemikiran anak-anak.
“Huaaam!” kuapan ini mulai menjengkelkan.
Aku tidak pernah terjaga lebih dari jam sembilan malam sebelumnya. Pencurian besar kantung tenaga untuk mataku yang sengaja aku simpan untuk menyambut papa. Bagus siklus bayi! Akhirnya aku bisa bekerja sama denganmu. Sekarang aku harus menjalankan rencanaku—
“Huaaam...”
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Sepertinya merajuk sudah menjadi ciri khasku. Mudah marah dan tidak suka dengan situasi yang sedang kujejaki. Sekarang tidak terkecuali.
Aku marah! Papa baru saja pulang kemarin larut malam. Sekarang papa menyibukkan dirinya dengan apa pun itu di meja kerjanya. Dia bersikap seakan dia sudah ada di sana seminggu ini. Baginya apa sih keluarga itu?!
__ADS_1
Kenapa juga kemarin aku bisa sampai ketiduran di gendongan papa. Padahal aku mau menunjukkan kejutan khusus kusiapkan untuknya. Aku sudah berusaha keras untuk itu! Saat aku mau menunjukkannya, dia malah sibuk.
Sebuah ketukan tegas dari arah pintu. Pintu terbuka sesaat mengingatkanku dengan film-film horor yang masih belum bertemu sosok seramnya. Wajah khas pedesaan milik bibi pembantu sesaat terlihat menyeramkan kalau muncul dari ruangan gelap.
“Tuan, ada paket besar baru saja datang.” kata bibi itu masih di tempatnya.
Ketikan papa terhenti. Sesaat aku melihat bayangan diriku di pupil hitam mengilapnya, “Bawakan paketnya ke atas. Nanti aku ke sana.” kata papa kembali mengetik.
Bibi mengangguk dan pergi menutup pintu. Hah. Aku sempat berharap bibi itu membawa kabar lain yang bisa mengangkat tulang duduk papa dari kursi kerjanya yang sudah hilang empuknya itu. Sekarang dia malah mengetik lebih cepat seperti saat Sekar bekerja bagai kuda karena deadline berdiri di depan mejanya.
Lelah! Aku duduk saja deh. Seharusnya dia memberikan tempat duduk di tengah rak-rak buku ini! Menjengkelkan!
Tersadar papa sudah beranjak dari kursinya. Inikah saatku untuk menyerang? Papa! Aku baru saja duduk! Tunggu aku!
“Pappa!” aku mengikuti langkahnya.
Ia menghentikan langkahnya seakan menunggu kakiku yang pendek. Aku tahu apa yang dia pikirkan. 'Lebih baik aku menggendongnya daripada menunggunya yang seperti siput keberatan rumah'. Ya sudah. Ayo bawa aku.
Tangan-tangannya yang kuat dibuat harus berfungsi di dua kegiatan yang berbeda. Menggendongku dan mematikan lampu kerjanya itu. Sebuah cutter ditarik dari tempat tinggalnya yang tersusun rapi bersama teman-temannya, bergantung menutupi sebagian dinding dapur.
Sungguh tercengang dengan kotakan coklat yang cukup besar di ruang tengah tergeletak di samping rak mainanku. Aku diturunkan di karpet bulu lembut yang dari merasakannya saja aku sudah tahu kalau harganya mahal. Kenapa aku di sini? Yang mau kutunjukkan padanya ada di kamarku!
Ia terduduk di sampingku dengan paket besar itu, “coba lihat ini dulu.” tangannya terampil membelah selotip satu demi satu paket itu.
Memangnya apa itu? Kenapa aku harus ikut melihat isinya? Oh, mainan baru kah? Sebanyak itu? Papa jadi orang berbaik hati?! Yakin?! Tidak mungkin!
Heh... Itu bener mainan?! Mainan seperti buku dengan berbagai interaksi untuk anak-anak. Sekar pernah melihat seperti ini di sosial media. Hanya sekedar iklan lewat.
Rasyi kecil sepertinya melihat mainan itu secara berbeda. Mainan baru selalu membuat seluruh tubuhku semangat. Bagaimana kalau kucoba sebentar?
“Nona hebat!” seru bibi menontonku yang sibuk dengan lembar pertama buku itu.
Selesai! Selanjutnya... Selanjutnya... Selanjutnya....
Ah. Apa aku selesai mencoba setiap halamannya? Lebih mengasyikkan daripada yang aku kira. Kutatap kembali papa. Ternyata ia terdiam memperhatikanku. Sudah selesai pa. Papa punya yang baru?
“Lagi pappa!” seruku.
Dia memainkan alisnya. Tangannya meraih sesuatu lain dari kotak paket itu. Buku mainan lagi? Ia membukakan plastiknya dan membalik lembar pertama untukku.
__ADS_1
Benar-benar tidak kusangka kalau aku menikmati setiap halamannya. Mainan sederhana yang mendidik itu ternyata sangat cocok dengan putri manis keturunan sang dokter berotak encer. Lagi!
Dari mana aku mendapatkan kebiasaan ini? Aneh kalau aku memikirkannya dari sudut pandang Sekar. Fisik anak berumur kurang dari empat tahun ini lebih berpengaruh daripada 25 tahun kuhabiskan sebagai Sekar.
Ya... Ini tidak buruk juga sih. Anggap saja ini sebagai kenikmatan masa kecil kurang bahagia. Masa kecil Sekar memang tidak spesial sih. Lebih ke arah merepotkan.
“Lagi!” seruku setelah mencoba maraton empat buku sekaligus.
Papa terdiam seakan berpikir. Dia memegang satu buku di tangannya. Sepertinya itu yang terakhir. Apa yang papa tunggu? Berikan padaku!
“Duduk sama papa. Sini.” katanya tiba-tiba.
Hah? Tumben sekali dia memintaku seperti itu. Ya sudah, nih. On the way~ Aku dituntun tangannya sampai duduk di pangkuannya.
Buku ia buka. Wow. Kalau dipikir-pikir setiap interaksi di buku dari jahitan berbagai kain ini semakin sulit setiap bukunya. Tetap saja, aku tidak mungkin kesulitan! Otak ini sudah kujaga dan kuasah dengan baik dan benar.
“Bisa?” tanyanya lembut.
“Iya!” seruku mulai beraksi.
“Semangat nona!” para bibi masih setia menjadi supporter-ku.
Ada pengurutan angka. Ini kan gampang. Tidak pernah sekolah saja sudah tahu, apalagi si Sekar yang sudah lulus S2 akuntansi. Seharusnya aku mengajar sekarang.
“Hmm...” senyuman tipis menghampiri wajahnya.
Kenapa dia tertawa? Tidak ada yang lucu dari anak yang bisa menyelesaikan sesuatu. Itu perkembangan yang seharusnya kamu banggakan. Masa bodo! Aku lanjutkan saja yang ada di depanku.
Lagi-lagi aku menyelesaikannya dengan cepat, “Lagi?” masih ada lagi?
“Itu yang terakhir.” katanya menyikut kakinya menahan wajah.
Aku sangat tahu garis wajah itu. Dia tidak tersenyum sama sekali tapi matanya seakan mengatakan jelas kalau dia sedang tertarik. Suatu alasan apa yang membuatnya tertarik begitu?
“Malam ini Rasyi harus tidur cepat.” kata papa tiba-tiba.
“Kenapa?” tanyaku memanyunkan bibir.
Dia tersenyum lagi, “besok Rasyi ikut papa keluar.”
__ADS_1
Keluar… keluar?!