Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#34 Pernyataan Lagi?!


__ADS_3

Cekatan tanganku membereskan barang-barang bawaanku. Menempati sudut dinding dan lantai yang belum terisi. Sekaligus mempersiapkan tempat yang cukup untuk tidur nanti malam.


“Semua sudah selesai, Girls?”


Cewek-cewek itu mulai berkumpul di tengah. Mulai membicarakan hal acak, dari yang mereka gunakan sekarang sampai gosip kedekatan orang-orang di sekolah.


“Girls, aku ingatkan ya. Kita punya waktu bebas sampai makan malam jam tujuh. Kalau mau jalan-jalan keluar, bilang-bilang yang lain atau guru ya,” cewek sekretaris kelas itu berbicara keras.


Sayangnya kami harus berangkat siang karena masih ada kegiatan pagi di sekolah. Pada akhirnya kami sampai lokasi perkemahan sore hari. Jadi kami tidak punya banyak kegiatan untuk hari ini.


Ditambah lagi aku tidak bisa merasakan banyak tentang perkemahan yang aku ingat sebagai Sekar. Tidak ada tenda, tidak ada tanah yang langsung dijadikan alas tidur, tidak ada acara memasak sendiri. Hah. Seperti bukan berkemah saja.


Aku tidak punya pilihan. Papa hanya mengizinkan asal aku tidur di gedung serbaguna yang ada di lokasi. Lalu makanannya pun dipesan saja. Hebatnya, papa yang membiayai sepenuhnya. Teman sekelasku sih, malah tambah senang.


Dan syarat yang satunya lagi….


“Ternyata papanya Rasyi kenal dekat kak Fares ya.”


Aku membuka mulutku menjawab, “Soalnya papaku dan ayahnya kak Fares sudah kenal dari SMA.”


“Berarti kamu sudah kenal kak Fares dari umur berapa?”


Aku berpikir sejenak, “Sejak aku lahir.”


Benar juga. Orang pertama yang Rasyiqa lihat saat baru membuka matanya, kan si anak itu. Siapa yang menyangka anak bar-bar waktu itu bisa jadi sedewasa sekarang dan punya KTP sendiri.


“Rasyi.”


Aku mencari sumber dari suara itu, “Harun? Kenapa?”


Dia terduduk jongkok di sampingku sambil memiringkan kepala, “Mau tidak temani aku jalan-jalan sore?”


Wow. Mau apa dia?


Salah satu dari mereka berbisik, “Cie~”


Hah. Aku kabur saja deh daripada dilontarkan segudang pertanyaan, “Ayo~” aku berdiri mengambil posisi mau kabur.


Kami melewati pintu ruang yang besar itu. Gedung yang sering disewa untuk berkemah ini tampak unik dengan lapangan terbuka di tengah-tengahnya.


Sampai kami pada lobi sederhana yang menghubungkan pintu keluar. Izin yang simpel membawa sapaan kecil pada guru-guru yang tampak masih bersantai. Jalanan aspal tua dengan sentuhan alam yang asri menyambut kami.

__ADS_1


“Jangan jauh-jauh dari aku ya,” senyum Harun jelas terpampang di balik bahunya.


Langkah kami mendekati pohon-pohon yang dirawat rapat layaknya hutan, dengan matahari yang masih saja bisa tembus. Harun mendahuluiku. Tidak langsung memberitahukan kalau ia sudah kenal lama dengan kumpulan pohon itu.


Entah Harun mau membawaku kemana. Namun semakin jauh kami melangkah semakin kencang aku bisa mendengarkan suara air. Oh iya, di wisata ini juga terkenal dengan sungainya yang bening. Apa kita pergi kesana?


“Wow~” terkesan aku.


Tampak jelas dari tempatku berdiri sekarang. Dataran yang lebih tinggi ini memperlihatkan gambaran besar. Sungai tak dalam yang mengkilap bagai permata, sampai langit dedaunan hijau yang segar. Pengunjung sungai yang tak begitu banyak membuatnya semakin damai dipandang.


Harun tampak senang, “Cantik kan?”


“Iya,” aku merentangkan kedua tanganku merasakan angin yang berembus sejuk.


Aku mengembalikan tanganku. Berbalik ke arahnya yang ada di belakangku. Ya sudah. Tidak perlu basa-basi lagi yuk.


“Kenapa kok tiba-tiba mau ajak jalan-jalan?” kusimpulkan kedua tanganku ke belakang tubuhku.


Jangan bilang dia masih tidak terima aku ikut berkemah? Dia sekhawatir itu ya padaku? Padahal tidak ada hal berbahaya disini. Bagaimana cara aku bisa meyakinkan temanku yang tampan satu ini?


“Kamu masih tidak suka aku ikut kemah?” wajahku mengkerut kesal.


“Aku cuma khawatir. Di luar sini kan berbahaya buat kamu,” ekspresi wajahnya jelas khawatir.


“Itu sebelum lihat kamu setakut sekarang,” dia tampak marah, “Aku salah waktu itu.”


“Jadi kamu lebih suka mengurungku di rumah dan tidak tahu apa-apa?”


“Kalau takutnya Rasyi hilang, itu bukan masalah kan?”


“Ya masalah dong,” aku dibuat semakin kesal, “Harun segitu tidak percayanya denganku ya?


Dia terdiam membuang wajahnya. Terhening sengaja tak menjawab. Seakan yang aku katakan adalah kenyataan yang ia simpan. Hah, sulit juga bicara dengannya. 


Ini yang tidak aku suka dari Harun. Dia selalu saja menganggapku lemah.  Ia setuju untuk aku bisa kembali melakukan semua aktivitas di dalam rumah. Saat rehab-ku dulu saja dia tidak pernah berkunjung. Seperti dia tidak mau aku bergerak dari tempatku waktu itu.


Aku membuka mulutku, “Kalau aku, aku mau percaya sama aku sendiri. Seperti Jagad percaya sama aku.”


“Jagad lagi? Terus gimana denganku?!” teriakkan marah terdengar darinya, “Dia siapa bilang kalau kamu tidak papa di sini? Kamu saja gemetaran terus begitu. Kenapa kamu lebih percaya dengan penipu itu daripada aku?”


Kenapa dia marah-marah? Ini kan bukan masalah aku percaya dengan siapa. Bukan berarti aku tidak percaya dengan Harun. Namun saat ini aku sependapat saja dengan Jagad.

__ADS_1


“Aku ini lebih peduli padamu daripada dia!” teriakannya semakin kencang selagi langkahnya mendekat.


Ini pertama kalinya dia semarah ini di depanku. Ternyata besar sekali bencinya pada Jagad. Namun seharusnya dia berhenti berpikir seperti itu. Berdirinya aku disini juga karena peran keduanya di sampingku.


“Rasyi,” dia membalas mataku dengan seriusnya, “Apa aku ini kurang bagimu?”


Eh? Apa lagi ini?


“Rasyi masih butuh ya orang seperti Jagad? Apa yang Jagad punya tapi aku tidak?” Jagad melangkah semakin mendekat.


Duh! Kenapa Harun jadi posesif begitu? Aku sampai tidak bisa berkata apa-apa dibuatnya.


Tunggu⏤pijakanku! “Aaa!!”


“Ra⏤!”


BYUR!!


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Auw,” rintihku pelan kesakitan.


Tangan itu perlahan mengobati lukaku yang hasil terbentur, “Makanya, dilihat kalau jalan,” sepertinya aku membuat kak Fares marah.


“Kak Fares jangan marah~ Rasyi minta maaf ya?” aku mencoba menunjukkan rasa bersalahku untuk mengambil hatinya.


“Kok bisa jatuh ke sungai dangkal dari tempat tinggi begitu. Untung Harun langsung tangkap kamu sebelum kebentur,” dia menyelesaikan pengobatannya dan mengemasi barang-barang itu, “Ada lagi yang sakit?”


“Tidak,” aku sedikit meraba-raba di balik lengan bajuku yang sudah kering, “Oh, Harun gimana?”


Firna merapikan bawaanku ke meja di samping ranjang tumpuk dua itu, “Khawatir diri sendiri dulu dong. Lukanya Harun tuh tidak separah kamu, tahu?”


Ya memang sih aku yang jatuh duluan. Kalau kepalaku tidak ditahan Harun saat jatuh, mungkin kepalaku juga ikut terbentur. Masalahnya, aku jatuh karena dia terus melayangkan pertanyaan yang memaksaku untuk mundur.


Bagaimana aku bisa menjawab? Sikap overprotektif-nya itu tentu merugikanku. Kalau aku mengikuti keinginannya, aku tidak akan bisa menghadapi masalah rumit dengan keluarga. Ini bukan berarti aku tidak mau pacaran dengannya, aku hanya belum siap dengan sikapnya itu.


“Istirahat dulu,” Kak Fares memperbaiki posisi jaketnya yang terpasang di tubuhku, “Kalau sudah makan malam, nanti kakak bawakan ke sini.”


Sepertinya untuk kedepannya, aku akan tidur di kamar kosong yang disediakan dalam gedung serbaguna ini. Ah~ Sayang sekali aku tidak bisa tidur bersama dengan yang lain.


Nada dering yang tidak pernah berubah itu terngiang lagi dari kantong celana Fares. Ada seseorang yang meneleponnya. Ia sedikit ragu dengan nama yang tertera di sana. Siapa yang menelepon?

__ADS_1


Fares mengangkat telepon itu, “Halo, paman?”


Ah~ Papa pasti marah besar.


__ADS_2