Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#41 Gambaran yang Hilang


__ADS_3

Mobil meraung halus melajukan mesinnya. Jalan menyambut seri cerah bintang pagi hari yang mulai menyongsong siang. Segala macam pemandangan tak terhingga warnanya memanjakan mata yang sedang tidak tertarik.


Arus jalan raya yang lancar membawa kami di perjalanan lebih dari satu jam. Bahkan lebih jauh dari letak sekolahku yang memang membutuhkan waktu untuk sampai. Dan kali ini tujuan kami sangat tidak menyenangkan.


Semakin dalam, sampai menemukan sudut-sudut baru komplek orang lain. Daerah ini, sepertinya pernah aku lihat.


Terhenti mobil di sebuah parkiran nan cukup luas tapi sepi, “Sampai. Ayo turun,” Rizki cekatan mematikan mesin mobil.


Pintu terbuka saat kami siap. Merangkul tangan papa menjadi kebiasaanku di awal menuju ‘medan perang’. Kurasa aku tidak perlu terlalu khawatir sejak aku tidak melihat siapapun selain beberapa kendaran bermotor yang lewat.


Tak ada yang unik. Tak ada yang salah. Layaknya pemakaman pada dasarnya. Ratusan nisan berjejer bukanlah hal yang nyaman dilihat. Dan papa sedang menuntunku ke salah satunya sambil membawa sebungkus bunga.


Kami berhenti di depan satu makam yang normal. Papa memindahkan tanganku di pundaknya selagi dia mencoba jongkok. Aku bisa merasakan bahunya yang bergetar. Penasaran aku untuk meneliti nisan… nya….


Hah? Kenapa? Bukannya si kakek itu yang melakukannya?


Ini makam…⏤Bernafas, bernafas. Tahan getarnya. Tahan tanganmu.


“Rasyi?”


Langsung aku tarik tanganku yang sempat disentuh olehnya. Entah kenapa aku ingin sekali lari.


Ini benar-benar mengguncangkan. Nama di nisannya…, Sekar.


“Rasyi, kenapa?”


“Aa!” terasa panik di sekujur tubuhku saat aku menabrak seseorang di belakangku.


Kuputar diriku cepat menghadap siapapun yang ada di belakang sana. Mundur tanpa mengintip tapi aku bisa merasakan tubuhku yang melemah. Sepasang tangan dari orang di depan itu menahanku. Refleks kepanikanku membawa mataku mengeceknya.


Ah…, dia kan ayahnya Harun.


“Rasyiqa? Rasyiqa tidak papa?” ayah itu kebingungan.


“Rasyi,” sebuah tangan di belakangku menggenggam lengan atasku. Suara papa, “Kenapa, hmm?”


Hah. Bernafas, Rasyi. Bernafas. Jangan panik.


Langsung aku putar tubuhku menghadap kembali ke arah Rizki. Memeluknya pelan berusaha meredakan kerja jantungku yang berteriak.


Sesaat aku merasakan tubuhku memberat. Ah. Mataku ikut lelah sendiri.


“Rasyi!” suara papa bersama dengan menguatnya genggaman menahan tubuhku. Beberapa tepukan terasa di pipiku, “Rasyi, Rasyi.”


“Em!” sedikit demi sedikit aku menggali kesadaranku yang seakan mau pergi.


Sadar, Rasyi. Tenang.


“Istirahat saja dulu ke gubuk,” suara pria di belakangku, “Ayo.”


“Iya,” Rizki memulai langkahnya menuntun tubuhku yang hampir tumbang.

__ADS_1


Genggaman kuat yang lembut dari papa memberikanku ketenangan, membantu mengumpulkan kesadaranku. Sampai akhirnya kami melewati kembali rute yang sama sebelumnya. Mendatangi bangunan sederhana untuk berteduh.


Papa mendudukkanku ke dekat salah satu tiang di gazebo dengan konsep ‘lesehan’ itu. Bersandar ke tiang itu sejalan dengan diri yang belum juga bertenaga.


Rizki ikut duduk layaknya aku ada di ranjang. Tangannya cekatan memeriksa berbagai yang ia bisa. Mungkin ia ingin memastikan aku baik-baik saja.


“Ini, minum dulu.”


“Rasyi, minum sedikit ya?” suara papa yang didampingi pandangan samarku yang menangkap wajah khawatirnya.


Dia membantuku untuk meminum air dari botolnya. Kembali alam bawah sadarku ditarik perlahan dan pasti untuk muncul di permukaan. Sampai akhirnya kerutan kulit yang menyipitkan mata itu bisa terlipat penuh di atasnya.


Ayah dari Harun itu mendekat, “Rasyiqa tidak papa kan?”


“Untungnya tidak apa,” papa mengelus dahi sampai rambutku, “Terima kasih.”


Hah. Sepertinya tegang di tubuhku sudah bisa aku kendalikan.


Sentuhan tangan meraba permukaan pundak tanganku, “Rasyi, kalau memang tidak kuat, kita bisa pulang sekarang.”


Tunggu! Banyak yang perlu kita bahas disini! Kau bilang kau membunuh pemilik makam itu. Itu adalah aku dan bahkan aku tidak ingat apapun tentang kematianku.


“Jangan, tunggu,” aku menggeleng lemas, “Rasyi mau tahu tentang…, dia.” aku memutar kepalaku pelan ke arah makam tadi.


Kentara sekali Rizki merasakan bingung. Namun pasrah di postur tubuhku sepertinya akan menceritakan sesuatu.


“Namanya Bunga Sekar Melati. Yatim piatu, meninggal di umur 25 tahun. Itu terjadi dua tahun sebelum kamu lahir. Papa tak sengaja bertemu dengannya di jalan.”


Rizki dengan halus menunjuk ayah dari Harun itu, “Dia juga teman kerja Sekar dulu.”


Hah? Tunggu. Ini Sekar yang sama dengan diriku yang dulu kan? Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun tentang yang dia ataupun yang lainnya?


“Tapi aku kaget ternyata dokter mau menjenguk kemari,” pria ini memulai percakapan.


Papa mencari-cari pandangan di luar wajah lawan bicaranya itu. Diluar dugaan wajahnya malah memucat, “Aku kan memang punya kewajiban untuk itu.”


Pria ini tersenyum tak bersemangat, “Tidak perlu repot-repot. Kalau paksa kesini sampai sakit, lebih baik tidak usah. Seharusnya istirahat yang banyak.”


“... habis… kan? Istirahat yang banyak.”


“Ah!” sakit!


Otakku layaknya bekerja keras. Dengan cepat gambaran berputar kembali. Kepalaku seperti diperas! Rasanya ingin pecah! Hentikan!


Perlahan sakit kepalaku mereda. Menatap di sela jemari yang menutupi wajahku. Diri ini menemukan sosok ayah dari Harun. Perlahan, sedikit demi sedikit, mengingat.


“... Kak,” bergumam pelan suaraku, “… Aldi?”


Dia tersenyum manis, “Iya?”


Benar, aku mengenalnya. Kenyataannya, dia adalah orang yang aku suka sebagai Sekar.

__ADS_1


Papa memegangi wajahku, “Rasyi, sudah ayo pulang.”


“Tunggu!” belum cukup! Aku harus ingat semua kenapa Sekar mati! “Apa yang terjadi sampai Sekar mati?”


Rizki terdiam. Wajahnya masih saja tampak pucat meski tak terlihat jelas. Gelagat ragu menyelimutinya sekali lagi.


Dia menarik nafas panjang, “Sekar mati karena papa, ditembak. Jadinya dia koma lebih dari 7 bulan dan tidak bisa bertahan setelahnya.”


Seperti itu kah? Bukan! Tidak salah, tapi ada yang kurang. Masih belum ada tanda aku mengingatnya. Namun aku tidak tahu kenapa aku yakin Rizki bukan membunuhnya dalam arti tertentu. Ada sesuatu.


“Sudah kan?” Rizki tiba-tiba berdiri, “Ayo kita pulang.”


Kutahan tangannya, “Pa, tunggu.”


“Rasyi, ayo pulang,” wajahnya semakin memucat.


Gemetar di seluruh genggaman tangannya. Kenapa aku bisa lupa?


Aku sadar Rizki bukan orang keji yang tega membunuh. Jika benar, pasti pembahasan ini bukannya percakapan yang layaknya sekedar menanyakan kabar.


Namun, aku pun berhak tahu sebagai Sekar. Iya kan?


“Ehem,” paman Aldi memecahkan bongkahan es dingin ini, “Mumpung Rasyiqa disini, gimana kalau mampir sebentar di rumah Harun?”


Dia tetap saja sebaik apa yang aku ingat walau sedikit. Tidak, ini urusanku sebagai Rasyi. Aku tidak memiliki alasan apapun untuk menyangkut pautkan kehidupan Sekar. Jangan.


“Tidak, paman. Terima kasih,” aku tersenyum sebesar yang aku bisa.


“Ya sudah, kita pulang kan?” Papa menarik tanganku pelan sehingga aku berdiri, “Kami duluan.”


Aldi tersenyum, “Silahkan. Hati-hati.”


Kami kembali menapaki jalan menuju gerbang yang terbuka sedikit. Papa menggandeng tanganku menuju parkiran dimana berhentinya mobil kami. Duduk di kursi depan dan menyalakan mesin mobil.


Helaan nafasku kesal. Untuk apa aku ada disini? Menyakiti jiwaku sendiri?


“Apa maksudnya papa bawa Rasyi ke sini?”


Dia terdiam sesaat, “Maaf, papamu ini penakut.”


Hanya untuk menemaninya? Yah. Aku tidak bisa menyalahkannya. Sampai sekarang pun aku tidak berani untuk menghadapi keluarga maupun makam Jagad. Melakukan ini perlu keberanian besar.


“Tapi ada satu hal,” dia kembali berbicara, “Papa tidak boleh begini terus. Beginilah keadaannya, mau tidak mau harus diterima. Semuanya harus dihadapi,” dia menelengkan kepalanya, “Kita sama kan?”


Haha…, papa selalu saja tahu cara untuk membantuku menyelesaikan konflik dalam diriku sendiri. Namun, meskipun aku tahu dan setuju, kenyataannya itu terlalu kejam untuk diterima.


Tak bisa berdamai dengan kesalahan Rasyi. Bahkan sekarang aku tidak bisa damai pada kematian Sekar. Apa gunanya bereinkarnasi seperti ini?


Mobil melaju dengan mulusnya. Selagi pemikiranku melayang menatapi biru langit yang ketenangan birunya membuat iri.


Hm? Ponselku berbunyi. Chat dari siapa?

__ADS_1


Loh? Aldi?


__ADS_2