
Laparku yang menggerutu tak memberikan rasa di tubuh walau sudah dua hari dua malam berlalu. Tidak lancarnya nafas yang senantiasa ada jauh lebih berefek. Hah, bisa aku rasakan sistem-sistem tubuhku menegur. Layaknya menyadarkanku kalau sebenarnya aku sedang ada di tengah kandang penuh singa.
Genggaman erat itu membuatku berteriak tak bersuara, “Ayo, kita ke mereka.”
Aku dibuat pasrah mengikuti genggaman tangannya. Memaksaku untuk mengikuti langkah pria yang kutakuti itu. Ditarik pergi melewati pintu kamar. Pergi meninggalkan keindahan interior. kamar yang sementara aku tinggali.
Tepukan kerasnya di kepalaku selagi satunya tetap menarik tanganku, “Setelah ini Rasyiqa janji mau makan sama kakek ya?”
Aku tidak sanggup membuka mulutku dan mengeluarkan suara. Hal yang bisa aku lakukan hanya memandangani lantai putih yang kotor dan menghindari matanya. Meski sekarang aku menemukan gambaran tak menyenangkan dari banyaknya pasangan kaki yang mengikuti.
Tanggapan berupa nafas sesak ini terus berlanjut. Sejak aku masih dilindungi dengan Ira dan Jagad, sampai mereka ditarik pergi menjauh dariku. Sejak aku bertemu kembali dengan pria ini di hutan, sampai ia membawaku dengan mobil ke gedung yang tak kukenal.
Lorong dengan ruang-ruang beragam yang asing. Jendela yang berjejer tapi tak tembus pandang karena debunya. Semua samar terlihat di ujung mataku yang masih melihat ke bawah.
Akhirnya kamu terhenti di depan pintu.
Pria itu membuka mulutnya, “Sampai~”
Kudorong diriku untuk mau melihat keadaan mereka yang terikut karena masalahku. Kamar yang lebih lusuh dari milikku tidak memberikan gambaran yang baik.
“Ah!” gemetar ketakutan mengeluarkan air mata yang aku kira kering itu.
Maafkan aku. Maafkan aku. Tidak seharusnya kalian mengalami hal tragis seperti ini.
Otakku yang tersumbat, naluriku yang bekerja sendiri. Pergi lebih dekat dengan kedua sosok itu. Gemetar kencang tak serta merta menghentikan langkahku meski sosok-sosok itu sudah ada di masa yang mengerikan untuk dilihat.
Kusentuh wajah lelaki yang tak sadarkan diri, “Jagad?” bisikku menatapi wajah penuh luka itu.
Jagad yang bernafas tipis. Kekhawatiranku lebih banyak dari rasa legaku. Tubuhnya itu tidak seharusnya menerima pukulan sebanyak ini.
“Rasyi…,” suara pelan terdengar di sisi kiriku.
Kutatap wanita yang berbaring di ranjang besar itu. Langkahku cepat menaiki ranjang untuk mendekatinya. Menggenggam tangannya. Tersadar nafasnya yang berat dan tubuhnya penuh keringat. Wajahnya memerah dan tak bisa membuka mata, sedang menggambarkan rasa sakit. Diselimuti kain tebal⏤
Ah… kenapa orang-orang disini begitu kejam? Padahal Ira tidak melakukan apapun. Ia tidak seharusnya dipermainkan seperti ini.
Mereka tidak seharusnya seperti ini!
__ADS_1
Genggaman erat tangan itu kudekatkan dengan bibirku, “Maaf. Maaf….”
“Rasyiqa, sudah kan?” pria itu tanpa sadar sudah di belakangku, “Mereka tidak papa kok. Rasyiqa mau makan sama kakek kan?”
Bagaimana caranya aku menolak itu. Dari sisi manapun aku menangkap kalimat berwarnanya, aku hanya bisa menangkap ancamannya.
“Ayo, Rasyiqa…,” dia mencengkeram kuat bahuku, “Ayo kita ke ruang makan sekarang.”
Kulepas genggamanku perlahan. Mataku bertemu dengan mata Ira yang sipit terbuka meski menahan rasa sakit.
Tidak boleh aku menentang perkataan pria ini. Harus pergi sekarang.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Situasi ini menggali kenangan pahit. Duduk di salah satu kursi di meja makan yang ramai. Pria yang menyatakan dirinya sebagai kakekku, sedang duduk santai di sisi kiriku. Ini bukan kenangan yang ingin aku ingat.
“Nah, makan yang banyak ya,” Pria ini menekan kalimatnya di telingaku.
Kupandangi beberapa kotak frozen meal yang sudah hangat. Melihatnya saja aku sudah merasa mual. Bukan karena makanan yang tak tampak lezat dan mengenyangkan. Namun karena keramaian dan tekanan yang tidak pernah aku rasa biasa ini.
Dinginnya tangan tiba-tiba menahan wajahku. Memaksaku menangkap mata coklat yang kurang ajar itu.
Aku berhasil menggeleng kecil dan melepaskan tangannya. Harus aku makan walau sedikit. Jangan menentang perintahnya, jangan buat dia marah.
Pusat kerja tubuh ini pun tahu. Pekerja pencernaan makanan sedang tidak bisa diajak berkerja sama. Orang bagaimana yang bisa melahap makanan di tengah puluhan tentara lawan yang siap menembakmu kapan saja?
Namun, ini bukan masalah aku yang enak-enaknya duduk manis disini. Ini masalah aku yang harus melindungi Jagad dan Ira dengan apa yang tersisa. Kalau aku membuatnya puas, tidak akan ada yang macam-macan dengan mereka kan? Kalau aku menurut, pria ini akan mendengarkan permintaanku kan?
“Hei, bawa albumku sini!” pria ini memanggil seseorang di seberang meja.
Samar mataku menangkap ia menerima album berwarna coklat susu. Dia menyingkirkan makanannya dan meletakkan album itu di atas meja. Hampir aku memuntahkan suapanku yang kecil karena sadar ia mendekatkan kursinya ke arahku.
“Gimana kalau kakek cerita-cerita biar Rasyiqa tambah lahap makannya?” dia membuka cover album itu.
“Hmm!” aku terkejut dengan tangan kanannya yang tiba-tiba merangkulku.
Terlalu dekat! Nafasku⏤tenang, Rasyi. Tenang! Ikuti saja apa yang dia mau. Aku hanya perlu memandang halaman yang terbuka walau sebentar. Tenang.
__ADS_1
“Ssst!” seluruh keributan ditenangkan sejenak, “Coba dengar deh. Mau cerita nih.”
Ah. Mereka semua terdiam. Suasana tenang dengan orang-orang yang mendengarkan sang pria. Tampaknya mereka tidak ingin mengganggu cerita sang pria.
“Ini⏤”
Uugh! Jangan muntahkan! Jangan hilang kesadaran! Itu hanya foto! Hanya foto!
“Gala kan namanya? Yang aku bunuh tujuh tusukan itu,” pria ini masih saja bercanda ria dengan temannya yang merespons secukupnya, “Yang ini sih, Andina,” dia tertawa kembali menatapi teman-temannya, “Ini sih mati karena kalian. Sampai dia mohon-mohon minta dibunuh gitu.”
Cerita demi cerita dilontarkan spontan saat melihat lembar-lembar yang mengerikan. Kenangan penuh merah yang keji. Tidak mampu aku tak melihatnya selagi album besar itu hanya dipenuhi akan hal yang sama kejamnya. Entah sampai kapan aku bisa bertahan.
“Kalau ini,” hening ini seakan memberitahukan mood-nya yang tidak baik sesaat.
“Hah,” aku terkejut ketakutan saat dia memegangi kepalaku dan menepuknya keras beberapa kali.
“Gara-gara dia, kakek tidak bisa ketemu Rasyiqa~ Jahat kan?” didekatkannya album itu ke wajahku. “Namanya siapa ya? Kakek lupa. Hmm…,” pria itu bersenandung sambil berusaha mengingat, “... Bunga... Sekar Melati ya?”
Hah?
“Anak itu, dia yang paling berkesan. Sayang banget, gak sempat difoto. Padahal dia cuma tidak sengaja ketembak waktu ekorin Gading. Tapi sampai masuk berita ke mana-mana.”
Hah? Maksudnya apa?
“Untungnya dia sudah mati.”
Kuberanikan melihat lebih jelas album itu. Tulisan dan foto ilustrasi layaknya koran pada umumnya. Kertasnya yang menua menyadarkan aku dengan tanggal yang tertulis kecil. Tanggal kejadian itu, tanggal ulang tahun Sekar dua tahun sebelum Rasyi lahir.
Gelombang kejut seakan siap mematikan tubuhku. Sesak dan sesak tidak pernah berubah meski aku menyadarinya berkali-kali.
Diriku yang di masa lalu mati dibunuh pria ini?
“Rasyiqa, jangan tidur dulu kalau belum selesai makan.”
Tanpa tahu menahu, aku sudah hampir jatuh dengan kesadaran hampir hilang. Tangan si pria yang masih memegangiku, terasa semakin erat.
“Oh iya, apa Rasyiqa takut sama fotonya?”
__ADS_1
Dia menggerakkan kepalaku sampai bersandar di bahunya. Aku pun tidak ada sisa tenang bahkan untuk berkedip. Mataku kembali mengalirkan airnya tak kuasa. Nasib yang membuatku harus menerima keburukan yang banyak dari orang yang paling aku takutkan.
“Gak papa,” aku sudah mampu mendengar gelagatnya yang mengeliarkan senyuman yang seram, “Rasyiqa tidak akan jadi gitu kok.”