Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#11 Dongeng dan Ketakutannya


__ADS_3

Aku sadar kalau aku ini bayi biasa yang harus bersabar. Karena aku tidak bisa melakukan apa pun selain bicara bahasa bayi yang tidak pernah dirilis kamus resminya. Diam adalah satu-satunya yang bayi pintar bisa lakukan. Khususnya pada keadaan canggung yang membuat mulutku asam.


Hidungmu! Aku harus diam?! Duduk manis menunggu jadwal melamunmu selesai?! Lebih baik aku main sendirian ditemani lebah di luar taman sana! Masa bodoh walaupun lebah itu akan menganggapku sebagai madu dan membawaku ke sarangnya!


“Pappa!” leherku menekuk sedikit ke belakang menatap lelaki berwajah segar itu. Lamunannya tetap saja membawanya pergi jauh walaupun jelas-jelas aku ada di pangkuannya.


Aaa~~AAA! Lelah~ Mataku berat~ Sudah lewat waktu tidurku! Kenapa papa yang malahan ‘tidur’?!


BUUK!!


“Pappa!!” kedua tanganku menepuk buku tebal dengan halaman kosong yang masih saja tergeletak di pangkuanku.


“Heh?” lamunannya itu akhirnya berhasil kuganggu, “Ah. Ayo… tidur.” ia mendekatkan tangannya di ujung buku itu berusaha untuk menutupinya.


Eh! Enak saja! Memangnya aku mau tidur selagi cerita pengantar tidur yang aku dengar malah berakhir menggantung dengan gilanya?


“Nda au!” aku berteriak menahan buku tetap terbuka.


“Kenapa?” matanya menatap pandanganku.


Tidak! Aku tidak terima! Pasti masih ada lanjutannya kan?! Tidak mungkin sudah tamat kan?! Mana ada cerita anak-anak yang berakhir dengan Ratunya yang tertusuk dan keadaannya masih tanda tanya?!


“Ecca! Ecca!” Baca! Aku tidak mau ending yang menggantung seperti itu!


“Hah?” ia menatapku dengan bingung.


‘Hah? Hah? Hah?! Hah hah hah?!!’ Kubilang baca!! “Ecca ecca ecca ecca ecca! Ecca antuan a!”


Matanya mengawasiku terlihat berpikir, “Baca... kelanjutannya?”


Aku mengangguk dengan mulutku yang memanyun panjang. Matanya kembali menyipit. Sungguh? Kamu akan begitu lagi?! Bosan tahu tidak melihat wajahmu yang begitu!


Tiba-tiba terlihat seringai kecil di mulutnya. Aa... Baiklah. Dia jadi gila.


“Kelanjutannya?” dia menatap buku itu, “maksudmu Ratu? Ya jelas mati.”



Ah... Iya... baiklah. Itu memang sudah jelas. Iya... sudah jelas~


Hiks. Aku sedih... aku sedih punya papa yang tidak punya perasaan untuk anaknya. Mana ada cerita dongeng anak-anak yang ending-nya kematian ratu begitu?!

__ADS_1


Jangaaan! Jangan begitu saja! Ending-nya tambah buruk, tahu! Lanjutkan! Harus! Wajib! Harus ada kelanjutannya!


“Ellus? Antuan a?!” Terus? Selanjutnya?!


“Terus...,” dia terdiam lagi, “Putri lahir.”


Oh~? Ratu berhasil bertahan sampai putrinya lahir ya? Setidaknya dia bisa berjasa di akhir hayatnya.


Tapi... kenapa aku merasa ada yang janggal? Rizki seakan bukannya mengarang cerita. Dia...—


“Tidak tahu itu kabar baik atau buruk. Yang pasti, Raja tidak punya niat untuk bertemu dengan putrinya itu.”


Tenggorokan terasa sangat kering saat mencoba menelan ludahku. Kenyataannya sangat jelas terlihat di mata dan telingaku. Cerita dongeng ini dibuat berdasarkan cerita keluarga Rasyi kecil.


Kenapa aku tidak sadar dari awal? Putra pertama yang mati. Ratu yang menyusul. Putri yang lahir. Raja yang acuh tak acuh. Ceritanya belum selesai... itu karena yang membuat mati duluan kan? Siapa lagi, tentu itu mama.


Pantas saja Rizki melamun dari tadi. Melihat buku ini sama saja melihat hari dimana istrinya itu membuat setiap potongan kertas menjadi kerajinan manis seperti ini.


Hah. Merepotkan sekali. Keluarga ini terlalu kompleks. Bunuh saja aku dan lahirkan aku di keluarga yang lain. Apa gunanya keluarga kalau rasanya sama saja seperti tidak punya?


“Tapi...” tangan Rizki tiba-tiba menahan kepalanya di pegangan sofa, “... Putri keras kepala sama seperti Ratu. Raja jadi bingung sekaligus tenang.”


Aku hanya terdiam memandangi wajahnya yang dibuatnya sejajar denganku. Kurasa aku terlalu linglung ingin bicara apa. Sebelum ini, dia juga pernah menyebutku keras kepala kan?


Dugaan untuk bekerja sekeras ini tidak pernah terlintas olehku. Padahal aku ingin sekali jadi bayi yang biasa-biasa saja. Bayi manis yang menuruti apa kata orang tuanya. Tidak perlu hebat, tidak perlu pintar. Seperti itu saja cukup. Tidak perlu berjuang keras belajar seperti ini.


“Wa~ Nona hebat~” bibi terus memujiku.


Apanya? Yang kugambar ini hanya garis melingkar-lingkar saja. Coret-coretan tidak berarti. Wahai tanganku, tumbuhlah dan dewasakan aku! Tidak enak rasanya tidak bisa berkomunikasi seperti ini. Rasanya sangat tidak berdaya.


“Nona~!” seruan bibi yang lain mendekati kami, “bibi bawa krayon baru loh~”


Hah... Mereka langsung heboh saat aku mulai mencoba mencoret-coret di kertas. Menjengkelkan sekali. Aku kan hanya ingin latihan menggambar. Ya... walaupun Sekar sekalipun tidak bisa menggambar, setidaknya aku mau menggambar sejelas mungkin.


Fokus latihan saja. Mendengarkan kehebohan mereka tidak bisa membuatku berkembang. Coba kugambar muka seseorang. Bisa tidak ya~?


Beberapa garis dan lingkaran tidak beraturan akhirnya berhenti dengan hanya coretan tidak jelas. Setidaknya matanya bisa dimengerti kan? Iya kan?


“Bbi! Bbi entu! Oba ebbat Achi aembal appa?” Bibi! Bibi pembantu! Coba tebak Rasyi gambar apa?


“Wah cantiknya~”

__ADS_1


Itu tidak membantu.


“Apa itu?”


Ah... papa datang~


“Apa kamu mencoba menggambar diri sendiri?” tanya papa.


Ah... Setidaknya dia paham kalau ini muka seseorang. Terserah saja dia menganggapnya sebagai mukaku—


“Sama jeleknya.” Lanjutnya.


AAAAA!! Bisa-bisanya kamu bilang aku jelek selama aku ini mirip denganmu?! Itu berarti kamu juga jelek!! Kamu pikir aku menyalin wajah dari siapa?! Kamu! Kamu!!


“Pappa! Pappa pappa pappa!” teriakku menunjuk-tunjuk gambaranku itu.


Ia tertawa tipis. Dari senyumnya yang jarang muncul itu, aku sangat tahu dia hanya ingin mengerjaiku. Papa keterlaluan! Apa benar kamu punya anak sebelumnya? Seharusnya kamu tahu bukan seperti itu memperlakukan anak!


Kenapa sih dia selalu kejam padaku setiap kali aku mau melakukan sesuatu yang baik? Baru persiapan saja aku sudah menyesal melakukannya. Hih!


TRIIIINGG!!


Suara telepon terangkat kembali. Belakangan ini telepon itu bekerja terlalu banyak. Rizki jadi semakin sibuk dari hari-harinya yang sudah sibuk. Terkadang mengurung diri di ruang penuh bukunya. Terkadang ia terburu-buru berangkat ke rumah sakit. Seakan dia sengaja menyibukkan diri sendiri.


Ini bukan bagianku untuk ikut campur sih. Kesibukannya yang setiap hari itu untuk menghidupkan aku, bibi dan paman yang dipekerjakannya. Selama ia berperilaku layaknya seorang ayah, tidak ada yang perlu kuproteskan.


Diingat-ingat lagi, aku tidak pernah mendengar kabar apa pun tentang kelompok yang mengincarku. Kurasa mereka tidak mau membicarakannya di depanku. Aku mulai khawatir kalau sebenarnya aku ketakutan pada hal yang tidak berarti—tapi aku sangat yakin mereka serius membahas hal itu.


“M-m-maaf pak, to-tolong jangan teriak-teriak,” kata bibi pembantu kepada orang di seberang sana, “iya... tapi kalau alamat... maaf!”


Heh? Siapa sih yang ada di telepon itu? Bibi pembantu sampai sangat ketakutan seperti itu. Rizki terlihat ikut terganggu. Ia berdiri dan mendekatinya.


Direbutnya langsung telepon itu, “Halo?”


Matanya terbuka lebar. Terkejut entah karena apa. Hentakan keras tangannya membanting cepat meletakkan gagang telepon ke tempat semula. Kurang dari sedetik tangan kirinya diagunakan langsung mencabut kabel telepon.


“Cabut semua telepon rumah.” Rizki berkeringat dingin.


Bibi masih kebingungan, “Untuk apa tu—”


“Sekarang!” kemarahan Rizki menggema membuat bibi berlari cepat.

__ADS_1


Kenapa dia ketakutan seperti itu?


__ADS_2