
Tenang Rasyi. Jangan panik. Berpikir jernih. Kalau papa sakit panas, berarti aku harus….
“Panggil dokter! Harus panggil dokter sekarang,” aku langsung melangkah⏤
Hah? Tangan papa?! Dia menggenggam tanganku.
“Pa?” aku mendekatinya yang ternyata sudah membuka matanya.
Meski dengan ekspresi yang menahan sakit, ia akhirnya menegakkan punggungnya. Pucatnya semakin jelas. Lemah tubuhnya sangat kendara. Spontan tanganku langsung menahan tubuhnya membantu walau sedikit.
“Tunggu sebentar, Rasyi panggilkan dokter dulu.”
“Jangan,” suara menggetar itu sesaat terdengar mengerikan, “Tidak perlu.”
“Tidak perlu bagaimana? Badan papa panas banget.”
“Cuma panas biasa. Minum obat juga sembuh. Tidak perlu bawa orang. Ini sudah jadi tempat aman.”
Sungguh?! Bukan saatnya memikirkan itu kan? Kalau dia menahan rumah ini tetap aman tapi akhirnya dia yang kena sakit, apa gunanya? Otaknya sudah kepanasan atau apa sih?!
Tak bisa aku tutupi kekesalanku, “Bisa tidak jangan pikirkan itu dulu? Papa sakit!”
“Papa bisa urus sendiri,” helaan berat memaksa berdiri.
Kubantu berdiri pria yang jelas masih lemah itu dengan memegangi lengannya. Ia mengakhiri perjalan pendek penuh ketegangan itu dengan duduk di ujung ranjangnya.
Aduh ini papa. Susah banget ya minta tolong pada orang lain. Putri tercintanya kan khawatir.
Sudahlah! Kalau berdebat terus seperti ini, sakitnya tidak akan bisa dirawat.
Kugenggam lengan itu lebih erat memastikan dia tidak jatuh selain ke ranjangnya, “Ya sudah ya sudah, Rasyi tidak panggil siapa-siapa. Tapi izinin Rasyi yang rawat papa ya?”
Ah. Papa semakin lemah.
“Bawakan papa makan sedikit,” bisiknya hampir tak terdengar.
“Iya,” langsung aku menata bantal-bantalnya agar dia bisa bersandar nyaman. Kutuntun beliau kesana, “Papa besandar dulu. Rasyi bawakan.”
Melangkah cepat aku mengambilkan makanan untuknya agar bisa meminum obatnya.
Rizki masih baik-baik saja. Waktu ini tidak seperti saat papa pingsan dulu. Aku hanya perlu melakukan yang biasa papa lakukan saat aku demam. Tenang Rasyi. Tenang.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Peregangan ringan untuk tubuhku. Ada baiknya juga kamar papa di depan dapur. Rumah ini pun tidak sebesar rumah papa di sana. Tidak ada yang namanya lelah bolak-balik keliling rumah.
Rizki sudah makan dan minum obat. Sempat mandi air hangat. Bajunya sudah tidak terlalu tebal. Kompres hangat untuk keningnya juga sudah beres.
Untungnya panasnya papa mereda dan papa bisa tidur pulas. Namun masih banyak yang harus dilakukan.
Sisa makan malam harus dimasukkan ke kulkas. Aku juga harus merebus air untuk termos. Meja papa harus dibereskan. Rumah seharusnya sudah dikunci. Oh, kayaknya pintu belakang belum. Kompresnya papa harus diganti yang baru.
__ADS_1
Kutumpukan tubuh ke dinding selagi aku duduk di kursi tanpa sandaran itu. Jam sudah menunjuk ke arah sebelas. Mulai kerja! Go go!
Aku mulai dari membersihkan meja papa saja. Lihat itu, kertasnya berhamburan sampai lantai.
Lembar di lantai itu jadi langkah pertamaku membersihkannya. Sesaat aku dibingungkan bagaimana cara membersihkannya. Kalau tidak aku baca, sama saja aku menghambur-hamburkannya bukan?
… baca sedikiiiiiit saja. Tidak apa lah~
Kudekatkan kertas yang aku pungut. Hmm~ Isinya apa ya?
…
Tulisan apa ini?!
Sesaat aku pasti lupa. Aku bodoh sekali. Papa kan dokter, tentu tulisannya akan sebelas dua belas dengan cacing kepanasan.
Oh? Ada gambar juga. Papa juga bisa gambar ternyata. Tunggu, ini gambar apa? Bentuknya mengingatkan aku dengan chip komputer atau semacamnya. Membaliknya atas ke bawah, bawah ke atas dan tidak ada perbedaan. Kenapa papa punya catatan tentang benda-benda seperti ini?
Ini lagi, buku-buku bahasa inggris? Network Hacker, Connection and Hardware, Computer Handler. Literatur apa lagi ini?!
Sungguh, papa mau membuat apa? Kalau seperti ini sih orang-orang pasti percayanya papa itu engineer.
Memang aku mengharap apa sih? Sudahlah! Rapikan saja sebisaku.
“Hah,” menghela aku menduduki kursi kerja beroda itu.
Apa ini memang berhubungan dengan konflik warisan? Namun kenapa? Bukan berarti papa harus menguras tenaganya sampai sesakit ini.
Padahal sudah banyak kendala yang sudah aku tangani. Aku sudah menerima kebetulan tidak menyenangkan dari Sekar itu. Perginya Jagad sudah aku relakan. Ira dan aku juga sudah saling kontak walau belum sempat aku temui karena dia masih di tengah rehabilitasi.
Sedihnya, semua itu hanya sebagian kecil dari krisis perebutan warisan ini.
Berapa lama aku sudah mengenal pria ini, masih banyak lubang yang tidak bisa aku intip. Masih banyak pertanyaan yang perlu aku keluarkan.
Apa yang memulai semua ini? Apa yang terjadi dengan papa di saat kecilnya? Bahkan, kenapa saat bertemu Sekar dulu matanya coklat, walau jelas mata papa hitam? Kalau diingat-ingat pun ada nama Gading yang masih asing bagiku.
Rizki dan seluruh yang terkait dengannya masih seperti orang asing.
Inikah yang aku dapatkan setelah menjadi anak penakut untuk bertanya? Sungguh, seperti ini saja terus! Kalau ini novel, pembacanya pasti sudah muak.
“Haah…,” loh papa?
“Papa kenapa bangun?” aku mendekatinya yang terduduk memegangi kepalanya.
Mata sipitnya menelitiku, “Rasyi tidak tidur?”
“Sebentar lagi Rasyi tidur kok. Papa butuh apa? Minum?” kuangkat cerek air di atas nakas putih itu dan menuangkannya di gelas kaca, “Nih.”
Diraihnya dan diminum air di gelas itu, “Terima kasih.”
Kuambil dan meletakkan kembali gelasnya. Lembut telapak tanganku menyentuh kening beliau. Masih hangat. Sepertinya lebih baik aku kompres lagi. Oh iya, air kompresnya sudah dingin.
__ADS_1
Baskom itu menjadi oleh-olehku ke dapur, “Rasyi ganti air dulu⏤”
Hmm? Kenapa papa meraih tanganku?
“Kenapa pa? Ada yang sakit?” tanyaku khawatir.
“Duduk dulu sebentar.”
Tanpa memikirkan hal lain, aku meletakkan baskom itu kembali dan menggerakan tubuhku mengikuti tangan papa. Kududuki ranjangnya sampai kakiku terangkat tinggi. Ada apa ya?
Rambutku yang berantakan jadi incarannya, “Rasyi penasaran papa buat ya?”
Ups, ketahuan? Aku selalu tidak bisa menyembunyikan apapun dari orang ini. Tak mampu menjawab, senyum pun jadi.
Seketika ia ikut tersenyum, “Itu alat pelacak.”
Hah?! Tunggu, memangnya papa mau melacak siapa?
Perlahan aku bertanya, “Buat apa?”
“Buat Rasyi.”
Aaa… ahahaha, maaf?
Tanyaku lagi mulai takut sendiri, “Rasyi sudah melakukan kesalahan kah?”
Pa, jangan tersenyum begitu dong. Rasanya lebih mengerikan daripada menenangkan.
“Tidak, papa cuma takut. Itu bukan hal bahaya, untuk melacak lokasi saja. Mungkin papa pasangkan ke kalung yang Rasyi mau pakai nanti.”
Ah, tidak aku sangka ternyata papa memikirkan sejauh itu.
Sosok papa yang satu ini memang tampak selalu tenang, tapi ternyata khawatiran. Ya, tidak bisa aku salahkan kalau hilangnya aku selama seminggu sebelumnya itu membuat trauma tersendiri pada papa.
“Gimana kalau papa mulai cerita pelan-pelan?”
Hm? Cerita? Maksudnya, apa yang terjadi di balik kekacauan rebut-rebut warisan ini?
“Gimana? Siap?”
Aku sudah tahu ini akan menyedihkan dan menyakitkan. Namun ini pun jadi jalanku untuk bisa menyelesaikan semua masalah ini. Ini kesempatanku.
Jangan takut. Jangan takut.
Tangan hangatnya itu tiba-tiba kembali menggenggam tanganku, “Tidak apa. Papa di sini.”
Benar, Rasyi. Papamu ada untukmu. Seharusnya kamu pun bisa ada untuknya. Yah setidaknya mendukungnya dari belakang. Aku harus berani.
Nafas panjang kuambil, “Rasyi siap!”
Sekali lagi dia tersenyum. Papa tampak mempernyaman posisi duduknya kembali bersandar di tumpukan bantal, “Bisa jadi kita tidak tidur malam ini.”
__ADS_1