Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#79 Lega [END]


__ADS_3

“Kita sudah berhasil kan?” Hendra bicara. Buat aku menatapnya.


Mata itu. Lelah yang damba akan kebebasan. Sama layaknya aku, dan semua yang terpaksa masuk ke permainan Hari.


Aku tatap pemandangan di bawah balkon, “Kamu sendiri yang tangkap dia kan?”


Tangannya menahan kepalanya, “Aku juga tahu itu walau dia operasi plastik sampai seperti orang lain. Maksudku, tidak ada lagi sisa dari mereka kan? Tidak ada yang mengancam kita lagi?”


Dia sungguh tidak tenang. Hendra memang selalu kolot dengan apa yang dipercayainya. Ia punya pemikiran yang selalu negatif. Padahal itu hanya bentuk dari pemikiran pendeknya.


Akan tetapi aku juga tahu, semua orang sudah lelah.


Sekali lagi angin bermain dengan rambutku, “Kalau ada, kamu tinggal tangkap saja kan?”


“Baru sekarang kamu serahkan ini ke aku, hah?”


“Ppht, hahaha,” dia seperti anak kecil saja. Dia kan lebih tua satu tahun dariku.


“Kerjaan kamu ketawa terus waktu aku serius,” dia lipat tangannya. Ditahan di besi pagar balkon.


Permainan sepihak dari Hari sialan itu. Tidak penting tapi sangat berpengaruh pada orang lain. Bahkan polisi di sampingku kehilangan banyak hal.


Aku memang tidak pernah kira permainan ini berlangsung selama ini. Mungkinkah karena aku ladeni?


Sudahlah. Penyesalan ini tidak bisa dihindari. Tidak ada yang salah dari niat bertahan hidupku. Ini hanya resiko bermain dengan orang psikopat. Lebih-lebih orang itu dibesarkan begitu sejak kecil.


Yang berlalu harus diterima.


Kutarik nafas panjang, “Jangan terlalu khawatir. Aku sudah pastikan dua bulan ini.”


Mana mungkin aku biarkan semua kacau lagi. Kami sudah tidak kuat lagi tanggapi serangan selanjutnya. Tidak boleh sampai begini lagi.


Akan tetapi, aku tetap saja punya titik buta.


Sepertinya tugasku masih berlanjut.


“Wow, sekarang kamu bicara kayak Raja sama rakyatnya.”


Aku tersenyum, “Begitukah?”


“Berhenti mengejekku.”


“Tidak. Kadang orang suka panggil aku malaikat penyembuh. Kadang pejabat jenius yang pintar tipu. Ada juga yang bilang pencopet ulung,” aku hanya bisa tertawa oleh omongan orang, “Satu orang juga bilang aku dinosaurus penjaga gunung es.”


“Ppht! Kayaknya aku tahu siapa yang bilang itu.”


Tentu saja tahu. Siapa lagi kalau bukan putri ini.


Sudah sekitar empat puluh menit. Bakery shop memang hanya di sebelah rumah sakit. Mereka seharusnya sudah kembali.


Kalau sesuai perkiraan, putri ini akan segera ke sini. Ia bisa saja sudah ambil posisi untuk menguping di belakang kami.


“Yah, mau kamu jadi raja atau pencopet,” dia mengetuk pundakku dengan kotak rokok, “Jangan bergerak sendiri. Tidak ada yang suka dimanfaatkan. Langsung saja bilang!”


Huh, orang ini selalu saja berprasangka buruk padaku. Padahal semua itu supaya dia tidak terkena banyak kerugian.


Bodohkah aku? Yang aku lakukan selama ini juga tidak lepas dari pengorbanan Hendra dan keluarganya.


Aku kira aku terlalu keras padanya. Dia polisi. Orang ini sudah punya kebebasan untuk ikut campur. Tidak. Ini sudah jadi urusannya. Sejak awal.


Kudorong kotak rokok itu. Sudah lama aku berhenti gunakan itu, “Aku mengandalkanmu kalau begitu,” badanku berputar, “Kabar-kabar.”

__ADS_1


“Iya, iya,” Hendra memasang rokoknya di mulut. Menyalakan pemantik di dalam lindungan tangannya dari angin semilir.


Kubiarkan pria itu menikmati waktu istirahat.


Ada hal lain yang perlu aku pikirkan, “Belajar jadi penguntit, hmm?”


Bibir putri kecil ini masih saja maju.


Putri ini berdiri dari jongkoknya dari balik pohon. Balkon penuh tanaman memang bisa bantu bersembunyi dengan mudah, “Siapa yang mau jadi penguntit?”


“Hmm…,” kembali aku angkat kaki mulai mendekat ke pintu balkon.


Dia pasti keluarkan muka penuh kebenciannya. Mudah ditebak walaupun tidak terlihat. Bayangkan dia mengumpat-umpat di dalam hatinya sambil menahan senyum palsu itu. Malah lucu.


“Papa merahasiakan apalagi ke Rasyi?” putri ini susul jalanku, “Papa kan sudah janji mau ceritakan semuanya.”


Hmm…, kembali lagi dengan keingintahuannya.


“Apa? Termasuk malam pertama papa dengan mama?”


Ppht, muka itu… di pikiran kecilnya mungkin bilang ‘papa bisa berpikir ke arah sana?!’.


“Rasyi anggap, papa tidak bicara apapun~” senyumnya canggung lagi.


Selesai sudah rasa ingin tahu itu, “Ayo pulang.”


Baru saja aku sadar mataku rasa berat. Padahal biasanya aku bisa menahan kantuk dengan sangat baik. Tubuhku seperti kehilangan ketegangannya.


Putri ini berjalan lebih dekat denganku. Bibirnya tidak kalah maju dari sebelumnya. Tangannya bermain dengan tas tote yang digandeng di pundaknya.


Sekilas aku melihat ujung cover buku di dalam tasnya. Cover itu kan buku dongeng buatan Nisa. Dia masih punya buku itu ternyata.


Tubuhnya tersentak sedikit di tengah senyumnya yang kaku. Dia sembunyikan sesuatu lagi dari ayahnya.


“Bukan apa-apa~”


Langkahku terhenti. Menahan tatapanku ke arahnya. Sampai dia tidak bisa menahan muka kecut itu. Dia malah tidak menatapku.


Tidak seperti dia yang sembunyikan barang saat ia kecil. Entah kenapa aku tidak nyaman dengan apa yang dia sembunyikan saat ini. 


Sepertinya aku harus memaksanya sedikit.


Kutarik tali tas itu. Mengambil buku itu keluar pelan-pelan.


“Iiih~ Iya, iya iya~!” dia merengek kesal. Menyerah lalu membuka tas itu, “Kok ketahuan sih~?! Padahal Rasyi mau kasih surprise tapi malah ketahuan duluan.”


Dia ulurkan buku itu. Ini memang cover dongeng buatan Nisa. Jadi dia tidak terbakar?


“Itu Rasyi buat lagi sendiri,” hmm? “Buatan mama sudah gosong begini,” putri ini juga mengeluarkan buku yang setengah terbakar.


Ternyata putri ini terlalu banyak waktu luang.


“Kenapa Rasyi buat beginian?” aku mencoba untuk mengecek isinya.


Isi dongeng menggelikan itu sama yang dibuat Nisa. Gaya menggambarnya dan kreativitasnya dalam membentuk pop-up sungguh mirip dengan yang aku ingat.


“No comment,” dia malah malu dengan tingkahnya sendiri.


Aku menaikkan satu alis⏤


“No comment!!”

__ADS_1


Kubuka lagi halamannya yang sampai di akhir yang terputus… putri ini juga melanjutkan ceritanya.


Halaman-halaman itu hanya aku baca dengan cepat. Tidak pernah aku rasa tertarik dengan cerita dongeng.


“Papa?” putri ini panik, “Kenapa nangis?” 


Oh?


Ternyata aku merindukan wanita itu dari yang aku kira. Air mataku malah menetes.


Putri ini elus air mata dengan sapu tangannya. Sepertinya aku buat putri ini khawatir. Lucu, padahal aku tidak sedih.


“Tidak apa,” aku jauhkan tangannya.


Kututup buku pop-up dongeng itu. Mengembalikannya pada putri ini. Bukannya terima, ia malah membalas tatapanku saja.


Hal lain apa yang dia pikirkan?


Condong tubuhnya lebih dekat, “Mata papa jadi coklat lagi.”


Apa maksudnya? “Mata papa memang coklat.”


“Tapi malam itu warnanya jelas-jelas hitam….”


Malam mana yang dia maksud?


Setelah berpikir, dia menatapku lagi. Kubiarkan saja dia gunakan waktu untuk berpikir.


Dia seperti terkejut akan sesuatu. Mungkin dia sudah sadar kalau apa yang dia katakan tidak masuk akal. Apa yang ada di mukaku sudah menunjukkan hal itu.


Lagi-lagi ekspresi marah karena dikira orang aneh.


“Rasyi tidak bohong! Rasyi sering melihat warna mata papa berubah-ubah~”


Kepalaku bengkok memiring, “Kapan?”


“Hmm, Rasyi tidak begitu yakin. Kayaknya lebih sering waktu papa emosian deh…,” dia berpikir lagi.


Mungkin maksudnya saat aku marah atau depresi.


“Rasyi pernah baca kalau warna mata orang bisa berubah sesuai suasana hati. Benar tidak?”


“Bisa jadi. Tapi warnanya tidak mungkin berubah pesat.”


“Tapi Rasyi tidak pernah lihat warna mata papa secerah itu,” matanya melotot kaget, “Apa papa lagi senang?!” putri ini sepertinya sedang tertarik.


Senyumnya yang ceria. Rasa ingin tahunya masih saja besar.


Aku dibuat tersenyum. Bahasan ini seperti penting. Padahal ini tidak ada yang berguna bagi aku dan putri kecil ini.


“Phht,” kututupi mulutku, “Hahahaha.”


“Jangan ketawa! Rasyi serius!”


“Iya,” tepuk pelan ke kepala si kecil, “Mungkin memang papa lagi senang.”


Rasa aneh ini muncul lagi. Alasannya pasti karena ini. Badanku saja tahu kalau aku sedang mudah tertawa.


Rasanya….


Lega.

__ADS_1


__ADS_2