Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#54 Rencana Indah


__ADS_3

Laki-laki dewasa ini sudah menginjak umur 20 tahun. Satu tahun di atasku. Ia berniat dapatkan gelar ipda dengan pendidikan penuh empat tahun*. Tidak salah bila dia sudah dengar pelaku yang membunuh ibunya.


Empat tahun sudah berlalu. Aku masih tidak suka sikap pemarahnya itu. Menjengkelkan.


“Gading, jawab! Harianto, itu ayahmu kan?!” keras ditahan kerahku oleh si Hendra itu.


“Hendra, tenang dulu,” usaha Sari menenangkan Hendra tidak ada gunanya.


Rumah ini jadi sangat panas. Cuma karena amarah Hendra yang baru tahu fakta dari rekan sang ibu. Lucu. Sebodoh itukah sampai dia baru tahu sekarang?


Baiklah. Aku akan jawab biar dia senang, “Iya, benar.”


Matanya seperti menggelap, “Kamu tahu kalau ibuku dibunuh oleh ayahmu?”


“Iya,” melelahkan sekali hadapi orang seperti ini, “Lalu kamu mau apa? Ini tidak ada hubungannya denganku. Lepaskan aku⏤Gah!”


Perih. Terkejut aku dengan panas di sekitar hidung. Dia melayangkan tinjunya dengan genggaman masih erat di kerahku.


Apa-apaan? Main pukul sesukanya!


“Kak Hendra!” Nisa masih mencoba melepaskan cengkraman Hendra.


Hendra tambah mengamuk, “Nisa, jangan ikut campur!”


Sari kembali bersuara, “Bukan begitu, Hendra. Kita kan bisa diskusi baik-baik. Tidak harus begini.”


“Gimana caranya aku tenang?! Pembunuh ibuku ada di depan mataku! Yang aku bicarakan itu ibuku! Ibuku!!” Hendra semakin marah.


Hah. Dia gila.


Bisa-bisanya aku berteman dengan orang ini. Aku malah bergaul dengan orang-orang ini. Sampai tahu apa seluk beluk tentang mereka. Tidak dengan mereka. Latar belakang, atau usahaku untuk bertahan hidup.


Orang-orang ini tidak tahu.


Ini menjengkelkan sekali. Aku tidak melakukan apapun yang patut dapat pukulannya. Seharusnya aku yang memukulnya karena dia menyamakan aku dengan monster itu.


Mentang-mentang aku ada hubungan darah dengan pelakunya. Tetap tidak sudi aku disamakan dengannya. Si ayah itu bukan aku.


Haha, aku juga tahu itu ibumu. Dia bicara seperti dia satu-satunya korban saja. Wanita itu yang memilih kematiannya sendiri. Tidak denganku!


Jiwa dan ragaku satu-satunya cuma untuk aku!


Langsung aku raih kerah pria bodoh itu, “Lalu kenapa?! Ibuku juga begitu!”


Kemarahan Hendra seperti pudar sejenak, “Ibumu? Apa yang…,”


“Ibuku, kedua kakakku, semuanya dibunuh oleh ayahku sendiri!” aku tersenyum ke arah Hendra, “Siapa tahu? Mungkin aku selanjutnya.”


Hening, ruangan ini langsung jadi sepi.


Pria kasar itu merenggangkan genggamannya, “Apa maksudnya….”

__ADS_1


“Maksudnya, kamu hanya pikirkan ibumu, ibumu, ibumu. Tapi aku harus pikirkan hidupku,” aku tidak mau merenggangkan kepalanku di kerah bajunya, “Aku tanya, apa ayahmu itu akan menodongkan pistolnya kalau kamu tidak menurut?”


Keras genggamkan Hendra akhirnya lepas, “Ayahmu, tidak mungkin.”


Buat kesal saja mukanya itu. Sampai aku mau tertawa, “Kuberi tahu ya. Tidak semua orang punya keluarga sepertimu. Ayah bodoh itu cuma mau uang dan main-main. Aku hanya sebagai tempat sementara warisan yang besar.”


Rasanya aku mau muntah. Fakta itu memang buat kaget di awal, tapi aku sudah tahu itu dari lama. Sejak awal posisiku sudah nasib buruk. Aku tidak bisa selain menerimanya.


Nasib buruk ini, “Dia dan kelompoknya selalu membunuh! Rumahku tidak ada yang tidak merah! Tidak ada hari tanpa teriakan! Malam-malam hanya ada suara pistol atau cambuk! Dan aku sedang bertahan hidup di antara mereka!”


Hah. Melelahkan sekali. Kenapa aku malah cerita tentang diriku pada orang-orang ini? Menyedihkan!


Awalnya aku berpikir ini hanya salah satu permainan Hari. Kalau seperti ini keadaannya, aku yang terjebak di permainanku sendiri. Bergaul dengan mereka bukan hal yang bagus dari pertama tapi aku masih saja bertahan.


Entah bagaimana, rasanya sakit. Haha, jangan bilang aku sudah terbiasa dengan keadaan hangat mereka. Cuma karena suasananya mirip dengan saat aku dengan kakak-kakakku. Bodoh sekali.


“Kalau ayahku yang membunuh ibumu, aku tidak tahu apa-apa. Cari tahu saja sendiri,” langsung aku buang kerah baju itu, “Aku sudah sibuk bertahan hidup. Jangan merepotkan aku!”


Terkejut. Suara terjatuh. Ada banyak barang yang berserakan saat aku sadar dimana asalnya. Itu, adik Hendra.


Jiwa anak dua belas tahun itu bisa langsung rusak. Dia pasti tidak tahu kabar apapun yang terjadi dengan ibunya. Ditambah dia sudah ditinggalkan di umur empat tahun.


“Tidak. Tidak mungkin kak Gading begitu. Ibu meninggal karena kecelakaan kan? Kakak dan ayah bilang begitu,” mukanya sangat menggambarkan rasa tidak percaya.


“Itu…,” Hendra tidak bisa bicara di tengah kepanikannya.


Hah!! Suasana ini tidak menyenangkan sama sekali. Cekam sangat terasa. Tidak mau aku menghabiskan sisa soreku disini. Aku keluar lewat pintu rumah depannya, tanpa peduli dengan ketegangan keluarga di rumah itu.


“Gading.”


Nisa, dia masih saja keras kepala. Perempuan ini kan tidak ada urusannya sama sekali dengan masalah ini. Masih saja dia masuk sendiri.


“Aku mau pulang.”


Dia menahan langkahku. Hah, dia memang wanita keras kepala.


Eh, mukanya? Jangan bilang dia habis menangis, “Kita ke panti asuhanku dulu yuk. Aku mau obati lukamu.”


Berpikir sejenak. Lagi-lagi menghela nafas panjang. Aku harus mengendalikan diriku.


Setidaknya sampai wanita ini puas.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Kursi teras itu mau tidak mau aku duduki. Tangannya membuka botol obat antiseptik yang dia bawa. Wajahku dia obati. Setelah dia berhenti khawatir tidak jelas, aku akan pergi.


“Aku bisa obati sendiri. Sini kapasnya,” aku mengulurkan tanganku.


Tangannya menjauh dari jangkauanku, “Aku tahu kamu calon dokter, tapi kamu itu pasiennya sekarang. Biar aku yang obati.”


Dia menutulkan kapas basah itu perlahan, “Sakit?”

__ADS_1


“Tidak.”


Beberapa saat hening. Nisa sepertinya sangat serius mengobati lukaku, tapi ekspresi mukanya itu menggangguku.


“Gading, kamu tidak papa kan?”


Hmm? Seharusnya itu pertanyaanku, “Yang mengobati kan kamu.”


“Bukan ini!”


Ada apa lagi? Dia seperti ragu-ragu.


“Kita sudah lama kenal, tapi aku tidak tahu kamu sama sekali. Kamu selalu menutup diri. Walau aku juga tidak punya hak untuk ikut campur,” dia lanjut mengobati, “Tidak hanya aku, kak Hendra dan kak Sari memutuskan untuk biarkan kamu begini. Tapi….”


Menyusahkan. Seharusnya aku tidak perlu terbawa emosi tadi. Aku sampai mengatakan yang tidak perlu. Nisa sampai bertingkah aneh.


“Gading, aku ada disini. Kamu tidak perlu takut.”


Hah? Apa maksudnya, “Kenapa aku takut?”


“Tolong jujur dengan perasaan kamu sendiri. Waktu kamu cerita di rumah kak Hendra tadi, suaramu gemetaran.”


Suaraku? Gemetaran?


“Aku memang tidak tahu apa-apa. Gading juga tidak harus cerita. Tapi…,” tiba-tiba dia memeluk tangan kananku erat, “Gading tahu kan aku suka denganmu? Aku ingin mendampingimu. Kalau kamu bolehkan, aku mau masuk lebih dalam di kehidupannya Gading.”


Sakit. Kenapa rasanya lebih sakit daripada luka pukul Hendra?


“Jangan…,”


Dia menahan pipiku. Membiarkan aku menatap matanya, “Gading, kamu kan yang bilang aku itu keras kepala. Aku tidak akan kemana-mana walau kamu melarang.”


Matanya itu. Selalu sukses membuatku terpana.


“Gading mau seperti apa, aku akan temani. Kabur juga tidak papa,” dia tersenyum cerah, “Kita bisa sewa kontrakan pakai tabunganku. Aku juga bisa bantu kerja. Kalau masih takut, Gading bisa kok ganti nama.”


Kabur?! Di mana akal sehatnya?!


Aku langsung berdiri dari duduk, “Kabur dari orang tidak punya hati begitu?! Sama saja cari mati!”


“Pasti bisa,” dia langsung ikut berdiri. Menekan kedua pipiku dan masih tersenyum, “Aku taruhan, Gading pasti belum pernah coba.”


Terdiam aku tersadar akan hal itu. Mustahil aku menentang pendapat itu. Selalu aku merasa tidak ada cara untuk kabur, aku tidak mau mengambil resiko.


“Kita cari sama-sama,” dia menarik wajahku sampai kening kami bersentuhan, “Kalau tidak bisa, aku yang akan buat semuanya bisa. Apapun yang bisa buat Gading tidak takut lagi, aku akan lakukan. Percaya sama aku, ya?”


Hah, hahaha, baru sekarang air mataku bisa keluar. Ini pasti yang mereka sebut sebagai rasa tenang.


Kedua lenganku melingkar memeluk wanita itu, “Iya…, aku percaya.”


Seharusnya, ini jadi rencana pelarian yang indah.

__ADS_1


*Pangkat dan lama pendidikan di Akademi Kepolisian (AKPOL). Idpa sendiri artinya Inspektur Polisi Dua.


__ADS_2