Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#77 yang Sudah Dipilih


__ADS_3

“Rizki!”


Pemeran utama keributan hari ini masih saja berwajah santai tak berekspresi, “Apa?”


“Rasyi masih kecil untuk ini!” Hendra… sungguh? Itukah alasannya?


Wahai Hendra, pamanku yang tampan serta wibawa yang mempesona. Aku sayang kamu, tapi tolong jangan remehkan aku hanya karena usia fisikku masih tiga belas tahun. Usiaku yang sebenarnya… hmm, 38⏤bukan! 40 tahun!


Hiks, aku tua….


“Rasyi tetap punya hak untuk tahu,” Rizki menatapku yang masih sibuk dengan biskuit stick di mulutku, “Kalian yang tidak punya hak untuk protes.”


Ya! Setuju!


“Rizki!”


“Aku tidak mungkin mendengarkanmu terus, kan?”


Mereka, berkelahi lagi…. Sekarang aku yang sakit kepala.


“Bisakah kalian tidak bertengkar?!” wow, Fares?


Menjadi rasa bersalah aku. Ini kamar rumah sakit yang diperuntukkan Fares untuk memulihkan dirinya. Dan kami membawanya ke masalah keluarga kami.


“Fuuh,” Hendra tampak ikut dibingungkan oleh bapak di depan itu, “Terserah kamu saja! Aku tidak peduli lagi! Masalah sudah selesai, aku tidak mau buat tambah ribet!”


Untunglah, Hendra mau membiarkan aku tahu ceritanya. Begitu kan lebih enak~


“Sari,” Hendra memberikan kode mata yang mengarahkan pada Harun.


Oh iya, aku hampir lupa ada Harun di sini!


“Kalau begitu kami tunggu di luar,” Sari menggandeng Ira yang sibuk menggendong bayinya, “Ayo, Harun⏤”


“Apa,” Harun? “Apa saya tidak boleh tahu juga?”


Heh?!


Sepertinya itu menegangkan urat Hendra, “Harun, jangan mulai.”


“Tapi saya juga punya hak untuk tahu!” Harun jadi ikut marah?


“Cukup!”


“Biarkan saja,” papa?!


Apa yang dia pikirkan? Harun kan tidak ada kaitannya sama sekali.


Hendra tampak menahan kepalan tangannya, “Kamu serius?”


“Semua bakal terbongkar juga sama waktu nantinya. Anak-anak ini kan keras kepala,” yah, memang sih…, “Lagi pula Harun sudah terlanjur diberitahu Rasyi.”


Iya ya⏤hah?! Tu, tu, tu, tu, tunggu!


Kujauhkan biskuit dari depan wajahku, “Papa tahu dari mana?!”


“Lihat?” Rizki menunjukku sambil menatap Hendra, “Rasyi sampai panik begitu, berarti betul.”


__ADS_1


Itu tadi cuma argumen asal-asalan Rizki?! Dan aku baru saja membenarkan dugaannya?!


Jebakan!!


Yang benar saja!!


“Rasyi, kenapa kamu…,” ah, aku memperparah sakit kepalanya paman Hendra.


Emm…, karena aku tidak bisa tahan saat dia menggodaku terus? Kalau aku melihat diriku yang lalu, aku juga akan memarahinya. Mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi!


“Sudahlah, terserah!” Hendra benar sudah lelah menghadapi keluarga kami.


Iya. Keluarga ini memang memusingkan. Aku sungguh dibuat merasa bersalah pada keluarga ini.


“Jelaskan singkat apa saja yang kamu sudah tahu,” Rizki membalas tatapan Harun.


“Paman dan Rasyi sejak lama diincar penjahat. Mereka juga yang jadi penyebab kasus Jagad dulu,” Harun menyingkatnya dengan sangat padat.


“Kalau begitu kita mulai dari sana,” Rizki melipat kedua tangannya di depan sambil masih bersandar pada dinding, “Penjahat itu ayahku.”


Mata Harun terbelalak.


Tentu saja. Itu bukan sesuatu yang biasa dalam suatu keluarga.


“Kelompoknya menerima permintaan jahat siapa saja. Orang itu sudah ditangkap, dan dihukum tembak bulan lalu,” Rizki seakan ingin menenangkan Harun.


Tidak. Dia mau menekankan itu juga padaku. Mengatakan dengan jelas, pelaku itu sudah pergi sepenuhnya sekarang.


“Intinya itu. Lalu Rasyi… kamu mau tahu apa yang terjadi pada Fares kan?”


Seperti biasa, dia selalu bisa membaca pikiranku.


Aku mengangguk.


Yah. Tidak akan ada masalah selama Rizki mau bercerita pelan-pelan.


“Papa sudah pikirkan banyak rencana sejak mamamu ajak papa kabur. Semuanya hampir sama, kumpulkan bukti supaya bisa ditindak secara hukum. Tapi itu sulit karena mereka menyimpan bukti tindakan mereka dengan ketak.”


“Tapi, aku masih bingung,” Hendra? Sepertinya benar dia tidak mengetahui semua hal meski banyak membantu Rizki, “Kenapa mereka repot menyimpan bukti yang memberatkan mereka? Lebih mudah kalau dihapus.”


Rizki menarik jemarinya satu persatu, “Pertama, itu memang hobi dia. Kedua, ada beberapa waktu mereka menarik bayaran dengan bukti tugas sudah selesai. Yang ketiga, bahan ancaman.”


Yang pertama aku bisa paham dari album foto terkutuk. Tentu saja sudah ada di pihak kepolisian sekarang. Kedua juga masuk akal. Namun, yang ketiga untuk apa maksudnya?


Terkejut di wajah Hendra, “Apa maksudmu, untuk mengancam pihak kerjasama-nya?”


Rizki berhenti sejenak, “Hmm em.”


Mereka mengancam pihak mereka sendiri? Bagaimana bisa mereka lebih tidak manusiawi dari yang ada di mataku?


“Untuk rencananya,” papa melanjutkan, “Pilihan yang baik tentu menyusup langsung ke tempat mereka. Aku mudah masuk dengan ditangkap, tapi sulit untuk keluar. Karena itu aku butuh Fares.”


Fares jadi jalan keluar?


Memang sih. Kalau aku mengingat lagi apa yang aku dapat di hari itu… ‘ada pelacak yang ditanam di Fares’. Tapi….


Teringat akan hal itu kepalaku, aku memutar ke arah Fares. Dia tersadar pandanganku dan menjawabnya dengan senyuman hangat seperti biasanya.


Rizki kembali bicara, “Akhirnya aku memasukkan chip kecil untuk melacak di pundak Fares. Jadi Hendra bisa menyergap mereka langsung.”

__ADS_1


“Kenapa harus kak Fares?” Harun, dia tampak tidak nyaman.


“Ayahku… selalu sensitif dengan apa yang aku bawa, berlaku juga dengan Rasyi. Dia sudah kenal Hendra itu polisi, tidak mungkin dilepas begitu saja. Kamu?” Rizki membalas tatapan Harun, “Kamu tahu kenapa.”


Papa memang terlihat tidak peduli. Namun di saat aku jauh dari awasannya, dia tidak pernah mempercayakan aku pada orang yang tidak ia kenal baik. Fares jadi orang yang paling dia percaya, begitulah yang selalu terlihat.


Rizki mengerut wajah, “Fares itu paling ideal. Fares dekat dengan Rasyi. Tidak aneh kalau dia juga tertangkap saat waktunya. Lagipula dia volunteer sendiri.”


Fares? Sukarela? Berarti….


“Papa memikirkan ini sejak kapan?” kepoku memuncak.


“Perencanaannya sudah lama. Tapi papa dapat izin praktek setelah penelitian tidak lama yang lalu,” Rizki menelengkan, “Tapi untuk rekrut Fares baru-baru saja.”


Selama apapun itu, Fares sudah berakting polos seperti tidak tahu apapun. Aku ditipu dengannya selama itu?


“Ada lagi?” Rizki sudah selesai bercerita, “Harun?”


Wajah Harun, tidak menyenangkan…, “Saya…, akan pulang duluan….”


Harun….


Malahan lega Hendra dibuatnya, “Paman ingatkan, tidak ada yang tahu selain orang di dalam sini dan kepolisian.”


“Baik,” Harun membuka pintu, “Saya permisi.”


Pintu tertutup dan tidak ada suara yang tersisa untuk berbicara. Cara gila Rizki untuk menghadapi kegilaan konflik keluarga memang sangat tidak mudah dikunyah.


Kasihan, Harun. Dia harus tahu semua kekejaman itu walau dia tidak seharusnya terikat. Aku harap hubungan kami tidak terganggu.


“Papa minta maaf,” hmm?


Eh?


Eh?


Rasa setengah sadar ini, mungkin aku terlalu kaget dengan ucapan mendadak Rizki.


“Papa bersumpah, ini rencana terakhir. Papa tidak akan pakai sebisa mungkin. Tapi papa sudah kehabisan cara. Papa tidak beritahu karena Rasyi punya peran juga. Semakin bahaya kalau kamu tahu. Begitu juga Hendra.”


“Kita bicarakan itu nanti,” Hendra sepertinya sudah lelah berdebat, “Rasyi tidak papa kan?”


Aku? Aku kenapa?


Heh? Kenapa setiap pasang mata di ruangan ini menatapku dengan tatapan khawatir? Apa yang mereka khawatirkan?


“Papamu memang tidak lembut. Sekali-sekali jitak saja,” Ira tersenyum sambil memainkan tangannya.


“Bukan begitu juga,” Sari tampak lebih khawatir.


Ira memanyunkan mulutnya, “Ya mau punya masalah atau tidak, kehidupan gadis harus diperhatikan!”


Eh? Jangan-jangan mereka khawatir karena masalah ini bisa membuat hidupku tidak normal. Apa karena itulah mereka tidak mau bercerita?


“Rasyi harus langsung suruh tanggung jawab. Kalau Rasyi mau apa-apa, paksa saja, Jangan minta!” saran Ira hanya meninggalkan ekspresi datar di wajah papa.


“Ha ha,” Hendra ikut menyahut.


“Sabar, tante,” Fares ikut tertawa.

__ADS_1


Mereka, mereka sengaja sekali membuat atmosfer yang awalnya tegang menjadi meleleh. Padahal mereka tidak perlu repot-repot begitu.


Aku tidak bisa menahan tawaku, “Nanti deh Rasyi paksa papa kencan ke Mall. Hihihi....”


__ADS_2