Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#45 Lintas Balik


__ADS_3

(“Tunggu! Biar aku bantu obati dulu lukamu sedikit.”)


Waktu itu aku sedang mengikuti seseorang yang membilas wajahnya di depan kantor. Aku bertemu dengannya di saat aku pulang dari lemburku.


(“Tidak. Silahkan pergi.”)


Orang itu, ia menolak keras pertolonganku. Namun, kenapa aku tidak bisa ingat wajah pria itu? Menurut surat kabar itu, seharusnya dia Rizki.


(“Aku tidak akan pergi sebelum mengobatimu.”)


Bisa! Wajah dia mulai muncul. Loh? Itu benar papa kan? Lalu kenapa⏤


“Hah!” cepat aku menghirup nafasku menyamakan kerja jantung yang semakin tidak masuk akal.


(“Ketemu.”)


Suara ini. Tidak salah lagi. Ini si kakek yang tak berhati itu.


(“Mati saja sana.”)


(“Awas!”)


Detak jantung yang melaju kencang merambat dan memasukkannya paksa ke gendang telinga. Lubang dari jalur peluru itu terlihat jelas. Benar, kakek itu yang menembak Sekar sampai mati.


“Aah!” kepalaku semakin sakit dan sakit. Tak bisa melakukan apapun selain menekannya dengan kedua tanganku.


Rabun mataku menangkap sosok itu. Pandanganku bergetar semakin jatuh. Di atas sana bisa aku tangkap ekspresi sosok pria yang menjauh. Namun getaran di tubuhnya dan ketakutannya masih saja terpancar jelas. Papa….


(“Bos, kita salah tembak orang.”)


(“Aku juga tahu, bodoh.”)


Si kakek itu. Dari suaranya di kiri telingaku, dia pasti marah.


Ah! Penglihatan yang semakin rabun dan menggelap. Sekar sudah tidak kuat kah?


(“Maafkan aku.”)


Itu, suara papa kan?


Belum sempat tertutup, perlahan mata itu melebar lagi. Wajah penyesalannya tampak sangat dekat selagi ia terduduk memperhatikan Sekar yang terjatuh. Entah kenapa aku bisa merasakannya kembali getaran ketakutan yang dihantarkan pria itu.


Tiba-tiba matanya sedikit melebar. Wajahnya berganti menjadi khawatir dan marah. Aku akui ekspresinya sangat beragam di saat itu.


(“Sudah, kan? Kalian bisa pergi sekarang.”)


Papa tampaknya melepas hoodienya. Cekatan tangannya entah melakukan apa di sekitar layar penglihatanku. Sesaat ia seperti meraba-raba sesuatu di kantongnya.


(“Enak banget suruh-suruh pergi!”)


Di ujung yang jauh, menyatu wajah seseorang yang samar dengan langit malam yang gelap. Itu si kakek.


(“Perlu dihajar lagi dia, bos!”)


(“Iya bos. Biar dia nurut!”)


(“Tunggu…,”)


Kakek itu membiarkan Rizki sibuk dengan Sekar sementara ia memperhatikan yang ada di depan.


(“Kurang ajar, Gading!”)


Papa tampak menatap lurus ayahnya yang tiba-tiba marah itu.

__ADS_1


Ada apa? Untuk apa kemarahan itu dilampiaskan? Bangunan tua di sisi kanan itu.


Oh! CCTV kah?


(“Bos. Kayaknya ada orang di sana.”)


(“Diam! Aku tahu!”)


Pria itu diam sesaat dan akhirnya dia pergi membawa wajah marahnya, sampai tidak tertangkap lagi di pandanganku. Ketegangan menghilang, tapi tidak dengan rasa sakit yang dipunya Sekar. Tentu ia sedang berusaha bertahan.


(“Maafkan aku.”)


Papa?


(“Sebentar saja. Tahan sebentar lagi.”)


Dia memandangi ponselnya. Langsung ditahan benda itu di telinga dan bahunya selagi masih sibuk.


(“Ada apa ini?!”)


Suara lain. Rizki langsung melihat ke belakangnya.


(“Bapak punya kendaraan?! Tolong bawa kami ke rumah sakit!”)


Mata Sekar perlahan tertutup dan terbuka. Tidak kuat tapi tidak mau menyerah. Pemandangan terus berganti. Sampai akhirnya aku melihat ruangan gelap dengan cahaya yang bergerak berulang-ulang. Ini di dalam mobil kah?


(“Maafkan aku.”)


Lagi-lagi papa mengatakan itu dengan wajah penuh penyesalan. Sebuah tangan terlihat, sepertinya tangan sekar punya tenaga?


Ah! Tunggu! Kenapa aku malah menyenggol pipinya papa? Lihat, papa sampai kaget.


(“Iya… aku maafkan….”)


Terkejut, menatap pemandangan yang termasuk langka. Ia menunjukkan genangan air lega di matanya. Ah, mata coklat itu mengkilap indah. Pria itu menangis⏤


“Rasyi!”


Cepat aku membuka mataku, “Hah haaaa….”


Ada apa? Ini bukan di mobil lagi. Ini di jalan tadi, tapi kenapa semuanya terang seperti ini? Sudah pagi?


“Kamu tidak papa?” Harun? Dia tampak tidak karuan ikut terjongkok di sampingku, “Ada yang sakit? Kepalanya?”


Tunggu. Tunggu sebentar!


Langsung aku sentuh tangannya berusaha menenangkannya. Tunggu, Harun. Aku juga sedang bingung.


“Sabar Harun. Aku pusing,” berhasil aku membujuk menenangkannya.


Oh iya. Tadi itu ingatan Sekar di hari kejadian. Aku kan Rasyi, bukan ‘aku’ yang tertembak disana.


Sepertinya aku duduk jongkok di samping tembok pagar yang sudah rapuh. Tanganku yang satunya pun masih memegangi kepala. Syukurlah rasa sakitnya itu sudah pudar.


Kulihat sekitar dan aku bisa melihat lokasi kejadian waktu itu dengan bangunan yang menjadi saksi bisunya. Spanduk kecil bertuliskan ‘dijual’ dan nomor telepon sudah ada terpasang di sana.


“Rasyi…,” Harun masih saja khawatir.


Ah, aku harus tersenyum walau sedikit, “Tidak apa kok, cuma pusing sedikit tadi. Jangan khawatir begitu.”


Dia menurunkan tangannya, “Sudah yuk. Rasyi pasti capek. Kita pulang. Ya?”


“Tunggu, istirahat dulu sebentar disini,” aku memperbaiki dudukku melipatnya ke depan dan menyembunyikan wajahku di antaranya, “Capek banget.”

__ADS_1


Suara Harun menghilang. Aku tersadar ia duduk di sampingku. Kami sama-sama memperhatikan mobil dan kendaraan bermotor yang sepi berlalu lalang. Untung saja matahari yang menuju barat ada di belakang gedung.


Nah, sekarang aku sudah ingat apa yang terjadi di hari itu. Namun ceritanya pasti tidak habis dengan Sekar yang menutup mata di dalam mobil. Masih ada lagi kan?


Kututup mataku sejenak. Berusaha apabila aku bisa mengingatnya lagi.


Ah. Tidak ada. Otakku tidak mampu menggalinya lagi.


“Rasyi.”


Harun memanggilku kah?


Kubuka mataku dan menatapnya, “Apa?”


“Kamu ajak aku memang karena tante Sekar?”


Oh, benar juga. Harun menyetujui ikut denganku. Jadi aku rasa tidak perlu membuat cerita. Akhirnya aku lupa kalau dia tidak tahu apa-apa.


Sudahlah. Aku sudah terlanjur membahas hal ini di depannya, “Iya.”


“Kenapa kamu tidak beritahu aku?!”


Loh? Dia kok marah-marah? Bukannya aku yang seharusnya marah? Ia merahasiakannya walau dia mendengar nama papa di dalam kasus itu!


Ikut mengkerut wajahku, “Terus kenapa Harun tidak bilang-bilang kalau tahu?”


Seketika dia berekspresi aneh dan membuang wajahnya. Apa-apaan? Jangan bilang dia memang diminta sama para ‘tetua’ untuk merahasiakannya dariku.


“Hah. Semua orang sama saja. Selalu ada yang dirahasiakan padahal itu urusanku,” kukenakan daguku ke kakiku yang masih kupeluk, “Aku tahu kok, Harun juga merahasiakan sesuatu.”


Harun tiba-tiba berdiri. Keras dia menarik tanganku sampai tak beres dudukku, “Itu karena kamu selalu mau tahu! Tapi kamu langsung takut kalau tahu! Gimana kalau kamu dengar paman pernah membunuh?”


Apa katanya?! Langsung aku tarik tanganku dan ikut berdiri, “Papa bukan pembunuh!”


“Aku tahu, Rasyi. Tapi kayak tante Nita, masih banyak yang tidak percaya.”


“Kau juga tidak percaya?!”


“Bukan begitu!” dia seakan menahan dirinya. Lagi-lagi dia menggenggam tanganku, “Sudahlah. Ayo pulang.”


Kutahan dia sebelum sempat mengambil langkah, “Jangan mengaturku!”


Dia tampak sangat marah, “Aku itu lindungi kamu, Rasyi!”


“Kamu bukan siapa-siapaku! Berhenti ikut campur urusanku⏤Aa!”


Tangan siapa yang ada di kepalaku?! Hah?! Kak Fares?!


Fares sudah menahan kepala kami berdua, “Jangan berkelahi.”


Langsung aku tarik tanganku dari genggaman Harun. Langkahku lebih mendekat ke Fares dan tanpa pikir panjang memeluk pinggangnya. Menyembunyikan diri dari Harun.


“Kalian berkelahi apa lagi kali ini?” Fares kembali meletakkan tangannya di kepalaku.


Jawaban yang diminta tidak ada yang keluar dari mulut kami. Aku sudah tidak tahan lagi dengan Harun yang hanya bisa mengatur. Selalu saja alasannya untuk melindungiku. Pacar saja bukan. Budak cinta atau apa sih tuh anak?!


Tunggu. Di sini kenapa ada Fares? Jangan-jangan….


“Kak Fares,” aku mendongakkan kepalaku, “Papa….”


Murid SMA ini memainkan alis sedih dengan senyum yang masih kalem, “Maaf ya.”


Haduh! Bagaimana juga nanti aku menjelaskannya?!

__ADS_1


__ADS_2