
Aku menggosok mataku. Memproseskan pemulihan dari buramnya mata ke fokus yang lebih sesuai. Gambaran yang ternyata tidak biasa.
Benar juga ya. Saat ini aku sedang menginap di rumah Hendra.
Udara yang sudah menghangat memberikan aku rasa nyaman saat menggeliat. Matahari yang mulai tinggi ini menyadarkan aku yang sudah terlalu santai di rumah orang.
“Sudah bangun? Baru saja mau tante bangunin.”
Di luar kamar tamu itu sudah disambut dengan pemandangan ruang makan yang ramai. Hendra, Ira dan anaknya duduk disana. Sari dan beberapa asisten rumahnya sudah disibukan dengan berbagai persiapan pagi.
“Gimana tidurnya, nyenyak?” Ira tampak kembali meletakkan bayinya yang tenang ke keranjang tidurnya.
Kutarik pintu yang ada di belakangku sampai tertutup, “Nyenyak kok.”
Baju pinjaman yang masih saja terasa kebesaran itu kurapikan sedikit. Walaupun aku tetap tidak tahu baju siapa ini. Orang-orang disini kan sudah pada besar. Aku hanya bisa menggunakan dulu baju yang disediakan Ira dan Sari, sampai Rizki mengantarkan beberapa pasang baju untukku.
“Masih kebesaran ya?” suara yang terasa seperti sungai tenang itu, Fares. “Padahal Itu baju kakak waktu SMP dulu,” oh~ bajunya kak Fares toh. Dia masih menyimpan baju SMP ternyata⏤
“Hah?!” Bisa sebesar ini waktu SMP? Sungguh?!
Tunggu, jangan bilang masalahnya ada di tubuhku yang lebih kecil dari anak seumuranku. Aku tahu aku lahir prematur satu bulan lebih awal, tapi sungguh!!
Fares tertawa samar. Seperti biasa dia mengelus kepalaku lembut, “Yang penting bisa Rasyi pakai kan?” Fares bergerak dan berbaur dengan kursi kosong di meja makan.
Hiks.
Kakiku tak mengikutinya.
Samar-samar aku sadar akan suara tawa dari orang-orang. Mereka sedang bercerita entah tentang apa. Rasanya, aku bisa melihat sekeliling mereka menjadi lebih cerah.
Bahkan saat aku menjadi Sekar, aku tidak pernah merasakan suasana manis bersama keluarga seperti ini.
Hal seperti ini sungguh tidak cocok denganku.
“Kenapa Rasyi kok diam disana? Yuk sini kumpul,” Ira masih saja menyambutku hangat sambil sibuk dengan bayinya.
Sari datang membawa satu set makan, “Rasyi mau makan dulu atau mandi dulu? Bajunya Rasyi baru diantarin sama Rizki loh.”
Rizki sudah mengantarkan baju? Ia bahkan tidak menyapaku. Dalam sekejap aku malah mengira dia membuangku.
Apa yang aku pikirkan?! Maunya dia kan memang seperti ini supaya aku tidak bisa ikut campur. Untunglah dia tidak ada protes atau apapun itu saat aku ingin kabur dan menginap disini.
“Rasyi,” hah?! “Kenapa? Ada yang sakit?” Sari?
“Tidak. Tidak apa kok,” aku terlalu lama melamun ternyata.
“Ya sudah, ayo makan dulu saja bareng yang lain,” tangan Sari mendorong pelan aku sampai menduduki satu kursi.
__ADS_1
Fares yang duduk di sampingku mulai menyiapkan makanan untuk dipiringnya sendiri, “Oh iya, tadi kakak ketemu Harun. Dia cariin Rasyi loh. Nanti mau ke rumah Harun sekalian?”
Harun?
Oh, aku baru sadar kak Fares sedang pake baju olahraga. Apa dia baru membakar lemak ke luar rumah dan bertemu Harun? Rumahnya Harun kan tidak begitu jauh dari sini.
“Kalau begitu, habis makan nanti langsung saja mandi,” Sari mempersiapkan makanan di kursi kosong yang aku duduki, “Fares juga, nanti antar Rasyi kesana pakai kendaraan. Ya?”
“Iya, bu.”
Padahal aku tidak sedang ingin melakukan apa-apa. Namun sudahlah. Tidak ada salahnya mencuci mata sebentar.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Rasyi,” suara yang merdu di telinga menyapaku dari arah rumah bertema minimalis modern itu.
Bukaan pagar rumah itu kusambut dengan senyuman paling manis yang aku siapkan, “Harun~”
“Nanti telepon saja kalau mau balik ya?” Fares menyalakan kembali kendaraan jingga lakinya dan membawanya pergi.
Melangkah aku dengan Harun memasuki area rumahnya. Taman yang cantik penuh bunga menyambutku.
Beginilah salah satu dari banyaknya rumah mewah yang dimiliki kenalanku. Ah, benar juga. Kenalan-kenalanku, semuanya ternyata memang orang kaya ya. Seharusnya aku senang tapi kok jadi sedih ya, duniaku sempit sekali.
“Rasyiqa, sudah lama tidak kesini ya.”
Eh, “Pagi, tante Tia,” kusapa wanita yang sedang asyik membawa peralatan berkebunnya.
“Tidak kok, tante. Tante lanjutkan saja.”
Ah. Wanita cantik dan lembut nan jadi favorit para pria di luar sana. Termasuk gebetan Sekar yang dari SMA itu. Haa aah~ Sedihnya….
Ya sudah deh. Doi tidak dapat, anaknya pun jadi.
“Rasyi, yuk. Masuk,” Harun menyenggol tanganku mengajakku masuk.
Berpamitan kecil untuk meninggalkan ibu Harun yang sibuk berkebun. Sampai Harun mengantarkanku melewati teras depan rumah.
Hanya sekitar dua tiga kali saja aku pernah kesini. Itu karena rumahnya dekat dengan rumah Fares⏤berarti jauh dengan rumah papa yang besar itu.
Tambahan lain, papa dan keluarga Harun tidak sedekat papa dan Hendra. Hubungan mereka sekedar terbentuk dari kecelakaan Sekar.
“Ke taman samping saja yuk. Bunga disana lagi mekar semua loh,” Harun menuntunku ke pintu keluar yang satu lagi.
Pada akhirnya kami memilih untuk duduk di lantai teras samping yang dikelilingi banyak pot bunga yang merekah. Ibu Harun sungguh orang yang menyukai tanaman.
“Harun kenapa cariin aku?” aku terduduk di lantai teras sambil memeluk kakiku, “Oh, apa kemarin kamu cariin aku di rumah? Aku sudah ada di rumah kak Fares dari kemarin pagi sih.”
__ADS_1
Benar juga. Terakhir kali aku bertemu dengannya itu saat di kantor tempat kerja Sekar. Ah, aku tidak mau mengingat kejadian itu.
Senyumnya terlihat aneh. Heh, apa dia malu? “Tidak~ Aku baru mau chat, tapi tadi ketemu kak Fares.”
“Ada apa memang?”
Dia bersandar ke tiang teras yang ada di samping kirinya, “Aku cuma mau lihat muka Rasyi kok. Tidak boleh?”
Kyaa!! Tuh kan, dia mulai jahil!
Ini pasti karena papa terlalu terus terang waktu itu. Walaupun tahu aku suka dengan Harun, seharusnya papa pura-pura tidak tahu saja!
Bibirku memanyun panjang, “Tidak boleh!”
Harun tertawa, “Jangan marah dong~”
Kamu yang jangan jahil!
“Rasyi kok menginap di rumah kak Fares?”
Mulai aku teralihkan oleh beberapa bunga yang harum di sampingku, “Cuma mau menginap.”
Aku sedang tidak mau membahasnya. Lebih lagi dengan Harun yang seharusnya tidak boleh terikut.
Jari-jariku memainkan kelopak bunga yang lembut itu. Mulutku merekat di tangan kiriku yang memeluk kedua kaki. Hembusan angin mengingatkan aku kalau Harun tidak melanjutkan pertanyaannya.
Eh? Eh?!! Harun, sejak kapan dia duduk di samping persis denganku?! Ditambah lagi, dia menatapiku sangat lekat! Aku kan kaget!
“Muka kamu kok begitu?”
Ya karena kaget dong!!
“Rasyi sedih ya? Mikirin apa sih?”
Loh? Wajahku semudah itu ya untuk dibaca? “Tidak kok.”
“Yakin tidak mau beritahu aku?”
Apa aku ceritakan saja ya? Tuh, Harun pasti paham. Mungkin juga aku akan bisa mendapatkan suatu jalan keluar.
Dua kakiku sengaja aku buat lurus, “Memangnya tidak apa aku cerita?”
“Kan memang aku tunggu Rasyi cerita,” wajah senang sudah seperti panel surya yang memantulkan cahayanya.
Namun…, “Kamu tidak akan bilang ke siapa-siapa kan? Terus kalau kamu sudah tahu, kamu tidak akan takut memangnya? Nanti kalau kamu jauhi aku bagaimana? Ini kan bukan masalah gampang, pasti nanti kamu kaget⏤Hmm!!”
Aaaargh!! Harun?! Haruuun?!! Kenapa kamu membekap mulutku?! Tolong jangan lakukan itu!
__ADS_1
Ia melepaskan tangannya dari mulutku. Wajahnya tampak sedih, “Rasyi tidak percaya sama aku?”
Duh, wajah yang tak bisa dibantah itu menekanku sampai ke dalam! Jantungku!!