Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#61 Ini Bukan Kencan!


__ADS_3

Dia masih saja memandangku dalam diam. Mata kami saling bertukar pandang layaknya dua sejoli yang punya hubungan.


Apa sih?! Kami masih temenan! Masih!


Bukannya aku tidak percaya dengan Harun. Hanya saja masalahku dan papa terlalu berbahaya. Jagad yang kena imbasnya saja tidak tahu apa-apa, apalagi kalau tahu!


Garis mulutnya yang manis semakin memberatkanku, “Aku tunggu loh~”


Jangan mendesak aku!! Bisa-bisa umurku habis cuma karena melihat mimik mempesona itu!


Diriku tahu betul kalau aku tidak seharusnya mengatakan ini, tapi hatiku berteriak 'katakan saja padanya!!'. Jantungku mendesakku sampai tidak bisa berpikir jernih. Emosi tak terjelaskan ini tidak sehat!


Bertanya aku menyakinkan diri sendiri, “Yakin?”


“Yakin,” dia tersenyum memecahkan keraguanku.


Tidak apa. Kalau Harun pasti tidak apa! Asalkan aku bercerita dengan tepat dan tidak menjerumuskannya berlebihan, tidak akan ada masalah.


“Harun ingat kejadian waktu jurit itu kan?”


“Iya?”


Kusiapkan hatiku lebih lagi, “Sebenarnya yang menangkap kami itu sudah mengincarku sama papa dari dulu. Makanya dari kecil aku dikurung di rumah terus.”


Guncangan saat bercerita tentang kenyataan perih ini terasa masih berat di tubuhku. Penjelasannya tidak perlu lebih dalam dari ini kan?


“Intinya sih begitu. Karena itulah aku tidak mau kamu sampai kena juga seperti Jagad,” aku bisa merasakan mulutku tersenyum aneh.


Hmm?! Tidak aku sangka wajahnya bisa menjadi sangat suram. Kejut di matanya itu seperti tidak percaya dengan apa yang aku katakan.


“Paman Hendra tidak bisa tangkap mereka?”


“Papa bilang tidak bisa semudah itu. Mereka punya nama bagus di masyarakat. Salah-salah papa yang ditangkap.”


“Memang siapa mereka?”


Tolong jangan tanya itu, “Maaf Harun, aku tidak mau kamu kenapa-napa.”


Harun ada disini, tapi seakan wajahnya tidak bisa aku pandang.


Mencoba aku menatapnya lebih dekat, “Harun, aku saja bingung harus bagaimana. Masalah ada di depanku, tapi papa tidak mau aku ikut-ikutan. Aku berharapnya bisa pikirkan sesuatu kalau aku refreshing ke rumah kak Fares. Tapi ya… begitulah.”


“Kabur saja.”


Hmm?


“Rasyi tidak perlu bahayakan diri. Rasyi sudah terlalu sering sedih.”


“Harun?” kenapa dia tiba-tiba bersikap aneh begitu?


“Buat apa bareng ayah yang tidak becus jagain kamu? Tidak usah capek-capek pikirin.”


Aku dibuat tak percaya. Wajahnya menggambarkan aura yang tidak biasa. Benarkah ini Harun yang aku kenal? 

__ADS_1


Ini bukan berarti aku tidak pernah berpikir seperti itu. Namun, bagaimana dengan papa? Sari benar, dia membutuhkanku langsung atau tidak langsung.


Harun mengulurkan tangannya sambil mengeluarkan senyum aneh, “Kabur sama aku yuk. Jadi Rasyi tidak perlu disakiti mereka sama ayahmu lagi.”


Tidak seperti ini!!


Cengkraman erat kuhantamkan ke kedua pundaknya, “Harun! Sadar! Dia papaku! Bukan begitu penyelesaiannya!” kepalaku lemas menatap ke bawah, “Dia tidak bermaksud masukkan aku ke masalahnya. Dia cuma tersesat sedikit saja. Dia⏤”


Sudah segalanya bagiku….


Kulepaskan tangan dari pundaknya dan kembali ke posisi dudukku. Bisa kau rasakan cucuran air di mata sial ini. Berhenti air mata! Sudah lelah aku!


“Aku mau pulang,” kakiku mengangkatku berdiri.


“Tunggu!” genggaman tangan Harun menahanku sambil ikut berdiri, “Maksudku bukan begitu! Itu⏤”


“Cukup, Harun. Tolong berhenti mengejek papaku.”


“Tolong dengarkan dulu. Itu tadi…, maaf. Aku kebawa emosi. Itu ide jelek. Aku bodoh, maaf.”


Mataku akhirnya berani menatapnya. Wajahnya ternyata kembali ke wajah Harun yang aku kenal. Kembali ke wajah khawatir yang tidak bisa kutolak.


“Aku paham, Rasyi cuma butuh refreshing. Gi⏤gimana kalau ikut aku ke tempat yang enak,” tersenyum lagi dia, “Tidak jauh kok dari sini. Aku juga mungkin bisa bantu pikir.”


Berpikir apa lagi satu orang ini? Apa dia tidak tahu aku sedang masih ilfeel? Memang salah satu karakter buruknya ini sulit ditangani.


“Tolong, kasih aku kesempatan minta maaf.”


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Aku sangat kesal pada diriku sendiri. Kenapa sih aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Lebih-lebih kalau masalah yang tampan.


“Tenang. Ini cuma Coworking Space*. Tempatnya tenang kok, jadi Rasyi tidak perlu takut,” Harun, tolong berhenti tersenyum!


Coworking Space? Dia membawaku ke tempat yang sebelas dua belas dengan cafe. Tambah lagi, space untuk orang banyak bekerja.


“Benar sepi?”


“Ini tempat baru, jadi tidak begitu banyak orang,” Harun mengaitkan genggamannya pada tanganku, “Tidak papa, kan ada aku.”


Seperti biasa, aku tidak bisa menolak sikap pria idaman ini! Mau bagaimana lagi? Dia mirip dengan ayahnya yang sudah jadi gebetan permanen di hati Sekar!


Aku hanya berharap dia sedikit mengurangi sifat overprotective miliknya.


Petugas di balik meja mulai menyambut dan mengajak bicara Harun.


Menelusuri pandang ke segala sudut. Suasananya dibuat tidak ramai dengan hanya beberapa pengunjung saja. Kurasa Harun benar, ketenangan ini tidak menakutkan.


Harun mempersiapkan tempat seperti ini agar aku tidak bisa menolak. Terkadang seram juga.


Di zaman Sekar saat SMP atau SMA, tidak ada tuh yang bisa menyewa per-jam tempat seperti ini untuk belajar. Namun anak disampingku sudah mampu meski sekedar untuk bersantai. Kan mahal ya!


Mungkinkah Sekar-nya saja yang terlalu miskin?

__ADS_1


“Ayo Rasyi, kita dapat spot bagus.”


Kami melangkah selagi aku kembali melihat-lihat. Ruangan yang luas penuh dengan pernak-pernik. Berbagai buku, benda-benda hobi, bahkan berbagai benda dapur. Pemandangan yang menarik yang bisa menjadi background foto-foto.


Tanpa sadar aku sudah dituntun ke sebuah balkon yang hanya ada tiga orang menyebar. Udaranya sangat kencang bahkan sejenak aku bisa merasakan kakiku seperti tidak di tanah.


“Wah!” pagar balkon itu menarik perhatianku untuk mendekat.


Pemandangannya cantik sekali~ Memang letak tempat ini lebih ke arah pinggiran persawahan. Namun potensi tersembunyi justru di sana.


“Disini memang cocok buat sengar kepala,” Harun berhenti di sampingku membuatku teringat ternyata tadi aku melepaskan genggaman tangannya, “Rasyi suka?”


Aduh~ Harun ini membuat hati baper saja. Bagaimana caranya aku bisa marah dengannya?! Jantungku tidak sanggup!!


“Iya! Tempatnya bagus~” anginnya membuatku harus menahan rambutku sebelum menutupi wajahku.


Harun, terkejut⏤hmm? Kenapa Harun memalingkan wajahnya begitu?


“Kita mau apa disini?” aku masih sibuk dengan rambutku.


Dia tampak berpikir, “Kan aku bawa laptop, aku pikirnya kita nonton saja sambil cemilan. Ada free wifi disini jadi enak.”


Berpikir aku sejenak, “Drakor?”


Harun tertawa manis, “Kalau maunya Rasyi begitu, boleh,” tas ransel biru kembali ia tenteng, “Yuk duduk.”


Dia mengambil salah satu kursi yang aku yakini kursi yang Harun pesan. Komputer jinjing kepercayaannya dikeluarkannya. Layarnya menyala dan jemarinya cekatan menarik kursor itu ke ujung sampai ujung lain layarnya.


Aku mengambil kursi di kirinya.


“Oh iya. Biar tidak ganggu yang lain, matikan HP dulu,” Harun mengeluarkan ponselnya, “Kita juga pakai headset. Tidak papa kan?”


Hmm, betul juga, tapi…, “Suara HP-nya dimatikan saja kan bisa.”


Wajah Harun seakan berpikir sejenak. Pada akhirnya dia tersenyum, “Benar juga ya.”


Kuletakkan ponsel yang sudah aku silent di sisi kiriku berdampingan dengan tasku.


Apa itu tadi? Harun jadi aneh seharian ini. Jangan bilang ceritaku membuatnya terkejut sampai seperti itu.


“Nih. Rasyi, pilih-pilih saja dulu,” tampak cerah wajahnya menunjukkan tampilan aplikasi menonton yang ia miliki, “Aku mau pesan cemilan. Mau titip?”


Ya sudahlah! Kurasa tidak ada masalah sebesar itu sampai aku harus menyesal.


Langsung aku mengubah posisi duduk ke sisi meja yang lebih ke kanan, “Jus!”


“Oke~” dia berjalan memutari meja ke arah pintu yang jauh di kiriku. Pergi ia keluar kawasan pandangku yang fokus ke layar laptop.


Tawaku benar menggambarkan aku sedang dipuaskan situasi. Setidaknya hal kecil ini akan menyenangkan. Berdua dengan Harun…⏤berdua?!


Ja⏤ja⏤ja⏤jangan bilang ini kencan!


*Coworking Space adalah tempat yang disewakan untuk pekerja secara individual maupun kelompok dengan berbagai fasilitasnya, terutama meja-kursi. Tidak jarang siswa dan mahasiswa ikut menggunakannya untuk belajar atau sekedar berkumpul.

__ADS_1


__ADS_2