Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#73 Siasat Dilawan Siasat


__ADS_3

Sela-sela otakku menunjukkan progres berpikirnya, selagi langkahku membawa tubuhku bergerak. Tangan yang masih merangkulku tentu membuatku kedinginan sampai ke tulang. Dayaku melemah sampai batas kesanggupanku untuk bicara hilang.


Keadaan rumah yang semakin tidak mengenakkan ditambah dengan gemaan langkah kaki orang banyak. Orang ini sungguh selalu membawa pasukannya walau aku selalu melihat orang di setiap sisi rumah.


“Rasyiqa pasti suka taman di sini,” si kakek itu tetap menahan pinggulku dari belakang sambil terus mendorongku mengikutinya.


Terima kasih, kurasa.


Namun jadwalku sudah penuh dengan berbagai macam siasat mentah untuk terhindar dari situasi terburuk sekalipun.


“Kita sampai~” para pengawalnya meraih gagang pintu sesaat kami berhenti berjalan.


Wah, kami di luar.


Silir semilir angin yang meredakan jenuh sungguh terasa saat pintu kaca dengan rangka kayu itu terbuka.


Ternyata aku masih bisa menakjubkan diriku di tempat yang mengerikan ini. Yah, aku rasa taman pun bisa menenangkan di saat seperti ini.


Pertanyaannya, apa yang dia mau lakukan bersamaku disini?


Yang pasti dia sudah berhasil membawaku tanpa siapapun di sampingku. Buruknya, aku bisa kehilangan kehidupanku untuk kedua kalinya oleh pelaku yang sama.


Meski masih disebut di tengah pemukiman. Luasnya lahan penuh pepohonan dari tempat ini bisa membuatku tersesat meski aku berhasil lepas dari pengawasan mereka. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain membela diri sendiri.


Si kakek itu duduk di kursi panjang taman yang tampaknya tua meski kokoh, “Rasyiqa ikut duduk sini.”


Tak ada pilihan bagiku selain mengikuti apa yang disuruh. Coklatnya warna kayu kursi itu kulampiaskan beban tubuh. Ornamen kecil yang indah dan tak mengganggu kenyamanan. Memang cocok untuk ditemani macam-macam dedaunan.


“Kita bagi cerita ya?” pria itu duduk lebih dekat di samping kananku, “Cucunya kakek sudah lakukan apa saja?”


Yang benar saja. Bukannya dia selalu mengawasi kami? “Aku… cuma itu… di rumah... sama papa.”


“Oh iya ya. Rasyiqa kan private school. Rasyiqa pasti sumpek di dalam rumah terus. Nanti kakek sering-sering ajak jalan deh.”


Aku tidak bisa menempatkan diriku ke jalan pikirannya. Sungguh tidak bisa ditebak.


“Tapi kenapa Rasyiqa keluar bareng Faresta? Bukannya bareng Harun tadi?”


Rambatan getar yang konstan melaju dari ujung jari kakiku menuju ke ubun-ubun. Satu nama membuatnya seakan menjadi kalimat seram yang mengancam.


Dia tahu Harun.


Masalahnya lagi, dia tahu aku pergi dengan Harun sebelum Fares datang.


“Sayang ya… padahal kakek lebih tertarik sama dia.”


Aku bisa bernafas lega setidaknya untuk hal itu. Bersyukur sangat dalam untuk hasil dari perjuanganku mengusirnya jauh dari masalah ini. Namun apa yang membuatnya tertarik?


“Apa kita kunjungi rumahnya kapan-kapan?”


… apa?


“Rasyiqa juga pasti kangen kan dengan Harun? Kita bisa ajak dia jalan bareng.”


Jangan.

__ADS_1


“Siapa tahu, mungkin kakek sama dia bisa saling kenal lebih baik⏤”


“Jangan!”


Hah?


Apa aku berteriak ke arahnya?


Gawat. Dia tidak marah karena ini kan?


Kedap tanpa suara kecuali hembusan angin, bukan tanda yang bagus bila membicarakan tentang reaksinya.


“Rasyiqa sepertinya kurang belajar. Kakek wajarkan karena papamu sudah mengabaikan ajaran kakek. Tapi kakek akan ajarkan satu hal yang penting,” kepalanya condong lebih dekat padaku.


“Aauw!” satu tangannya menahan rahang bawah. Ditekannya lebih keras sampai aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.


Rencana licik apa lagi yang dia mau lemparkan padaku?


“Cucuku sayang, memang baik hati. Kamu selalu mau membantu orang mau bagaimana caranya,” tangannya melemah dan akhirnya bergerak ke satu pipiku sambil mengelus, “Tapi yakin Rasyiqa melakukan itu karena mau?”


Maksudnya?


“Semua manusia tidak sempurna. Manusia tidak mungkin bisa jadi sempurna. Rasyiqa juga. Sebaik-baiknya hati Rasyiqa, tidak mungkin sepenuhnya untuk orang lain.”


Dia ingin melakukan apa dengan kata-kata penuh arti itu?


Memang sih, semua itu tidak salah. Itu semua benar adanya.


Tidak ada pikiran melakukan semua untuk papa atau orang di sekitarku. Usahaku memang untuk hidupku yang tanpa drama. Hidup enak sebagai putri semata wayang dari dokter kaya. Untuk hidup lebih baik dan nyaman tanpa konflik yang menghilangkan akal sehat seperti ini.


Aku?


“Kematian mereka semua, terjadi karena Rasyiqa berusaha untuk jadi orang yang sempurna.”


Mereka mati karena kelakuanku….


“Kasihannya, Rasyiqa,” wajahnya tampak sedih, “Cucuku dipaksa untuk menjadi manusia sempurna yang membantu banyak orang.”


Aku… dipaksa.


“Rasyiqa,” dia mengelus pipiku lebih lembut sembari suaranya yang dipelankan, “Kamu sudah berusaha keras. Derita yang Rasyiqa pikul selama ini tidak pantas kamu dapatkan.”


Itu benar. Sejak dulu semua itu benar.


Aku sebagai Sekar tidak punya hubungan apapun dengan orang-orang ini. Namun aku mati karena mereka. Dan hidup lagi sebagai bagian dari kekacauan yang mereka buat sendiri. Layaknya aku dihidupkan kembali hanya untuk membantu menyelesaikan masalah orang lain.


Padahal semua ini bukan urusanku sama sekali.


“Jangan salahkan dirimu. Tidak salah kok kita melakukan sesuatu untuk diri sendiri,” satu tangannya ikut menyambut pipiku yang satunya sampai akhirnya kedua tangan itu menjepit wajahku dengan lembut, “Kita berhak melakukannya. Mereka saja melakukan itu pada Rasyiqa.”


Tentu saja aku berhak melakukannya.


“Begitulah hidup. Kita harus bertahan hidup bagaimanapun caranya. Kakek tidak akan marah, Rasyiqa mau seperti apa nantinya. Yang penting Rasyiqa senang.”


Terpenting, aku senang….

__ADS_1


(“Papa tidak akan khawatir kalau Rasyi senang.”)


Suara… Sari.


Rizki khawatir?


Rizki ya?


Yah, dia memang seperti itu.


Waktu aku mendatanginya saat aku bayi, dia menerimanya. Bahkan dia mau mengadakan ulang tahunku walaupun dia tidak mau. Dia membelikan apapun yang aku butuh maupun mau. Sesibuk apapun, dia masih bisa bersikap lembut layaknya sosok ayah sewajarnya.


Bahkan dia mengorbankan waktu dan usahanya, semuanya untuk menjamin keamanan dan kebahagiaanku.


Walaupun aku dihidupkan kembali untuk mengurusi masalah Rizki. Itu untuk membebaskan pria itu. Untuk membantunya yang sudah menderita jauh lebih banyak.


“Terima kasih, aku sudah sadar,” kutepis kedua tangan besarnya, “Seharusnya semua yang aku lakukan disesuaikan dengan kemauanku saja.”


Menatapku, ia memberikan tatapan serius tembus ke dalam diriku.


Kutarik nafas perlahan, “Yang akan aku lakukan adalah membersihkan kamu, dan bersantai dengan papa.”


Dia tampak tidak senang. Sepertinya yang aku katakan sungguh bertentangan dengan siasatnya. Tidak pernah… wajahnya tidak pernah segelap ini sejauh aku pernah melihatnya.


“Tidak ada cara selain itu ya? Sayang sekali.”


Dia menggumamkan apa itu? Apa lagi rencananya sekarang?


Pria ini berdiri. Menyatukan kedua tangannya di belakang punggungnya. Kakinya mengambil langkah perlahan. Bolak-balik layaknya orang bingung yang santai di depan tempatku duduk.


“Aku Hariyanto. Orang-orang mengenalku sebagai Hari. Dibesarkan dengan satu kalimat, hidupmu hanya untukmu. Mewarisi organisasi yang sudah ada sejak, tidak tahu, tiga generasi lalu?”


Dia… kenapa?


“Punya tiga anak dengan wanita yang namanya Suci, hanya untuk mengambil warisan dari ayahnya. Aku meniadakan kedua anak tertuaku. Membiarkan anak ketigaku hidup karena dia yang diberikan hak akan warisannya.”


Kenapa dia membahas semua ini tiba-tiba?


“Kejahatan yang kulakukan? Banyak. Aku pernah kerja sama dengan ******* WW. Mengincar pemerintahan, tapi yah, itu tidak sepadan. Oh iya, si GK, dia pernah meminta kami untuk memanipulasi voting. Insiden kota L juga karena permintaan klien. Itu pekerjaan yang paling kusuka.”


A, apa maksud dari pengakuannya ini?


“Cukup?” mendekat dia ke arahku.


Hah?


“Aauw!” dia meraih anting kiriku! “Sakit!” tangannya sungguh melepaskan anting milikku dengan kasar. Konyolnya aku bersyukur dia tidak merobek daun telingaku.


Hari tersenyum tidak jelas sambil mengangkat anting yang sudah ia lepas, “Waktu main-main selesai~”


Wajahnya langsung tidak senang selagi dia melepas anting itu sampai tergeletak di atas tanah taman.


Tidak! Dia menginjaknya sampai aku yakin barang itu hancur.


Gawat….

__ADS_1


__ADS_2