Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#71 Waktu Menghadapi


__ADS_3

“Huu…,” papa… tertidur. Tarikan nafasnya sungguh lembut.


Jangan-jangan saat aku tidur tadi malam, dia tidak sempat menutup matanya. Ya, itu terlihat jelas di bawah matanya yang menghitam.


Kalau dilihat dari arah sana, waktu yang terbilang masih tenang ini memang harus kami manfaatkan untuk beristirahat. Tidak tahu akan separah apa situasi ke depannya. Papa dan aku membutuhkan banyak tenaga untuk memutar otak.


Hmm? Suara ini, suara kunci pintu dibuka.


BRAK!!


Siapa?!


“Emm?” papa tampaknya langsung terbangun.


Tentu saja bisa terbangun. Orang di balik pintu itu sungguh membuka daun pintunya sangat kencang.


“Sudah bangun?! Baguslah,” seorang pria dengan wajah tak senang itu masuk membawa nampan bersama kotakan dan gelas penuh air untuk dua orang.


Langsung aku tutup mulutku menahan apapun yang berusaha keluar. Ini mengingatkanku dengan keseharian di minggu tragedi yang mencekam itu.


Aku harus tetap tenang. Berharap bisa lebih melancarkan nafas dengan menggenggam baju Rizki.


“Rasyi?” papa tampak khawatir menepuk kepalaku.


“Nih!” dia meletakkan nampan itu dengan baik meski masih dengan hentakan kesal.


Syukurlah setidaknya dia lebih sopan dan manusiawi daripada yang melayaniku dulu.


“Cepat makan!”


“Duh~ Kasar sekali deh,” ada orang lain di belakangnya? “Nanti cepat tua loh~” wanita berpakaian…, cantik.


“Bukan urusanmu!” pria ini masih merengut.


Wanita ini menarik pundak sang pria dengan akrab, “Gimana kalau aku saja yang tungguin?”


“Kamu masih mau mengincar Gading?” pria ini menatap papa tajam, “Dia sudah punya anak!”


Cantiknya wanita itu masih menempel di wajah kesalnya, “Kamu mau dibantu atau tidak~?”


Pria itu tersenyum, “Oke deh, makasih,” dia melangkah pergi.


Gerombolan orang ini masih saja suka berdebat antar teman ya? Itu masih saja membuatku tidak bisa berbicara apapun.


Duh! Aku bertatapan langsung dengan wanita itu!


Mendekat ia ke meja dengan sofa panjang. Ia membawa satu kotak makanan itu dan membawanya kemari.


Eh?! Kenapa dia malah memberikannya padaku?!


“Gadis kecil harus makan yang banyak~” dia tersenyum lebar, “Biar ini,” dia menunjuk ke arahku, “Tambah besar~”


Eh?


Tunggu, apa?!

__ADS_1


“Hentikan itu,” suara papa terdengar marah.


Wanita itu memanyunkan bibirnya lagi, “Gading mah, kasar!”


Lagi-lagi suasana panas apa ini? Papa mengenal wanita manis ini, ya?


“Iya deh, kakak minta maaf~” wanita itu duduk di samping papa, “Kalian makan sana, kakak tungguin~”


Papa menghela nafasnya, “Ya sudah,” papa berdiri membawa senyumnya. Ia berdiri di depanku dan menepuk kepalaku lagi, “Kita makan bareng.”


Makan ya? Yakin sekali makanan ini tidak akan meluncur lancar ke tenggorokanku. Bisa saja dia akan kembali ke mulutku dan keluar dalam bentuk yang tidak nyaman dipandang.


Namun, aku tahu aku akan baik-baik saja kalau bersama papa. Iya. Semuanya akan baik-baik saja.


Permasalahannya….


Dua mataku menangkap mata wanita yang memandang ke arahku, lagi.


“Biarkan saja. Dia bisa pergi habis kita makan.”


Entah kenapa, suasana papa dengan wanita ini sangat berbeda dengan saat-saat ia bersama Hari. Penampilan wanita manis yang nakal rasanya bukan keseluruhan dari wanita ini. Lubuk hatiku seakan mengatakan kalau ia tidak jahat.


Mulutku seakan ingin mempercayainya, “Maaf, tapi, apa kamu tahu keadaan kak Fares sekarang?”


Ia tampak sedikit terkejut dan kebingungan. Aku sudah bisa bersyukur dengan dia yang tidak menunjukkan tanda akan marah.


Wanita ini menutupi kedua pipinya, “Uuu~ Kamu khawatir sama pacarmu~?”


Heh?! Apa maksudnya?! Sungguh, aku tidak mengerti jalan pikiran wanita ini!


“Kalau tidak mau menjawab, diam saja,” Rizki, dia benar sedang kesal.


Luka?!


Tangan papa menggandeng tanganku, “Rasyi⏤”


“Rasyi tahu,” kita tidak bisa melakukan apapun saat ini. Mendengar dia masih bisa bertahan, setidaknya bisa menjawab sedikit pertanyaanku, “Ayo kita makan,” meski aku berusaha tersenyum, aku yakin simpulan itu tidak berhasil.


Papa tetap saja menjawab. Tetap dia mengeluarkannya dengan pilunya, “Iya.”


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Bos datang sebentar lagi. Santai dulu ya? Bye~” wanita itu membawa nampan dan pergi sambil menutup pintu.


Ruangan ini jadi sangat tenang setelah wanita periang, yang juga barbar itu, akhirnya pergi.


Aduh, penyakit kepo-ku, “Dia itu….”


“Dia tante-tante yang suka godain papa dari kecil.”


Hmm? “HEEEH?!” dia si nenek centil yang papa ceritakan saat dia masih di bawah umur itu?!


Sungguh, sekarang umur beliau berapa⏤tidak. Jangan pernah memikirkan itu pada seorang wanita.


“Pfht,” papa? “Hahaha,” kenapa lagi nih papa? Stres?

__ADS_1


Tolong nih! Jangan bercanda di saat keadaan bahaya!


“Untunglah Rasyi masih bisa seperti ini,” Rizki tersenyum…, lega?


Benar juga ya.


Sejauh yang aku ingat, saat aku ada di situasi ini, aku selalu tidak bisa tenang. Justru nafasku tidak bisa mengalir dengan baik. Di titik sekarang, aku jauh lebih bisa untuk tenang.


Ya, ini yang seharusnya. Tenang dan berpikir jernih. Masalah ini mustahil untuk diselesaikan dengan keadaan diri yang panik. Aku mengerti kenapa papa mengutamakan ketenanganku, tidur dan makanku. Itu memang masuk akal.


“Pa,” aku memperbaiki dudukku memiring ke arahnya, “Bagaimana bisa papa cari celah untuk cari kelemahan kakek?”


Membelok matanya menjauh dari wajahku, “Penjagaannya lebih ketat dari yang papa kira. Papa sendiri tidak pernah dikurung 24/7 seperti ini. Sulit bergerak.”


“Lalu warisannya? Kakek mengincar itu kan?”


“Papa sudah setuju tanda tangan untuk pindah pihak pemiliknya, tapi dia sendiri yang buat kayak papa yang tidak mau. Dia mau bikin Rasyi seperti alasan buat papa mau tanda tangan.”


“Jadi mau iya atau tidak, kakek tetap akan bawa Rasyi?”


“Memang begitulah dia, suka main-main,” papa memainkan rambut hitamnya, “Padahal saat ketemu papa lagi, dia datang pakai marah-marah. Entah dia ketemu apa sampai semangat lagi begitu.”


Kalau begitu, kami masih bisa mencari celah di saat seperti ini. Kalau bukan papa, aku seharusnya bisa. Iya kan? Ya, aku tidak akan tahu kalau tidak dicoba.


Aku kan punya itu. Walaupun aku tidak tahu bentuk dan lokasi bukti yang papa maksud, aku bisa cari bukti dalam bentuk lain.


“Papa, Rasyi punya cara,” aku mengatakannya.


Ini memang cara sederhana, berbahaya dan tidak bisa diperhitungkan persentase keberhasilannya. Namun kalau ini berhasil, tentu ini akan bisa sangat memudahkan kami untuk menyelesaikan konflik tak berguna ini.


Aku hanya berharap Rizki tidak menghalangi aku kali ini, “Papa percaya denganku kan?”


“Cara? Rasyi buat rencana?”


“Iya, jadi⏤”


“Papa percaya.”


Meneguk dua kata yang keluar dari mulutnya itu perlahan-lahan… apa?


“Lakukan saja. Tapi janji dengan papa, hati-hati. Jangan paksakan diri Rasyi. Paham, hmm?” Papa sungguh menerimanya?


Entah bagaimana aku bisa tersenyum dengan reaksinya, “Iya,” tidak akan aku sia-siakan kepercayaannya.


Rizki menarik wajahku dan tanpa bosan mengetukkan kedua kening kami berdua, “Maaf ya, Rasyi jadi seperti ini karena papa.”


Kupeluk tangannya itu. Setidaknya di lubuk hatiku, aku sungguh ingin tersenyum, “Kita akan selesaikan ini kan?”


Dia ikut tersenyum. Matanya seakan mencerah dan warna coklatnya semakin memantul di jangkauan pandangku, “Iya, benar,” Rizki menjauh, “Apa semuanya sudah Rasyi siapkan⏤”


“Tok! Tok! Tok~! Kakek masuk~”


Pria itu sudah disini!


Jemari mengait di tangan papa. Menguatkan diri lebih dan lebih lagi.

__ADS_1


Kusentuh dengan cepat anting model drop earring kecil yang manis, dengan bunga putih enam kelopak menggantung pendek. Menekan lama mutiara kecil yang menutupi lubang di daun telinga kiriku.


Aku siap.


__ADS_2