
Halo semua pembaca tercinta, Author disini!
[♪♫ Author menangis~~ (ಥ﹏ಥ) ]
Senang sekali aku melihat semangat kalian menunggu up setiap chapter PSD sampai sejauh ini~ Kyaaa!
Aku sudah melihat banyak sekali respons kalian tentang Rasyi dkk. Kebahagiaanku bertambah setiap kali ada titik merah di surat di sisi atas app, hihihi. Senangnya sampai tidak tahu bagaimana aku menjawabnya.
Jadi, aku menyiapkan hadiah untuk kalian semua~ Hari ini aku akan beri :
HADIAH PERTAMA!
Dua scene yang sayang untuk dibuang~! (◉ω◉)
Scene ini aku tulis di bawah pengumuman ini. [Sekalian memperbanyak kata, hihihi]
HADIAH KEDUA!
Dua chapter sekaligus untuk hari ini~! (/◕ヮ◕)/ ye!
Aku sangat semangat sampai-sampai pusing untuk surat cinta kali ini. Bagaimana dengan kalian?
Oh iya!
Teruntuk para pembaca yang tidak sabar untuk chapter lanjutan PSD. Mohon pengertiannya ya…, saya juga manusia biasa.
Aku mau menyiapkan chapter dengan tanpa plot hole dan smooth seperti mentega [Ea~ (✿◠‿◠)]. Hasilnya aku perlu membaca ulang terus menerus. Itu perlu waktu dan tenaga.
__ADS_1
Diri ini tidak mungkin kok bermalas-malasan dan membiarkan papa Rizki hilang terus menerus. Aku juga sudah rindu dengan papa Rizki.
[Papa Rizki~ Bersabarlah disana~ ( o T ^ T) o hiks]
BTW, aku ketular keponya Rasyi nih! Sharing dong…, karakter siapa yang kalian suka? Rasyi? Papa Rizki? Harun? Hendra? Atau bahkan putih si kelinci? Hihihi…
Akan aku usahakan untuk menjawab komentar kalian semua~
Sekarang, mari kita pergi ke hadiah pertama! GO!
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
..._01_...
...Papa Bukan Papa Bucin...
“Rasyi.” panggil seorang duda muda yang sangat terbiasa di telingaku.
Papa berdiri di garis antara jalanan pedestrian dengan pulau kecil penuh rerumputan. Ia terdiam menatap aku berdiri rapat dengan Harun yang manis ini.
Apa papa mungkin bisa marah karena aku dekat dengan anak laki-laki? Dari berbagai pengalaman sekitar dan cerita fiksi yang aku dengar, kebanyakan seorang ayah itu overprotective dengan putrinya. Apa papa seperti itu juga?
Sesaat papa langsung mengalihkan wajahnya ke arah tante perawat tadi. Ah… Argh! Kurang ajar! Sebesar itukah rasa tidak pedulimu pada putrimu yang cantik jelita ini?!
__
..._02_...
__ADS_1
...Kakakku Senior Bela Diri...
Lapangan luas itu kembali menjadi fokus pandanganku. Banyak anak-anak berkumpul dengan baju hitam dengan sabut bermacam-macam warna. Gerakan sinkron yang mereka lakukan itu asyik dilihat.
Oh, itu Fares. Kukira dia peserta yang ikut berlatih. Ternyata dia sudah jadi kakak yang membantu pembimbing. Hebat juga tuh anak.
Apa sudah selesai? Semua junior tampak membubarkan diri mereka sendiri. Ke sana ah~
Langsung kulangkahkan kakiku cepat. Memisahkan diri dari para orang dewasa itu. Dengan cerdiknya aku melewati kerumunan yang mulai menyebar itu. Sampai akhirnya aku menemukan Fares bicara dengan teman-teman dan pelatihnya.
“Kak Fares!” Aku kuberi kau pelukan hangat ala Rasyi!
Bisa terlihat senyum tipisnya yang tampak semakin tinggi. Tangannya mengelus lembut kepalaku, “Jangan lari-lari. Nanti jatuh….”
Lihatlah ini, anak ribut yang aku kenal sejak lahir sudah hilang! Dibuat senangnya diriku melihat dia tumbuh dewasa seperti ini. Kalau begini kan aku jadi nyaman bermain denganmu.
Segala percakapan tentang persiapan latihan minggu depan menyibukkan mereka. Fares berbicara serius selagi
Semua temannya berpamit ramah dengan Fares. Wajahnya itu semakin lebih mirip dengan Hendra, jarang senyum. Ya, setidaknya dari tutur kata dan tingkah lakunya dia sangat memenuhi orang yang sopan dan ramah.
“Kakak ganti baju dulu ya,” kakak kelas 5 SD itu langsung menggendongku ke arah para orang dewasa berkumpul. “Rasyi bisa tunggu sebentar lagi kan?”
“Bisa dong~” senyumku saling membalas dengan senyum kalemnya.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Ya! Sekian untuk hadiah pertama. Untuk hadiah kedua, silahkan cek dua chapter terbaru yaitu “#66 Tiket Masuk” dan “#67 Harus Aku Manfaatkan, kah?”.
__ADS_1
Terima kasih untuk dukungan dan kesabarannya. Selamat menikmati chapter terbarunya~
Love you dari Author! <3