
“Paman bercanda kan?” kucondongkan tubuhku yang setengahnya masih terduduk, “Papa itu memang tidak suka ada yang ikut campur. Cuma tidak mau kabar-kabar saja.”
“Rasyi, paman sudah coba telepon berkali-kali. Paman coba telepon temannya, orang-orang yang kerja di rumahmu. Informasi terakhir cuma kemarin sore,” Hendra masih menahan posisi jongkoknya.
Kemarin sore? Lalu baju yang aku kenakan sekarang apa dong? “Tadi pagi bukannya papa yang antar bajunya Rasyi?”
Hendra mengangkat kedua alisnya sedih, “Yang antar supirmu. Kemarin sore mereka cuma disuruh antarkan bajunya ke rumah paman. Katanya malam tadi saja Rizki tidak pulang.”
Apa maksudnya?! Ini semua tidak masuk akal!!
Nafasku…. Sudah cukup lama sejak aku tidak merasakan sesak di dadaku seperti ini. Tanganku terasa mati rasa sampai aku melupakan apa yang aku bawa.
Rasyi, bernafas…, ah hah… tarik nafas.
Jangan! Jangan dengarkan mereka! Jangan dengarkan suara-suara itu! Bernafas! Berpikir! Jangan terpengaruh!!
Guncangan mengejutkan terasa, “Rasyi, tenang!”
“Pa… paman…,” airmataku tidak bisa tenang di depan Hendra.
Mustahil. Ketenangan di situasi seperti ini tidak mungkin bisa aku rasakan.
Rizki hilang.
Tidak….
Apa yang kamu takuti, Rasyi?! Rizki bukan orang yang lemah!
Dia melawan segala hal sejak ia lahir sampai sekarang dengan kekuatannya sendiri! Meskipun benar hilang, dia akan kembali.
Orang tua itu sudah janji tidak akan membuangku!
Hanya perlu bertahan kan? Semuanya akan membaik kalau aku bertahan kan?
“Rasyi?”
Tidak!
Yang harus aku lakukan seharusnya adalah mencari jalan keluar.
Kemungkinan terburuk adalah Rizki ditangkap dan dia tidak punya cara lain selain menunggu pertolongan.
Cepat, aku harus membantunya!
Pikirkan sesuatu!
Pikir!!
“Rasyi!!”
“Aku tahu!!” teriak aku kendati masih berlinang di mata. Gemetar sampai ke tenggorokanku, “Aku harus tenang! Papa pasti baik-baik saja! Paman akan mengurus semua ini! Tidak ada butuhnya aku ikut-ikutan! Aku tahu!!”
Berteriak sekaligus mengejek seperti ini, tidak pernah aku sampai semarah ini.
__ADS_1
Genggaman tangan hangat menerpa tangan kiriku. Untuk individu yang bertemperamen tinggi, canggung melihatnya lembut seperti ini. Jujur, membuatku lebih tenang.
“Rasyi, paman tidak masalah kalau kamu mau bantu. Paman juga paham, Rasyi tidak mungkin diam saja,” Hendra masih memegangi tanganku, “Tapi ada yang tidak boleh kelewatan.”
“Memang apa yang kelewatan dari mencari papa sendiri?” kutarik tangan dan kusatukan kedua tangan di depannya, “Kumohon….”
“Tolong mengerti, Rasyi,” dia menarik nafasnya, “Rizki…, dia kadang-kadang bodoh. Itu juga yang selamatkan dia. Tapi Rasyi, apa kamu pernah pikir apa yang terjadi kalau Rizki hilang kendali?”
Itu pernah terjadi kok. Seperti saat dia bicara dengan foto mama atau saat dia berkelahi dengan Hendra.
“Rasyi satu-satunya alasan buat dia. Apa yang terjadi setelah Rasyi… tidak ada?” Hendra membuatku berpikir sejenak, “Apa Rizki masih bisa waras?”
Aku… tidak bisa membantah itu.
Lebarnya tangan Hendra menepuk lenganku, “Rasyi⏤”
“Rasyi…,” aku menaikkan kedua pundakku, “Rasyi mau sendirian dulu.”
Hening sesaat, dipotongnya, “O.K,” dia menepuk lagi kepalaku, “Paman sama yang lain tunggu di bawah.”
Beliau berjalan pergi melewati bingkai pintu yang sudah rusak. Suasana sepi dengan debu-debu abu yang bertiup tipis karena atap yang separuh roboh.
Kakiku menekuk dan kupeluk sambil menyembunyikan wajahku. Sekuat tenaga untuk tidak menangis, walau lengkara.
Hidup seperti ini, haruskah? Sudah sangat sulit menghadapi hari-hari dari kehidupan baru yang tidak pernah diharapkan. Lalu sekarang kekuatan yang hanya satu, Rizki, malah menghilang. Tidak mungkin kan aku diam saja. Meskipun aku mau diam, aku belum tentu bisa bertahan.
Aku harus bagaimana? Cara apa yang perlu aku lakukan untuk melawan diriku yang tidak berguna ini?
Mengangkat kepalaku ke atas. Jantung yang berusaha kutenangkan dengan meneliti kamarku yang sudah tidak berbentuk….
Lemari itu sudah hampir hancur keseluruhan tapi buku di atasnya masih baik-baik saja. Ditambah lagi, aku tidak pernah ingat meninggalkan buku di sana. Karena memang aku tidak pernah membaca buku di ranjang.
Menyeka kembali kedua mataku. Entah bagaimana keingintahuanku kembali menenangkanku.
Berdiri aku dan melangkahkan kaki ke seberang kamar itu. Album foto? Tidak pernah ada album foto seperti ini di dalam rumah. Papa juga tidak begitu banyak punya album foto.
Sadar akan sesuatu lain, “Kalung?”
Kesan kalung liontin besar yang vintage sekali. Milik siapa ini? Milik papa kah?
Entah bagaimana aku bisa yakin kalau ini adalah benda yang ditinggalkan oleh mama. Benda ini mengingatkanku dengan ruang menuju ruang kerja papa yang terdapat taman kaca dalam rumah. Tidak salah bila ruangan itu aku sebut tempat koleksi benda-benda acak, dan barang vintage seperti ini tidak sedikit.
Hal yang jadi masalah besar, kedua barang ini tidak pernah aku lihat sebelumnya dan keduanya ada di kamarku sekarang.
“Cek saja mungkin?” buku dan kalung itu kubawa. Menyeretnya ikut duduk bersandar di lemari.
Dugaan tiba-tiba muncul, tidak tahu kenapa terasa sangat kuat. Buku album ini pernah aku lihat sebelumnya.
Cover tebal itu aku buka. Hmm? Kosong? Tampaknya bekas dipakai, tapi tidak ada yang tersisa.
Lembar selanjutnya…, kosong.
Setelahnya kosong.
__ADS_1
Kosong. Kosong! Kosong!!
Jikalau benar ayahanda yang memiliki dan sengaja meletakkannya ini di kamarku, aku akan berjanji akan memaksanya untuk menyeberangi samudra hanya dengan berenang dan memastikan dia berkunjung ke segitiga bermuda!
Sungguh! Apa kamu tahu, aku sedang tidak ingin dikasih gurauan seperti ini?!!
Terakhir kali lembar tebal buku album tak menyenangkan itu aku buka. Berharap ada sesuatu sebelum aku membuangnya⏤
“Haa heh!” langsung keras aku menutup kembali album itu, “Huk uhuk uhuk!!” rasa tersedak kaget sesaat aku menyadari apa yang ada di lembar selanjutnya.
Foto itu. Ingatanku kembali tergali akan latar kejadiannya, memancing gemetar di seluruh tubuhku.
Itu mama. Tidak pernah sekali saja pernah enak dipandang. Aku yakin foto ini diambil di waktu yang sama dengan foto yang pernah aku simpan, sampai akhirnya papa merobeknya.
Kekerasan yang kelewatan di atas tubuh mama yang lemah.
Bagaimana bisa foto itu ada disini? Album foto siapa yang menyimpan dan mengabadikan bentuk kekejaman? Ini bukan milik papa. Tidak pernah mungkin menjadi miliknya. Semakin aku menatapi cover album itu, rasanya…, tidak nyaman.
(“Gimana kalau… cerita-cerita biar… tambah lahap makannya?”)
Perasaan takut ini….
(“... kan namanya? Yang aku … tujuh… itu.”)
Jangan. Jangan diingat, Rasyi!
(“Yang ini sih, ….”)
(“Ini sih … karena kalian.”)
(“Sampai dia mohon-mohon minta di… gitu.”)
(“Kalau ini….”)
Tidak! Jangan!!
(“... Bunga... Sekar Melati ya?”)
BRAK!
Jantungku rasanya meledak. Terbawa tanganku melempar buku itu tidak jauh dari aku duduk. Kubekap sendiri mulutku sesaat merasakan mual di jalur menuju lambung.
Buku album itu⏤tidak salah lagi. Sarana koleksi si pria pembawa musibah! Menyebutnya kakek hanya membuat perut semakin berguncang.
Namun, bagaimana bisa benda itu ada disini? Kenapa bisa dia tahu rumah ini? Apa yang dilakukan pria itu di sini? Jangan bilang dia dalang dibalik kebakaran yang terjadi.
Untuk apa?
“Papa?” jangan katakan kalau ini ada hubungan dengan hilangnya papa!
Getar hebat di tangan kudorong untuk mengambil kembali buku album itu.
“Aaah!” terkejut karena terlalu tegang meski hanya melihat lembar kertas yang jatuh dari sela album itu.
__ADS_1
Ada tulisan. Isinya apa?
[Rasyiqa sayang, papa pergi sebentar. Ada urusan penting nih. Rasyiqa boleh ke sini juga. Bawa kalungnya ya, nanti Rasyiqa dijemput. Siap-siap sendirian bisa dong! Sampai jumpa, sayang <3]