
Tak bergerak aku sedikitpun dari kursi kayu yang menghadap kaca yang minimalis. Diam tak bersuara, tak memiliki apapun yang direncanakan.
Ah. Berapa lama aku sudah disini? Seminggu? Yang pasti aku sudah tidak bisa merasakan tubuhku bergetar lagi. Rasa nyaman yang ganjil. Keanehan yang membuat mataku tampak tidak bisa mengenali diriku sendiri di pantulan kaca.
Gentar pada takut, tertekan, rasa bersalah, kebingungan akan fakta-fakta yang membelenggu. Wajahku seakan menunjukkan kalau tidak ada yang tersisa.
“Hehe,” tawaku kecil menyadari sesuatu.
Lucu juga ya? Diri Rasyi selalu menanamkan individu yang semangat. Anehnya sekarang aku terlihat lebih mirip dengan papa dengan wajah tak berekspresinya.
Kembali aku mengamati bayanganku sendiri. Tak berwarna, tak berdaya. Bergerak pun rasanya tak ada gunanya. Di tahap ini, sepertinya aku lebih baik tak melakukan apapun. Mungkinkah ini sistem diriku untuk melindungi kewarasan otakku? Namun, sampai kapan aku akan bertahan seperti ini?
Dimana kamu, papa? Papa akan datang dan membobol gedung ini kan? Ia akan datang sebentar lagi kan? Lebih cepat lagi. Lebih cepat lagi….
BRAK!
Wanita yang sering aku temui itu tampaknya sedang membawa nampan. Dia melepaskannya ke lantai. Aku bisa melihat kotak itu terlontar kecil bersama botol minumnya. Menghamburkan sebagian besarnya.
“Nih! Cepat habisin!” dia berdiri di depan sana sambil memainkan rambutnya.
Aku memandangi makanan yang sudah tercecer itu. Makanan yang tampak rapi saja tetap tidak nyaman dicerna perutku. Kurasa dengan kekacauan sekarang aku akan lebih tidak enak menelannya dan malah langsung memuntahkannya lagi.
“Tungguin apa sih?! Cepat makan! Kalau kamu yang lapar, aku yang bakal kena, tahu?!”
Kutatapi dia beberapa saat. Wajah kesalnya tentu tidak akan berhenti kalau aku tidak melakukan apapun. Menundukkan tubuhku, meraih gelas minum yang untungnya masih tersisa airnya. Dua sampai tiga teguk melewati tenggorokanku. Habis, mengantarkan tanganku untuk meletakkannya kembali.
Ini sudah cukup kan⏤
“Aa!” jeritku merasakan tarikan kuat di rambutku.
“Kamu ejek aku ya?!” kemarahannya lagi-lagi datang, “Gak tahu diri! Kalau bukan karena disuruh bos, aku sudah biarin kamu mati di sini!”
Sakit. Sakit…⏤
Terkejut aku mendapati wanita itu tergeletak jatuh di lantai. Seseorang di depanku menjadikan keingintahuanku menelusuri rupanya. Perasaan sedih kembali menimpaku. Kenapa dia ada disini?
“Rasyi,” Jagad mendekatiku. Perlahan jemarinya merapikan rambutku, “Kamu gak papa kan?”
Dia membungkukkan tubuhnya. Terjongkok selagi wajahnya ditengadahkan. Wajah yang penuh luka itu tampak lebih dekat dan jelas.
Aku mendorong pundaknya pelan, “Seharusnya kamu jangan kesini.”
Lelaki berumur 14 tahun itu menampakkan wajah kebingungannya, “Maksudnya?”
“Jangan membangkang,” tarikan nafasku pelan, “Nanti kamu yang kena imbasnya.”
Lama berada disini membuatku mengerti beberapa hal. Pria itu memang terkadang bersikap manis. Namun, bila ada di situasi yang ia pun tidak ingin menerima candaan, dia bisa saja meletus bagai gunung berapi.
__ADS_1
Hal lain yang aku tangkap, ia lebih banyak menguasai banyak hal. Dan dia tidak akan segan-segan menggunakannya bila ia ingin. Ya, bila ingin. Kami selama ini aman karena pria itu yang sudah meremehkan dan lebih menyukai bersenang-senang.
Apa jadinya kalau dia sudah lelah bersenang-senang?
Kumundurkan tubuhku menjauhinya. Membuang mataku dari pria itu, “Cepat kembalilah ke kamarmu, sebelum ada yang sadar.”
Beberapa saat aku melihat wajahnya yang memilih untuk berdiam. Untunglah dia mendengarkanku dan berdiri. Sekarang aku harus memikirkan tetang wanita pengurusku ini.
“Serius kamu mikir gitu, Rasyi?”
Aku kembali menatapnya, “Tidak ada cara lain. Kembalilah.”
Kenapa tiba-tiba mengeluarkan ekspresi marah?
“Hmm!” terkejut aku saat kedua tangan Jagad membekap kedua pipiku dan menekannya menjadi satu, “kumu keneoppha shuh?!!” kamu kenapa sih?!
“Rasyi jadi gini lagi. Aku gak bakal biarin kamu kayak gini,”
Pasrah aku tak bisa berkutik saat tubuhnya mendekat. Bahkan wajahku semakin diperas dan semakin ditarik.
“Ingat-ingat dong!” ia berteriak di depan wajahku, “Tujuanmu apa?!”
Tujuan?
“Kalau tujuanku itu kabur, terus pacaran sama Rasyiqa Dheanadari Wirandi!”
Eh?!
“Makanya Rasyi jangan menyerah gitu,” suara Jagad yang lembut menyelinap masuk ke telingaku, “Ayo kita kabur, yah?”
Haha…, Jagad selalu jadi Jagad. Individu seperti aku benar-benar membutuhkan kata-kata acaknya. Ya, aku akan mempercayainya seperti biasanya.
Namun, pasti keluar dari sini tidak mudah. Tante Ira juga masih ada disini.
“Tante gimana?”
“Tante yang suruh aku bawa kamu kabur dulu,” apa? “Kita cari bantuan dulu, baru kita balik. Yah?”
Kurasa aku pun tidak bisa pilih-pilih. Aku harus meningkatkan rasa tega untuk saat ini, “Tapi yang cepat.”
Dia tersenyum, “Iya.”
)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(
Ujung dari terowongan ini ternyata berakhir mempertemukan kami dengan kekawanan hijau. Hutan yang tak pernah aku kenal tak menghentikan langkah Jagad yang menarikku untuk mengikutinya.
Ah, ada orang!
__ADS_1
“Sembunyi,” bisik Jagad memberikanku instruksi untuk ikut menyembunyikan diri di antara teman-teman hijau yang lebih pendek.
Menahan nafas selagi membiarkan siapapun itu lewat.
Jagad kembali berbisik menyuruhku untuk kembali melanjutkan perjalanan, “Pelan-pelan.”
Meskipun aku sudah bertekad untuk mempercayai Jagad. Aku pasti tetap ragu untuk kabur dari lokasi penjahat yang banyak itu. Baru orang-orang yang aku lihat sekilas di ruang makan, bagaimana jadinya kalau lebih banyak lagi.
Namun, Jagad seakan kenal dengan wilayah ini. Memang Jagad bilang dia tahu bagaimana keluar dari gedung itu. Tidak pernah aku sangka kami bisa keluar semudah ini.
Jagad menahanku kembali saat menemukan satu orang yang berpatroli. Kalau kami harus ke arah depan sana, berarti penjaga ini cukup menyulitkan jalan kami. Mataku menangkap wajah Jagad yang berpikir.
Lelaki ini melepaskan genggaman tanganku, “Tunggu di sini.”
Dia mau kemana? Tunggu. Apa dia berniat mendekatinya? Manusia satu itu tidak sedang mendekati kegilaan kan?
Terkejut aku tanpa suara. Mungkin aku yang lupa. Jagad memang jago di berbagai bidang olahraga. Hasilnya pria itu berhasil dilumpuhkannya begitu saja.
Bukan seperti kak Fares yang jago bela diri tanpa latar tubuh yang atletik, Jagad punya tubuh yang sangat memungkinkan. Mungkin ini juga yang menciptakan rasa percaya dirinya?
Lelaki bermata hitam ini mendekat dan kembali menangkap tanganku, “Ayo.”
Berlari, sembunyi, pergi, menyelinap. Sampai akhirnya aku pun merasa tidak mungkin orang-orang itu berpatroli sejauh ini.
Kami berhasil keluar?
“Seharusnya sih kita aman sekarang. Tinggal lurus, kalo gak salah ada desa disana.” Jagad menarikku dengan jalan santai.
Aku tak bisa menahan rasa penasaranku, “Gimana kamu tahu?”
“Orang-orang yang ke kamar kami sering cerita-cerita sendiri. Kadang-kadang mereka juga bicarain lokasi patroli gitu. Jadi tahu deh.”
Hah, kurasa selalu saja ada cara kalau kita mau ya? Untunglah ada orang bodoh yang mengatakan hal begitu di depan korban yang pasti mencoba lari.
Aku harap tante tidak apa disana. Aku harap ada keberuntungan lain. Tidak! Jangan bergantung dengan keberuntungan. Kami harus cepat cari bantuan dan membantu Ira.
“Benar kan kataku~ Kita bisa bebas.”
Tersenyum aku menanggapinya, “Iya⏤”
DOOR!
Suara apa itu?
“Aargh!”
Genggamanku pada Jagad terlepas. Tubuh Jagad yang tinggi itu tiba-tiba memendekkan dirinya di samping kiri mataku.
__ADS_1
Kuputar tatapanku menangkap bayangan Jagad. Wajah itu tampak panik dan ketakutan bercampur aduk.
Jagad, kenapa bahumu memerah?