Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#30 Fakta Keji Sekali Lagi


__ADS_3

“Papa, begini betul?” aku mengulur buku latihan yang sudah berisi jalan penyelesaian suatu soal matematika.


Dia membungkukkan tubuhnya dan memperhatikan setiap baris, “Minus-nya ketinggalan.”


Uups. Teledor juga aku. Padahal dari dulu masalah hitung-hitung jadi bidang jagoannya Sekar. Kenapa aku jadi lelet begini?


“Paman,” Fares ikut mendekati Rizki, “Ini pakai rumus debit kan? Tapi cuma diketahui kedalaman, penampang sama waktunya.”


Rizki kembali mengecek buku lain, “Debit kan ada dua rumus. Ditanya volume jadi tidak perlu diikutkan yang debit. Kecepatannya juga diubah jadi akar 2gh.”


Mendengarnya saja sampai pusing. Fisika dengan aku memang tidak pernah ditakdirkan untuk bersama. Pantas saja Fares membutuhkan belajar tambahan dari Rizki. 


Kalau aku? Aku memang tipe siswa yang lebih cepat belajar bersama. Ditambah lagi tinggal hitungan hari saja sudah ujian akhir semester.


Biasa sudah aku mengganggu Fares yang sedang belajar tambahan dengan Rizki seperti ini. Fares yang masih SMP sampai sekarang mempercayai Rizki untuk membantu nilainya. Rizki juga sepertinya tidak keberatan. Papa itu memang selalu lemah menghadapi anak kecil walau mukanya tidak begitu.


“Oke, paham,” Fares tampak membersihkan bawaannya, “Saya sampai sini saja ya, paman. Hari ini ada urusan di sekolah.”


“OSIS?” tanyaku.


“Iya,” dia menatapku seakan mengingat sesuatu, “Jagad belum kesini ya?”


Tumben-tumben cari Jagad, “Katanya sih ada kerja kelompok di rumahnya. Kenapa?”


“Antar ini,” ia menunjukkan buku dengan jilid berlakban hitam, “Laporan sponsor.”


Oh iya. Mereka berdua kan OSIS. Katanya sih antara sekolahku dan sekolah kak Fares punya rasa kerja sama yang tinggi. Sekolahku pun mendapatkan sponsor dari bantuan OSIS itu. Tidak aneh kalau mereka berdua, yang sudah saling kenal sejak kecil, jadi pihak yang menghubungkan.


“Acara apa?” kepo-ku mulai kambuh.


“Lulusannya kakak kelas,” Fares menaikkan ranselnya, “Tapi Rasyi tidak ikut event-nya,” dia tersenyum menahan tawa.


“Iish!” perpisahan kok tidak bawa adik-adiknya.


Kami menanggapi salam pisah dari Fares. Aku pun sudah disibukkan dengan soal matematika lain.


Mataku berakhir di wajah papa yang menunggu selagi membaca bukunya. Hari ini papa tidak punya jadwal standby di rumah sakit. Namun papa selalu tampak sibuk akan sesuatu. Walaupun setiap kali aku lihat, papa lebih banyak membaca buku.


“Kenapa?” sepertinya dia sadar aku memandanginya.


“Tidak~” waktunya istirahat otak sambil menggosip ah~ “Tahu tidak, pa? Rasyi dengar biasanya per kelas mengadakan trip kenaikan kelas. Rencananya kelasku mau kemah loh.”


Kenapa dia terkejut begitu? Wajahnya terlihat sangat ragu. Apa dia tidak berniat mengizinkanku berkemah?


“Rasyi tidak boleh kemah ya?”

__ADS_1


Ah. Ekspresi tidak inginnya terlihat sekali. Senyumku yang mengembang benar-benar menggambarkan senang yang tak terjelaskan. Pada akhirnya papaku yang cueknya minta ampun ini menunjukkan sikap orang tua yang khawatiran.


“Nanti Rasyi minta yang lain buat ganti rencana deh,” kataku masih tersenyum.


Dia ikut tersenyum, “Maaf⏤”


BRAK!


Terlontar jantungku dengan kejutan bantingan pintu ruang kerja papa. Langkah berat mendampinginya yang membuatku semakin kesal. Siapa sih yang main dobrak itu?!


“Rizki!” hah? Hendra?! “Dimana Fares?!”


Kenapa dia marah begitu?


“Dia ada urusan OSIS dengan Jagad,” Rizki dengan tenang menjawab, “Kenapa?”


“Jangan pikir aku bodoh!”


Mata melototnya beberapa detik mengarah padaku. Rasa marahnya seakan tak terhenti pada sosok di sampingku ini. Suasana ini… mereka tidak akan berkelahi lagi kan?


“Rasyi,” suara lembut itu mengelus kepalaku, “Papa mau bicara sebentar sama paman Hendra. Belajarnya nanti lagi ya?”


Perkataan lembut itu menyemburkan tanpa sengaja usiran yang tidak aku suka. Namun aku pun tidak punya pilihan selain menuruti.


“Iya,” aku membenahi semua bawahanku dan melangkah pergi.


“Ini sudah keterlaluan!!” Hendra berteriak lagi dari balik pintu tertutup itu.


Tidak masalah kan kalau aku menguping sebentar?


Hendra masih bersuara, “Polisi sudah berusaha keras mencari buronan itu! Kamu juga bisa aman karena itu! Aku sudah standby disini! Kenapa kamu cari hal bodoh lain?!”


“Tolong jangan lupa siapa yang melepaskan monster-monster itu.” suara Rizki meladeni dengan tenang.


“Tapi menyeret orang lain bukan jalan keluar!”


Menyeret orang lain? Apa Rizki menyeret orang lain dalam menyelesaikan masalah keluarga kami?


Hah. Kesal juga rasanya. Orang lain bisa bantu tapi anaknya sendiri tidak tahu apapun. Tidak. Aku harus tahan. Rizki selalu menepati janjinya. Dia pasti akan memberitahukan aku setelah kenaikan.


“Lalu apa? Tahu saja kan dengan kamu yang sekarang, tidak banyak yang bisa kamu lakukan.” Rizki terdengar masih tenang.


“Coba saja katakan kamu butuh apa. Aku pasti bisa melakukannya.”


“Yang aku butuhkan?” aku mendengar sedikit suara barang di tengah keheningan, “Aku butuh Hendra yang melepas gelarnya.”

__ADS_1


“Kenapa aku harus melepas gelar polisiku? Aku yang sekarang bisa membantumu banyak.”


“Dengan cara polisi yang biasa itu hanya bisa bertahan saja. Untuk membersihkan masalah seperti ini, harus dengan cara yang tidak wajar kan?”


Cara tidak wajar? Apa maksudnya?


“Rizki,” Hendra terdengar ragu, “Kamu sudah melakukan apa?”


Terdengar suara Rizki yang tertawa tipis, “Tenang, aku tidak melakukan hal yang merugikan banyak orang. Aku juga tidak mau dipenjarakan semudah itu.”


Bisu aku dibuatnya. Kemana lagi tujuan pembicaraan ini? Pembicaraan mereka memberitahu seakan Rizki sudah menggunakan segala cara bahkan hal yang melanggar hukum.


Getaran tangan yang sudah biasa aku rasakan terasa asing saat merasakannya di dalam rumah. Seharusnya aku tahu kalau begitulah jalan pikir Rizki. Dia akan menyerahkan segalanya sampai ke dalam-dalam dirinya. Namun perasaan khawatir ini selalu saja jadi salah satu alasanku untuk tidak bisa diam.


“Sejak kapan kamu selalai itu? Ini bukan Rizki yang aku kenal,” Hendra lagi-lagi terdengar marah.


Rizki tertawa kecil, “Apanya? Kamu kan tahu aku sudah sempat membunuh orang.”


Tekanan kecil tepat menyerang tenggorokanku sebagai sasarannya. Mataku melotot terkejut sampai aku bisa merasakan bola mata yang basah. Rasa tegang ini dan ketakutan yang menepuk tubuhku sampai pada kesadaranku.


Kesanggupanku hilang. Langsung aku menjauhi pintu tertutup itu. Membuka pintu satunya menuju dapur yang tampak kosong. Aku menahan tubuhku di meja makan. Jeda sejenak, meluruskan pikiranku.


Dibuat kesal aku oleh air mata yang tak tahu waktu. Kututup mulutku dengan bantuan tangan yang mengatup.


Rizki pernah membunuh?


“Rasyi?”


Terkejut aku hampir berteriak. Untung tanganku membantuku untuk menahannya. Mendapati seseorang menepuk punggungku benar sangat mengagetkan. Siapa sih?


“Kak Fares?” Kenapa dia kembali kemari.


“Rasyi kenapa nangis?”


Gawat. Airmataku, “Tidak,” kuhapus tetesan itu cepat. Aku harus mengganti topik secepatnya, “Kakak kok balik?”


“Kakak dengar ayah ke sini,” Fares meletakkan tasnya di atas meja.


Oh, apa dia akan menunggu Hendra? “Oh, iya. Lagi ngomong tuh di dalam,” cari topik lain! Sebelum dia membahas aku menangis lagi, “Rasyi mau buat jus strawberry, kakak mau?”


Kenapa dia diam? Jangan dibiarkan sunyi begini! Tolong dijawab.


“Iya, mau.”


Berusaha aku tersenyum manis seperti biasanya, “Tunggu ya~” aku langsung melangkah mendekati desk dapur yang panjang.

__ADS_1


Mengumpulkan bahan, mengambil alat, memotong-motong, membuka kemasan. Langkah-langkah itu kulakukan dengan pemikiran di lain tempat.


Hah, tentu terkejutku ini tidak mungkin bisa aku redakan dengan cepat.


__ADS_2