
Aduh. Keseluruhan tubuhku sakit. Dia tidak bersuara, tapi saraf-saraf yang terhubung disana sangat membuatku pusing dengan setiap ‘pesan’ yang disampaikannya. Sakit! Lelah! Lakukanlah hal lain! Gantilah posisi!
Tidak tahu lagi berapa lama aku berdiri dengan kedua tangan orang dewasa di belakangku menahan di tangan bagian atasku. Bayi lainnya yang seumuran denganku pasti sudah kabur dan bernyanyi merdu sampai membuat gendang telinga kesemutan.
Benar-benar sudah sungguh sangat sabar diriku disini. Kalian mau membuatku bersabar berapa lama lagi, Ira, Sari?
“Selesai~” kata Ira dengan sangat senang berhasil memakaikanku segala atribut yang sudah dia siapkan hampir satu bulan lalu.
Pasrah membiarkan dua wanita ini memakaikanku hanbok, baju tradisional Korea, yang warnanya tidak ‘aku’ banget. Aaa! Meliriknya sedikit saja sudah membuatku semakin lemas. Warna merahnya sangat mencolok!
Jangan buat aku berpikir tentang hiasannya! Pita panjang bermotif di ujung rambut pendekku dan bando bunga besar di tengah kepalaku. Kok bisa hiasan begini saja seberat ini?! Terbuat dari apa sih? Batu mulia sebesar 1.000 karat?!
Kalau saja aku tahu akan se-melelahkan ini, aku pasti menolak keras acara ulang tahun! Aku lebih merasa mati otot daripada senang.
“Ayo kita keluar. Aku sudah sengaja bawa cermin besar di luar.” Ira sangat semangat langsung menggendongku.
Ah. Benar juga. Sudah satu tahun umurku, tapi aku masih belum tahu bagaimana keadaan wajahku. Kebanyakan yang aku dengar aku memang mirip papa. Inikah waktuku untuk memverifikasinya?
Kami melewati pintu kamarku. Terlihat ada cermin cukup besar yang tinggi diletakkan menyandar dinding di samping pintu. Aku diturunkan begitu saja di depannya.
“Cantik kan~” tanya Ira terduduk di sampingku.
Mata hitam itu menangkap cahaya langsung dari pantulan kaca. Wajah bulat yang manis dibungkus dengan hiasan yang tak biasa di mataku. Meski dipintal dengan berbagai hiasan, rambut hitamnya masih menunjukkan kesehatannya yang cemerlang.
Mengkilap~ Cantik~ Wajahku seperti fotocopy wajah papa. Seperti papa versi bayi perempuan. Aku mengerti sekarang kenapa semua orang langsung lemah hati saat melihatku. Hatiku sendiri dibuat lemah dengannya!
“Pappa!” kataku sambil menunjuk diriku sendiri.
“Oh iya. Kita harus tanya pendapat papa juga ya.” Ira tampak semangat.
Bukan itu yang kumaksud!
“Apa?”
Suara itu—
“Iki~ Lihat! Rasyi lucu kan? Cantik kan?” Ira menarikku pelan mendekatinya.
Rizki terdiam menatapku, “hmm.” pandangannya dibuang begitu saja.
__ADS_1
Apa segitu tidak pedulinya kau dengan anakmu ini?! Hah?!
“Pappa!” panggilku membuatnya menatapku, “Pappa!” kutunjuk kembali wajahku. Wajah kita ini sama loh! Masih mau cuek?!
Dia terdiam. Terdengar suara tawa kecil darinya. Papa—dia langsung tertawa lepas?! Eh?! Eh?! Eh?!!
Ini pertama kalinya aku melihatnya tertawa kencang begitu. Dilihat dari wajah orang-orang disini, sepertinya itu hal yang terbilang mustahil. Seperti promo semua produk gratis 100% di supermarket.
“Kamu terlalu cerdik.” Rizki masih tersenyum menyelesaikan tawanya sambil terus menatapku.
Dia paham apa maksudku~ Itu bukan hal yang baru. Tapi... ini pertama kalinya aku mendengarkan pujian dari mulut papa~
“Aneh.” lanjutnya.
…
Terima kasih atas pujiannya, papa~ Kau sangat menjengkelkan ya~ Aku berjanji kalau aku sudah lebih besar nanti, aku akan menendang tulang keringmu itu. Papa kan dokter~ Papa tahu kan kalau rasanya akan sangat sangat sangat sakit?
“Rasyi~” Suara itu, sudah lama sekali aku tidak mendengarnya.
“Aa Ayyeeis!” kak Fares!—A! Dia juga pakai Hanbok! Sepasang dengan punyaku!
Fares? Kamu melakukan apa pada mataku? Sesaat kenapa kamu terlihat imut? Padahal aku tidak tertarik pada anak kecil. Apa karena aku sudah lama tidak melihatnya? Yang pasti, pakaian itu sangat cocok dengannya. Dia benar-benar manis!
Kumundurkan sedikit tubuhku melihat wajahnya lebih jelas. Ia masih memeluk pinggangku dan kedua tanganku masih menggenggam erat bahunya. Senyumnya semakin terlihat manis.
“Achi kaaen aa o~” Rasyi kangen kakak loh~
Senyumannya pudar kebingungan dengan apa yang kukatakan, sampai akhirnya terpanggil lagi, “Rasyi kangen kakak ya?”
“Ya!” senangnya dia bisa mengerti.
Sesaat perhatianku berpindah ke topi pelengkap milik Fares. Wah. Warna hitam berhias silver. Itu baru warna yang aku suka. Kusentuh hiasan topi itu penasaran.
“Fares~”
Kepala Fares yang berputar tidak menggangguku memperhatikan topinya.
CEKLEK!
__ADS_1
Suara dan blitz kamera terasa dari samping kiri kami. Aku langsung mengurungkan tanganku dan menatapnya. Ira terlihat sudah berhasil mengambil momen indah dengan kamera Mirrorless putih bersihnya. Terlihat tante Sari dan Ira sudah sangat bersemangat dengan isinya.
Haruskah aku membiasakan mataku untuk blitz kamera itu? Terasa sudah lulus audisi model khusus untuk hari ini. Aku tidak suka difoto…
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Meski sudah banyak yang dibuka, tapi kenapa kadonya masih banyak. Dari mana semua kado-kado ini?! Padahal yang datang tadi tidak begitu banyak.
Sepertinya aku sepemikiran dengan papa. Wajahnya dari tadi lesu di sofa ujung sana. Apa karena terlalu banyak barang yang berhamburan disini. Papa memang tidak suka berantakan. Tante Ira dan bibi-bibi masih semangat sekali membuka kado-kado itu.
“Rasyi~” kembali lagi si anak paling ramai.
Hah? Kukira dia mau membawa kadonya dari mobil paman tampan. Kenapa dia membawa keranjang? Apa isinya kue?
“Ini kado buat Rasyi~” dia terduduk di depanku yang masih menyibukkan diri dengan mainan baru. Biasa, aku sedang senang menggigitinya.
Mainan itu terlepas dan akhirnya kuambil penutup keranjang itu. Heh? Tunggu... Heh?
Sari mendekati kami, “Ini kelinci~”
Aku tahu itu kelinci, tapi apa kau yakin kalau ini kado yang tepat untuk anak satu tahun? Jangan-jangan ini ide Fares. Tidak mengagetkan kalau memang Fares yang bersikeras membelikan kelinci untuk kadoku.
Hah... lihat mukanya itu. Kecewanya kental sekali. Mau bagaimana lagi? Aku tidak pernah sedikitpun berpikir akan membeli hewan dan memeliharanya. Terlintas di otakku hanya menghabiskan uang dan tenaga.
“Rasyi takut ya?” tanya Ira.
Aku menatap Fares. Susah tahu kalau tidak suka tapi harus pura-pura suka. Masa aku harus memaksa diriku sendiri. Sudah terlalu banyak kupaksakan diri untuk menyukai sesuatu. Kalau masalah hewan, lain lagi ceritanya. Itu akan jadi keputusan berkepanjangan.
Tiba-tiba tanganku ditarik oleh lelaki kecil itu. Dia mengangkat satu anak kelinci berwarna putih dari keranjang itu. Kelinci itu didekatkan di tanganku. Merangkulkan tanganku memeluk kelinci itu.
“Kelincinya gak gigit kok. Rasyi pasti suka.” dia menahan tanganku sambil tersenyum senja yang sesaat menyesakkanku.
Kenapa dia tersenyum seperti itu? Dia tidak pernah tersenyum seperti itu sebelumnya. Apa dia begitu kecewanya?
Hah. Bocah ini memang merepotkan. Iya deh. Aku terima. Orang dewasa juga akan berpikir jernih dan tidak mungkin membiarkan aku merawat sendiri hewan peliharaanku.
Sudah... jangan tersenyum seperti itu lagi. Kudekati wajahnya dan berusaha mencium keningnya. Sudah kan?
“Achi cuka!” tambahku.
__ADS_1
Ia terlihat sangat terkejut. Entah apa yang dimalukannya dengan wajah merah itu. Aku yang akhirnya terkejut. Dia tersenyum sederhana tidak seperti biasanya.
Apa yang ada dalam pikirannya?