
Mari kita jabarkan. Aku, Bunga Sekar Melati, meninggal entah kenapa dan dilahirkan kembali menjadi anak yang bernama Rasyiqa Dheanadari Wirandi. Sekarang umurku 5 tahun, TK nol besar.
Di umur semuda ini, aku merasakan rumitnya kehidupan. Satu, keselamatanku⏤yang dimana tampaknya sudah selesai. Dua, hidup sebagai anak-anak⏤tentu aku berusaha untuk membiasakannya. Tiga, papa yang… entahlah. Kurasa aku sudah pasrah akan hal itu.
Lalu, apa aku akan menambahkan masalah ini menjadi yang keempat? Ira suka dengan Rizki ya? Harus aku apakan itu?
Aaaaa, kepalaku!!
“Duh~ Rasyi mikirin apa sih~ Serius sekali,” tawa geli Ira membuyarkan lamunanku.
Karena siapa juga aku jadi begini?!
Sari mengulurkan snack pie strawberry, “Bosan ya? Tunggu sebentar lagi….”
Ya pasti bosan lah. Namun, aku tahu kok kalau taman hiburan di sabtu sore selalu ramai. Lagipula, antriannya tidak begitu panjang. Tuh, sudah giliran kita.
Gandengan erat Fares menuntunku melewati pembatas pengaman gerbang setelah diberi stempel di punggung tangan kami. Penungguan kami akhirnya terbayarkan dengan pemandangan ramai taman hiburan yang tertata spektakuler.
Membayangkan banyaknya wahana-wahana ekstrem yang siap menaikan adrenalin. Ah, kurang ajar. Kenapa aku kesini dengan membawa badan pendek ini?
“Rasyi mau naik apa?” Ira memulai kebiasaan kepo-nya.
Langsung aku menunjuk lintasan roller coaster yang mematikan di belakangnya. Suara teriakan penumpang yang menggema seketika lewat membekukan pandangan Ira. Ia kembali menatapku sambil tersenyum.
“Maaf, Rasyi. Kamu masih belum boleh naik itu,” senyumannya yang sesekali bergetar membuatku menahan tawa.
Tidak perlu mengeluarkan ekspresi kacau begitu juga dong. Aku juga tahu kok aku tidak boleh. Kamu tidak berpikir yang aneh-aneh karena aku memilih wahana yang berbahaya itu kan?
“Yang untuk anak-anak juga ada kok,” Fares menunjukkan lembaran di tangannya, “Rasyi mau naik?”
Kak Fares tahu saja~ “Mau!”
“Kalau begitu,” Ira langsung menggandeng Rizki, “Kita naik Roller Coaster yang besar~”
“Tidak terima kasih.” Rizki dengan cepat menolak.
“Kejam banget. Masa kamu tega biarin wanita jalan-jalan sendirian. Ayo!” Ira langsung menarik tangan Rizki dan melangkah pergi tanpa membiarkannya bicara, “Nanti kami telepon!” suaranya yang menjauh dilahap kerumunan orang.
Ah. Ira tampaknya mengartikan liburan kali ini adalah kesempatannya untuk mendekati Rizki. Entah aku akan mendukungnya atau menolaknya bila waktunya tiba kelak. Sebelum itu, dia harus berusaha sendiri menghancurkan tembok di hati dingin Rizki. Bahkan aku pun tidak bisa sampai kesana meski sudah serumah selama bertahun-tahun.
Sari dan Hendra pun menggandeng kami ke kawasan yang memang berkumpulnya wahana untuk anak-anak. Keramaian ini mungkin membuat mereka khawatir kalau saja nanti terpisah.
__ADS_1
Kembali aku menelusuri pemandangan yang bisa kutangkap. Ada papan besar yang bertuliskan wahana baru. Perahu dongeng? Sepertinya wahana itu menyajikan dongeng selagi kita menaiki perahu di sungai buatan. Rasyi kecil pasti berpikir begini….
“Mau naik itu juga!” aku menunjuknya pada Fares papan pengumuman besar itu.
Fares terdiam ikut melihat apa itu. Ia sedikit terkejut, “Yakin Rasyi mau naik itu?” wajahnya tampak ragu di sela senyum kalemnya.
Hah? Memangnya kenapa? Kan hanya menonton pertunjukan dongeng. Apa masalahnya?
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Haaa!” aku terus memeluk papa balik. Tepukan ringannya berusaha menenangkanku.
“Maaf, Rizki,” Sari tampak tak nyaman, “Aku tidak bisa melarangnya.”
Rizki mengambil duduk di salah satu kursi taman yang kosong, “Dia memang keras kepala.” Rizki dengan kejamnya menyalahkanku.
Sesadar-sadarnya aku yang membuat masalah karena memaksa mereka, aku juga menderita karena ketakutan tahu!
Tak kusangka kalau dongeng yang mereka sediakan malah menceritakan tentang segerombolan laba-laba besar. Laba-laba biasa saja menggelikan, apa lagi kalau ukurannya dua kali lebih besar dari manusia. Projector itu menayangkan gambar laba-laba dengan sangat dekat.
Wahana bodoh! Bisa trauma aku dibuatnya!
Tidak! Ini juga salah kalian! Kenapa kalian tidak menghalangiku lagi setelah hanya sekali aku bilang iya?! Aku kan tidak tahu kalau ada laba-laba di dalam ceritanya!
Bukan, ini adalah salahku karena aku tidak membaca keseluruhan papan pengumuman wahana baru itu. Hiks.
“Maaf Rasyi,” senyum kalemnya ditutupi ekspresi sedihnya, “Kakak belikan crepe deh. Mau tidak?”
Aku terdiam, “Coklat?”
“Gigi-nya Rasyi kan masih sakit,” Fares tampak berpikir sejenak, “Gimana kalau dicampur sama buah?”
“Pisang?” crepe pisang coklat?
“Boleh~”
Langsung kulepas pelukanku. Mengarahkan tanganku ke arah Fares dan memberikan isyarat untuk minta digendong. Senyumnya sekali lagi menyambutku hangat dipelukannya.
Kami dibawa Rizki menuju stand makanan-makanan kecil yang hanya di seberang tempat kami berkumpul. Tidak sabar aku merasakan coklat meskipun hanya dibolehkan sedikit. Rizki memilih untuk meninggalkan kami menunggu, sementara dia membeli beberapa minuman untuk yang lain.
“Pelan-pelan, masih panas.” Fares menolongku memegang crepes lembut yang ternyata besar.
__ADS_1
Aku mengambil sedikit bagian crepes dan meniupnya pelan. Coklat! Rasanya meleleh di mulut. Enak! Kedua tanganku memilih untuk membawanya sendiri.
“Rasyi bisa jalan sendiri kan?” Fares tampaknya disibukkan dengan dua crepes yang dia bawa, “Jangan jauh-jauh dari kakak ya?”
Kita mau langsung kembali? Sepertinya Rizki menyuruhnya langsung menyeberang ke tempat yang lain berkumpul.
“Iya~” aku mulai mengikuti langkahnya.
Sekilas aku merasakan sekitar yang lebih ramai dari sebelumnya. Mungkin karena hari semakin mendekati malam. Orang-orang mulai berkumpul untuk mendatangi acara malam yang penuh akan kembang api.
Aw! Kenapa orang-orang ini jalan tidak lihat-lihat? Memangnya aku batu kerikil yang bisa ditendang dan diseret sesukanya. Iish! Langsung pergi juga tuh orang! Dimana minta maafnya?!
Loh? Loh?! Fares dimana?
Gawat! Aku mempercepat langkahku ke arah yang berlawanan jalan dengan orang-orang tadi. Berharap bisa kembali ke daerah stand makanan ringan. Sulit rasanya melewati banyak orang ini. Kesulitan bertambah dengan tubuh kecil yang sulit dilihat orang.
Beberapa saat akhirnya aku bisa mengenali sekitarku. Itu dia stand-stand tadi! Mereka seharusnya ada di seberangnya… tidak ada? Mereka semua sudah tidak ada disana?! Duh, bagaimana ini?!
Tenang. Harus tetap tenang. Pusat informasi! Aku harus mencari bantuan di sana!
“Aaw!” orang-orang ini apa sih maunya?! Jangan berdiri menghalangi jalan seperti itu dong!
“Kamu pasti Rasyiqa,” suara berat pria itu tampaknya dari orang yang kutabrak.
Tunggu. Apa dia orang yang aku kenal? Langsung kubanting pandangan ke arah tingginya wajah orang itu.
Eh? Hawa kehadiran pria itu sesaat bagaikan ribuan es yang menghajar kepala. Cahaya yang mulai redup semakin menyamarkan sosoknya.
Tiba-tiba cahaya lampu terang menghantam wajahnya. Bisa kutangkap senyumnya yang senang tapi terasa menggetarkan tubuhku. Namun bila aku melihatnya lagi, tidak ada yang salah dengan penampilannya. Hanya sekedar pria tulen yang kurang lebih seumuran dengan Rizki.
Siapa pria ini?
“Oh iya. Rasyiqa tidak kenal aku ya?”
Hem… apa kamu salah satu rekan kerja papa yang begitu sangat banyak sekali? Maaf, skala rumah sakit itu terlalu besar untuk kuingat.
Ia menjongkokkan tubuhnya di depanku, “Ini aku, kakekmu~”
…
Apa perlu ya orang ini kutabok dengan crepes?
__ADS_1