Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter

Putri Sang Duda : Single Daddy'S Daughter
#6 Awal untuk Kita


__ADS_3

Memang aku termasuk ke dalam kelas yang beruntung. Sering sekali bertemu dengan lelaki yang tampannya tidak tertolong. Adik kecil Nita saja, yang berumur sepuluh tahun, sangat tampan dengan pipi tembemnya.


Rangkakanku terhenti di samping meja kerja ayahku. Tidak mungkin bisa tidak setuju dengan wajah tampannya itu. Dia terlihat sangat manis saat tertidur! Mataku sanggup menatapnya 24 jam penuh seperti kamera CCTV!


“Hhmmm!” dia menggumam. Kepalanya terus bergerak menunjukkan keluhannya.


Oh... apa dia mimpi buruk? Dia kelihatan lelah sekali. Sampai-sampai dia harus tidur di meja kerjanya. Keadaan lelah memang bisa dengan mudah memancing mimpi buruk.


Lebih kudekati dia. Berusaha sekali lagi berdiri dan langsung meraih ujung meja. Dekat tubuhnya di depanku. Wajahnya masih terlalu tinggi. Kalau begini aku harus bagaimana? Memangnya aku mau menunggunya? Lama dong!


Tidak ada banyak waktu untuk dibuang! Kalau para penghuni rumah menemukanku disini, aku tidak bisa melanjutkan lagi rencanaku. Lebih buruk lagi, aku harus mengulangi usaha dua minggu lagi! Bisa lebih buruk lagi. Mereka bisa menjadikanku sebagai tahan di kamarku sendiri karena mengira aku akan hilang lagi! Jangan sampai!


Kusentuh pinggangnya yang membengkok itu. Berharap dia akan terbangun. Mendorongnya, terus mendorongnya walau dengan tenaga bayi yang pasti rasanya seperti gempa 1 skala richter.


“Mmm?” tubuhnya tersentak.


Dorong terus sekuat yang aku bisa. Aku tidak akan membiarkan dia menutup matanya lagi sedetik pun. Bangun!!


“Siapa?” kepalanya terangkat dan tangannya ikut menyiku memegangi keningnya.


“Ii iiiih!” disini!


Kepalanya memutar menghadapku. Matanya yang masih saja sipit menatap langsung mataku. Ciluk... baaa~


Bisa terasa kembali sentakan dari bahunya. Sekali lagi ia menganggap aku tak ada dan menghindari mataku. Tangan besar itu menyapu rambut hitamnya ke belakang, beberapa lama bertahan di atas keningnya.


“Haaa... Lagi?” gumamnya terdengar kesal.


Hu! Iya~ aku tahu~ Kamu tidak suka melihatku. Biasakanlah mau atau tidak mau! Jangan berpikir untuk kabur karena aku sudah menandaimu sebagai bagian dari rencana bertahan hidupku.


Sekarang waktunya menyerahkan lambang perdamaian. Kuambil bunga di sela-sela rambutku. Untung sekali bunganya masih terlihat bagus.


Langsung kuulurkan bunga itu, “Iii uen uu eppa~” Ini untuk papa~


Rasa puas menyiramiku saat ia mau mengembalikan perhatiannya. Masih ada tersisa tanda kebingungan di wajah tampan itu. Kurasa dia masih mau 'mengunyahnya' sebelum 'menelannya'.

__ADS_1


“A! A! Uen uuu ppa~” iya! Iya! Untuk papa~


“Untukku?” jarinya menunjuk ke arah dirinya sendiri.


Duh~ Pintarnya papaku ini~ Anggukkanku yakin, “Nal! Nal!” benar! Benar!


Eh? Hanya perasaanku saja, atau memang wajahnya melunak. Sama seperti saat dia menggendongku di insiden laba-laba dulu. Tenang dan menyejukkan.


Dia menerimanya? Wow. Meskipun aku yakin dia akan luluh selama aku bersiap sedia setia untuk terus berusaha, tidak pernah kusangka akan berhasil di sekali kunjungan.


Gelagatnya seketika kembali mengeras. Dia kenapa lagi sekarang? Matanya dipenuhi dengan rasa takut. Ah! Kepalan tangan yang tak terduga ikut meremas bunga tadi. Seharusnya aku menduganya. Tidak mungkin aku berhasil mengambil hati busuknya di percobaan pertama.


Kesekian kalinya ia terkejut dan berakhir menatapku lagi. Apa yang ia pikirkan sampai pucat pasih begitu?


Wajahnya kembali iatutup, “kenapa kamu mau datang ke sini?”


Hah?


Kembali lagi matanya memandangku, “hah...” layaknya komedi putar yang bolak balik, sedetik selanjutnya wajahnya kembali tertutup, “aku gila menanyakan itu pada bayi...”


Aaaa... apa tadi dia bertanya padaku? Kenapa aku kemari?


Suara kursi bergeser menandakan tubuh papaku itu sudah berdiri tegak. Tunggu. Jangan bilang kalau dia mau memanggil bibi pembantu? Tidak!


Aku langsung terduduk berusaha mulai merangkak, “Pappa!”


Kami berdua seakan terkena kutukan langsung dari ratu ular. Sepertinya aku terkesan dengan mulutku sendiri. Mulutku bisa dengan lurusnya menyampaikan hal bodoh. Rizki bisa saja marah saat aku memanggilnya begitu. Dia kan tidak pernah menganggapku sebagai—Rizki?


Uraian air mata Rizki tampak jelas. Masih ada rasa terkejut disana. Benar-benar tidak aku ketahui apa yang ada dipikirkannya.


“Kenapa kamu memanggilku begitu?” matanya masih saja menatap ke arah lain.


Kenapa kautanyakan aku begitu? Memangnya kamu memproduksi anak tanpa ada niat menjadi papa? Itu sebutan wajar!


Iya. Kamu tidak suka kan? Sedih karena anak yang mau kamu buang ternyata keterlaluan memanggilmu papa? Iya, tahu. Aku juga tidak suka kok. Mau bagaimana lagi?

__ADS_1


“Pappa~” Papa~ terimalah hasil perjuangan istrimu—


BRUKK!


—Aaaaaaa! Aa... kenapa kamu jatuh begitu?! Tahu tidak kalau aku kaget?!


Bisa-bisanya aku berlangganan dengan namanya terkejut hari ini. Jantungku berdebar tidak karuan. Rizki sudah berlutut di dekat mejanya. Wajahnya terlihat sangat suram tertunduk dengan rambut hitam pekat berantakan menutupi sebagian wajahnya.


Aaaa... Pa... Papa? Kenapa pa? Apa sedang sakit? Lelah, mungkin?


“Jangan.”


Hah?


“Jangan memanggilku begitu...,” getaran tangannya terasa terhantar ke meja kerjanya.


Aku menghela nafasku. Masih mau membahas itu? Bukannya berlebihan bertingkah begitu hanya untuk menuruti ketidaksukaanmu?


“... nanti mereka... mereka... mengambilmu juga...” kemarahannya tampak melonjak. Ekspresinya sangat kacau.


Mereka? Mengambilku? Berusaha secepat kilat mengartikan ucapannya.


Sepertinya aku terlalu acuh tak acuh. Aku terlalu menyampingkan kenyataan lain yang kudengar di pertengkaran waktu itu. Ketakutan, keluarganya mati, ‘gila’.


Kurasa... Papa di depanku ini sedang bingung. Seburuk apa keadaan di luar sana dengan para pembunuh itu yang masih berkeliaran? Kalau papa sampai begitu, berarti sudah sangat buruk kan?


Rangkakanku berhenti di dekatnya, “Pappa!” uluran tanganku menyentuh wajahnya.


Wajahnya kembali sendu. Tangannya membalas tanganku yang menyentuh pipinya. Matanya tertutup seakan menangkap kehangatan kecilku.


Apa ini artinya kita damai? Ya... ayo kita lakukan saja. Tuh, kamu akan melindungiku kan?


“Pappa!” senyumku merekah.


Tanpa jeda sedetik pun, Rizki langsung memelukku. Isak tangis samarnya masih tertangkap jelas oleh gendang telingaku. Pelukannya sangat lembut seakan dia memegang cangkir kaca yang mudah pecah. Hangat tubuhnya berteriak ke sekujur tubuhku mengatakan kalau dia sangat ingin seseorang yang bisa dia peluk selama ini.

__ADS_1


Aku tidak bisa menutupi rasa tidak sukaku dengannya. Dia membawa pikiran buruk terhadap orang tua di pikiranku. Perkataannya membuatku sangat yakin mengecap orang tua—khususnya milik Sekar—sebagai orang yang buruk.


Rizki adalah papaku. Menyingkirkan status itu sangatlah tidak mungkin. Aku juga membutuhkannya agar aman dari kejaran orang yang masih tanda tanya bagiku. Tepat sudah memutuskan menerima kehadiran lelaki ini. Untuk saat ini aku tenang dan yakin bila orang ini menjadi papaku.


__ADS_2