
Tak bisa terhitung lagi berapa kali Rasyi berpikir keras di sepanjang umurnya. Sekarang lebih buruk! Kesulitan melanda bila kau harus membatasi kemampuan meski tahu kalau kautahu!
Aku memang sudah kelewatan tentang kepintaran Rasyi. Mana ada anak biasa tapi sudah lancar menghitung di usia tiga tahun! Kalau bukan jenius, apa namanya? Berharap saja akting sekejap jadi bodoh ini bisa menipu mereka.
Dipuji jenius tentu luar biasa, tapi bukan berarti enak. Zaman sekarang, yang seperti itu pasti akan viral. Pertumbuhanku bisa saja jadi catatan publik di internet. Ogah! Salahkah aku kalau mau santai seperti koala?
“Padahal saya berharap Rasyi bisa menjawab semuanya,” kata dokter Dara memegangi kertas yang baru saja kuisi bersama papa, “Sayang sekali.”
“Saya rasa tidak perlu sampai seperti itu,” kata papa.
“Tapi dulu Rizki bisa menjawab semua ini di usia Rasyiqa.” kata dokter.
Ya begitulah—HAH?!
Dokter itu tersenyum kalem, “Bahkan Rizki sudah bisa membaca dan menulis waktu itu.”
“Saya tidak ingat,” balasan dingin papa keluar lagi.
Menyelesaikan soal-soal tes IQ itu tidak bisa dibilang mudah bahkan bagi anak sekolahan. Itu karena perlu pengetahuan tambahan di luar sekolah. Lalu Rizki kecil, yang seharusnya belum sekolah, sudah berhasil menyelesaikannya?! Seram!
“Kalau begitu, saya kembali dulu,” kata papa bangkit dari duduknya, “Terima kasih, dok.”
“Saya kabari kalau sudah selesai,” beliau tersenyum padaku, “Dadah…”
Rizki mengangkatku sepanjang aku melambaikan selamat tinggal pada sang dokter. Pintu itu kembali hampa saat kami pergi menjauh darinya. Sibuk melihat orang-orang di belakang kepala Rizki. Mereka masih senyum-senyum sendiri setelah menyapa papa.
Tanpa sadar kami sudah melewati pintu lain. Ruang dokter sederhana menyambut kami dengan meja dan kursi berseberangan. Langsung didudukan aku di kursi nyaman yang menghadap pintu.
Papa, ajakan jalan-jalan itu pasti hanya alasan supaya aku bisa tenang di pemeriksaan kan? Kecuali kamu menganggap kalau menunggumu bekerja adalah salah satu dari plan jalan-jalanmu. Sekejam itu kah kamu padaku?!
Ketukan terdengar dari pintu, “Pak Rizki?” seorang wanita perawat menongolkan kepalanya.
“Masuk,” kata papa mulai sibuk dengan apa pun yang ada di mejanya.
Siapa lagi ini? Banyak sekali sih orang baru yang hilir mudik di kepalaku! Ternyata papa punya banyak juga kenalan.
“Rasyi,” papa menepuk kepalaku lembut, “Papa bekerja sebentar. Rasyi ikut tante dulu.”
__ADS_1
Oh, papa satu ini sekarang mau menelantarkanku di rumah sakit. Sungguh! Aku ini anak manis! Harus ya memperlakukanku sekejam itu?!
Kulirik perawat muda itu, “kemana?”
“Ke taman,” bibi perawat itu mendekat sampai di sisi lain meja, “Ada banyak mainan loh. Terus bunganya cantik-bantik. Nanti tante juga belikan es krim deh.”
Ada taman di dekat sini? Boleh sih. Memang itulah harapanku dari trip hari ini, tapi⏤aku kembali memandang ke arah Rizki. Tidak apa-apa kah lepas dari pantauan Rizki?
Di sekujur tubuhku dipenuhi rasa ragu. Sepertinya karena aku masih tidak yakin apa aku aman atau tidak. Apalagi setelah aku mendapatkan foto tidak mengenakkan waktu itu. Tidak mungkin aku bisa tenang.
Namun, tanpa ada tanda-tanda, Rizki mengajakku keluar rumah. Padahal sebelumnya dia selalu mengurungku. Kalau tidak aman, kenapa aku dibiarkan keluar?
Apa aku ikuti saja?
Tiba-tiba papa mengulurkan beberapa permen yang tersisa dari kunjungan konsultasi tadi. Refleks aku menerimanya dengan kedua tanganku yang mengatup. Apa? Kenapa?
“Nanti kita jalan-jalan lagi kalau papa sudah selesai,” dia mengeluarkan jari kelingkingnya, “Janji.”
Kenapa lagi dengan wajahmu itu? Aku kan jadi yang tidak enak. Wajah itu sama saja seperti penggambaran seseorang yang berusaha sekerasnya, tapi anaknya tidak tahu terima kasih. Dengan fakta yang terbatas pun aku tahu dia sudah banyak bertindak akan masalah orang-orang jahat itu.
Uuuuh! Iya deh! Aku percaya saja dulu. Duh, sulit juga ya jadi anak baik.
Hangat senyum tipisnya menyebar, “Iya,” tampan di wajahnya, yang sering kali tertutup oleh sifat dinginnya, kembali mengkilap.
Iya papa, iya. Sudah. Mataku silau nih!
“Kalau begitu, ayo,” tante itu mengulurkan tangannya membujukku agar mau digendong.
Ini pertama kalinya Rasyi pergi dengan orang asing. Rasyi kecil sudah dibiasakan hanya dengan orang-orang lama. Apa daya kalau Rasyi jadi waspada.
Tanganku membuka perlahan. Diangkat aku olehnya bersamaan dengan kalimat pamitan ringan. Sekali lagi melewati pintu.
“Anak tante sedang ada di taman loh~ Rasyiqa pasti akrab,” kata tante itu.
Oh apa ini waktunya untuk mendapatkan teman Rasyi yang pertama. Bocah ribut seperti apa yang akan muncul? Aku tidak begitu tertarik.
Tunggu, apa papa sengaja menitipkanku pada tante ini agar aku dapat teman? Iya juga, kalau Rizki, itu sudah pasti seratus persen terjadi. Hah, no comment dah! Aku nikmati bermain di taman saja!
__ADS_1
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Ini anaknya dokter Rizki ya?”
Pria di depanku menghapus ketertarikanku dengan kunjungan pertama ke taman. Cantiknya taman penuh warna dan tanaman segar sudah tersingkirkan dari kursi juara. Aku menemukan pria tampan lagi!
Sesaat pria itu menjalankan pandangannya ke arahku. Duh, jangan menatapi aku begitu. Malu nih! Bisa-bisanya tanganku refleks merapikan penampilan. Kebiasaan!
Ia langsung tersenyum ke arahku. Aaa! Manis sekali!
Kalau dipikir-pikir, wajahnya agak familiar. Lihat dimana ya?
Tante perawat tersenyum, “Namanya Rasyiqa. Dia manis kan?”
“Iya. Dia cantik.” kata pria itu tersenyum lebih manis.
Kyaaaa! Aku dapat pujian dari orang tampan!! Tidak peduli leherku yang sakit karena aku harus menengadah untuk menatapnya. Cuci mata!!
“Abi! Ummi!” seru seorang lelaki kecil berlari.
Siapa lagi nih anak? Merusak suasana saja. Ah… apa dia memanggil si tampan dan tante perawat dengan panggilan abi dan ummi? Tidak! Bertambah lagi daftar pria tampan yang taken!
“Rasyiqa, ini Harun. Anak tante.” tante perawat mendorongku perlahan ke depan lelaki kecil tadi.
“Halo...” katanya lembut tersenyum manis padaku.
Wow. Si kecil ini jadi terlihat tampan seketika. Oh, benar juga. Dilihat-lihat, dia mirip dengan ayahnya! Rambut hitam yang lurus, kulit coklat matang mirip dengan matanya.
“Harun ajak main Rasyiqa ya?” si tante memegangi pundak si Harun.
“Iya,” anak penurut itu masih bersama senyumnya, “main ke sana yuk!” tangan mungilnya terbuka selagi satunya menunjuk ke salah satu permainan.
Dia bisa jadi tabungan rekan tampan di masa depan. Sekalian saja memperbaiki mentalku yang selama ini terkurung dengan orang-orang yang sama. Pasangan atau teman, dua-duanya untung.
Tanganku meraihnya, “ya, ayo!” aku berseru sambil tersenyum seperti yang selalu kulakukan.
Hening langsung menghampiri kami. Layaknya petir menjalar di setiap ujung tubuhku, aku benar-benar dikejutkan dengan senyumannya. Serupa tapi tidak sama. Wajah dan kelembutannya tidak kusangka menarik perhatianku.
__ADS_1
Perasaan ini… apa aku sungguh jatuh cinta pada anak kecil ini?!