Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
10. Terpaksa Membohongimu


__ADS_3

“Tolonglah, Mae, Neneng, katakan pada Pak Jamal kalau aku izin pulang. Perut aku sakit sekali ini.”


Raya membungkuk serta memegangi perutnya, berpura-pura sakit agar dibolehkan pulang. Untuk mempercepat waktu, dia minta tolong Mae dan Neneng yang kebetulan bertemu dengannya, untuk melaporkan pada Pak Jamal.


“Kamu pikir, perusahaan ini punya bapakmu apa?” ketus Mae.


Dan di samping Mae, ada Neneng yang mengangguk setuju.


“Iya, main pergi saja. Selesaikan dulu tugasmu, baru boleh pulang,” timpal Neneng.


“Tapi aku kan sakit,” kata Raya memelas.


Raya merosotkan diri dan meringkuk di lantai agar sandiwaranya menyakinkan. Meringis kesakitan serta mengaduh beberapa kali.


“Tidak bisa. Mau sakit atau pun sehat harus bekerja,” ucap Clara yang tiba-tiba muncul.


Wanita itu melihat Raya, lalu mendekat dan tidak sengaja mendengar percakapan singkat tiga gadis itu.


Kini Clara berkacak pingggang layaknya bos besar, memandang rendah Raya yang kesakitan di lantai.


Sial. Kenapa ada Nenek Lampir di sini? Pasti dia akan menjahili aku lagi. Raya menggumam dalam hati.


Kemudian Raya semakin melebih-lebihkan sandiwaranya dengan berteriak mengaduh. 


Sehingga mengundang perhatian dari beberapa pegawai yang bekerja di sekitarnya. Namun, mereka takut untuk mendekat karena ada Clara yang melayangkan tatapan tajam pada siapa saja yang hendak menolong Raya.


Tak lama, muncullah Raka yang langsung bersimpuh di samping Raya. Menjadikan Clara yang tadinya merasa memiliki kuasa, seketika terperangah melihat perhatian Raka pada gadis kampungan itu.


“Ada apa dengan perutmu? Apa kamu punya penyakit asam lambung?” tanya Raka yang merasa iba.


Raya berpikir sejenak, mencari alasan yang cocok agar tidak ada yang curiga bahwa dia berbohong.


“A-aku hanya…sedang datang bulan.”


Datang bulan. Itulah yang terlintas di benak Raya.


“Tidak mungkin datang bulan sampai sakit seperti itu,” kata Mae yang terus saja mencibir.


“Iya, tadi kamu terlihat baik-baik saja, Raya. Kenapa sekarang mendadak sakit? Kamu pasti pura-pura kan?” Clara ikut menimpali.


“Hai, kalian mungkin melihat Raya baik-baik saja, tapi kalian tidak bisa merasakan seberapa sakit yang dia derita,” ucap Raka membela Raya dengan melirik dingin Clara.


Tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu, Raka langsung menggendong Raya seperti pasangan pengantin baru, yang sontak membuat Raya menjerit kaget.


Begitu pula Clara yang menyaksikan adegan Raka membopong gadis kampungan, tangannya terkepal kuat, seiring dengan rasa cemburu di dalam dada.

__ADS_1


“Di perusahaan ini ada peraturan yang memperbolehkan pegawai perempuan tidak bekerja jika sedang sakit datang bulan, dan peraturan itu berlaku untuk semua pegawai perempuan di Irawan Group, tidak terkecuali office girl,” terang Raka yang berlalu pergi menggendong Raya.


“Raka, tunggu!” teriak Clara berlari menyusul Raka.


Namun, usaha Clara sia-sia karena Raka berjalan cepat menuju tempat parkir.


Raka membuka pintu mobil dan mendudukkan Raya dengan paksa.


“Raka, kamu mau membawaku ke mana?”


“Ke rumah sakit. Mana lagi?” ucap Raka sambil memasangkan sabuk pengaman untuk Raya.


“T-tapi aku hanya sakit karena datang bulan. Tidak perlu ke rumah sakit segala, aku hanya butuh istirahat,” Raya memberontak ingin keluar dari mobil.


Akan tetapi lengan Raya ditahan sangat kuat oleh Raka yang kemudian menutup pintu dan berjalan ke kursi kemudi.


Raka segera melajukan mobil. Dari bayangan kaca spion, Raka melihat Clara ada di belakang mobil berteriak memanggil namanya. Namun, dia abaikan panggilan Clara itu.


Sial. Aku akan ketahuan bohong jika Raka membawaku ke rumah sakit. Raya membatin seraya melirik waswas pada orang yang tengah menyetir mobil dengan kecepatan penuh.


Raya berdecak memijit keningnya, memikirkan cara agar dia bisa kabur dari mobil Raka.


Dan adegan Raya sedang memijit keningnya, ditangkap oleh ujung mata Raka yang menoleh khawatir.


“Apa kepalamu juga pusing?”


Raya benar-benar dibuat pusing tujuh keliling dengan sikap Raka yang memberikan perhatian secara berlebihan.


“Tahan sebentar, aku akan mengebut.”


Kemudian, seketika Raya menegakkan duduknya karena di otaknya tercetus sebuah ide. Dia menyuruh Raka menghentikan mobilnya di depan sebuah klinik kecil yang dari luar tampak ramai.


Raya meminta Raka agar dia diperiksa di klinik itu saja. Tidak perlu ke rumah sakit. Sejenak, Raka gamang, tapi dia menurut saja apa yang diminta Raya.


Raka turun dari mobil, berjalan masuk ke dalam klinik, dan setelah beberapa saat berlalu, dia keluar lagi untuk menemui Raya yang masih berada di dalam mobil.


“Antriannya panjang sekali. Kamu yakin mau diperiksa di sini saja?” tanya Raka menampilkan wajah cemas.


Raya mengangguk sebagai jawaban.


“Di dalam klinik itu sudah tidak ada kursi tunggu yang kosong, jadi kamu di dalam mobil saja. Biar aku yang mendaftarkan namamu. Begitu giliranmu diperiksa, aku akan menjemputmu di sini.”


Raya mengangguk lagi sambil melengkungkan senyuman yang membuat Raka juga tersenyum dan mengusap lembut kepala gadis itu.


Lalu Raka kembali masuk ke dalam klinik. Di saat itu, Raya melancarkan aksinya, perlahan keluar dari mobil dan segera lari ke jalan.

__ADS_1


Tepat sekali ada taksi kosong yang kebetulan lewat. Raya menghentikan taksi itu, dan segera masuk ke dalam.


“Antar saya ke Luxury Hotel ya, Pak.”


“Baik, Nona.”


Taksi itu melaju meninggalkan klinik kecil yang ada Raka di dalamnya. Sekilas Raya menoleh ke belakang menatap mobil Raka yang terparkir di sana. 


“Maaf, Raka, aku terpaksa membohongimu,” gumam Raya lirih.


***


Di lobby Luxury Hotel, tampak Sunny yang sedang berjalan mondar-mandir menunggu kedatangan Kirana.


Sudah puluhan kali dia melirik jam tanganya, lalu berdecak kesal.


Tak lama, sebuah mobil taksi berhenti di tepi jalan tepat di depan hotel, dan seorang perempuan cantik turun dari sana.


Bibir Sunny yang tadinya mengerucut seketika mengembangkan senyuman melihat Kirana berjalan ke arahnya dengan sedikit berlari.


“Apakah mereka menungguku terlalu lama?” tanya Kirana.


Sunny menggeleng, “Tidak kok, Kak. Sadewa tengah mengobrol dengan para kolega sengaja untuk mengulur waktu.”


“Bagus. Kalau begitu ayo kita masuk.”


“Tunggu, Kak Kira. Apa Kakak akan rapat dengan seragam itu?” tanya Sunny menunjuk seragam office girl yang digenakan Kirana.


Plak.


Kirana menepuk jidatnya sendiri. Baru sadar dia masih menggunakan seragam office girl.


“Tenang, Kak Kira, aku sudah siapkan baju untukmu kok.”


Setelah mengganti baju, Kirana siap untuk memimpin rapat bersama kolega bisnisnya.


***


Sementara, di sebuah klinik, Raka berlari kecil menuju mobil karena sudah gilirannya Raya untuk diperiksa oleh dokter.


“Ray, sudah giliranmu untuk…”


Raka menghentikan perkataannya, sebab mobil itu kosong tak berpenghuni. Tak ada gadis bernama Raya di dalam sana.


Raka membanting pintu. Merasa dipermainkan, dia menendang ban mobilnya dan mendengus kesal.

__ADS_1


“Raya, kenapa kamu hobi sekali hilang?” geram Raka.


__ADS_2