
Kirana memandang penampilannya di cermin kamar mandi hotel. Perasaan tidak karuan mendera, jantung berdegup kencang, dan beberapa kali dia menarik nafas panjang.
Sesungguhnya dia malu sekali memakai lingerie berwarna ivory yang hampir selaras dengan warna kulitnya.
"Sama juga bohong. Aku serasa tidak memakai apa-apa," Kirana bergumam pada dirinya sendiri.
Namun, Kirana bertekad tetap akan keluar dari kamar mandi menggunakan lingerie itu. Meski malu, yang penting dapat membahagiakan Raka. Begitu lah pemikiran Kirana.
Kirana menepis rasa malu yang menghantam, keluar kamar mandi, dan berjalan menghampiri Raka yang duduk di ranjang dengan tatapan tak pernah berpaling dari pintu.
"Sayang," panggil Kirana untuk mengundang perhatian suaminya.
Raka hanya melirik sekilas pada Kirana, lalu kembali menatap pintu. Seolah pintu itu lebih menarik dibanding Kirana.
"Sayang, kenapa kamu…"
Kirana tak dapat melanjutkan ucapannya karena jari telunjuk Raka menekan bibirnya. Dia terheran akan tindakan Raka itu, terlebih saat Raka mengambil kimono dan memakaikannya pada Kirana.
Mungkinkah Raka tidak berselera menyentuhku? Kirana bertanya dalam hati sambil menelan kekecewaan.
"Kedua adikmu ada di balik pintu," bisik Raka sangat pelan.
"Hah? Serius?"
Raka tak menjawab. Dia menarik lengan Kirana, lalu mereka berdua sama-sama menempelkan telinga di daun pintu.
Dapat mereka dengar suara kasak-kusuk yang berasal dari luar. Seperti ada orang yang sedang berbisik di depan pintu.
Dan seketika Kirana mengenali suara orang itu. Tak salah lagi Nakula dan Sadewa ada di balik pintu.
"Apa yang sedang mereka lakukan?" Kirana bertanya pada Raka.
Namun, pria yang sekarang menyandang status sebagai suaminya itu sekali lagi menekan jari telunjuk. Memberi isyarat agar Kirana tetap diam.
"Nakula, kenapa di dalam sepi sekali? Apa mereka sudah tidur?" Sadewa menempelkan telinga di pintu.
"Sayang sekali. Padahal aku ingin memastikan malam ini mereka membuat anak atau tidak," ucap Nakula melakukan hal yang sama seperti Sadewa.
Kirana yang mendengar itu, langsung naik pitam. Bisa-bisanya Nakula dan Sadewa ingin menguping suara percintaan dia dan Raka.
Raka menepuk bahu Kirana, mencondongkan tubuh untuk berbisik di telinga wanita yang baru saja sah menjadi istrinya.
__ADS_1
"Sayang, mendesaahlah!"
Kirana tersentak mendengar permintaan Raka. Semburat warna merah terlihat jelas di kedua pipinya. Lalu dia menggelengkan kepala.
"T-tapi…"
"Ayo buat suara mendesaah. Seperti orang orang kepedasan."
Sesaat Kirana ragu. Sekali lagi dia melirik Raka dan pintu secara bergantian. Menarik nafas dalam, dan akhirnya dia memutuskan menuruti perintah Raka.
"A aa hh a aa hhh. Raka aku malu."
Wajah Raka tak menunjukan ekspresi apapun, tapi jakun nya naik turun, pertanda dia menelan salivanya dengan kasar.
"Teruskan!"
Suara desaahaan yang sengaja dibuat Kirana terdengar sampai keluar pintu. Di mana Nakula dan Sadewa langsung membelalakan mata, serempak menutup mulut mereka yang ingin sekali tertawa.
"Kau dengar itu, Nakula?"
"Mereka sedang…"
"Raka, sudah. Aku malu."
"Lagi, Sayang. Lebih keras!"
Percakapan singkat itu terdengar oleh Nakula dan Sadewa. Mereka cekikikan, mengira sepasang pengantin baru di dalam sana sedang melakukan pergulatan panas.
"Ya ampun. Kak Raka ketagihan," ucap Nakula heboh.
"Eh, eh tunggu. Kok tiba-tiba sepi? Apa sudah selesai?" kata Sadewa menyipitkan mata.
"Iya. Kok sepi. Masa sih cuma sebentar saja," Nakula menimpali.
Mereka sama-sama merapatkan diri ke pintu. Dan tiba-tiba, pintu yang menjadi sandaran mereka mengayun terbuka. Alhasil Nakula dan Sadewa jatuh terjungkal di lantai.
Si kembar serempak mendongak, menatap Kirana dan Raka yang memandang mereka sembari memasang muka galak. Kirana melipat tangan dengan satu kaki mengetuk-ketuk lantai.
Lalu si kembar lekas berdiri, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ternyata Kirana dan Raka masih memakai baju, tempat tidur masih rapi. Tidak ada tanda-tanda telah terjadi pertempuran.
Si kembar sadar bahwa suara yang mereka dengar tadi sekedar jebakan untuk mereka.
__ADS_1
"Sedang apa kalian?" tanya Kirana ketus.
"Oh, kita hanya sedang…sedang…" Nakula menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Berdebat."
"Berdebat?" Kirana menaikan alisnya.
"Iya, berdebat. Apakah pintu ini terbuat dari kayu jati atau kayu mahoni. Iya kan, Nakula?" Sadewa ngeles sambil tangannya mengusap pintu.
Karena tak ada reaksi dari Nakula, membuat Sadewa buru-buru menendang kakinya.
"Oh, iya iya. Kita sedang berdebat soal pintu."
"Terus, sudah dapat jawabannya?" kini Raka yang bertanya. Menaikan alisnya sebab dia tahu si kembar hanya mencari alasan.
"Sudah. Aku rasa pintu itu terbuat dari kayu albasia," Nakula menjawab dengan gugup.
"Pergi kalian!"
Kirana menghela nafas, mendorong paksa tubuh si kembar, lalu menutup pintu tepat di hidung kedua adiknya.
Nakula dan Sadewa pun pasrah berjalan. Mereka tidak pulang ke rumah. Melainkan memesan kamar hotel juga seperti yang dipesan oleh sepasang pengantin baru. Begitu pula Alexa dan Balin.
"Kenapa kalian belum tidur?"
Si kembar terlonjak kaget melihat Alexa sudah ada di depan mereka sambil melipat tangan.
"Jangan bilang kalian mengganggu malam pertama Kirana dan Raka!"
"Mama, kami hanya penasaran."
"Masuk ke kamar kalian!" titah Alexa melototkan mata.
Si kembar menghela nafas panjang. Sudah dimarahi Kirana, sekarang kena marah Alexa pula. Dengan menundukan kepala, mereka berjalan masuk ke kamar masing-masing.
Alexa terus berdiri memastikan kedua putra jahilnya masuk kamar. Setelah itu, Balin menyembulkan kepala dari balik pintu.
Rambut Balin basah, pertanda dia selesai mandi, hanya dengan memakai bathrobe, dia menarik lengan Alexa untuk masuk ke dalam kamar.
"Kau sudah amankan si kembar?" Balin bertanya yang dibalas Alexa dengan anggukan kepala.
"Bagus. Sekarang kita tidak akan diganggu oleh duo tuyul itu."
__ADS_1