
Sadewa melirik Kirana dan Raka secara bergantian. Dia langsung mengambil inisiatif membantu menyembunyikan rahasia sang kakak.
Lantas Sandewa menepuk pundak Raka.
“Dia Kak Kirana. Wajahnya mirip seperti Raya kan? Tapi seperti yang dahulu aku bilang, Kak Kira lebih imut.”
Kirana melotot pada Sadewa yang memberinya lirikan seolah berkata, ‘Tenang! Rahasia Kakak aman.’
Lalu Sadewa tersenyum bangga akan dirinya sendiri yang mengira telah berhasil membantu Kirana.
Apa-apaan, Sadewa ini. Aku justru mau mengungkapkan rahasiaku sekarang.
“Dia Raya,” kata Raka tegas setelah manik matanya menangkap rona merah di pipi Kirana.
“Pipimu merah karena ditampar oleh Mommy, kan?” tanya Raka pada Kirana.
“Dia Kirana. Bukan Raya. Aku tahu kamu sangat mencintai gadis itu, tapi bukan berarti kamu membayangkan semua wanita berwajah Raya,” ucap Sadewa mencekal tangan Raka yang ingin menghampiri kakaknya.
“Aku yakin dia Raya,” debat Raka bersikeras.
Kirana menghela nafas, maju mendekat pada dua pria yang sedang berdebat, lalu berkata dengan suara tegas, “Aku Kirana dan aku juga Raya.”
“Apa?” Raka dan Sadewa tersentak bersama-sama.
Raka terkejut akan pengakuan Kirana. Sedangkan Sadewa terkejut karena tak percaya Kirana akan mengungkapkan jati dirinya pada Raka saat itu juga.
“Apa maksud dari semua ini? Kau membohongiku?” cecar Raka dengan sorot mata yang tak dapat diartikan.
Meskipun banyak pertanyaan di benak Raka, dia lebih memilih berputar, berjalan melintasi halaman dan segera masuk ke dalam mobil. Dia tak ingin mendengar penjelasan dari Kirana.
Bagi Raka ini sangat sulit diterima olehnya.
“Raka, aku mohon dengarkan penjelasanku dulu,” seru Kirana berlari mengejar Raka.
Tepat saat Raka menyalakan mesin mobil, Kirana menyusup masuk dan duduk di kursi samping pengemudi.
Secepat kilat Raka melayangkan lirikan tajam pada Kirana. Nafas Raka memburu selaras dengan jantungnya yang berpacu cepat.
Seluruh tubuh Raka dikendalikan oleh amarah mengetahui selama ini dia begitu bodoh dibohongi oleh wanita yang dia cintai.
“Turun dari mobilku, Nona!” perintah Raka.
__ADS_1
Bukannya menuruti perintah, Kirana malah memasang sabuk pengaman.
“Turunkan saja sendiri,” jawab Kirana menantang.
“Kau tahu rasanya dibohongi? Kamu marah? Itu yang kini aku rasakan,” seru Raka dengan bibir yang gemetar.
“Dengarkan aku, Raka! Aku bukan bermaksud menyakitimu. Semalam dan tadi pagi, aku ingin mengatakannya padamu, tapi selalu saja ada halangan,” jelas Kirana mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan Raka.
Kirana menatap lekat dua bola mata yang mengisaratkan kemarahan. Dia tahu dia salah, dan kini dia ingin memperbaiki semuanya.
Tangan Kirana terulur bertumpu dengan tangan Raka yang menggenggam stir mobil. Dia bisa merasakan ujung jemari yang dingin. Sedingin tatapan pria itu.
Lama mereka menghabiskan waktu hanya dengan saling menatap satu sama lain.
“Aku minta maaf. Asal kamu tahu, aku sangat bahagia dicintai olehmu yang melihatku sebagai gadis biasa.”
Suara Kirana terdengar serak, membuat dia berdeham pelan. Perlahan pandangannya buram karena kini mata indahnya telah menggenang.
“Sejak dulu, aku sering bertemu dengan orang-orang yang segan dan menghormatiku, tapi aku tahu beberapa dari mereka bermuka dua. Mereka hanya memanfaatkan aku.”
Samar-samar raut wajah Raka berubah mengendur. Dia mengatur nafas dan mengontrol emosinya yang berkecamuk.
Kirana mengerjapkan mata, bersamaan dengan jatuhnya satu bulir bening membasahi pipi.
“Hanya kamu.”
Bagaimana pun marahnya Raka, dia paling tidak mampu melihat gadis yang dicintainya menangis.
Dia memilih membuang muka, dan Kirana segera menghapus jejak air mata.
“Apa hanya karena itu, kamu menyamar menjadi office girl di perusahaan ayahmu sendiri?” Raka bertanya masih memalingkan wajah.
Kirana menggeleng.
“Tujuan utamaku untuk menemukan seorang mata-mata yang bekerja di Irawan Group.”
Sekilas Raka menyeringai, dan mendengus pelan.
“Pasti kamu mencurigaiku kan? Apa aku sejahat itu di matamu?”
“Pada awalnya, aku memang mencurigaimu, tapi kini aku tahu siapa orang itu.”
__ADS_1
Kirana menarik pelan lengan Raka, menuntun agar pria itu menatapnya.
“Raka, aku butuh bantuan darimu.”
“Bantuan apa?”
***
Amanda dan Clara sedang menguyah makanan makan siang berdua. Tangan kanan Clara yang dibalut gips menyulitkannya untuk menyendok makanan sendiri.
Sehingga dia meminta Amanda yang menyuapinya, membuat Clara mirip sekali bayi besar yang manja.
Tiba-tiba kedua wanita berbeda generasi itu terlonjak kaget yang disebabkan oleh suara gebrakan pintu.
Baik Amanda dan Clara serempak menoleh ke arah sumber suara. Ternyata si pelaku penggebakan pintu adalah Raka.
Dia berjalan menghampiri Amanda dan Clara. Dari raut wajahnya masih menampilkan rasa marah yang mendalam.
“Mom, aku ingin pertunanganku dengan Clara dipercepat.”
Mendengar ucapan itu, Amanda dan Clara saling lirik tak percaya, senyum mengembang di bibir mereka. Terlebih Clara yang langsung berdiri dan bergelayut manja di lengan Raka.
“Kenapa mendadak sekali kamu ingin pertunganmu dipercepat?” Amanda bertanya dengan dahi mengkerut.
“Aku kecewa dengan Raya. Dia telah membohongiku,” ucap Raka tegas.
Clara terlonjak senang. Lalu dia semakin mempererat lengan yang melingkar di pinggang Raka meskipun reaksi pria itu diam saja.
Akhirnya kamu sadar juga, Raka. Kamu sadar jika Raya cuma memanfaatkan hartamu saja kan?
Clara menarik nafas lega.
Mungkin pelet dari Raya sudah mulai tidak mempan.
“Berarti pertunangan kalian akan dimajukan menjadi besok. Bagaimana?” kata Amanda menatap Raka dan Clara bergantian.
Raka menggelengkan kepala.
“Aku mau pesta pertungangan kita diadakan nanti malam,” Raka berkata dan segera masuk ke dalam kamar.
Sedangkan Amanda dan Clara masih terdiam, bak tersambar petir, mereka tak percaya pada indra pendengaran mereka sendiri.
__ADS_1