Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
12. Aku Tidak Bisa Menahannya


__ADS_3

Raka dan Raya saling memisahkan diri, menunduk hormat pada Nakula yang tiba-tiba saja ada di hadapan mereka.


“Maaf, Tuan Nakula.”


Nakula sendiri menatap Raka dan Raya secara bergantian. Dia memilih diam saja, tidak mau mengganggu urusan pribadi Raya. 


Dia merasa lebih sayang pada kakinya yang pasti akan menjadi sasaran empuk untuk diinjak oleh sang kakak.


“Raka, ke ruanganku sekarang! Ada yang ingin aku sampaikan,” ucap Nakula.


Kemudian Nakula berlalu pergi, meninggalkan sepasang anak adam dan hawa yang sama-sama gugup.


Tanpa berbicara apa pun pada gadis yang hampir saja dia cium, Raka segera menyusul Nakula menuju ruangannya.


***


Hari ini Raka bekerja lembur karena banyak sekali tugas yang harus diselesaikannya. Suasana kantor telah sepi. Hanya ada dia dan beberapa staf security yang masih betah di sana.


Raka meregangkan badannya, melirik sekilas pada jam tangan yang melingkar di pergelangan lengan, dan dia pun terkesiap mendapati saat ini sudah hampir larut malam.


Maka Raka memutuskan untuk membawa pekerjaannya ke rumah. Besok hari libur, Raka ingin semua pekerjaan tuntas hari ini juga. Agar dia dapat tenang menikmati waktu liburnya.


Dia mengemasi berkas dan juga laptop. Setelah itu keluar dari ruangannya, melewati koridor kantor yang sepi dan remang.


Hingga ketika dia berjalan, kaki Raka tersandung sebuah benda entah apa itu.


Raka memicingkan mata untuk dapat melihat dengan jelas. Dan ternyata benda yang membuatnya tersandung adalah sebuah kaki dari seorang gadis.


“Raya?” ucap Raka yang terperangah mendapati Raya tertidur dengan posisi terduduk di lantai.


Tubuh Raya bersandar pada dinding, dia masih memakai seragam office girl, dan ada tas ransel tergeletak di samping tubuh wanita itu.


“Astaga. Kamu tidur atau pingsan?” tanya Raka yang tentu saja tidak akan dijawab oleh Raya.


Raka menepuk pipi Raya agar gadis itu bangun, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Malah Raka mendengar suara dengkuran kecil dari Raya yang tetap terpejam.


“Dia benar tidur. Tapi bisa-bisanya dia tidur di lantai seperti ini?”


Raka teringat siang tadi dia mendapati Raya dengan wajah yanga sangat kelelahan. Mungkin itu sebabnya dia tertidur tanpa memandang tempat dan waktu.


Sekali lagi, Raka mencoba membangunkan Raya. Tapi tak ada tanda-tanda gadis itu terbangun. Maka Raka tak ada pilihan lain selain membawa Raya ke dalam mobilnya.


Raka mengalungkan tas ransel milik Raya ke lengannya. Lalu menggendong tubuh Raya. Berjalan menuju mobil dan meletakkan Raya di kursi depan.

__ADS_1


“Tunggu! Aku kan tidak tahu tempat tinggal Raya di mana. Aku coba buka tasnya. Mungkin ada nomor telepon dari salah seorang keluarga.”


Tangan Raka masuk merogoh isi dalam tas ransel Raya. Hingga tiba-tiba tangannya menangkap sebuah benda yang seperti gundukan bukit.


Dan betapa bodohnya Raka, dia malah menarik keluar benda itu yang ternyata adalah sebuah bra berwarna merah maroon.


“Sial, kenapa dia bawa benda ini ke tempat kerja?”


Raka berdecak kesal, memasukkan lagi bra itu ke dalam tas. Dia enggan membuka tas seorang wanita. 


Lalu dilemparkannya tas itu bergabung bersama berkas dan laptop Raka yang ada di kursi belakang.


“Ray, Raya, Bangun! Hai, katakan di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu pulang,” kata Raka mengguncangkan badan Raya.


Namun, tubuh gadis cantik itu layaknya telah diberi obat tidur. Tak membuka mata sedikit pun. Membuat Raka mendesah frustasi. Dia juga lelah ingin sekali pulang ke rumah. 


“Aku tidak punya pilihan lain, selain membawamu pulang ke rumahku.”


***


Raka memarkirkan mobil di bagasi rumahnya. Pertama dia membawa barang-barang ke dalam kamar, kemudian kembali lagi untuk menggendong Raya.


Di rumah itu sepi seperti biasa. Amanda sudah tidur dan ART yang bekerja di rumah Raka sedang pulang kampung.


Lalu dia sendiri masuk ke kamar mandi. Sudah menjadi kebiasaan Raka mandi selepas pulang bekerja. Membasuh badannya yang lengket oleh keringat.


Begitu keluar dengan rambut yang basah dan handuk melilit di pinggang, Raka mendapati gadis yang terbaring di tempat tidurnya tidak berubah posisi sedikit pun dari sejak dia masuk ke kamar mandi.


Raka duduk di tepi ranjang, memandang wajah Raya yang tampak tenang, lalu mencondongkan badannya untuk lebih dekat dengan Raya.


“Kamu masih bisa tidur dalam kondisi badanmu yang kotor dan lengket,” gumam Raka.


Kemudian terlintas di benak Raka berinisiatif untuk mengganti baju Raya yang kotor. Tangan Raka dengan sigap membuka kancing baju teratas, berlanjut ke kancing baju ke dua. Ke tiga. 


Seketika Raka dibuat membeku saat dia melihat belahan mont*k buah dada gadis itu. Dia kembali tersadar, dan secepat mungkin menarik selimut hingga menutupi leher Raya.


“Apa yang kamu lakukan, Raka? Sadarlah!” ucap Raka pada dirinya sendiri.


“Masa bodoh, dia mau tidur dalam kondisi apa pun juga. Jangan pedulikan dia!”


Kemudian Raka memakai kaos dan celana rumahannya. Dia duduk di sofa yang ada di sudut kamar, melanjutkan pekerjaan kantor yang sempat tertunda.


Namun, perhatiannya selalu saja teralihkan oleh Raya yang tidur di atas ranjang. Beberapa kali dia melirik ke arah sana.

__ADS_1


“Kasihan. Dia kelelahan sampai tertidur, tapi badan dia lengket dan bajunya juga kotor. Apa dia nyaman tidur seperti itu?”


“Sayang sekali Bibi sedang pulang kampung. Mommy juga sudah tidur jam begini. Apa yang harus aku lakukan?”


Itu yang terus dipikirkan oleh Raka. Sampai-sampai dia tidak bisa fokus pada tumpukan tugasnya.


Akhirnya Raka mengambil sebuah keputusan.


“Oke, biar aku tenang. Aku akan mengelap badan Raya tanpa harus membuka pakaian dalamnya. Yah, mungkin itu yang terbaik.”


Raka mengambil baju tidur milik ibunya dengan model daster agar mudah saat dipakaikan, berikut juga baskom yang berisi air hangat, handuk bersih dan sebuah waslap.


Kemudian Raka menyibakan selimut yang membungkus badan Raya. Mula-mula dia mengelap area wajah, sambil berharap gadis itu terbangun oleh kain waslap yang basah.


Akan tetapi Raya hanya menggeliat dan memiringkan badannya tanpa membuka mata.


“Astaga, dia tidur seperti kerbau,” gumam Raka.


Lanjut Raka menyeka lengan. Lalu dia memalingkan wajah saat tangannya membuka seragam office girl yang dipakai Raya. 


Seketika tubuh Raka berdesir hebat, dia menelan salivanya dengan susah payah melihat tubuh ramping yang hanya tertutup di bagian dada. Juniornya berdiri tegak tanpa diminta. 


Lalu dia melanjutkan mengelap di bagian badan.


Secepat mungkin, Raka memakaikan daster yang panjangnya menutupi betis Raya, baru setelahnya, dia menurunkan celana kerja dan terakhir membersihkan kaki jenjang seindah porselen itu.


“Sudah cukup!” seru Raka membanting kain waslap ke dalam baskom, hingga air di dalamnya terciprat ke mana-mana.


“Kamu selalu saja mendatangkan masalah bagiku, Raya.”


Raka mendengus, lalu kembali ke pekerjaannya. 


Sekarang otak Raka sudah tenang dan bisa untuk dipakai menyelesaikan tugas kantor. Tapi tidak dengan juniornya.


“Sial,” rutuk Raka sebisa mungkin menahan hasrat yang ada di dalam dirinya. 


Selama ini Raka belum pernah tidur dengan wanita mana pun. Sering kali Clara menggoda mengajak Raka untuk melakukan hubungan yang tak senonoh, masih bisa dia tolak mentah-mentah.


Tapi berbeda dengan Raya. Hanya gadis itu yang dapat membangunkan gairahnya.


Hingga semua pekerjaan telah beres, dan Raka menutup laptop, godaan itu semakin menggebu-gebu. 


Badan dan pikiran Raka letih. Bagaikan terhipnotis, dia berjalan lalu merebahkan diri di samping Raya.

__ADS_1


“Aku tidak bisa menahannya lagi, Ray,” gumam Raka menatap wajah cantik di hadapannya.


__ADS_2