Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
76. Karma


__ADS_3

Kirana dan Raka kini telah berada di mobil dalam perjalanan pulang ke villa. Sambil menyetir, Raka sesekali melirik pada istrinya yang duduk di sampingnya.


Kirana sendiri membuang muka melihat keluar jendela. Bukan karena marah, tapi dia sedang mengusir rasa malu.


Bagaimana tidak malu? Mereka baru saja melakukan percintaan singkat di sudut sepi rumah sakit. Untung mereka tidak kepergok orang lain.


Tak mau melihat sang istri memalingkan muka, Raka pun memiringkan badan, mendaratkan kecupan di pipi, yang membuat perhatian Kirana beralih padanya.


"Raka, fokus menyetir!" titah Kirana dengan nada kesal.


Raka tak menghiraukan perintah Kirana. Bahkan kecupan Raka berpindah ke daun telinga, lalu menelusuri leher sambil ekor matanya terus melirik ke jalanan.


"Raka, hentikan!"


Seakan tuli, Raka tetap melanjutkan aktivitasnya.


Hingga tiba-tiba sekelebat bayangan berlari cepat melintasi jalan. Secepat mungkin Raka menginjak rem, yang membuatnya terhuyung ke depan.


Bola mata Kirana dan Raka membelalak. Jantung mereka berdebar kencang akibat kejadian yang baru saja mereka alami.


"Kirana, aku menabrak orang," ungkap Raka. Nada penyesalan dan tak percaya bercampur dalam suara beratnya.


"Tuh kan, aku bilang juga apa? Memangnya tidak bisa menunggu sampai villa?" cecar Kirana.


Kirana dan Raka serempak melepas sabuk pengaman, turun dari mobil untuk melihat kondisi orang yang mereka tabrak.


Orang itu seorang wanita dengan rambut tebal yang menutupi wajah. Kirana dan Raka tersentak, begitu Kirana berjongkok untuk menyibak rambut wanita itu.


"Clara?"


Kirana menoleh pada Raka yang mengetatkan rahang. Raka mengedarkan pandangan ke sekeliling, memastikan tak ada orang yang melihat mereka.


Tanpa mengatakan apa-apa, Raka menarik lengan Kirana untuk masuk kembali dalam mobil. Namun, Kirana melepaskan tangannya.


"Kirana, biarkan saja dia mati di pinggir jalan."


"Tapi,Raka."


"Kirana, inilah yang disebut dengan karma. Biarkan Clara merasakan buah dari apa yang telah dia perbuat. Ayo cepat masuk!"


"Kamu saja yang pergi, aku akan tetap membawa Clara ke rumah sakit," ucap Kirana tegas.


Raka terpaku, menatap Kirana dengan binar mata yang sulit diartikan. Tak lama dia menghela nafas.

__ADS_1


Kalau bukan karena kemauan sang istri, Raka tak sudi melakukan ini.


"Oke, kita bawa dia ke rumah sakit. Tapi jangan pakai mobilku!"


"Kenapa? Bukankah lebih cepat jika kita…


"Aku tidak sudi mobilku tersentuh oleh wanita iblis seperti dia!" seru Raka menyela ucapan Kirana.


Manik mata Raka telah memancarkan kemarahan, lalu melirik tubuh yang tergolek di jalan beraspal dengan tatapan jijik.


Sementara Kirana mengambil ponselnya, menelepon ambulance untuk segera datang ke lokasi mereka berada.


Selepas itu, Raka dan Kirana masih sama-sama diam. Lalu Raka maju satu langkah mendekati istrinya.


"Kirana, kau ingat? Wanita ini yang sudah membunuh adikku, dan dia juga berniat mencelakai papa kamu. Kenapa kamu malah menolongnya?"


Dada Raka naik turun teringat akan kejahatan yang pernah dilakukan Clara. Namun, perlahan amarah di dalam dirinya pudar saat tangan Kirana menyentuh dada bidangnya.


"Aku hanya tidak mau suamiku menjadi seorang pembunuh."


Samar-samar terdengar raungan sirine ambulance yang semakin lama semakin jelas terdengar.


***


Clara mengerjapkan mata. Sekujur tubuhnya sakit dan lemas tak mampu untuk berdiri.


Clara meringis saat berusaha untuk duduk.


"Dia sudah bangun. Ayo kita pergi dari sini!" ajak Raka menarik lengan Kirana.


Namun, wanita pemilik rambut panjang itu tak bergeming. Tatapannya bertemu dengan tatapan Clara di tempat tidur.


"Raka," Clara memanggil dengan suara lemah, tangannya terjulur ingin disambut oleh pria yang kini tengah menahan amarahnya.


"Mau apa kau kemari? Merusak suasana bulan maduku dengan Kirana?"


Clara menggeleng sebagai jawaban.


"Aku juga tidak tahu kalian akan berbulan madu ke sini."


Raka menghela nafas panjang. Sekilas melirik Kirana yang berada tepat di sampingnya. 


Jika seandainya tidak ada Kirana, mana mungkin Raka akan sudi membawa Clara ke rumah sakit, dan menunggunya hingga siuman seperti saat ini.

__ADS_1


Sementara itu, Clara menangkupkan kedua tangan. Dia ingin sekali memohon ampunan pada Raka atas apa yang telah dia perbuat.


"Raka, aku minta maaf. Tolong jangan masukan aku ke penjara! Aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi, asalkan kau mau mencabut tuntutannya."


Raka membuang muka. "Sudah tidak ada kata maaf untukmu."


Clara berpaling pada Kirana. "Kirana, kau istri Raka sekarang. Raka pasti akan memenuhi semua permintaan darimu. Aku mohon, Kirana. Aku mohon bujuk Raka untuk mau memaafkanmu."


Kirana maju hendak mendekati Clara. Namun, lengan Raka menghalangi langkahnya.


"Jangan mendekat, Sayang! Dia wanita kotor menjijikan."


Tau mau membantah, akhirnya Kirana berbicara dengan Clara dari tempatnya berdiri.


"Aku tidak bisa, Clara," ucap Kirana singkat.


"Kirana, aku mohon. Aku ini adik sepupumu. Kau tega melihat aku menderita."


"Aku tidak punya kuasa apa-apa, Clara. Meski Raka suamiku, tapi dia memiliki perasaan yang tidak dapat aku atur semauku."


Hening sesaat. Ujung mata Clara telah menggenang saat mendengar ucapan Kirana. Pupus sudah harapannya untuk dapat bebas.


"Menghindari masalah hanya akan membuat masalahmu bertambah berat. Kau harus menghadapinya, Clara."


Clara menunduk dan memeluk kedua lututnya yang ditekuk dan mulai menangis. Dia tak mau mengakui, tapi nasehat Kirana ada benarnya.


Dia akan dihukum atas kematian Ray, percobaan pembunuhan terhadap Tuan Balin, pemakai narkoba, dan belum lagi dirinya yang mencoba kabur, akan menambah berat hukumannya di mata hukum.


Itu tidak seberapa, Clara juga harus menanggung hukuman dengan dirinya terkena penyakit yang ditularkan oleh Kevin.


Clara terus menangis. Meski Raka melarang, Kirana tetap duduk di kursi samping tempat tidur. Dia menatap lekat adik sepupunya yang tak pernah dia kenal sebelumnya.


"Aku yakin kamu bisa melewati semua masa sulit ini, Clara."


Clara mengangkat kepalanya, menyeka pipi yang basah, lalu menoleh pada Kirana.


"Baik, kalau itu yang kalian mau. Aku akan menjalani hukumanku. Tapi dengan satu syarat."


Kirana menaikan alis menunggu Clara meneruskan ucapannya.


"Anggap aku saudaramu dan jenguk aku selama aku dipenjara."


Raka mendengus. "Jangan harap kita akan menemuimu lagi! Masih untung kau dibawa ke rumah sakit, dan…"

__ADS_1


Tapi perkataan Raka terpotong oleh Kirana yang menjawab, "Baik. Aku akan kulakukan."


"Kirana!" seru Raka tak percaya.


__ADS_2