Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
68. Kondisi Amanda


__ADS_3

Kirana dan Raka berada di butik untuk fitting baju pengantin.


Pesta pernikahan mereka telah disiapkan oleh orang-orang kepercayaan Balin. Kirana dan Raka tinggal terima beres. Hanya saja untuk masalah baju pengantin, Kirana ingin memilih sendiri.


Sudah ada tiga gaun yang dicoba Kirana. Namun, belum ada yang cocok menurut gadis itu.


"Raka, bagaimana menurutmu?"


Kirana bertanya sambil memamerkan baju pengantin yang dipakai. Sebuah gaun dengan pita besar menghiasi bagian depan.


"Bagus," jawab Raka singkat.


Kirana memberengut, sebab Raka tampak tidak bersemangat setiap kali diminta pendapat.


Raka yang sedang duduk di sofa, beberapa kali kedapatan sedang melamun dan tidak mendengarkan Kirana berbicara.


Lalu Kirana memutar badan menghadap ke sebuah cermin besar. Dia mengamati bayangannya sendiri lalu menggeleng.


"Sepertinya kurang cocok untukku."


Kirana masuk lagi ke dalam kamar ganti. Dengan dibantu oleh Alea dan beberapa pegawai butik lain, Kirana memakai gaun pengantin yang lain.


Setelah beberapa saat, Kirana melangkah keluar dari kamar ganti. Kini dia memakai gaun putih bermodel off shoulder mengekspos bahunya yang telanjang, dengan rok lebar menyapu lantai.


Kirana mengulum senyum di depan Raka, dan meminta pendapat dari calon suaminya.


"Kalau yang ini?"


"Bagus, Sayang."


Lagi-lagi Raka hanya menjawab dengan nada datar, membuat Kirana menghela nafas.


Dia menilai sendiri penampilannya, lalu memutuskan untuk memilih gaun itu. Selepas berganti pakaian, dia duduk di samping Raka berniat meminta penjelasan akan sikapnya yang berbeda.


Kirana menggenggam tangan Raka, yang menjadikan pria itu menoleh.


"Apa ada masalah?"


Raka tersenyum, meski kentara sekali jika senyum itu dipaksakan.


"Sedikit."


"Oh ya, ngomong-ngomong, mengapa kamu tidak mengajak Mommy untuk ikut fitting baju?"


"Mommy tidak akan hadir ke pesta pernikahan kita," sahut Raka membuat wajah Kirana mengerut bingung.

__ADS_1


"Kenapa? Apa Mommy masih belum mau menerimaku?"


Raka menggeleng.


"Bukan. Bukan itu masalahnya."


"Lalu?"


"Mommy kembali mengalami depresi. Bahkan lebih parah dari sebelumnya."


Genggaman tangan Kirana semakin kuat, setelah tahu penyebab Raka termenung.


"Kita ke rumahmu sekarang. Aku ingin menemui Mommy."


"Mommy tidak berada di rumah," ungkap Raka.


"Lalu Mommy ada di mana sekarang?"


***


Terkejut dan prihatin. Itulah yang dirasakan Kirana saat Raka membawanya ke sebuah rumah sakit jiwa.


Begitu mereka berada di pelataran rumah sakit, Kirana langsung paham akan apa yang telah terjadi pada Amanda. Meskipun pernah berlaku kasar, Kirana tetap merasa kasihan pada wanita paruh baya yang sebentar lagi akan menjadi ibu mertuanya.


Raka menuntun Kirana berjalan di lorong rumah sakit. Langkah kaki membawa mereka ke taman. Di sana mereka melihat Amanda duduk di bangku sambil ditemani oleh perawat wanita.


"Mom,"


Amanda mendongak, bibirnya melengkungkan senyuman manakala melihat Raka dan Kirana.


"Raka, Kirana, kalian datang kemari?"


"Kami datang untuk menjenguk Mommy," jawab Raka.


Kemudian Raka melirik pada Kirana yang perlahan menghampiri dan duduk di samping Amanda.


Binar kepedihan tergambar jelas di mata Kirana. Tak menyangka nasib Amanda akan berakhir seperti ini.


"Kirana, lihat! Mommy habis beli kalung mutiara. Mahal lho ini," Amanda berkata sembari memperlihatkan kalung mutiara imitasi.


Kirana diam tak menggubris perkataan Amanda. Sejak tadi dia hanya memandang wajah Amanda dengan mata berkaca-kaca.


"Geng bunder pasti menyesal sudah mengeluarkan Mommy."


Kemudian, Amanda memutar duduknya menghadap perawat yang menemaninya.

__ADS_1


"Sus, apa ada telepon dari Ray?"


"Tidak ada, Bu."


Amanda tampak kecewa, membuang nafas kasar sekaligus memanyunkan bibir. Sedangkan Kirana melempar pandangan pada Raka yang juga sama-sama memperlihatkan wajah sendu.


"Ray itu sedang pergi berlibur ke Afrika. Mungkin di sana susah sinyal jadi tidak kunjung menelepon Mommy," gumam Amanda memandang kosong awan yang menganak di langit.


"Kirana, nanti kalau Ray sudah pulang, kita jalan-jalan ya? Kamu mau ke mana? Dubai, Paris, New York, atau…"


Amanda berpikir sambil mengetuk-ketukan jari ke kening. Tak lama dia menjentikan jari sambil tersentak menegakkan punggung.


"Atau kita pegunungan Himalaya. Kita mendaki gunung di sana."


Amanda tertawa renyah, tak peduli jika Raka dan Kirana tak menggubris perkataannya. Dia menepuk pundak Kirana.


"Tenang saja. Ray tahu banyak tentang cara bertahan hidup di alam bebas."


Amanda menghela nafas, berhenti tertawa, dan kembali melamun.


"Ray pasti pulang. Dia sudah janji akan membelikan anting berlian untuk Mommy."


Waktu berlalu dengan ocehan Amanda yang tak henti-hentinya membahas Ray. Hingga tiba-tiba Amanda bangkit berdiri, matanya melotot dan tangan terkepal.


Perubahan sikap Amanda mengundang tanda tanya di benak Kirana dan Raka. Mereka mengikuti arah pandang Amanda yang tertuju pada gadis bergaya rambut mirip seperti Clara.


Tampaknya gadis itu merupakan pengunjung yang juga sedang menjenguk seseorang. Dia berjalan melintasi taman dengan disoroti oleh tatapan tajam Amanda.


Kirana langsung mengerti. Dia segera menahan lengan Amanda yang ingin menghampiri gadis tadi.


"Itu Clara, kan?" tanya Amanda mengacungkan jari telunjuk.


"Bukan, Mom. Itu bukan Clara," kata Kirana menyakinkan Amanda.


"Tapi, Mommy yakin itu Clara. Mau apa dia datang kemari? Dia sudah membuat Ray pergi, Mommy harus memberinya pelajaran," Amanda meraung tak terkendali.


Dia berteriak memanggil nama Clara disertai sumpah serapah. 


Perawat yang berjaga tidak dapat menenangkan Amanda. Bahkan Amanda semakin menggila dengan memukul sang perawat. Menjadikan seorang dokter turun tangan dan menyuntikan obat penenang.


Setelah itu, Amanda dibawa ke kamarnya.


Tersisa Kirana dan Raka di taman rumah sakit. Kirana memutar badan menatap Raka. Hanya dengan melihat manik mata, Kirana sudah tahu betapa pedih luka di hati Raka.


Kirana berjalan menghampiri, melingkarkan lengan di pinggang Raka yang dibalas dengan satu lengan Raka memeluk bahu Kirana.

__ADS_1


"Raka, kau tidak sendiri. Kau masih memiliki aku, dan sebentar lagi kau juga akan memiliki keluarga baru."


Raka mengulum senyum, meski sorot matanya menampilkan kepedihan. Dia merasa menjadi pria yang paling beruntung dapat memiliki Kirana.


__ADS_2