Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
81. Bonchap - Perjodohan Sadewa Dan Sunny


__ADS_3

Sadewa mengikuti langkah Alexa dan bergabung bersama Balin yang sedang berbincang dengan Frans. Lalu Sadewa duduk saat Alexa menyuruhnya.


Sadewa menoleh kanan kiri, mencari keberadaan sosok wanita yang katanya akan dijodohkan dengannya.


Semantara itu, Sunny yang duduk di antara kedua orang tuanya mengusap tengkuk. Dia merasa hawa yang tidak mengenakan.


"Papa, mana wanita yang akan dijodohkan denganku?" tanya Sadewa pada Balin.


Tapi yang menjawab bukan sang ayah, melainkan Alexa yang mencondongkan tubuh mendekati Sadewa dan berbisik, "Dia ada di depanmu, Dewa."


Sadewa memutar kepalanya menghadap pada Cindy. Kemudian menoleh lagi pada Alexa.


"Maksud Mama, aku akan dijodohkan dengan Tante Cindy. Astaga, Ma, Tante Cindy kan sudah menikah."


"Astaga kamu itu bodoh atau apa, hah?" Balin ikut menimpali saat mendengar Sadewa dan Alexa saling berbisik.


Sadewa memutar duduknya mengarah pada sanga ayah. "Maksud Papa apa?"


"Wanita yang akan dijodohkan denganmu itu Sunny."


"Apa?" pekik Sadewa dan Sunny bersamaan.


Mereka berdua serempak melototkan mata dan saling beradu pandang dengan mulut menganga.


Secepat kilat Sadewa menggelangkan kepala. Berusaha menyakinkan diri jika yang dialaminya saat ini hanyalah mimpi.


Namun, setelah mencubit lengannya sendiri, dia percaya jika perjodohan dengan Sunny memang nyata adanya. Segera Sadewa bangkit berdiri untuk melayangkan protes pada Balin.


"Papa, aku tidak mau menikah dengan nenek sihir!"


Sunny juga ikut berdiri.


"Aku juga. Aku tidak mau menikah dengan pria mesum," kata Sunny tegas sambil melipat tangan di depan dada.

__ADS_1


"Apa kamu bilang? Aku pria mesum? Kau yang nenek sihir," Sadewa menunjuk Sunny dengan nada geram karena tidak terima dikatai pria mesum. Meski hal itu benar adanya.


"Pria mesum."


"Nenek sihir."


"pria mesum."


Empat orang dewasa yang berada di sekitar Sunny dan Sadewa hanya bisa berdecak melihat tingkah anak-anak mereka yang masih belum dewasa.


Kemudian cekcok antara Sadewa dam Sunny pun berhenti ketika Alexa menekan bahu Sadewa untuk duduk kembali.


Begitu pula Sunny yang memilih menghempaskan diri ke kursi dan dengan cepat membuang muka saat Sadewa meliriknya.


Sementara itu, tak jauh dari mereka tepatnya di balik tanaman hias Nakula berjongkok mengamati perselisihan Sadewa dan Sunny.


"Astaga, merek munafik sekali," gumam Nakula.


Frans yang menjadi teman lama Balin itu pun menganggukan kepala. Dia melirik sekilas pada putrinya, lalu kembali menatap Balin.


Ternyata rencana Frans menjodohkan Sunny dan Sadewa tidak seperti yang diharapkan. Padahal sebelumnya Frans sangat yakin jika putrinya akan serasi jika berdampingan dengan Sadewa.


"Baiklah. Jika Sadewa dan Sunny tidak mau dijodohkan tidak masalah," kata Frans yang memilih pasrah. "Lagipula kamu benar, Balin. Mereka belum dewasa. Apa jadinya jika mereka kita paksakan menikah?"


Sadewa yang mendengar keputusan itu pun menyunggingkan senyum. Tapi senyuman itu tak bertahan lama saat dia menyadari ada bagian dari dirinya yang tidak terima jika perjodohannya dibatalkan begitu saja.


"Ada apa dengan aku ini?" bisik Sadewa sangat pelan hingga hanya dia yang bisa mendengar.


Mendadak Nakula keluar dari tempat persembunyiannya, berlari menghampiri Sadewa dan berteriak, "Jangan dibatalkan!"


Sontak membuat semua orang menoleh pada Nakula. Sunny dan orang tuanya kompak mengernyitkan dahi tapi tidak dengan Balin dan Alexa.


Balin dan Alexa beradu pandang serempak menghela nafas jengah akan tingkah Nakula yang selalu membuat onar.

__ADS_1


"Papa, Om Frans, jangan dibatalkan! Biarpun mereka belum bisa bersikap dewasa tapi aku yakin mereka itu saling mencintai."


Nakula menepuk bahu Sadewa. "Hai, Bro, kenapa diam saja. Ayo akui perasaanmu!"


"Perasaan apa? Aku tidak punya perasaan apa-apa dengan Sunny," kata Sadewa mengelak.


"Jangan bohong! Kalau kamu tidak mau mengakuinya..." Nakula menatap Frans. "Om Frans, nikahkan saja Sunny denganku!"


"Hai, tunggu!" mendadak Sadewa berteriak dengan mata melotot.


Dia tidak terima Sunny dinikahkan dengan pria lain. Apalagi pria itu saudaranya sendiri.


Detik berikutnya, Sadewa menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat semua orang menatapnya dengan tatapan terheran.


"Nah, lihat kan? Kamu itu munafik, Sadewa."


"Bukan begitu aku hanya..."


Sejenak Sadewa termangu. Dia sendiri bingung akan perasaan yang tersimpan di hatinya terhadap Sunny.


Sadewa memang selalu kesal jika Sunny berceloteh membahas pria tampan atau hanya sekedar berbiacara tentang artis korea yang menjadi idolanya.


Namun, Sadewa juga tidak bisa mengatakan perasaannya itu adalah sebuah rasa cinta.


Di tengah kebimbangan Sadewa, Alexa berdiri memberikan jalan tengah.


"Begini saja. Sadewa dan Sunny masih sama-sama terkejut dengan kabar perjodohan ini. Jadi bagaimana kalau kita beri waktu tiga bulan untuk mereka memutuskan akankah perjodohan ini berlanjut atau tidak?"


Nakula menjentikan jari. "Aku setuju. Papa, Om Frans, bagaimana?"


Balin dan Frans mengangguk menyetujui usulan dari Alexa. Mereka tidak mau bersikap egois.


"Ya, ada benarnya juga. Biarkan Sadewa dan Sunny yang menentukan pilihan mereka sendiri," kata Cindy, ibu dari Sunny.

__ADS_1


__ADS_2