
Setelah Clara, kini berganti Hardi yang dibawa ke hadapan Kirana. Pria itu tersenyum tapi tak lama mengendorkannya lagi begitu melihat wajah dingin Kirana.
Raka telah pergi menunggu di luar. Hanya ada Hardi dan Kirana yang duduk berhadapan. Kedua lengan Hardi bertumpu di atas meja.
Berbeda dari Clara yang bersikap tidak tenang, Hardi justru terlihat santai memakai seragam tahanan. Bahkan dia melipat ujung lengan seragam itu, agar terlihat keren.
"Aku senang kamu mau menemui Paman, Kirana."
"Aku tidak banyak waktu. Jadi jangan bertele-tele. Katakan apa tujuanmu mencelakai Papa?"
Hardi tertawa. Jujur dia geli mendengar Kirana mengucapkan kata 'Papa' untuk menyebut Balin.
"Paman melakukan ini demi kamu. Demi kita. Paman marah pada Balin yang tidak memberitahu siapa keluarga ayah kandungmu. Paman ingin mengambilmu dari Balin, dan kamu hidup bersama keluarga aslimu."
Kini giliran Kirana yang tertawa. Dia menghempaskan punggung di sandaran kursi, serta melipat tangan di depan dada.
Sebuah senyum seringai terpatri di bibir tipis gadis itu.
"Lalu kenapa kau baru muncul sekarang? Kemana kau selama ini? Dan apakah harus dengan cara membunuh Papa agar dapat bertemu denganku?" cecar Kirana.
"Kirana, aku beritahu padamu. Balin orang yang licik. Dia hanya ingin memanfaatkan harta warisan dari kakekmu."
Hardi mencondongkan tubuhnya sedikit mendekat ke arah Kirana, lalu berbisik, "Dia pantas untuk dilenyapkan."
"Diam!" seru Kirana membelalakan mata.
"Aku sudah cukup dewasa untuk bisa membedakan mana orang yang tulus menerimaku dan mana yang tidak."
Kirana menegakkan punggung, di bawah meja kedua tangan Kirana perlahan terkepal kuat, hingga buku-buku jarinya memutih.
Hardi dapat mendengar suara deru nafas kemarahan Kirana yang keluar dari hidungnya.
"Orang yang pantas dilenyapkan ialah kakakmu yang gila itu. Aku masih ingat saat usiaku empat tahun, kakakmu ingin menenggelamkan aku ke dasar danau."
Hardi menghela nafas, serta memutar bola matanya. Ada pancaran rasa kecewa di binar mata hitam milik Hardi.
"Tolong panggil aku Paman! Dan juga panggil Harsa dengan sebutan 'Papa'! Kau tampak seperti berbicara dengan orang lain saja, Kirana."
__ADS_1
"Aku tidak mau punya paman sepertimu," desis Kirana.
Seketika dua bola mata Hardi membelalak, tak mengira akan mendengar kalimat itu dari mulut Kirana. Terlihat bibir Hardi bergetar.
Namun, sebelum Harsa dapat berbicara, Kirana lebih dulu menyela.
"Seperti yang sudah aku katakan. Aku tidak punya banyak waktu. Jadi to the point saja."
Tangan Kirana mengambil ponsel di dalam tas kecilnya. Jemari lentik Kirana beberapa kali memencet layar ponsel, lalu dia arahkan layar pada Hardi.
Di layar ponsel, termuat catatan informasi tentang kondisi perusahaan milik Hardi yang ada di Amerika.
"Aku mendapat informasi jika perusahaanmu bangkrut, dan kau terlilit hutang yang sangat banyak. Inilah alasan kau mencariku, kan? Dan biar aku tebak. Kau menginginkan hartaku untuk membayar semua hutangmu?"
Jakun Hardi naik turun, mendapati kedoknya terbongkar.
Dia tak mengira keponakannya itu ternyata terlalu cerdik. Hingga bisa mengetahui alasan dia berniat membunuh Balin.
Ketika perusahaan Hardi bangkrut, dia teringat jika dia memiliki seorang keponakan kaya raya, bernama Kirana. Sebelum Harsa meninggal, dia pernah bercerita pada Hardi perihal Kirana yang mendapatkan warisan dari Indra Irawan, seorang konglomerat, sekaligus kakek dari pihak ibu Kirana.
Hardi ingin mengaku sebagai paman dari Kirana, lalu memanfaatkan harta keponakannya itu untuk membayar hutang dan kalau perlu meraup semua tanpa tersisa sedikit pun.
Balin juga lah yang saat ini memegang perusahaan Irawan Group. Akan sulit mengambil semua harta Kirana, jika Balin masih hidup.
Hardi tertawa menutupi rasa terkejutnya.
"Kirana, kau termakan omongan Balin. Setiap hari dia pasti menjelek-jelekan aku di depanmu, kan?"
Kirana berdecak kesal sambil membuang muka. "Jangan berkilah, Hardi! Papa sama sekali tidak mengenalmu."
Kirana beranjak berdiri. "Sudahlah. Lagipula semua akan terbongkar saat di persidangan nanti."
Kemudian Kirana melangkahkan kaki meninggalkan ruangan tunggu. Namun, dia berbalik kembali menatap Hardi.
"Ini pertama dan juga terakhir kali aku menemuimu. Kedepannya jangan harap kita akan bertemu lagi."
Hardi terlonjak berdiri dan mendelikkan mata, "Kau tega melakukan ini pada Pamanmu, Kirana?"
__ADS_1
"Aku…" Kirana terdiam sejenak. "Bukan keponakan dari seseorang sepertimu."
"Bagaimana pun juga, kau tak dapat mengelak. Kau darah daging Harsa. Darah keluarga Russell mengalir dalam tubuhmu, Kirana."
Kirana tak menggubris, dia memutar badan dan melanjutkan melangkah keluar dari kantor polisi.
Di luar, Alexa belum kembali. Hanya ada Raka yang menunggunya sambil bersandar di sebuah pilar.
Raka menegakkan badannya saat Kirana mendekat. Dia melihat tatapan Kirana yang kosong, sehingga dia pun mengibaskan tangan di depan wajah gadis yang melamun itu.
"Kamu tidak apa-apa?"
Kirana menggelengkan kepala perlahan. Tepat saat itu, mobil yang ditumpangi Alexa berhenti di depan mereka.
Alexa tersenyum saat keluar dari mobil, berjalan, dan melingkarkan tangan di lengan Kirana.
"Kalian sudah selesai?" Alexa bertanya yang langsung dijawab oleh Raka dan Kirana dengan anggukan.
"Ma, sekarang kita pulang yuk?"
Senyum tak pernah pudar dari bibir Alexa. Malah kini senyum itu semakin mengembang hingga memperlihatkan gigi gingsul wanita itu.
Dia melepaskan tautan tangannya dengan Kirana, lalu mendorong pelan punggung Kirana untuk mendekat ke arah Raka.
"Kamu pulang sama Raka saja ya?"
Dahi Kirana mengerut.
"Kenapa, Ma? Apa Mama mau pergi ke suatu tempat?"
Alexa menggeleng.
"Bukan Mama yang akan pergi. Tapi kalian berdua."
Manik mata Alexa menatap Kirana dan Raka secara bergantian. Terlihat jelas dua manusia itu masih belum mengerti maksud ucapan Alexa. Sehingga Alexa pun menghela nafas dan melempar pandangan pada Ken.
"Ken, tolong ambilkan!"
__ADS_1
Ken mengangguk, segera dia membuka bagasi mobil untuk mengambil sebuah benda.
"Setelah apa yang terjadi pada kalian, Mama pikir kau dan Raka butuh quality time berdua."