
“Ya, Tante, Raya ini hanya seorang office girl. Dia gadis kampungan yang memelet Raka, dan memanfaatkan hartanya Raka,” seru Clara sambil menatap Raya penuh benci.
Ucapan Clara didengar oleh pengunjung restoran. Mereka saling berbisik dengan orang yang berada di sebelah, menggunjing Raya tanpa tahu kebenarannya.
Berbeda halnya dengan para pelayan restoran yang mengenal wanita yang kini tengah dibentak dan dicaci.
Para pelayan tahu bahwa wanita itu adalah Nona Kirana. Anak pemilik restoran yang tadi sempat berbincang dengan Rama, sang manager.
Namun, para pelayan itu tetap diam karena telah mendapat instruksi untuk tidak melakukan apapun. Meskipun di lubuk hati mereka merasa kasihan.
Andai wanita pengganggu ini tahu jika wanita yang sedang dia permalukan adalah Nona Kirana, pasti mampus lah dia. Begitu pemikiran para pelayan.
Raka yang tak terima Raya dipermalukan, segera bangkit berdiri, mengusap bahu Raya lemah lembut. Berdanding terbalik dengan sorot matanya yang tajam menghunus ke arah Clara.
“Clara, sebaiknya kamu pulang. Kamu tahu, kamu sedang mempermalukan dirimu sendiri,” kata Raka.
“Ya, Clara, jangan memfitnah Raya dengan tuduhan tanpa bukti seperti itu,” imbuh Amanda.
“Aku tidak memfitnah, Tante. Raya memang seorang OG di kantor Irawan Group. Ini buktinya, jika Tante tidak percaya padaku,” debat Clara sambil mengeluarkan ponselnya dan menunjukan foto-foto Raya.
Tangan Amanda bergerak meraih ponsel milik Clara, lalu jarinya menggeser setiap foto di layar.
Ternyata selama ini Clara diam-diam mencuri kesempatan memotret Raya yang sedang bekerja sebagai office girl.
Foto-foto itu memperlihatkan Raya memakai seragam office girl sedang mengepel, mengantarkan minuman, dan juga kegiatan bersih-bersih lainnya.
Amanda mengatupkan tangan ke mulut yang menganga tak percaya, lalu bola matanya berpaling pada Raya yang hanya diam membisu.
“Raka, Raya, tolong jelaskan pada Mommy!”
“Lagipula, Tante, nama putri Tuan Balin itu Kirana Putri Mahendra. Tidak ada unsur Raya di dalam nama itu,” kata Clara membuat keadaan semakin panas.
“Mom, Raya memang seorang office girl,” ungkap Raka pada akhirnya.
“Raka, kamu membohongi Mommy?” tanya Amanda mulai terisak dan berkaca-kaca.
Tak percaya sang putra sulung tega membohonginya selama ini. Sedangkan Raka menarik nafas panjang berusaha untuk tetap tenang.
“Aku terpaksa melakukan ini, karena aku tahu Mommy pasti tidak akan merestui hubunganku dengan Raya.”
__ADS_1
“Kamu membohongi Mommy demi wanita kampungan dan berpendidikan rendah seperti dia,” ucap Amanda tersulut emosi. Kini nada bicara Amanda sedikit membentak.
“Mommy, jangan berkata seperti itu pada Raya! Meskipun Raya dari kampung, tapi dia dapat berbaur dengan kalangan sosialita seperti teman-teman Mommy,”
“Tapi dia seorang office girl, Raka. Mau ditaruh dimana muka Mommy kalau geng bunder tahu calon menantu Mommy seorang wanita miskin,” desis Amanda geram.
“Mommy, cukup!” bentak Raka.
Seketika suasana di restoran berubah hening mencengkam.
Raka dan Amanda saling melayangkan tatapan tajam, dan Clara menyeringai licik melihat Amanda tak menyetujui hubungan Raka dan Raya.
Sedangkan Raya sendiri diam sejak tadi. Dia tak tahu harus berbuat apa. Dia bisa saja membongkar jati dirinya yang asli.
Apalagi saat ini dia berada di restoran milik Balin. Raya hanya perlu memanggil Paman Rama untuk bersaksi bahwa dia memang benar Kirana Putri Mahendra.
Namun, Raya enggan melakukan itu. Dia teringat kembali niat awal dia menyamar menjadi seorang office girl, yaitu untuk menemukan musuh yang bersembunyi di kantor Irawan Group.
Selama Raya belum menemukan orang itu, dia tak akan mengungkapkan siapa dirinya.
“Mommy tidak akan setuju dengan hubungan kalian, Raka. lebih baik kamu bersama dengan Clara. Mommy dan Daddynya Clara telah lama menjodohkan kalian.”
“Tidak, Mom, aku tetap akan menikahi Raya,” ucap Raka bersikeras.
“Ada apa ini?” tanya Rama yang tiba-tiba muncul.
Sejak tadi, Rama telah melihat keributan di meja yang ditempati Kirana. Sejenak, dia mengamati dari kejauhan.
Rama telah berjanji pada Kirana untuk tidak melakukan apapun. Namun, melihat keponakannya sendiri dipermalukan di depan umum, Rama tidak terima.
Bola mata Rama tertuju pada Clara yang menampilkan wajah arogan sambil melipat kedua tangan di depan dada.
“Saya manager di restoran ini dan saya melihat Anda telah membuat keributan. Jadi, Anda harus meminta maaf pada pelanggan kami,” perintah Rama pada Clara.
Jari telunjuk Rama mengarah pada Kirana, dan berkata, “Minta maaf pada wanita itu!”
“Cih, mana mungkin aku mau minta maaf pada pelakor kampungan sekaligus ratu halu,” cemooh Clara sambil melirik Raya.
Tangan Rama mengepal kuat mendengar jawaban dari Clara. Ingin sekali kepalan tangan itu mendarat di pipi wanita yang mengatakan keponakannya adalah seorang pelakor kampungan dan ratu halu.
__ADS_1
Untung saja, Rama melirik sekilas pada Raya yang mengelengkan kepala sangat pelan. Raya tahu Rama marah besar, dan mungkin saja ingin mengatakan bahwa dia adalah Kirana.
Rama menghela nafas panjang.
Kalau bukan karena permintaan Kirana, sudah aku sobek mulut wanita ini. Berani-beraninya dia bilang Kirana pelakor. Batin Rama di dalam hati.
“Sekarang juga anda pergi dari restoran ini. Sebelum saya memanggil security untuk mengusir Anda, Nona,” kata Rama bergetar menahan marah.
Clara hanya memutar bola matanya, dan mendengus kesal.
“Lagipula siapa juga yang mau berlama-lama di restoran seperti ini. Sebagai manajer seharusnya anda mengusir wanita tak tahu malu itu,” kata Clara menunjuk Raya.
“Keluar atau aku panggilkan security!” bentak Rama memberi ultimatum.
“Ya, ya, aku pergi sekarang,” pandangan Clara berpaling pada Amanda sebelum dia pergi.
“Tante Amanda, mau pulang bersamaku? ” tawar Clara.
“Tentu saja, Clara. Mari kita pulang. Tante juga muak lama-lama makan semeja dengan wanita rendahan,” Amanda melirik sinis pada Raya, lalu bangkit berdiri.
Amanda mengulurkan tangan pada Raka, berharap Raka juga akan ikut pulang. Namun, nyatanya Raka diam tak bergeming.
“Ayo, Raka, kita pulang! Biarkan Raya sendirian di sini.”
“Tidak. Aku akan tetap bersama Raya,” ucap Raka tegas seraya menggenggam tangan Raya seolah tak mau mereka berpisah.
“Raka, kamu gila. Kamu masih saja membela Raya. Memangnya apa kelebihan dari wanita itu, hah? Yang ada dia hanya akan membuat malu keluarga kita.”
Raka mendongak menatap Amanda dengan serius.
“Aku sudah bilang, aku akan tetap menikahi Raya dengan atau tanpa restu dari Mommy.”
Amanda menghela nafas jengah. Dia tahu sifat anaknya yang sangat ambisius. Jika menginginkan sesuatu, maka dia akan tetap menginginkan itu sampai dapat.
Tak ada pilihan lain. Amanda akan pulang bersama Clara. Namun, sebelum itu Amanda memberikan ancaman pada Raka.
“Selama kamu masih menginginkan wanita itu, jangan pernah menginjakkan kaki ke rumah, Raka,” ancam Amanda agar Raka mau ikut pulang.
Raka memasang wajah yang tertantang, berbeda dengan Raya yang menegakkan punggung merasa bersalah karena dirinya menjadi penyebab keretakan Raka dan Amanda.
__ADS_1
“Baik. Mulai hari ini, aku tidak akan pulang ke rumah.”