Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
84 Bonchap - Aiden Abimanyu


__ADS_3

Lima bulan kemudian.


Balin berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Beberapa jam yang lalu, dia mendapat kabar bahwa Kirana sudah melahirkan.


Balin yang tadinya sedang bertemu dengan relasi bisnis pun langsung pergi ke rumah sakit tempat Kirana bersalin. Dengan langkah lebar, dia terus berjalan hingga tiba-tiba dia menabrak seorang wanita yang juga berjalan berlawanan arah dengannya.


"Maaf, nona tidak apa-apa?" tanya Balun pada wanita muda yang tak sengaja dia tabrak.


Wanita itu mengangguk.


"Maaf ya. Saya sedang buru-buru sekali."


Kemudian Balin melanjutkan langkah kakinya menuju ruang bersalin. Sementara wanita muda yang bernama Ajeng itu melihat dompet Balin yang terjatuh di lantai.


Ajeng memungut dompet hitam dengan bahan kulit asli. Lalu dia menatap lagi arah perginya Balin tapi pria paruh baya itu sudah terlalu jauh dan tidak mendengar saat Ajeng berteriak memanggil.


Mau tak mau, Ajeng pun berjalan setengah berlari mengejar Balin. Hingga dia melihat Balin yang berdiri di depan ruang bersalin bersama seorang pria muda.


Ajeng dapat meluhat pria muda itu tampak tegang dan juga waswas. Perlahan dia mendekati mereka berniat mengembalikan dompet Balin.


Namun, tak sengaja Ajeng mendengar pembicaraan dua pria beda generasi itu.


"Bayinya selamat tapi Kirana..."


Balin menghuncang kedua bahu Raka. "Kenapa dengan Kirana?"


Tenggorokan Raka seolah tercekat sesuatu sehingga sulit sekali baginya untuk berbicara.


"Kirana mengalami pendarahan. Dia butuh transfusi darah golongan O+ tapi kantong darah di rumah sakit sedang kehabisan golongan darah itu, Pa," jelas Raka dengan nada suara yang parau.


Balun menundukkan kepala. Dia juga tampak syok mendengar kabar Kirana saat ini.


Balin tengah berpikir keras. Pasalnya anggota keluarga Mahendra tidak ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan Kirana.

__ADS_1


"Apa kamu sudah menghubungi Clara atau Hardi?" Balin bertanya menatap Raka yang menganggukan kepala.


"Hanya Clara memiliki golongan darah yang sama dengan Kirana tapi dia terkena HIV aids jadi tidak mungkin Clara mendonorkan darahnya," kata Raka menunduk pasrah.


"Astaga," Balin berdecak sambil memijat pangkal hidungnya.


Ajeng pun melangkah semakin dekat. Dari pembicaraan yang didengar, dia langsung dapat mengerti permasalahan dua pria di hadapannya.


"Permisi, Tuan. Ini dompet Anda terjatuh tadi."


Ajeng menyodorkan dompet milik Balin yang seketika terkesiap dan refleks menyentuh saku jasnya.


Balin menghela nafas lega. Karena ada orang jujur yang berniat baik mengambalikan dompetnya. Lantas Balin menerima sambil tak lupa mengucapkan terima kasih.


"Oh ya. Maaf sebelumnya tapi tadi saya tak sengaja mendengar pembicaraan Tuan kalau Tuan sedang mencari orang yang memiliki golongan darah O+."


"Iya, itu benar. Anak saya mengalami pendarahan pasca melahirkan."


Ajeng sekilas tersenyum. "Kebetulan golongan darah saya juga O+ dan saya bersedia membantu putri Tuan yang sedang membutuhkan transfusi darah."


"Sungguh? Anda bersedia?"


Ajeng pun melirik Balin dan Raka secara bergantian.


"Iya, Tuan. Saya siap menjalani tes kesehatan dan saya menjamin bahwa saya dalam kondisi sehat dan tidak memiliki penyakit bawaan."


*


*


*


Setelah melewati prosedur transfusi darah, Ajeng terduduk di tepi tempat tidur rumah sakit. Kemudian, Balin masuk ke ruangan.

__ADS_1


Sekali lagi Balin mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan Ajeng, Kirana bisa selamat. Sebagai tanda terima kasih, baik Balin maupun Raka nemberikan sejumlah uang pada Ajeng yang tersimpan di sebuah amplop coklat.


Meski pada awalanya, Ajeng menolak tapi dia pun menerima uang itu.


"Oh dan satu lagi, Ajeng. Putri saya juga ingin bertemu denganmu. Dia ingin mengucapkan terima kasihnya secara langsung."


Ajeng mengangguk dan berjalan beriringan bersama Balin menuju ruangan Kirana dirawat. Begitu pintu dibuka, Ajeng melihat Kirana yang terbaring di brankar dengan boks bayi di sampingnya.


Ajeng berjalan mendekat. Dia langsung mendapat uluran hangat dari wanita cantik yang baru saja menyandang status sebagai ibu itu.


"Terima kasih, Ajeng. Berkat pertolonganmu, aku bisa berkumpul kembali dengan keluargaku," ucap Kirana setulus hati. "Aku harap kita bisa terus menjalin silahturami."


"Sama-sama, Kirana. Ngomong-ngomong, selamat atas kelahiran anakmu ya?"


Ajeng menoleh pada bayi laki-laki yang tengah tertidur pulas dalam balutan baju hangat. Lama Ajeng menatap wajah bayi yang sangat tampan meski lebih mirip Kirana ketimbang ayahnya.


"Dia tampan sekali. Kirana, kamu sudah memberinya nama?" tanya Ajeng menoleh pada Kirana.


"Kami memberi dia nama Aiden. Aiden Abimanyu."


*


*


*


Nah, guys, yang mau kepo sama kisah percintaannya Aiden Abimanyu bisa merapat ke novel aku yang berjudul My Geeky Secretary. Yuk merapat ke sana! 😊


Yang ini ya?



Udah dulu bonus chapternya.

__ADS_1


Kisah Nakula sama wanita misterius itu nanti akan ada novelnya sendiri tapi insha alloh kalau Author udah kelar novel Sebatas Pernikahan Kontrak ya... 😁


Kalau 3 novel on going Author tidak sanggup, Bestie.


__ADS_2