Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
33. Masalah Bertambah Runyam


__ADS_3

Raka POV. 


Aku menyimpan dendam pada orang yang telah membuat adikku, Ray, kecelakaan hingga meninggal dunia.


Namun, hingga detik ini aku belum mengetahui siapa orang itu.


Clara pernah mempertemukan aku dengan orang yang mengaku sebagai saksi mata kejadian Ray ditabrak. Orang itu bernama Beni.


“Orang yang telah menabrak Ray adalah bos di tempatmu bekerja. Tuan Balin Mahendra.”


Lantas aku tidak percaya pengakuan Beni begitu saja. Aku tidak mau dendamku menimpa orang yang salah, sehingga aku meminta bukti dari Beni.


Ternyata Beni tak memiliki bukti kuat bahwa Tuan Balin yang telah menabrak Ray.


Jauh di dalam diriku pun rasanya tak percaya bos di tempatku bekerja itu yang telah meregangkan nyawa adikku.


Tuan Balin orang yang baik. Terbukti dari cara beliau memperlakukan bawahannya.


Salah satu contoh, saat aku mengetuk pintu ruangannya, dan beliau sedang bersama Raya, kekasihku yang bekerja sebagai office girl.


Aku terkejut Raya berada di sana. Sepertinya mereka sedang ada perbincangan yang cukup serius.


Lalu, aku mengatakan pada Tuan Balin kalau sebentar lagi rapat akan segera dimulai, dan dengan berwibawa Tuan Balin meminta Raya membuatkan kopi untuknya.


Sesaat aku ingin menuju ruang rapat, tapi aku sangat merindukan Raya. Terlebih hari ini aku sangat disibukan oleh pekerjaan. Aku butuh asupan tenaga.


Maka dari itu, aku membelokan langkah menuju pantry. Di ambang pintu, aku berpapasan dengan office girl dengan nama Neneng tertera di name tag.


Mata Neneng melotot padaku seolah dia baru saja melihat hantu. Sehingga aku balas menatapnya dengan sangat dingin.


“T-Tuan Raka,” ucap Neneng gemetaran.


“Pergi!” titahku yang dituruti langsung olehnya.


Begitu Neneng pergi berlari, aku baru sadar jika tadi sekilas aku melihat Neneng tampak menaruh sesuatu pada cangkir kopi yang ada di meja.


Aku pun mendekat, meneliti kopi itu dari kekentalan dan juga aromanya. Kopi itu terlihat biasa saja.


“Apa yang baru saja dia masukan?” gumamku bertanya-tanya pada diri sendiri.


Aku mengaduk kopi itu, dan tak ada yang aneh. Sehingga aku menampik pikiran negatif yang singgah di benakku.


Mungkin saja Neneng menambahkan gula atau semacamnya.


“Raka, sedang apa? Tumben kamu ke pantry?” tanya sebuah suara dari seseorang yang aku rindukan.

__ADS_1


Aku pun mendongak untuk menatap wajah cantiknya, lalu mendekati Raya dan melabuhkan kecupan di dahi.


“Aku merindukanmu, Sayang.”


Gadis itu terlihat canggung. Memang seperti itu jika aku mencuri kesempatan bermesraan di kantor.


Kecurigaanku pada tingkah laku Neneng yang aneh terlupakan oleh Raya. Aku menanyakan keberadaan gadis itu di ruangan tuan Balin.


Singkat cerita, setelah aku mendapatkan ciuman dari Raya, aku menuju ruang rapat siap menghadapi tugas dan pekerjaan yang menumpuk.


Tak lama, Raya juga masuk ke ruang rapat sambil membawa secangkir kopi untuk Tuan Balin. Namun, anehnya Raya tiba-tiba diam mematung.


“Raya, silahkan letakan kopi itu di meja,” perintah Tuan Balin seperti tidak didengar oleh Raya.


“Ada apa dengan gadis itu?” bisik rekan kerja yang duduk di sampingku.


Beberapa kali dia menatapku dan Tuan Balin secara bergantian. Lalu aku sadar apa yang menjadi kegelisahan Raya, begitu kulihat dia meneguk kopi yang diperuntukan Tuan Balin.


“Tidak sopan sekali dia meminum kopi Tuan Balin,” gumam peserta rapat yang lain.


“Iya, tidak tahu malu.”


Beberapa orang mencemooh Raya, tapi tidak denganku. Karena aku tahu Raya tengah mengorbankan dirinya.


Sepertinya Raya tahu kopi itu telah ditaruh sesuatu.


Aku dan Tuan Balin sama-sama berlari untuk menangkap tubuh Raya yang hendak tumbang. Namun, aku kalah cepat dari Tuan Balin.


Beliau menangkap tubuh Raya dengan sempurna, lalu memerintahkan Tuan Nakula untuk mengantarnya ke rumah sakit.


“Saya juga akan mengantar Anda ke rumah sakit, Tuan,” ucapku menawarkan diri.


“Tidak! Kamu di sini saja memimpin rapat!“


Aku kecewa pada diriku sendiri. Aku tidak bisa melakukan sesuatu di saat kekasihku kesakitan, dan di sinilah aku berada sekarang.


Duduk termenung menggantikan posisi Tuan Balin.


Aku tidak bisa fokus pada rapat kali ini, karena pikiranku terus tertuju pada keadaan Raya. Ingin rasanya rapat segera berakhir, agar aku bisa menemui Raya.


“Maafkan aku, Raya. Semua ini salahku,” gumamku tanpa ada orang yang mendengar.


Andai saja aku menceritakan tentang tingkah laku Neneng yang aneh setelah menuangkan sesuatu pada minuman Tuan Balin, pasti tidak akan seperti ini jadinya.


Aku memijat keningku yang berdenyut. Aku pernah menceritakan pada Raya tentang pengakuan Beni.

__ADS_1


Sehingga pasti kini Raya berpikir aku lah yang telah menaruh racun ke dalam kopi Tuan Balin. Mungkin Raya mengira aku menyimpan dendam pada Tuan Balin.


Sekarang masalah bertambah runyam.


Raka POV End


Neneng berjalan cepat dengan perasaan yang tidak karuan. Lalu dia berbelok ke sebuah toilet wanita. Ada Mae di sana yang menunggunya.


Neneng menarik lengan Mae dan berbisik di telinga sang sahabat perjuangan.


Tadi dia telah mendengar kabar bahwa Raya dilarikan dari rumah sakit setelah meminum kopi yang seharusnya untuk Balin.


“Mae, kamu bilang, serbuk itu hanya gula halus, tapi kenapa Raya sampai pingsan?” tanya Neneng dengan gaya polosnya belum mengerti apa yang telah terjadi.


Mae tersenyum lebar.


“Yang kamu taruh ke dalam cangkir kopi itu racun, bukan gula halus,” ungkap Mae.


Sontak mata Neneng membelalak kaget. Jantung Neneng bergetar hebat, begitu pula seluruh badannya.


Dia tak akan menyangka Mae bisa sekejam itu.


Menaruh racun ke dalam minuman dengan pekerjaan sebagai taruhannya, dan beresiko menghilangkan nyawa seseorang.


“Aduh, Mae, kamu teh keterlaluan. Hoyong kena azab,” ucap Neneng memperingatkan layaknya seorang ustadzah.


Mae menempelkan jari telunjuk ke bibir Neneng agar gadis desa itu terdiam.


“Kamu diam saja. Kita aman selama tidak ada yang lihat.”


Perkataan Mae membuat Neneng menegang. Seketika dia sadar, bahwa tadi dia sempat berpapasan dengan sekretaris Raka setelah mencampurkan bubuk racun.


“Aduh, gawat, bahaya,” pekik Neneng.


“Kenapa, Neng? Apanya yang gawat?”


“Tadi teh Sekretaris Raka sepertinya lihat Neneng.”


“Aduh, Neneng. Kamu bagaimana sih? Kalau rahasia kita terbongkar, itu salahmu. Jangan bawa-bawa namaku!”


Neneng gemetaran hebat. Wajah Neneng pucat membayangkan dirinya didepak dari pekerjaan. Sedangkan Mae, menatap tajam gadis polos itu.


Mae mengancam akan mengerahkan teman-teman premannya jika Neneng membawa nama Mae dalam kejadian kopi beracun yang diminum Raya.


Neneng menatap sendu bayangannya di cermin toilet. Bukan hanya dia yang akan menanggung malu tapi juga keluarganya di kampung.

__ADS_1


“Mae, Neneng kira kamu teh teman, ternyata menusuk dari belakang,” gumam Neneng.


__ADS_2