
Clara baru saja keluar dari sebuah club malam dengan langkah gontai. Dia menggelengkan kepalanya yang terasa pusing akibat minum bir terlalu banyak.
Dan di tepi jalan, sudah ada Ray yang menunggu Clara sejak tadi. Ray menyeringai sambil merogoh saku jaketnya untuk mengambil benda alat pintar yang disebut handphone.
“Clara, lihat! Apa yang baru saja aku temukan?” tanya Ray menyodorkan layar hp.
Mata Clara menyipit agar bisa melihat dengan jelas.
Lalu mata itu membola sempurna ketika ponsel di tangan Ray memutar video berdurasi dua menit yang memperlihatkan Clara bergulat tanpa sehelai kain bersama seorang pria.
Bahkan Ray tidak tanggung-tanggung mengeraskan ponsel ke volume maksimal, yang alhasil membuat semua orang di sekitar mereka tak sengaja mendengarkan suara des**an penuh nikmat dari bibir Clara di video.
Semburat merah terlihat jelas di pipi Clara akibat menahan malu. Tangan Clara bergerak hendak merebut ponsel itu, namun Ray lebih dulu menjauhkan ponselnya dari jangkauan Clara.
Ray tertawa puas telah berhasil mempermalukan Clara di tempat umum.
“Sepertinya kamu menikmati sekali permainan dari om gendut ini, Clara.” sarkas Ray.
“Diam kamu, Ray!” seru Clara.
Ray sama sekali tidak takut pada Clara yang melayangkan tatapan permusuhan. Bahkan Ray menaikan alisnya dan tersenyum lebar.
“Bagaimana ya reaksi Kak Raka saat melihat video ini?” sindir Ray sengaja memancing emosi Clara.
“Ray, hapus video itu!” bentak Clara.
“Jangan mimpi bisa menikah dengan Kak Raka! Aku tidak sudi kakakku tertular penyakit dari wanita sepertimu, Jal**g,” cemooh Ray.
Kemudian Ray memasukan ponsel ke dalam tas ransel, menaiki sekaligus menyalakan sepeda motornya.
Clara panik dan takut jika Raka tahu dia sering berhubungan dengan banyak pria. Dia tak mau perjodohan yang telah lama disepakati oleh orang tua mereka batal begitu saja.
“Ray, tunggu! Serahkan hp itu sekarang juga!” perintah Clara mengulurkan tangan.
“Ambil saja kalau bisa,” ucap Ray sesaat sebelum melajukan motornya dengan sangat kencang.
“Sial,” rutuk Clara yang segera masuk ke dalam mobil untuk mengejar Ray.
Sepeda motor sport berwarna merah yang ditumpangi Ray memecah jalanan malam.
Ray sangat gesit dalam menyalip setiap kendaraan. Sesekali Ray menoleh ke belakang untuk melihat keberadaan mobil Clara, dan menambah kecepatan kala mobil itu terlihat semakin dekat.
Sementara, di dalam mobil, tatapan dingin Clara tak pernah lepas dari pengendara sepeda motor di depan sana.
Nasib Clara dipertaruhkan saat itu juga.
Jika Raka melihat video itu, sudah dipastikan Clara tak akan pernah mendapatkan pria pujaan hatinya.
__ADS_1
Tangan Clara mencengkram kuat stir mobil. Sekuat tekadnya untuk mendapatkan Raka.
“Tidak ada yang dapat memisahkan aku dengan Raka. Termasuk kamu, Ray. Sekalipun kamu adalah adiknya Raka,” desis Clara sambil menambah kecepatan.
Aksi kejar-kejaran itu, berujung hingga kedua kendaraan berada di jalan yang sepi. Tepat saat itu juga, mobil Clara sudah sangat dekat dengan motor Ray.
Dan kemudian…
Brak.
Clara sengaja menabrakan mobil ke bagian belakang sepeda motor Ray. Menjadikan pemuda itu terpental jatuh dengan kepala membentur jalan beraspal.
Sayang sekali Ray tak memakai helm, sehingga benturan keras itu membuat kepala Ray mengeluarkan banyak darah.
Clara menghentikan mobilnya. Dia turun untuk menghampiri tubuh Ray yang terbaring di tengah jalan.
Lalu dia mengulurkan tangan, tapi bukan untuk menolong Ray. Melainkan untuk mengambil ponsel yang berada di dalam tas.
Clara mengedarkan pandangan ke sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihatnya, dan secepat mungkin Clara menghapus video aibnya di ponsel Ray.
Setelah itu, Clara menaruh kembali ponsel ke dalam tas. Dia ingin segera meninggalkan lokasi tanpa ada niat untuk membantu Ray.
“Akan lebih bagus kalau kamu mati saja, Ray. Agar kamu tidak dapat menghalangi jalanku untuk memiliki Raka,” ucap Clara pada tubuh yang tak bergerak itu.
Tiba-tiba, mata Ray membelalak sempurna, membuat Clara terlonjak kaget, terlebih saat Ray secepat kilat mencengkram pergelangan kaki Clara.
Clara berusaha menarik kakinya agar terlepas. Namun, cengkraman tangan Ray sangat kuat. Kendati dia terluka parah.
Dengan segenap tenaga yang tersisa, Ray menahan Clara agar tidak kabur. Clara harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Begitu lah keinginan terakhir Ray.
“Sekalipun aku mati sekarang, kamu tidak akan pernah bisa menikah dengan Kak Raka,” ucap Ray dengan suara yang lemah.
Clara mulai panik dan ketakutan. Dia menoleh kiri dan kanan. Tak ada siapa pun di sekitar mereka.
Ini adalah waktu yang pas untuk kabur. Namun, kaki Clara terus ditahan oleh Ray.
“Ray, lepaskan aku! Aku mohon!” rengek Clara.
“Lepaskan aku, Ray!”
“Lepaskan aku!”
“Lepaskan! Lepaskaann!”
“Arrrgghh”
Clara menjerit sekencang-kencangnya. Dia langsung terduduk di tempat tidur, membuka mata, dan sadar dirinya berada di kamar.
__ADS_1
Clara menarik nafas panjang agar sedikit lebih tenang. Keningnya telah basah oleh peluh, dan tenggerokannya juga terasa kering.
“Ternyata cuma mimpi,” gumam Clara.
Clara terduduk di atas tempat tidur sambil terus memijat keningnya yang sakit akibat mimpi buruk yang selalu datang tiap malam selama dua tahun sejak dia menabrak Ray.
Kemudian tangan Clara bergerak meraih obat-obatan yang berada di atas nakas.
Dia mengambil beberapa buah pil tanpa memperdulikan dosis yang dianjurkan dokter, dan menelannya sekaligus.
Tangan Clara bergetar saat meraih segelas air putih. Lalu dia meneguk air di dalam gelas hingga tandas.
Clara yang masih ketakutan, menarik selimut hingga ke leher, bayangan wajah Ray saat Clara meninggalkannya begitu saja di jalanan terus menghantui dirinya.
Wajah yang bersimbah darah menampilkan kebencian mendalam.
Tepat saat itu, pintu kamar Clara terbuka. Seorang pria berlari menghampiri dan secepat kilat memeluk tubuh Clara.
“Kamu mimpi buruk lagi, Darling?”
Clara mengangguk dengan badan yang gemetaran.
“Iya, Daddy. Aku memimpikan Ray lagi,” ungkap Clara.
Ayah Clara mengelus lembut putrinya.
“Tenang saja. Tidak ada saksi mata yang melihat kamu menabrak Ray kan? Jadi, kamu tak perlu khawatir.”
Ya, memang tak ada satu orang pun yang melihat kejadian di saat Ray mengalami kejadian naas itu. Akan tetapi sepandai-pandainya menyimpan bangkai, suatu saat baunya akan tercium juga.
Clara takut Raka tahu bahwa dirinyalah yang telah membunuh Ray. Pria itu pasti akan membenci Clara seumur hidup.
“Aku mau Raka, Dad,” rengek Clara mulai terisak di dalam pelukan ayahnya.
“Yes, Darling, kamu pasti akan mendapatkan Raka.”
“Aku mau Raka menikahiku secepatnya, Dad,” suara rengekan Clara meninggi.
“Kamu tenang dulu, Darling,” kata ayah Clara.
“Aku tidak bisa tenang, Dad. Saat ini ada wanita yang sedang berusaha merebut Raka dariku. Aku mau Raka menjadi milikku, Dad. Apapun caranya.”
“Baiklah. Daddy akan bicara pada Tante Amanda agar mempercepat pertunanganmu dengan Raka, oke?”
Kepala Clara mendongak menatap ayahnya sekaligus menerbitkan senyum bahagia.
“Serius, Dad?”
__ADS_1