Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
53. Nama Pria Itu


__ADS_3

“Kamu ingat, setelah aku bermain tinju bebas melawan Max, aku membuntuti seorang pria yang aku yakin bos dari Max.”


Ken mengangguk. Dia ingat saat mendapat tugas menjemput Kirana di bandara yang berakhir dia dan para pengawal lain mendapati Kirana malah sedang bertarung tinju bebas.


Selepas bertarung, Kirana melihat Max diseret oleh pria misterius, lalu Kirana membuntuti mereka, dan menguping pembicaraan Max dengan bosnya.


Dari menguping percakapan pria itu, Kirana tahu ada mata-mata yang bekerja di Irawan Group.


Kemudian, Kirana hendak mengejar komplotan pria itu, tapi Ken berusaha menahan Kirana, sehingga dia kehilangan jejak.


“Pria itu. Bosnya Max itu adalah ayahnya Clara,” ucap Kirana yang sangat terkejut.


“Kalau begitu, mata-mata yang bekerja di perusahaan Papa itu Clara. Selama ini aku telah salah menebak. Aku pikir Raka yang menjadi mata-mata karena aku sangka Raka menyimpan dendam atas kematian Ray.”


Kirana memijat keningnya. Satu pertanyaan telah terjawab. Namun, kini banyak pertanyaan bermunculan di benak Kirana.


Siapa ayahnya Clara ini? Ada hubungan apa ayahnya Clara dengan Papa? Kenapa pria itu ingin sekali mencelakai Papa?


Sederet pertanyaan yang membuat kepala Kirana pusing.


***


Sedangkan di sisi lain, Clara terus mengoceh betapa sakit lengan kanannya. Padahal sudah tidak terasa apa-apa lagi.


Lengan kanan Clara mengalami retak tulang ringan, tapi dokter telah memastikan bahwa Clara akan segera membaik.


Ayah Clara yang duduk di tepi ranjang sambil mengepalkan tangan memendam marah pada gadis yang telah mematahkan tangan anaknya.


Sedangkan Amanda sendiri ada di dapur sibuk menyiapkan makan siang. Dia memutuskan akan tinggal di apartemen untuk membujuk Raka kembali lagi ke rumah dan bertunangan dengan Clara.


“Daddy, sepertinya Raya tahu kalau aku dalang dari kejadian kopi beracun,” kata Clara sangat pelan sambil melirik was-was ke arah pintu.


Clara takut jika Amanda datang dan mendengar percakapan mereka.


“Kamu pikirkan saja pertunanganmu dengan Raka. Bukankah ini yang kamu mau sejak dulu? Masalah Balin, biar Daddy yang akan langsung turun tangan.”


Clara menarik ujung bibirnya membentuk senyuman. Meskipun sorot mata menunjukan rasa kecewa karena tidak bisa membanggakan sang ayah.


“Maafkan aku, Dad. Aku yang selalu gagal dalam menjalankan perintah dari Daddy. Kalau bukan karena office girl itu, pasti si Balin tua sudah mati sekarang.”


Ayah Clara mendesah jengah. “Selain mencelakai Balin, kamu juga Daddy tugaskan untuk mencari keberadaan Kirana. Lalu apakah kamu sudah bertemu dengan Kirana?”

__ADS_1


“Belum, Dad. Aku tidak pernah melihat Kirana bekerja di Irawan Group.”


“Are you sure?”


Clara mengangguk tanpa keraguan.


Sedangkan ayah Clara membuang nafas kasar, tampak jelas dia kecewa telah menempatkan anaknya sebagai mata-mata.


Meskipun begitu, tangannya terulur mengusap bahu sang anak. Lalu dia bangkit berdiri.


“Istirahatlah sampai hari pertunanganmu tiba, Darling. Daddy harus pergi dulu.”


Clara hanya mengangguk kaku. Ada rasa takut ketika melihat kemarahan yang tergambar di sorot mata ayahnya.


Setiap kali Clara membahas tentang Balin atau Kirana, pasti sang ayah akan terlihat marah dan menyimpan dendam begitu besar.


Pria itu berjalan ke luar dari kamar, menghampiri Amanda yang terlihat kewalahan di dapur.


Amanda tipe wanita yang kurang pandai memasak. Bahkan kepiawaiannya dalam bidang kuliner masih kalah jauh dengan putra sulungnya.


Sewaktu muda dulu, Amanda adalah wanita karir yang gila kerja. Momen yang seharusnya dihabiskan untuk menemani tumbuh kembang Raka dan Ray pun sering diabaikan.


Raka dan Ray kecil sering dititipkan ke mendiang Oma – ibu mertua Amanda –, yang dibantu juga oleh seorang pengasuh.


“Amanda, aku pergi sekarang. Aku titip Clara di sini,” kata ayah Clara berpamitan.


Amanda berpaling dari setumpuk bahan makanan di meja. Dia memandang wajah sahabatnya sambil memberengut.


“Kenapa buru-buru? Bagaimana kalau kita tunggu Raka datang, lalu makan siang bersama.”


Pria setengah baya itu menggeleng.


“Tidak. Aku sedang banyak urusan. Next time maybe.”


Setelah itu, ayah Clara keluar dari apartemen, berjalan menuju lift, dan berdiam diri sejenak menunggu pintu lift terbuka.


Ting


Suara pintu berbahan besi itu terbuka. Di dalam sana tak ada seorang pun kecuali Ken yang sengaja memakai topi hingga menutupi setengah wajahnya.


Ayah Clara tak menaruh curiga pada Ken. Dia masuk ke lift, dan menekan tombol turun ke lantai bawah.

__ADS_1


Ken marapatkan diri ke belakang badan ayah Clara. Pandangan matanya tertuju pada saku belakang celana yang sedikit mengembung sebab di sana terselip sebuah dompet.


Pelan-pelan tangan Ken menjumput dompet itu, layaknya pencopet profesional. Sambil sesekali Ken mendongak, takut pria tua yang ada di depan menyadari akan perbuatannya.


Ken menghembuskan nafas legas, begitu dia berhasil mengambil dompet hitam berbahan kulit buaya.


Secepat mungkin Ken mengambil kartu nama di dalam dompet. Tepat saat itu juga, pintu lift kembali terbuka. Ternyata mereka telah sampai di lantai dasar, dan ayah Clara melangkah untuk keluar.


Ken tak punya cukup waktu untuk menaruh kembali dompet itu ke tempat semula.


Jadi, Ken sengaja menabrak tubuh ayah Clara, bertepatan dengan dirinya yang menjatuhkan dompet ke lantai.


“Hai, kalau jalan pakai mata!” bentak ayah Clara.


Ken tak menggubris. Dia mempercepat langkah, dan segera menghilang ke sebuah lorong.


Ayah Clara berdecak kesal. Kemudian, bola matanya menangkap benda hitam yang tergeletak di bawah kaki.


“Ini kan dompetku.”


Tangan ayah Clara meraba saku belakang celana. Memang benar, benda itu adalah dompetnya.


Lantas dia membungkuk untuk mengambil dompet, membuka isinya, lalu memasukannya lagi setelah mengecek bahwa tak ada satu pun benda yang hilang.


Dia melewatkan satu kartu yang sebenarnya sudah tidak lagi berada di dompet.


“Dasar anak muda zaman sekarang,” umpat ayah Clara.


Sementara itu, Ken yang berjalan setengah berlari menghampiri Kirana yang menunggu di ujung lorong.


Nafas Ken terengah. Dia menoleh ke belakang untuk memastikan ayah Clara tidak mengejarnya.


“Kamu tahu nama pria itu?” tanya Kirana begitu Ken mendekat.


Ken menggeleng, membuat Kirana mengerucutkan bibir.


“Tapi saya mendapatkan ini,” kata Ken mengacungkan selembar kartu.


Secepat kilat tangan Kirana menyambar kartu kecil itu. Bibirnya yang tadi mengerucut berubah melengkungkan senyuman dalam sekejap.


“Kerja bagus, Ken.”

__ADS_1


“Jadi, siapa nama pria itu, Nona Kirana?” tanya Ken setelah Kirana membaca deretan huruf yang tertera di kartu.


“Nama pria itu…”


__ADS_2