Rahasia Sang Office Girl

Rahasia Sang Office Girl
9. Dimana Raya?


__ADS_3

“Kalian lihat Raya?” tanya Raka yang tidak sengaja berpapasan dengan Mae dan Neneng.


Kedua wanita itu saling lirik, lalu menggelengkan kepala.


Raka menghela napas, kemudian beranjak pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Sementara Mae dan Neneng dibuat semakin penasaran.


Kira-kira apa yang membuat sekretaris Raka mencari Raya? Apakah anak baru itu membuat masalah?


Begitulah pertanyaan yang ada di benak Mae dan Neneng. 


Mereka menatap Raka yang dihadang oleh Clara. Jiwa kepo yang sudah mendarah daging pun menuntun mereka untuk menguping pembicaraan Clara dan Raka.


“Mana Raya? Katamu mau ajak makan siang gadis kampungan itu?” tanya Clara dengan nada mencemooh.


Raka tidak menjawab. Lebih tepatnya, malas menjawab pertanyaan dari Clara. Dia berniat melangkah pergi, tapi lengannya segera ditahan oleh Clara.


“Dia itu tidak mau makan siang denganmu, Raka. Lebih baik kamu makan siang denganku saja.”


Raka mengayunkan tangan agar terlepas dari cengkeraman Clara. Entah kenapa Raka sedikit kecewa karena ajakan makan siang bersama ditolak oleh Raya.


Hampir setengah jam waktu istirahatnya dihabiskan untuk mencari Raya namun, gadis itu tidak kelihatan batang hidungnya.


Mungkinkah dia menghindar dariku? Ucap Raka dalam hati.


Tepat ketika Raka hendak pergi, saat itu juga dia melihat langkah kaki Raya yang berjalan membawa dua kantong besar berisi makanan.


Raya berjalan melewati Raka, dan mendekati Clara yang mulutnya menganga terperangah.


“Ini pesananmu,” kata Raya menyerahkan kantong makanan.


Clara menerima kantong besar itu dengan kesusahan. Lalu mengecek satu per satu. Tidak ada satu pun daftar makanan yang terlewat. Semua sesuai dengan apa yang Clara sebutkan tadi.


Bagaimana bisa si gadis kampungan memesan semua makanan ini? Bukankah tadi uang yang aku berikan kurang? Lalu dia cepat sekali balik lagi ke kantor. Clara terheran-heran dalam batinnya.


“Kamu melupakan satu. French toast,” Clara tidak mau menyerah begitu saja. Dia harus membuat Raya balik lagi ke restoran.


“Tadi kamu tidak bilang french toast,” sahut Raya yang sangat tenang dan santai.


“Aku bilang tadi. Kamunya saja yang lupa,” bantah Clara setengah berteriak.

__ADS_1


“Ada apa ini?” Raka berdiri menengahi Raya dan Clara.


Bola mata Raka tertuju pada kantong makanan yang berada di tangan Clara.


“Kamu beli makanan sebanyak ini untuk apa?”


Seketika sikap Clara berubah seratus delapan puluh derajat. Bagaimana pun juga dia harus terlihat cantik di hadapan Raka.


Clara beralasan kalau dia memesan makanan untuk makan berdua dengan Raka, yang tentu saja pria tampan itu menolaknya.


Raka segera menarik tangan Raya, membawanya menjauh dari Clara. 


Sementara Mae dan Neneng keluar dari tempat mereka menguping, mendekati Clara untuk memanas-manasi suasana hati atasannya itu yang sudah seperti bara api.


“Kemarin saya lihat sendiri Raya itu peluk Tuan Nakula. Sekarang dia embat juga Tuan Raka,” cibir Mae.


Kemarahan Clara sudah berada di ubun-ubun, dia menatap penuh benci pada punggung Raya yang berjalan berdampingan dengan Raka.


“Cih. Sudah pasti Raya itu pakai pelet. Dengan mudahnya dia mendekati Raka dan juga Nakula,” desis Clara.


“Bu Clara, Neneng boleh minta makanannya sedikit,” ucap Neneng yang melirik penasaran ke dalam kantong.


Mae menyikut Neneng hingga gadis itu terhuyun ke samping.


Mae mengecap mulut, saat itu juga perutnya berbunyi tanda minta diisi.


“Tapi apa?” Clara melirik galak pada kedua wanita yang ada di depannya.


“Tapi kalau Bu Clara mau bagi-bagi ke kita, saya terima dengan ikhlas,” ucap Mae mau tapi malu.


***


Beralih ke Raka dan Raya yang berjalan berdampingan. Setiap langkah kaki mereka disoroti oleh tatapan tak percaya dari beberapa karyawan.


Bagaimana tidak? Sekretaris Raka yang meskipun baru bekerja di Irawan Group tapi sudah terkenal akan sikap dinginnya, bisa jalan berdua bersama Raya si office girl.


Langkah Raka begitu cepat hingga Raya tak bisa mengimbangi, lalu ponsel di dalam saku Raya bergetar. Menandakan ada panggilan telepon.


Raya berbelok ke sebuah sudut kantor yang sepi tanpa disadari oleh Raka yang terus berjalan. Dia mengangkat telepon dari Sunny, seketarisnya di perusahaan cabang Red Riding Hood.

__ADS_1


Raya tahu jika Sunny menelepon itu, tandanya ada masalah di Red Riding Hood yang tidak bisa ditangani sendiri oleh Sunny.


“Halo, Kak Kira, gawat!” sahut Sunny yang suaranya terdengar panik.


“Gawat apanya?”


“ Kita akan mengadakan rapat bersama beberapa kolega tapi mereka menolak jika tidak ada Kak Kira hadir di sini,” lapor Sunny.


Raya mendesah frustasi.


“Coba kamu bujuk mereka, dan katakan kalau Sadewa itu orang yang sudah aku percayakan untuk menghadiri rapat.”


“Aku sudah mengatakannya, Kak Kira. Tapi mereka tetap ingin Kak Kira datang. Bahkan mereka akan memutuskan hubungan kerja sama jika Kakak tidak hadir dalam rapat kali ini.”


“Apa?” Raya menepuk jidatnya.


Suara di seberang sana berubah menjadi suara pria yang Raya kenal itu adalah Sadewa. Sepertinya ponsel sudah berpindah ke adik bungsunya itu.


“Kak, datanglah segera! Irawan Group kan perusahaan Kakak juga, jadi Kakak mau kabur dari sana juga tidak masalah,” kata Sadewa.


“Masalahnya tidak segampang itu, Sadewa. Posisiku sekarang menjadi bawahan. Tapi kalian tenang saja, aku akan usahakan datang ke sana.”


“Oke, kami mengadakan rapat di Luxury Hotel. Apa perlu aku menjemput Kak Kira?”


“Jangan!” pekik Raya langsung menutup mulut. Takut ada orang yang mendengar ucapannya, dia menoleh kanan kiri.


Setelah mengatakan pada Sunny dan Sadewa bahwa dia akan datang, Raya menutup teleponnya dan mencari Pak Jamal yang bertanggung jawab mengkoordinir para OB dan OG.


***


Raka yang terus berjalan, mengira Raya masih ada di belakangnya. Sejenak dia berpikir, di mana tepatnya ingin mengajak makan siang bersama Raya.


“Ray, kamu mau makan siang di mana? Ada restoran jepang yang enak dekat sini? Kamu mau?”


Tidak ada suara balasan. Membuat Raka mengerutkan dahi kebingungan.


“Ray. Raya? Kamu dengar aku?”


Raka membalik badan, dan menyadari tidak ada seorang pun di belakangnya. Dia terheran sambil bola matanya menelisik sosok Raya.

__ADS_1


Raka berdecak kesal. Jadi sejak tadi dia berbicara sendiri seperti orang kurang waras. 


Di mana Raya itu? Kenapa main pergi begitu saja? Batin Raka.


__ADS_2