
Pesta pernikahan pun dimulai. Semua tamu telah memenuhi aula dengan dekorasi mewah yang dipercantik oleh hiasan bunga-bunga. Seorang pembawa acara memandu jalannya acara pesta pernikahan.
Di setiap pesta pernikahan, kedatangan pengantin wanita selalu menjadi pusat perhatian bagi semua orang. Begitu pula saat Kirana yang didampingi Balin berjalan perlahan melintasi aula.
Kirana mengeratkan tangan di lengan Balin saat semua mata hanya tertuju padanya, dan tak sedikit yang berdecak kagum.
Kirana tampak cantik meski memakai riasan natural. Tiara indah tersemat di rambutnya yang digelung.
Di ujung sana, Raka telah berdiri menunggunya. Pandangan pria itu hanya tertuju pada Kirana. Tak sedikit pun dia melirik ke lain arah.
"Papa, aku gugup," Kirana berbisik pelan yang hanya ditangkap oleh pendengaran Balin.
Balin mengulas senyum, tak mengira seorang Kirana bisa merasa gugup di hari pernikahannya, lantas dia pun menepuk lembut punggung tangan Kirana.
"Rileks, Nak!"
Kirana mencoba tersenyum di tengah rasa gugup yang melanda. Pelan tapi pasti rasa gugup itu sirna saat dia membalas tatapan Raka, pria yang sebentar lagi menjadi suaminya.
Balin berhenti melangkah, perlahan dia melepaskan tangan Kirana, menatap punggung gadis itu yang kini berjalan ke samping Raka.
Mendadak bayangan saat Karina melahirkan bayi kecil merasuki benaknya. Disusul oleh potongan bayangan ketika dia merawat Kirana dari kecil hingga sampai sekarang ini.
Bayi yang dititipkan sahabatnya telah menjelma menjadi gadis cantik yang kini resmi menjadi nyonya Abimanyu.
Karina, tugasku telah selesai. Aku menjaga anakmu dengan baik seperti permintaan terakhirmu. Sekarang akan ada Raka yang akan menjaga Kirana.
Balin berkata dalam hati ketika dia melihat Raka dan Kirana saling menyematkan cincin pernikahan.
Riuh suara tepuk tangan menggema di seluruh penjuru ruangan. Mereka menjadi saksi atas janji suci yang telah diikrarkan oleh dua insan di atas pelaminan sana.
Tepat saat itu, Alexa meletakan kepalanya di bahu sang suami. Balin menoleh sekaligus mengecup ujung kepala Alexa.
"Terima kasih telah menemaniku merawat Kirana," ucap Balin menggenggam erat tangan Alexa.
Serangkaian acara dilewati dengan begitu meriah hingga tiba saatnya acara pelemparan bunga oleh pengantin wanita.
Banyak lajang baik pria dan wanita bersiap untuk merebutkan buket bunga. Dan salah satu diantara mereka ialah Sunny.
Kirana melemparkan buket bunga yang kemudian melambung tinggi dan berhasil ditangkap sempurna oleh Sunny yang kegirangan bukan main.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Frans. Melihat putrinya mendapat buket bunga, memantapkan dia untuk segera memberitahu perjodohan Sunny dengan Sadewa.
Para tamu memberi ucapan selamat kepada sepasang pengantin baru. Namun, Frans memilih menghampiri Balin terlebih dahulu.
"Balin, tampaknya tak lama lagi kita akan segera berbesan," kata Frans menunjuk menggunakan lirikan mata ke arah Sadewa dan Sunny.
__ADS_1
"Benar apa yang aku bilang. Mereka sangat serasi bukan?"
Sadewa dan Sunny memang tampak sedang mengobrol akrab. Namun, siapa sangka jika dilihat semakin dekat, sebenarnya mereka tengah saling adu mulut.
"Ini pasti tanda-tanda kalau aku akan segera menikah. Ah, tidak sabar bertemu pria yang dijodohkan oleh Papa," Sunny bermonolog tapi sengaja mengeraskan suara agar Sadewa kepanasan.
Sadewa berdecak, "Sebenarnya siapa sih pria itu? Jangan-jangan kau hanya berbohong."
"Aku tidak berbohong. Kalau tidak percaya tunggu saja undangan dariku."
"Aku tidak akan sudi datang ke pesta pernikahanmu nanti," kata Sadewa sinis.
"Kenapa? Oh, bilang saja kalau kau cemburu. Iya kan?" Sunny tertawa mengejek.
Mendengar Sunny yang menertawakannya, membuat Sadewa melipat tangan di depan dada.
"Semoga pria yang dijodohkan denganmu itu pria buruk rupa dan menyebalkan," umpat Sadewa yang kemudian berlalu pergi.
Marah akan ucapan Sadewa, Sunny pun mengeratkan genggaman tangan, dan menggerutu pelan.
"Kau pria paling jelek dan paling menyebalkan di muka bumi ini, Sadewa."
Berbicara dengan Sunny hanya akan memperburuk mood Sadewa. Maka dari itu dia lebih memilih pergi mengambil minuman dan segera meneguknya. Sambil di dalam hati bertanya-tanya akan pria yang akan dijodohkan dengan Sunny itu.
Nakula mengajak Sadewa untuk memberi selamat pada Kirana dan Raka. Sadewa pun menurut, seketika mood nya kembali membaik berkat saudara kembarnya.
"Selamat ya, Kak Kira, Kak Raka. Semoga cepat dapat momongan," ucap Nakula dan Sadewa kompak.
"By the way, kalian ingin punya anak berapa?" tanya Nakula.
Belum sempat Kirana maupun Raka menjawab, Sadewa lebih dulu menyerobot.
"Kalau saran dari kami, lebih baik Kakak punya anak sebelas."
Kirana dan Raka menautkan alis. "Kenapa sebelas?"
"Supaya bisa membentuk tim kesebelasan bola," jawab Nakula sambil menampilkan senyum lebar.
"Nanti kita yang akan jadi pelatihnya," imbuh Sadewa.
Kirana dan Raka saling lirik, berdecak, dan sama-sama memutar bola mata malas.
Lalu Raka berkata, "Daripada meminta kita membuat sebelas anak, kenapa kalian tidak buat sendiri?"
Kirana mengangguk setuju, "Betul. Lebih baik kalian juga segera menikah dan buat kesebelasan bola sendiri."
__ADS_1
Sadewa tersentak mendengar ucapan Kirana dan Raka. Dia menyadari satu hal, dan seperti sebuah robot, dia bergerak berjalan meninggalkan Nakula.
"Kita kan masih jomblo. Jadi apa salahnya meminta pada Kak Kira dan Kak Raka yang sudah memiliki surat izin membuat anak. Iya kan, Sadewa? Sadewa?"
Nakula menoleh ke samping, dan terheran mendapati Sadewa tak ada di sana.
Rupanya Sadewa mencari keberadaan Balin. Akhirnya, dia menemukan sang ayah yang sedang berbincang dengan Frans.
Bersamaan dengan Sadewa yang mendekat, Frans juga pergi meninggalkan Balin. Menjadikan Sadewa sedikit lebih lega, karena dia dapat berbicara dengan Balin, mengungkapkan uneg-unegnya.
"Papa, aku ingin menikah."
Dahi Balin mengerut heran. Tidak ada hujan, tak ada badai, tiba-tiba saja Sadewa meminta untuk menikah.
"Papa, jodohkan aku dengan anak sahabat Papa. Siapa saja, asalkan cantik," pinta Sadewa penuh keseriusan.
Balin meneguk minuman sambil satu tangan masuk ke saku celana dan bola mata yang menelisik raut wajah Sadewa.
"Kau memang akan Papa jodohkan dengan seorang gadis."
"Apa dia cantik?"
Balin menjawab dengan nada malas, "Iya, dia cantik. Meski tak secantik Mama kamu."
Sontak Sadewa mengepalkan kedua tangan, dan bersorak, "Yes. Aku akan menikah."
Membuat Balin terperangah sekaligus terheran akan sikap anak bungsunya itu.
Sunny, memang kau saja yang dijodohkan, aku juga akan segera menikah. Ucap Sadewa dalam hati.
Tak mau ambil pusing, Balin mengayunkan tangan begitu melihat sosok Daniel di tengah kerumunan. Memberi isyarat agar pria itu mendekat.
"Daniel, apa kau sudah melacak keberadaan Clara?"
"Sudah, Tuan. Kami mendapatkan informasi terbaru jika Clara melarikan diri bersama seorang pengedar narkoba bernama Kevin," lapor Daniel.
Balin menarik lengan Daniel, agar tak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Lalu?"
"Tapi masalahnya, mereka selalu berpindah tempat tinggal dan menggunakan nama samaran. Sehingga menyulitkan proses pencarian."
Balin berbisik, namun dari nada bicaranya terdengar tegas dan penuh keseriusan.
"Lacak terus mereka! Dan pastikan mereka tidak pergi ke tempat Raka dan Kirana akan berbulan madu."
__ADS_1