
“Aku minta maaf atas perlakuan Mommy kepadamu,” bisik Raka di telinga Raya.
Sudah ada puluhan kali Raka mengucapkan kalimat itu sejak pulang dari restoran kenangan. Kini mereka berdua telah berada di apartemen.
Lebih tepatnya berbaring berdua di atas tempat tidur. Raya telah berganti pakaian, dan membersihkan diri siap untuk tidur.
Namun, tidak bagi Raka. Dia masih memakai setelan jas yang tadi dia pakai untuk acara makan malam yang gagal total. Pakaian Raka acak-acakan, begitu pula rambut dan wajahnya.
Raka menatap kosong langit-langit, satu bulir bening mengalir dari ujung mata. Secepat kilat Raya mengusap jejak air mata menggunakan ujung jarinya.
Ini adalah pertama kalinya Raya melihat pria yang dicintai menangis.
“Mommy tidak sayang padaku. Dari dulu, Mommy selalu sibuk bekerja. Yang ada dipikiran Mommy hanyalah uang dan uang,” cerarau Raka.
“Raka, Mommy sayang padamu. Mommy harus bekerja karena dia seorang single mom,” ucap Raya mengelus dada Raka agar amarah yang sedang bergemuruh segera redup.
“Mommy lebih sayang pada Ray. Mommy selalu mengabulkan keinginan Ray. Sedangkan aku harus selalu menuruti pada Mommy, tanpa Mommy mengerti kemauanku,” racauan Raka semakin tidak jelas seperti orang mengigau dalam tidur.
Tangan Raya bergerak menarik rahang Raka agar pria itu menatapnya. Lalu bibir Raya melengkungkan sebuah senyuman.
“Bagaimana pun juga dia Mommy kamu. Mommy yang sudah melahirkan dan membesarkan kamu. Aku yakin Mommy sayang sama kamu juga, Raka.”
Jemari Raya mengelus lembut rambut Raka. Senyuman manis tak pernah pudar dari bibir Raya yang perlahan menyihir Raka untuk ikut tersenyum juga.
Dipandanginya wajah Raka yang memiliki bibir tipis, hidung mancung, dan manik mata berwarna hitam legam.
“Kamu masih bisa berkata seperti itu setelah apa yang telah Mommy lakukan padamu?” tanya Raka tak percaya pada Raya yang masih menghormati Amanda sebagai ibu Raka.
Tatapan Raya berubah menjadi berbinar. Air telah menggenang di matanya yang indah. Menjadikan Raka mengerutkan dahi khawatir.
Entahlah. Setiap kali Raya membahas tentang ibu, dia selalu ingin menangis teringat akan ibu kandungnya yang tak pernah dapat dia lihat apalagi memeluknya.
“Karena dia adalah ibumu, Raka. Sayangi dia selagi masih ada. Aku bahkan tidak pernah punya kesempatan untuk sekedar memeluk ibu kandungku sendiri,” ucap Raya sengau.
Raka menatap Raya iba. Dia teringat akan cerita Raya saat mereka berada di taman.
Raka tahu ibu kandung Raya telah meninggal dunia saat melahirkan Raya. Lalu ayahnya menikah lagi. Namun, Raka lupa akan nama orang tua Raya.
__ADS_1
Lagipula itu tidak terlalu penting untuk sekarang.
“Aku akan selalu menyayangi Mommy, seperti yang kamu mau. Asal kamu berhenti bersedih.”
Raya tersenyum kembali, sekali dia terisak, lalu menyeka pipi. Sedangkan Raka meraih tangan Raya dan melabuhkan kecupan di sana.
“Aku mencintaimu, Raka.”
“Aku juga sangat mencintaimu,” Raka tersenyum. “Raya.”
Deg.
Jantung Raya berdedup kencang secara tiba-tiba. Matanya membola sempurna, menyadari Raka mencintainya sebagai Raya.
Bagaimana jika nanti Raka tahu bahwa dia adalah Kirana? Apakah Raka akan tetap mencintai dirinya seperti ini?
Benak Raya terus mengulang pertanyaan itu.
Sejujurnya, Raya sangat menikmati perannya sebagai Raya itu sendiri. Dia bahagia dapat dicintai oleh Raka, pria yang melihatnya sebagai gadis biasa.
Raya merasa enggan mengatakan bahwa dia adalah Kirana. Takut cinta Raka padanya akan berubah.
“Ada apa?” tanya Raka.
Raya menggeleng sebagai jawaban, menaruh kepalanya di atas dada bidang Raka, sementara tangan Raka mengelus punggung gadis itu.
Cukup lama mereka seperti itu dalam keheningan. Hanya detak jantung Raka yang terdengar jelas di telinga Raya.
“Raya, aku akan menikahimu meskipun tanpa restu dari Mommy.”
Raya menjawab dengan menggumam pelan. Dia telah dalam kondisi setengah mengantuk.
“Jadi, aku ingin bertemu dengan kedua orang tuamu.”
Mata Raya yang tadi nyaris menutup, dalam satu detik langsung membelalak. Dia menganggkat kepala dan menoleh pada Raka.
“Bertemu dengan orang tuaku? Untuk apa?” tanya Raya.
__ADS_1
“Tentu saja untuk meminta izin meminangmu, Raya. Kamu aneh sekali bertanya seperti itu,” kata Raka entah berapa kali dia mengerutkan dahi heran akan sikap Raya.
“T-tapi orang tuaku ada di kampung,” Raya terbata-bata mencari alasan.
“Lantas?” tanya Raka menaikan alis.
“Katakan kapan aku bisa bertemu dengan orang tuamu? Lalu aku akan menemui mereka. Sekalian aku juga mau melihat pemandangan di desamu. Pasti sangat jauh berbeda dengan di kota, kan?”
Kamu sudah bertemu dengan orang tuaku, Raka. Bahkan hampir setiap hari kerja kamu bertemu dengan ayahku. Kata Raya yang hanya diucapkan di dalam hati.
Tangan Raka melambai di depan mata Raya yang tengah melamun. Menjadikan Raya tersadar kembali.
Raya terkekeh pelan tertangkap basah sedang melamun.
“Jadi, kapan aku bisa menemui orang tuamu?” Raka mengulang pertanyaannya.
“Hmm, iya, nanti aku coba jelaskan dulu ke orang tuaku, tapi apa sebaiknya kita juga berusaha untuk mendapatkan restu dari Mommy kamu, Raka.”
Raka menggeleng.
“Tidak perlu menunggu mendapatkan restu dari Mommy. Aku ingin kita segera menikah. secepatnya.”
Buru-buru sekali ingin menikah. Memang ada apa sih? Pertanyaan bodoh Raya yang untung saja hanya diucapkan dalam hati.
“Iya, nanti aku cari waktu yang pas agar kamu dapat bertemu dengan orang tuaku. Sekarang kamu tidur, oke?” Raya berusaha mengalihkan perhatian.
“No! Kamu yang tidur dulu. Nanti aku yang akan pindah ke kamar sebelah.”
Raya mengangguk menuruti perintah dari Raka. Kemudian memejamkan mata.
Raka telah diusir dari rumahnya sendiri. Sehingga dia akan tinggal bersama dengan Raya di apartemen dalam kurun waktu yang tak tentu.
Tak lama, terdengar dengkuran halus. Raka menundukan kepala melihat wajah tenang Raya yang telah tertidur pulas.
Beberapa hari kedepan, pasti akan menjadi hari yang sulit bagi Raka. Sebab dia harus berusaha menahan gairah yang membuncah setiap kali dia berada di dekat Raya.
Seperti sekarang ini, Raka menahan dorongan dalam tubuh untuk menyentuh Raya. Meskipun dia sangat ingin melakukan yang satu itu, tapi dia tetap ingin menjaga kehormatan wanita yang dicintainya.
__ADS_1
Raka melabuhkan kecupan di dahi Raya cukup lama sebelum akhirnya dia bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan kamar.