
Selepas Raka pergi, Raya berjalan ke balkon sambil jarinya bergerak di layar ponsel mencari nomor telepon Balin. Dia ingin melayangkan protes ke ayahnya.
Dia kasihan melihat Raka yang diberikan banyak tugas oleh sang Papa, hanya agar tak memiliki waktu berdua bersamanya.
“Halo, Pa,” sapa Kirana begitu panggilan terhubung.
“Halo, Kirana. Apa Raka sudah berangkat?” tanya Balin.
“Sudah,” jawab Kirana singkat.
Dia mengisi paru-parunya dengan udara sebelum melanjutkan ucapannya.
“Kenapa Papa melakukan ini semua? Membebani Raka dengan banyak tugas kantor, mempekerjakan Ken dan para pelayan lain untuk memantauku, dan mereka menyadap kamera pengawas di apartemen.”
Terdengar helaan nafas dari Balin.
“Kirana, semua ayah pasti khawatir jika putrinya tinggal dengan seorang pria tanpa adanya ikatan pernikahan.”
“Papa, aku bisa jaga diriku sendiri dan Raka tipe pria yang mampu menahan hasratnya. Papa percaya padaku, kita tidak akan melakukan yang satu itu,” kata Kirana mencoba menyakinkan Balin.
“Tapi bisa saja kan suatu saat pertahanan Raka runtuh. Dia tidak dapat menahan godaan darimu.”
Raya berdecak, memijat pelipisnya, tak dapat mendebat. Apa yang dikatakan Balin, ada benarnya juga.
Jika Raka dan Raya tinggal satu apartemen dalam jangka waktu yang tak dapat dipastikan, bisa saja mereka kebablasan.
“Sebaiknya kamu cepat temukan mata-mata yang katamu bekerja di Irawan Group. Lalu menikahlah dengan Raka. Agar Papa juga tenang.”
Tut. tut. Tut.
Raya terlonjak kaget saat telepon dimatikan secara sepihak oleh Balin. Jarang sekali Balin mematikan telepon seperti itu.
Raya menghempaskan diri ke kursi, tangannya meraih buku yang tergeletak di meja, lalu mulai membacanya.
Satu jam Raya menghabiskan waktu hanya untuk membaca buku, hingga terdengar suara bel dari pintu depan. Dia pun bergegas membuka pintu dengan rasa penasaran akan orang yang datang.
Apa mungkin Raka balik lagi ke apartemen? Pikir Raya saat tangannya memegang gagang pintu.
Raya tak dapat menebak. Pasalnya hanya sedikit orang yang tahu akan tempat tinggalnya ini, selain Raka, Ken, dan beberapa pelayan rumah.
Tangan Raya bergerak membuka pintu sambil wajahnya memasang senyum manis, bibirnya hendak menyapa Raka, namun, diurungkan begitu melihat orang yang berdiri di depan pintu.
Bahkan senyuman manis di bibir Raya menghilang dalam hitungan detik saat Clara melipat tangan di depan dada.
__ADS_1
Clara tak sendirian. Dia ditemani Amanda yang mengibaskan kipas lipat dengan gaya sombong khas wanita sosialita..
“Raka sedang tidak ada di apartemen,” ucap Raya sinis hendak kembali menutup pintu.
Namun, Amanda mengulurkan tangan, menahan daun pintu agar tetap terbuka.
“Aku tidak ingin bertemu Raka, tapi kamu. Dan lagi, kamu tidak sopan sekali. Aku ini ibunya Raka. Pria yang telah membelikanmu apartemen ini.”
Raya memutar bola matanya malas, dia menggeser tubuhnya, mempersilahkan Amanda dan Clara masuk.
Amanda berdiri di tengah ruangan, dengan sorot mata menelisik setiap sudut. Diikuti juga oleh Clara yang mengekori Amanda sejak tadi.
“Jadi ini apartemen yang dibeli Raka untukmu?” tanya Amanda melirik sinis pada Raya.
“Raka menghadiahkan ini untukku. Kenapa? Apa Tante merasa keberatan? Jika iya, aku akan mengembalikan uang yang Raka pakai untuk membeli apartemen ini,” jawab Raya santai.
Serempak Amanda dan Clara saling lirik dan keduanya tertawa mengejek.
“Uang dari mana kamu? Berlagak sekali ingin mengembalikan uangnya Raka. Dasar ratu halu,” cemooh Clara
“Kamu memanfaatkan harta anak saya, mengaku-ngaku sebagai Nona Kirana, dan kamu juga membuat Raka berani melawanku. Tidak tahu malu kamu ya?” imbuh Amanda mendorong bahu Raya.
Di tempat lain, Ken yang mengawasi dari layar komputer seketika bangkit berdiri. Bersamaan dengan para pengawal lain yang sedang giliran berjaga.
“Bagaimana ini, Ken? Apakah kita masuk saja ke apartemen Nona Kirana? Wanita itu telah bersikap kurang ajar kepada nona muda kita,” kata Daniel.
Dari layar komputer, manik mata Ken melihat Nona Kirana diam-diam menggerakan tangan ke arah kamera pertanda sedang memberi isyarat agar mereka diam di tempat.
Dengan perasaan yang masih belum tenang, Ken kembali menjatuhkan bokongnya ke kursi.
“Kita tunggu Nona Kirana memberi tanda,” ucap Ken sambil matanya terus menatap layar.
Clara berjalan mendekati Raya. Kedua wanita itu saling melayangkan tatapan tajam.
“Kamu dengar ya, Raya. Lusa nanti aku dan Raka akan bertunangan, jadi kamu segera enyah dari sini, karena apartemen ini akan menjadi milikku,” bentak Clara dengan mata melotot.
“Aku akan dengan senang hati angkat kaki dari apartemen ini, asal kau mau berkata jujur, Clara,” kata Raya santai, tapi sorot matanya begitu dingin.
“Apa maksudmu meracuni Tuan Balin?”
Sekilas ada kegugupan terpancar dari wajah Clara. Namun, segera dia tutupi dan kembali memasang ekspresi galak.
“Apa maksudmu, hah? Kamu menuduhku meracuni Tuan Balin?” teriak Clara.
__ADS_1
“Aku tidak menuduh. Memang itu fakta kan? Kamu menyuruh Mae, dan Mae menyuruh Neneng untuk menaruh racun di dalam kopi Tuan Balin,” ucap Raya tegas dan berhasil membuat Clara tak dapat menutupi kegelisahannya.
Apalagi Amanda juga melirik curiga ke arah Clara.
“Mana mungkin aku melakukan itu,” bantah Clara.
Dia menoleh pada Amanda untuk meminta pembelaan.
“Tante, jangan percaya pada Raya! Padahal dia sendiri yang membuat kopi untuk Tuan Balin, tapi malah menuduh aku yang bukan-bukan,” celoteh Clara membalikkan fakta.
“Dasar kamu, tukang fitnah! Kamu ingin menjelekkan aku di depan Tante Amanda, kan?” teriak Clara seperti orang kesetanan.
“Siapa di sini yang tukang fitnah, wanita Jal**g?” umpat Raya yang menjadikan Clara naik pitam.
Clara mengayunkan tangan berniat menampar pipi Raya. Akan tetapi tangan itu hanya menggantung di udara karena Raya lebih dulu menahan lengan Clara.
Perlahan cengkraman Raya berubah menjadi merem*s kuat pergelangan tangan Clara. Sampai-sampai Clara membuka mulut lebar sekali, tak kuasa menahan sakit yang luar biasa.
“Auh, Raya, tangan aku sakit,” ringis Clara.
“Raya, lepaskan tangan Clara!” titah Amanda yang mulai panik.
Raya seolah tuli. Dia tak mendengarkan perintah Amanda, maupun isak tangis dari Clara. Dia malah semakin memperkuat cengkraman tangannya.
“Auwh, Tante, tolong aku. Tangan aku sepertinya mau patah,” rengek Clara.
“Raya, hentikan!” teriak Amanda.
Tatapan dingin Raya tak pernah lepas dari Clara yang benar-benar menangis seperti anak kecil.
“Katakan! Apa alasanmu meracuni Tuan Balin, atau aku patahkan tanganmu?” bentak Raya.
Dan detik berikutnya…
PLAK
Amanda tak tahan lagi melihat perilaku Raya yang sama sekali tidak mencerminkan wanita berkelas. Dia menampar pipi kiri Raya sangat keras hingga menimbulkan suara.
Baik Clara maupun Raya sama-sama terkesiap akan tindakan spontan Amanda.
Tamparan yang didapat, membuat Raya mengendurkan cengkraman, tangannya berpindah menyentuh pipi yang memanas dan terasa perih.
“Pergi kamu dari sini! Jangan pernah muncul di hadapanku dan jangan pernah temui Raka lagi!” pekik Amanda berapi-api.
__ADS_1