
Di pantry, Raya membuatkan kopi untuk Balin dengan tatapan kosong. Dia menarik nafas panjang, tidak sabar menunggu penjelasan dari sang ayah.
Setelah itu, Raya mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari sebuah nampan. Biasanya ada banyak nampan, tapi sekarang nampan-nampan itu entah pergi ke mana.
Astaga, perusahan besar seperti Irawan Group bisa-bisanya kekurangan nampan. Pikir Raya.
Dia pun membuka laci di pantry satu per satu. Karena tak kunjung menemukan benda yang dicari, Raya pun berpindah ke sudut lain. Meninggalkan secangkir kopi untuk Balin di meja.
Cukup lama Raya mencari, akhirnya dia menemukan satu nampan yang ada di lemari. Lalu dia kembali ke meja di mana dia tadi meletakan cangkir kopi.
Dan Raya terlonjak kaget karena tiba-tiba saja Raka sudah ada di dekat meja sambil tangannya sedang mengaduk kopi yang hendak diantarkannya.
“Raka, sedang apa? Tumben kamu ke pantry?” tanya Raya heran.
Raka mendongak menatap Raya, lalu bibirnya menerbitkan senyuman. Dia berjalan ke arah kekasihnya dan mendaratkan satu kecupan singkat di dahi.
“Aku merindukanmu, Sayang.”
Raya mendorong pelan dada bidang Raka, tidak habis pikir. Padahal mereka bekerja di tempat yang sama, tapi dia bilang rindu seolah tidak bertemu selama puluhan tahun.
Satu harian ini, Raka sibuk sekali dan belum mengecup Raya. Rasanya tidak ada penyemangat jika belum mendapatkan kecupan.
“Tadi ada apa kamu di ruangan Tuan Balin?” tanya Raka.
“Oh, hanya masalah Clara yang membeberkan bahwa aku mengaku sebagai Nona Kirana,” sahut Raya santai.
Tapi tidak bagi Raka. Manik matanya membola, dan dia sedikit terkesiap. Dia sedikit bersalah karena dirinya lah yang meminta Raya untuk menjadi Kirana.
“Lalu, Tuan Balin bilang apa? Apa Tuan Balin marah padamu?”
Raya menggeleng sebagai jawaban. “Tidak! Tuan Balin tidak marah, justru Tuan Balin membelaku dengan mengatakan jika aku dan Nona Kirana memiliki wajah yang mirip.”
“Benarkah?” tanya Raka tak percaya. Lalu dia terkekeh membayangkan wajah Clara yang menahan malu.
“Bahkan Clara sampai dipotong gajinya, karena telah memfitnahku,” jelas Raya tersenyum.
“Raya, aku tidak percaya. Kira-kira kenapa Tuan Balin melakukan hal itu?”
Raya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Aku sendiri juga tidak tahu. Tapi sudahlah, yang penting sekarang Clara tak membuat ulah lagi.”
__ADS_1
Raka mengangguk. Ada sedikit rasa lega dalam diri Raka karena Balin tidak murka kepada gadisnya.
Sekalipun Balin marah, Raka tanpa ragu akan membela Raya meskipun harus berhadapan dengan sang bos besar.
Raka menarik nafas panjang, meletakkan kedua tangannya di pipi Raya, dan saling menempelkan dahi.
“Cium aku!” pinta Raka tiba-tiba.
“Ini tempat kerja, Raka. Bagaimana kalau ada yang lihat?”
Raka menoleh kanan kiri.
“Tidak ada siapa-siapa. Ayo cepat cium! Aku butuh penyemangat sebelum meeting!”
Oh iya, meeting. Aku kan harus mengantarkan kopi ke ruang meeting.
Segera Raya berjinjit untuk mengecup singkat bibir Raka. Kemudian, dia membuang muka untuk menyembunyikan pipinya yang sudah seperti kepiting rebus.
Sedangkan Raka tersenyum. Dia berjalan menuju pintu, akan tetapi berhenti tepat di dekat cangkir kopi yang dipersiapkan untuk Balin.
“Bukankah kamu juga akan ke ruang rapat? Ayo kita ke sana bersama-sama,” kata Raka mengulurkan tangan.
Bukannya menerima uluran tangan dari sang kekasih, Raya malah menampik lengan kekar itu. Karena tidak mungkin dia dan Raka berjalan berdua dengan saling bergandengan tangan.
Raya pun meminta agar Raka keluar dari pantry terlebih dahulu. Baru kemudian, dia akan menyusul.
Raka menuruti perkataan Raya. Mereka menuju tempat yang sama dengan cara terpisah.
Begitu Raya memasuki ruang rapat, semua peserta telah bersiap, termasuk Raka yang baru saja menghempaskan diri ke kursi.
Langkah kaki Raya menuju ujung meja tempat Balin berada. Namun, seketika langkahnya berhenti setelah dia menyadari satu hal.
Saat Raya kembali dari mengambil nampan, dia melihat dengan jelas Raka tengah mengaduk cangkir kopi yang dia buat untuk Balin.
Apa mungkin ketika aku sibuk mencari nampan, Raka menaruh sesuatu pada kopi ini? Raya bertanya dalam hati sambil menunduk memandang kopi di tangannya.
“Raya, silahkan letakan kopi itu di meja, lalu kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu yang lain,” ucap Balin yang melihat Raya diam mematung.
Semua orang menatap Raya penuh keheranan. Ada apa dengan office girl ini? Kenapa dia malah melamun?
Raya mengangkat kepala menatap Balin, lalu berpindah pada Raka.
__ADS_1
Apa mungkin diam-diam Raka menyimpan dendam pada Papa? Apa keberadaannya di pantry untuk menaruh sesuatu pada kopi untuk Papa? Mungkinkah kopi ini beracun?
Pertanyaan itu terulang terus di benak Raya, sambil manik matanya terus bergerak menatap Balin dan Raka secara bergantian.
“Raya, silahkan letakan kopi itu di meja,” ulang Balin.
Hanya ada satu cara untuk mengetahui jawabannya. Kata Raya yang hanya diucapkan dalam hati.
Dia telah memantapkan diri.
Dan detik berikutnya, bukannya meletakan kopi ke atas meja seperti yang diperintahkan Balin, Raya justru meneguk kopi di tangannya hingga habis.
Sontak pemandangan itu membuat heran seluruh peserta rapat. Ada yang melongo, ada pula yang mengulum bibir menahan tawa.
Hanya Raka yang raut wajahnya terlihat berbeda dari yang lain. Dia membelalakan mata, dan bangkit berdiri.
Tenggorokan Raya terasa panas, perlahan perutnya juga sakit. Dia menjatuhkan cangkir kopi karena kini dia mulai terasa lemas.
Bahkan kedua kakinya tak mampu untuk menopang berat badan. Pandangan Raya buram, tapi dia mampu mengenali sosok Balin yang berlari mendekatinya.
“Raya,” teriak Balin panik.
Balin lah orang pertama yang menangkap tubuh Raya di saat gadis itu pingsan. Sementara Raka kurang cepat satu detik dengan Balin.
“Nakula, antar Papa mengantar Raya ke rumah sakit!” titah Balin pada Nakula yang mengangguk lalu berlari membukakan daun pintu.
Tak pikir panjang, Balin menggendong Raya dan melempar pandangan pada Raka.
“Saya juga akan mengantar Anda ke rumah sakit, Tuan,” ucap Raka.
“Tidak! Kamu di sini saja memimpin rapat!“
Perintah dari Balin itu, tak dapat ditolak oleh Raka. Meskipun dia sangat ingin menemani Raya ke rumah sakit.
Dia mengacak rambutnya frustasi kala melihat Raya digendong oleh Balin melewati pintu ruang rapat.
Sementara, Clara yang juga menjadi salah satu peserta rapat tersenyum lebar tanpa ada orang yang menyadarinya.
Sebagian dalam diri Clara senang melihat Raya pingsan, tapi sebagian yang lain merasa iri pada office girl itu.
“Raya itu gadis kampungan tapi kenapa selalu dikerumuni oleh para pria tampan,” gumam Clara sambil mendengus lirih.
__ADS_1
Baik Raka, Tuan Nakula, bahkan Tuan Balin sampai begitu perhatian sekali pada Raya. Pasti benar kalau Raya itu pakai pelet. Pikir Clara dalam hati.