
“Waktu pulang aku cari-cari Kakak tapi tidak ada. Kak Kirana memangnya kemana?” tanya Nakula saat mereka bertiga menyantap makan malam.
“Aku dikurung di toilet,” sahut Kirana santai.
Dia melahap nasi menggunakan sumpit. Sudah menjadi kebiasaan Kirana setiap dia makan pasti mengikuti gaya makan ala orang asia timur.
Kirana meyakini makan menggunakan sumpit memiliki banyak manfaat.
Berbeda dari Sadewa yang lebih suka makan menggunakan tangan. Menurutnya makanan akan terasa lebih nikmat.
Sementara itu, Nakula sendiri yang paling anti mainstream. Dia makan langsung menggunakan centong nasi. Nakula adalah orang di rumah yang porsi makannya paling banyak.
“Apa? Siapa yang berani mengurung Kakak?”
“Staff OG, namanya Mae dan Neneng.”
“Oke, kalau begitu, akan aku pastikan besok adalah hari terakhir mereka bekerja,” ucap Nakula yang geram. Lalu dia melanjutkan melahap makanannya.
“Jangan, Nakula. Mereka itu tampaknya dari keluarga sederhana. Kalau dipecat, bagaimana nasib mereka nanti?”
“Hah? Kakak sudah dijahili tapi Kakak malah khawatir dengan nasib mereka. Heran aku.”
“Nakula, sebagai pengusaha kita memang punya kuasa tapi bukan berarti kita bertindak semena-mena. Apalagi di negara ini ada undang-undang yang melindungi hak karyawan. Jadi, kita tidak bisa seenaknya saja memecat pegawai,” terang Kirana penuh wibawa.
“Betul itu, Kak,” timpal Sadewa yang sejak tadi mendengarkan obrolan Kirana dan Nakula.
Nakula hanya mengembik, lalu matanya menangkap semburat warna merah di pipi kiri saudara kembarnya, Sadewa.
“Ada apa dengan pipimu?”
“Aku ditampar Sunny si nenek sihir,” ungkap Sadewa sambil tertunduk.
Setelah kejadian yang tidak disengaja tadi siang, Sadewa menemui Sunny untuk minta maaf dan meminta untuk jangan mengadu pada ayahnya Sunny.
Tapi yang terjadi, ketika Sadewa berniat menahan lengan Sunny dari arah belakang, tangannya malah tidak sengaja menyentuh bokong Sunny yang satunya lagi.
Alhasil dia mendapat tamparan panas di pipi.
Sadewa pun heran sendiri, kenapa tangannya itu selalu mendarat di tempat yang bukan seharusnya?
Kirana dan Nakula tergelak mendengar cerita Sadewa.
Dilanjut dengan Kirana yang bercerita dalam satu hari ini, dia berhasil membuat satu pria berjalan pincang dan satu pria lagi berjalan mengangkang.
***
Jauh dari kediaman rumah besar keluarga Mahendra, Raka melangkah masuk ke dalam rumah yang menjadi tempat tinggalnya.
__ADS_1
Mendiang ayah Raka adalah seorang arsitek yang memperoleh banyak penghargaan semasa hidup.
Dan bangunan yang ditinggali oleh Raka termasuk salah satu desain terbaik dari sang ayah.
Rumah dengan gaya khas Inggris era Victoria itu berdiri megah bak sebuah istana dalam negeri dongeng.
Namun, bagi Raka, rumahnya itu tak jauh berbeda dari kuburan karena Amanda, ibunya Raka, lebih sering mengurung diri di kamar.
Tidak ada makan malam bersama seperti kebanyakan keluarga di luar sana. Keluarga Abimanyu begitu dingin. Sedingin dan sekosong suasana di dalam rumah.
“Bibi, malam ini tidak perlu memasak makan malam. Aku tidak lapar,” kata Raka pada asisten rumah tangga yang sudah bekerja sejak Raka masih kecil.
“Tapi Tuan Raka nanti bisa sakit lho kalau tidak makan.”
Raka tak menyahut, dia langsung menuju kamar, melepas pakaiannya dan mandi berendam dalam bathtub untuk menenangkan juniornya yang masih sakit.
“Ini semua gara-gara gadis itu,” gumam Raka.
Dia memejamkan mata, dan bayangan Raya si gadis aneh yang baru ditemuinya itu menyusup ke dalam pikirannya.
“Raya. Nama yang membuat aku teringat pada seseorang.”
***
Di dalam kamar, Kirana duduk di tempat tidur.
Semua aman terkendali kecuali saat Clara yang mengatakan pada Raka akan membantunya balas dendam. Membuat Kirana bertanya-tanya.
“Raka itu punya dendam ke siapa? Apakah ke Papa? Tapi kalau Raka musuh Papa, kenapa dia bisa diterima kerja di Irawan Group?” Kirana bermonolog sambil mengetuk-ketukan jari ke dahinya.
Dia mengerutkan alis, dan karena tak kunjung menemukan jawaban, akhirnya dia menghela napas.
“Tapi aku lihat Raka kerjanya bagus.”
Kirana berdecak kesal.
“Aku tidak boleh terkecoh oleh hasil kerja seseorang hanya ketika berada di depan Nakula saja. Banyak dari karyawan akan semangat bekerja hanya untuk mencari muka.”
Kirana menekuk kaki dan duduk sambil memeluk lutut. Dia belum berani merebahkan diri karena baru saja selesai makan malam.
“Ada sisi positifnya juga aku jadi seorang pesuruh di Irawan Group. Aku akan dapat melihat pegawai yang benar-benar mendedikasikan diri pada perusahaan,” gumam Kirana pada dirinya sendiri.
Lalu perlahan tatapan Kirana perlahan kosong seiring dengan pikirannya yang terpusat pada Raka.
Tanda sadar bibir Kirana melengkungkan senyuman, dan membisikkan nama pria itu,
“Raka.”
__ADS_1
Di tempat lain pada waktu yang sama, Raka yang masih betah di dalam bathtub juga sedang melamun dan bergumam,
“Raya.”
Dua insan yang berjauhan akan tetapi saling memikirkan satu sama lain, dan tenggelam dalam lamunan.
***
Di sisi lain, Balin dan Alexa kini tinggal di penthouse tak jauh dari rumah sakit yang akan menjadi tempat dia mendapatkan perawatan sekaligus pengobatan sakit jantungnya.
Mereka tengah berada di bawah selimut bernostalgia akan malam pertama mereka yang tak terasa sudah berlalu puluhan tahun.
Selepas itu, mereka berbaring saling memeluk.
“Rasanya baru kemarin kamu melahirkan Nakula dan Sadewa, sekarang mereka sudah tumbuh besar,” gumam Balin.
“Ya, dan Kirana juga. Dia sudah tumbuh menjadi gadis dewasa,” imbuh Alexa, menoleh pada suaminya dan tersenyum.
“Aku harus mulai memikirkan pendamping hidup untuk Kirana. Dia akan menjadi tanggung jawab suaminya kelak, dan aku bisa tenang jika seandainya aku pergi,” Balin mengeratkan pelukannya di tubuh Alexa.
“Kamu bicara seperti itu, seolah-olah kamu akan meninggalkan aku.”
Alexa mendongak untuk dapat menatap wajah Balin.
“Jangan tinggalkan aku, Balin! Kita akan selalu bersama sampai kita melihat cucu-cucu kita nanti.”
Balin mencium ujung kepala istrinya.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Alexa. Aku hanya takut, jika takdir berkata lain.”
Sekedar info, guys.
Nama Raka pernah disebutkan sekali di novel Papa Untuk Kirana.
Di bab hidup dalam pengejaran, Kirana kecil pernah bermain bersama dengan dua anak laki-laki bernama Raka dan Ray.
Oh ya Author juga mau tanya nih. Kalian bingung ga dengan pergantian nama Raya dan Kirana?
Kirana dan Raya itu satu orang ya.
Atau ada saran ga, author harus pakai nama yang mana biar ga bingung?
Mohon kritik sarannya ya guys.
Salam hangat,
Author.
__ADS_1