
Di jam pulang kantor, rata-rata para pekerja sudah tidak peduli seberapa kusut wajah mereka. Yang terpenting di benak mereka adalah pulang untuk melepas penat.
Tapi tidak bagi Clara.
Dia menebalkan polesan bedaknya di samping mobil Raka, sambil menunggu sang empunya mobil datang.
Dia harus tampil cantik di depan pria itu dan tidak akan membiarkan Raka direbut begitu saja oleh Raya yang hanya seorang office girl.
Clara mengeluarkan lipstik merah, lalu mengoleskan ke bibir dengan melihat pantulan dirinya di kaca jendela mobil.
Dan di saat itu juga, di ujung sana Clara melihat Nakula sedang menarik paksa lengan Raya.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba.
Yang ditunggu Raka, tapi yang datang bahan gosip.
Clara segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Kemudian diam-diam memotret pemandangan Nakula bersama Raya tanpa disadari oleh kedua orang di sana.
Raka, lihat! Pacarmu lagi selingkuh sama pria lain. Oow.
Jemari Clara menggulirkan pesan itu, beserta foto tanda bukti.
Clara berjingkrak riang begitu pesan yang baru saja dikirim langsung bercentang biru. Itu artinya Raka telah membaca pesan dari Clara.
“Yes, sebentar lagi Raka datang dan sadar kalau Raya itu cuma mempermainkan dia saja.”
Sementara di tempat yang tak jauh dari Clara berdiri, Nakula tengah mentertawakan kakaknya.
“Jadi, ini semua rencanamu, hah?” bentak Raya.
Nakula terkekeh.
“Tadi Raka melakukan apa ke Kak Kira?”
Belum sempat Raya menyahut, mata Nakula menangkap bibir kakaknya yang sedikit bengkak. Sontak Nakula membelalakan mata, dan menutup mulutnya yang ingin tergelak.
“Jangan bilang Kak Kira habis dimakan sama T-rex zaman es itu?”
“Ish, jangan panggil aku ‘Kak Kira’ jika sedang di kantor! Dan siapa yang kamu sebut T-rex zaman es?”
“Ya, siapa lagi kalau bukan pacar Kakak. Coba aku lihat bibir Kakak.”
Nakula berusaha menurunkan telapak tangan Raya yang menutupi bibir. Namun, tangan Raya yang terbebas segera menampik aksi jahil adiknya itu.
Meskipun mendapatkan penolakan, Nakula tetap memaksa ingin melihat bibir Kakaknya. Hingga tiba-tiba, ada tangan yang menarik kerah kemejanya dari belakang dan…
Bugh.
__ADS_1
“Awh,” ringis Nakula setelah mendapatkan bogem mentah tepat di ujung bibir.
Raya memekik panik melihat Nakula tersungkur di lantai. Dia berjongkok di samping tubuh Nakula untuk membantunya berdiri.
“Nakula, kamu tidak apa-apa?”
“Aw, sakit,” ringis Nakula menyentuh ujung bibirnya yang membiru.
Pemandangan Raya menolong Nakula disaksikan oleh Raka yang tak lain adalah pelaku pemukulan bosnya sendiri.
Dia dibutakan oleh rasa cemburu, hingga mengalahkan akal sehatnya.
Mata Raka berapi-api dengan dada yang naik turun. Lalu muncul Clara dari balik sebuah mobil. Kehadirannya tentu saja untuk memanas-manasi keadaan.
“Kamu lihat kan, Raka? Dia lebih perhatian sama pria lain daripada kamu,” cicit Clara sambil tersenyum senang.
Tak hanya itu, Clara melingkarkan tangan di lengan Raka. Berniat mengajak pergi pria yang tengah dikuasai amarah itu.
Tapi jauh dari dugaan Clara, karena yang dilakukan Raka justru menghempaskan tangannya. Lalu menarik Raya dengan kasar.
“Maaf, Tuan Nakula, saya sudah memukul Anda.”
Hanya itu ucapan Raka, sebelum akhirnya dia membawa Raya menuju mobil.
Clara melongo ketika Raka melewatinya begitu saja. Seolah dia adalah manusia transparan. Tidak terima diabaikan, dia berjalan menyusul Raka.
“Raka, kenapa kamu bawa Raya? Harusnya yang kamu bawa pergi itu aku,” rengek Clara minta diculik.
Kendaraan beroda empat itu seketika melaju kencang, bahkan hampir menyerempet Clara. Wanita itu menjerit sambil mundur beberapa langkah.
Sedangkan Nakula berdecak. Dia kapok menjahili T-rex zaman purba yang menjadi pacar kakaknya.
***
“Aku paling tidak suka kalau ada pria lain yang berani menyentuhmu. Sebenarnya ada hubungan apa kamu dengan Nakula, hah?” geram Raka.
Raya yang duduk di samping, melihat cengkeraman tangan Raka pada setir mobil sangat kuat, hingga buku-buku jarinya memutih.
Tentu saja Raya tak bisa mengatakan bahwa Nakula hanya sekedar adik laki-lakinya. Dia memilih untuk menundukan kepala dan diam saja.
“Kenapa kalian terlihat begitu dekat? Sepertinya kalian sudah lama saling kenal. Apa kamu dan dia punya hubungan spesial?” Raka mencecar pertanyaan dengan nada yang ditinggikan satu oktaf.
“Maaf, Raka. Sungguh, aku dan Nakula tidak ada hubungan apa-apa.”
Kemudian hening untuk beberapa saat yang lama. Keduanya saling diam, saling tak mampu melirik ke samping.
Raka sebisa mungkin harus menekan egonya. Demi wanita yang dia sayangi tak bersedih.
__ADS_1
Di sebuah lampu merah, mobil itu berhenti. Raka menghela napas, menatap Raya yang masih menunduk lesu, dan tangannya terulur untuk mengusap kepala gadis cantik di sampingnya.
“Aku juga minta maaf.”
Raya menoleh, sekaligus menerbitkan senyuman yang juga dibalas oleh Raka.
“Mommy ingin bertemu denganmu lagi. Kita ke rumahku sekarang, tapi kamu ganti baju dulu.”
“Kenapa aku harus ganti baju?”
Raka menaikkan alisnya.
“Kamu lupa? Kamu kan harus berpura-pura menjadi putri dari Tuan Balin. Masa iya, anak CEO menjadi OG.”
Raya mengikuti arah pandang Raka yang tertuju pada seragam birunya. Lalu tergelak dan menepuk jidat.
“Aku sudah menyiapkan baju untukmu, ada di kursi belakang. Kamu bisa ganti baju di dalam mobil.”
“Hah? T-tapi…”
“Jangan khawatir. Aku tidak akan mengintip dan juga tidak akan terlihat dari luar.”
Raya berpindah ke kursi belakang. Dia sana sudah ada paper bag yang berisi blazer hitam, blouse berkerah v-neck, dan rok selutut.
Terlebih dahulu, Raya menutup sekat yang ada di mobil agar Raka maupun orang di luar mobil tidak dapat melihatnya menanggalkan baju.
Secepat mungkin, Raya mengenakan setelan baju yang sangat pas di badan.
Tiga puluh menit kemudian, Raka dan Raya turun dari mobil, melangkah bersama ke dalam rumah milik keluarga Abimanyu.
Mereka disambut oleh Amanda di ruang makan, ada juga Bi Muna tampak mondar-mandir menyiapkan peralatan makan.
Raka dan Raya melempar pandangan ke meja yang nyaris penuh oleh masakan Bi Muna.
“Kita makan malam bersama, ya?” pinta Amanda yang tak mungkin bisa ditolak.
Raka menoleh cepat pada ibunya, mengulum senyum bahagia karena ini adalah makan malam bersama untuk pertama kali semenjak kematian Ray.
Kehadiran Raya tidak hanya membuat Raka jatuh cinta, tapi juga perlahan menyembuhkan depresi Amanda.
“Kalau begitu, aku bantu siapkan sendok dan piringnya ya, Tante.”
“Sure,” sahut Amanda mengulum senyum.
“Mom, aku ke kamar dulu. Mau ganti baju,” kata Raka pada Amanda.
Wanita paruh baya itu mengangguk.
__ADS_1
Ketika Raka menaiki tangga, dia sempatkan untuk menoleh ke arah Raya. Dia merasa telah mencintai gadis yang tepat.
Terima kasih, Raya. Kamu membuat keluargaku kembali hangat. Hanya tinggal membujuk Mommy membatalkan perjodohanku dengan Clara. Setelah itu, aku akan menikahimu.